[ONESHOT] NICHEGO


nichego1

Karena rasanya seperti bola basket; dipantulkan, dilemparkan, kalau berhasil aku lolos dari pinggiran ring yang keras, tapi Ken gagal. Dia membuatku ditampar pinggiran ring—yang dalam hal ini, cintaku. 

.

.

N I C H E G O

written by Bepimee

[OC] Skye feat. [VIXX] Ken

Genre Action, Angst-AU | Rating Teenager | Duration 4858 words.

Note:

Perhatikan batas paragraf satu dengan yang lain! Kalo pake ‘***’ berarti flashback. Kalo ‘**’ ceritanya masih lanjut gitu.

©2014.


“Siapa saja yang akan terlibat?”

Pria paruh baya di depan, yang telah lima tahun lebih menjadi pengampu hidupku, melihat dekat-dekat rupaku yang masih memiliki lecet-lecet kering di bagian pelipis sembari lengkungan terukir di pipinya yang gemuk.

“Tenang saja, Skye. Banyak dari mereka yang kau kenal.”

Aku menyelidik, “Siapa saja?”

“Agen dari separuh daerah di Korea Selatan, dan satu lagi—aku yakin ini akan menjadi favoritmu—baru kembali dua bulan yang lalu.”

Aku perlu menyerapnya lebih lama ketimbang menekan pelatuk atau mengerat tubuh anak laki-laki dengan pedang, lantas terpekur beberapa saat.

“Maksudmu…. dia?

Aku tak kunjung mengerti mengapa Boom mengira ia masih menjadi bagian favoritku.

**

Telepon yang didesain khusus tertempel kekal di salah satu laci tak terlihat dalam mobilku mengeluarkan bebunyian gaduh yang telah telingaku resap dengan baik. Tanpa mengecek, aku tahu panggilan telah tersambung.

“Kasus baru lagi, Skye. Lihat map­-mu, aku telah mengirim semua datanya di sana.”

Kakiku menendang pedal gas lebih kencang, membiarkannya bergerak maju dengan kecepatan tak terkira. Well, aku lelah. Dua hari lalu merupakan hari penghabisan, aku terancam mati di tempat kalau saja penanda yang terbenam di bagian perutku—yang syukurlah, belum diketahui oleh pengedar psikotropika kakap sialan itu—tidak mengirimkan sinyal aku sedang terancam ke Pusat.

Oh, baiklah, mungkin aku memang sangat perlu melempar tiket liburanku ke laut ketika aku dalam perjalanan.

Aku menghentikan laju mobil dan mengeluarkan ponsel. Saatnya bekerja.

***

Kemudian aku melihatnya.

Yah, ia memang hanya seorang laki-laki seumuran denganku yang kebetulan saja dipasangkan untuk membantu kerjaku kali ini. Atau mungkin, akulah yang membantunya. Tetapi singkirkan semua itu, ia tampan.

“Hai.”

Aku menumpukan pantat di kursi seberangnya dan melempar pandang, meneliti diam-diam karena ini jelas kali pertama kami bersemuka.

“Hai. Kau terlambat lima belas menit,” ia berhenti dan melihat secuil kertas yang ada di lekukan jemarinya, “Nona Skye.”

Ah.

Yah, maafkan aku,” aku mengikuti taktiknya dan melirik ponsel, “Tuan Ken.”

Ia tersenyum. Tipikal senyuman yang dalam, dingin, dan memiliki siratan kekejaman. Harus kukatakan kesan yang ia tampilkan sekarang adalah, mengerikan.

“Mengingat kita akan dipasangkan untuk satu bulan ke depan, rasanya tidak adil jika hanya berkenalan lewat—”

“Skye. Hanya itu.” aku menyela dengan puas lantas mengalihkan pandang pada cangkir yang baru saja diletakkan pelayan. “Aku bukan orang Korea asli, kau tahu.”

“Menurutku, ya.” Kalaupun Ken tengah berdusta, kurasa aku tetap akan mempercayainya menilik dari matanya yang gemerlap. “Kupikir kau tentu tak ingin mengetahui nama asliku. Itu bukan prosedur yang biasa dilakukan partner in action.”

“Kupikir aku tidak begitu suka mengikuti prosedur. Jadi, katakan saja siapa nama aslimu. Mungkin bisa kugunakan untuk mengancammu kapan-kapan.”

“Kalau begitu, aku tak akan menyebutkannya, terlebih di depanmu.” Matanya—astaga, mengapa aku tak berhenti fokus pada maniknya?—awas meskipun sisi lainnya memperhatikan diriku. “Lee Jaehwan, senang bertemu denganmu.”

**

Kegemasanku akan gerak-gerik Ken yang lagi-lagi sedang berada di sisi lain ruangan ini semakin memuncak saja kala ia tetap setia menghadapi kartu-kartu dari As hingga angka-angka yang tak kunjung kumengerti. Sedari tadi, yang ingin kulakukan adalah menyingkap rokku dan mengeluarkan laras pendek dari sana secepat mungkin, kemudian melibas semua yang berada di ruangan ini. Terlebih, beberapa tangan nakal tak henti berusaha untuk meraba punggungku.

“Hei, singkirkan tanganmu darinya.”

Aku tergugah dari rutukanku dan refleks mendongak, tepat ke indra penglihatan Ken. Rautnya tegas dan ketika mendapati manikku yang tengah memandanginya, ia melembut.

“Aku keluar.”

Ken bangkit dari kursinya dan menarik lenganku menjauh dari meja memanjang dengan orang-orang borjuis di tiap tempat duduk yang tersedia. Manusia bodoh yang mengira Ken dan aku—yang berkedok menjadi pacar Ken—adalah bagian dari mereka.

Kami berhenti di langkan tempat busuk ini. Hawa yang bertiup langsung menyiram bahuku yang hanya terbalut chiffon tipis. Jas yang dikenakan Ken bergesekan dengan lenganku ketika kami sama-sama menatap gemintang di luar sana dalam diam. Aku tak begitu memahami mengapa ia menarikku ke sini dan tak mengatakan apapun. Kukira ia ingin membicarakan langkah selanjutnya. Yah.

“Satu yang duduk di angka dua belas mengetahui kedok kita, Skye. Dia melihat kau yang terus menggaruk kakimu, bagian di mana pistol itu terselip, benar?”

Seburuk itukah aktingku? Sial. Mungkin kursus dua tahun di Teater tidak cukup membuatku terlatih.

Aku menunjukkan wajah penuh sesalku dan tidak mengira Ken akan membalasnya dengan cekung di kedua pipinya. Kupikir ia akan memarahiku dan melapor pada bagian pusat untuk menukarku dengan agen yang lain.

“Aku bukan tipe yang dengan mudah mengatakannya, tetapi, maaf.”

“Tak masalah. Aku juga menunjukkan ciri-ciri pemalsu.”

Tidak, ia tidak menunjukkannya. Ken tak lebih sedang menghiburku atau apapun yang berkaitan dengannya.

Selang semenit, ia menempelkan bibirnya di telingaku. Tak seharusnya aku terkesiap mengingat penyamaran kami, namun tetap saja—kurasa ada yang tidak beres dengan sebagian diriku.

“Jangan menggaruk lagi, tahan gatalnya.”

Lantas Ken berbalik meninggalkan langkan, setia dengan lengkungan di kedua sudut bibirnya.

**

Ken benar. Ketika kami baru saja mendekat ke meja memanjang tadi, orang-orang menyerang kami dengan moncong pistol masing-masing. Aku telah terlatih menangani hal semacam ini, namun keputusan berada di telapak Ken yang menggenggamku sehingga aku tak punya cukup hak untuk menghabisi mereka semua.

“Hei, ada apa ini?”

Kupikir Ken seharusnya menjadi aktor saja. Ia pandai sekali menjaga nada suaranya dari kepanikan dan mengendalikan orang-orang di sekitarnya untuk tak menembakkan peluru ke arah kami.

“Kau dikirim siapa lagi?! Ingin menghancurkan kartu-kartu kami?!” salah seorang menggertak sembari mengacungkan koin yang bernilai seratus ribu dalam permainan kartu ini.

“Apa maksudmu, Bung? Kami hanya sedang melepas lelah dan bergantung pada peruntungan kami pada kartu-kartu itu dan, apa kau bilang? Menghancurkan?” Ken tertawa, yang sialnya membuat darah yang mengaliri pipiku melebihi batas. Kemudian dengan tangkas Ken merangkulku yang sedari tadi bersembunyi di belakangnya. Jantungku berpacu kembali ketika lagi-lagi ia menyentuh sambil lalutelingaku, mendesis pelan, “Jangan menunjukkan kepanikan, Skye. Itu memancing mereka.”

Ketegangan di wajah penghuni meja berangsur-angsur menghilang. Mereka kembali mempersilakan Ken masuk ke tempatnya. Ini menguatkan persepsiku bahwa orang ini tidak lebih dari kerbau yang memiliki rumah yang terbuat dari emas.

**

“Kau takut tadi?”

“Harus kuakui, ya. Kau hebat menanganinya. Kalau aku jadi kau, jelas saat ini aku tengah dikejar-kejar.”

Ken mendengingkan tawa. Ini kali pertama bagiku mendapat teman yang masih mampu bersikap serileks ini meski ada kasus besar yang menghadang kami.

“Aku mau menelepon layanan kamar. Kau mau memesan apa?”

“Samakan saja denganmu.” Aku menyahut, tak menaruh atensi sama sekali. Tanganku sibuk mengurai temali yang menahan pisauku.

Okay.” Aku mendongak dan mengendurkan jaringan kenyal di tubuh. Ken berada di atas sofa berbeledu, setelannya masih setia membalut tubuhnya. Mungkin aku harus pergi ke bawah dan memesan kamar lain lagi mengingat hanya ada satu kamar untuk kami berdua. Sial.

Selesai mengurai, aku mengamati ruangan dan menarik kesimpulan; hanya ada satu kasur. Salah satu dari kami harus tidur di kursi berlengan atau di lantai. Aku tahu Ken akan melakukannya, namun aku tak begitu menyukai ketika seorang lelaki mengalah hanya karena gender kami.

“Skye,”

Aku memfokuskan diri kepada Ken lagi.

“Mengenai pembagian tempat tidur, kupikir akan lebih baik jika kita bergantian. Hari ini aku akan tidur di sofa,”

Aku mengerjap cepat dan merasa rikuh tiba-tiba lantaran penuturan Ken yang jelas—seakan menerawang pikiranku.

Jika dibiarkan seperti ini setiap harinya—lambat laun aku benar-benar akan dijatuhkan.

**

Mungkin aku harus menarik kembali sarkasmeku mengenai kerbau berumah emas mengingat pisau berkilat yang menggesek ketat permukaan leherku. Harga diriku memberontak sedari tadi dan aku tak henti menumpuk dendam serta penyesalan, mengapa aku lengah dan tak menyisipkan pistol dalam piyama yang kukenakan. Sialnya lagi, mereka hanya menangkapku dan layaknya penjahat yang kau ketahui, menjadikanku sebagai umpan agar Ken menyelematkanku.

Agaknya, kepercayaan diriku luntur sedikit demi sedikit selepas enam jam lebih terkunci di gudang penuh alat-alat penyiksaan, dan tanpa mendapati sedikit saja tanda jika Ken akan datang dan menyelamatkan diriku.

Mungkin aku terlalu banyak menaruh harap.

Pintu berlapis peredam berkeriut ketika sesosok—mengapa aku terus-menerus berdelusi bahwa Ken akan membawaku pergi dari sini?—oh maaf, salah satu anggota kawanan pemain kartu dan mengabarkan bahwa kamar yang dihuni Ken telah kosong.

“Menurutmu dia benar-benar akan meninggalkan perempuan ini?” Pimpinan mereka berseru sembari menendang kursiku. “Yang benar saja!”

Aku limbung sesaat.

Memang apa yang akan Ken dapat apabila ia nekat menyelamatkan seorang perempuan yang disekap? Kerugian, ya. Keuntungan? Melihat situasinya, jelas sekali tidak. Lebih-lebih, penandaku berada di bagian dalam lengan sehingga tentu akan menyulitkan.

“Menurutmu dia bagian dari agen itu juga?”

Seseorang tadi menggeleng dengan raut congkak. “Tidak, kelihatannya dia hanya seorang jalang yang sengaja dibuang.”

Berani sekali ia mengatakannya.

Lelaki si Pimpinan menyerah, ia memberi pesan kepada anak buahnya untuk mengurusku sementara dia akan menyebar bawahannya yang lain untuk mencari Ken. Pintu tertutup dengan bantingan keras dan si anak buah ini menyeringai miring kepadaku.

Kemudian, aku berdelusi untuk kesekian kalinya.

Ada Ken di lubang atap, tepat di belakang laki-laki itu. Entahlah, tak kumengerti pula mengapa aku terus-menerus menanam harap padanya. Harusnya, sekarang aku mengirim sinyal gawat ke Pusat dan meminta bala bantuan.

Tetapi sosok anak buah yang tak henti menyeringai di hadapanku ambruk secara ajaib dan manikku menangkap pisau tertancap di tempurung belakangnya.

“Hei, merindukanku?”

Rasanya begitu memalukan ketika sesapan lega dan kebahagiaan menguasaiku kala Ken akhirnya datang. Ia membantuku melepaskan tali yang mengikat lenganku dan menarikku berdiri. Kakiku nyaris tak sanggup menopang—perpaduan antara terlalu lama duduk terikat dan kejatuhan kursiku sendiri, tapi akhirnya aku berhasil berdiri tegap.

Ken melemparkan dua pistol berpeluru ke tanganku, menungguku menyesuaikan jemari, kemudian kami merangsek keluar dari ruangan dan siap membunuh. Oh, kelihatannya hanya aku yang begitu bernafsu membunuh—Ken sama sekali tidak.

Lorong di ruang sepi. Aku curiga mereka sudah memperkirakan hal ini akan terjadi dan telah menunggu dengan persiapan lengkap di suatu tempat, mencari waktu yang tepat untuk mulai menyerang. Aku mengutarakannya pada Ken.

“Jangan konyol. Meskipun mereka pandai berjudi, kebanyakan dari mereka otaknya kosong.” Katanya dengan super tenang.

Aku menghela napas lega. Di ujung lorong, ada dua petugas yang berjaga. Aku akan menekan pelatuk tetapi Ken menghentikanku. Sebagai ganti, ia mengeluarkan pistol berperedam dan menembakkan pada punggung masing-masing—bodohnya, kedua petugas itu bahkan tidak menyadari kami berada di belakang.

Lorong selanjutnya kelihatan berbahaya, kami tidak berhenti memasuki ruangan-ruangan kosong atau menyelinap. Seseorang mengetahuiku dan dengan sigap Ken menghabisinya.

Ken tidak menghentikan langkahnya, berjalan tanpa henti ke suatu ruangan yang tak kuketahui. Aku mendesaknya untuk menjelaskan kepadaku, tapi ia hanya tersenyum dan terkatuplah aku.

“Sebenarnya ini tempat apa, sih?” aku bergumam pelan ketika kami mulai memasuki suatu ruangan terkunci—aku berhasil membukanya dengan bantuan jepit rambut, klise, memang—yang penuh dengan bertumpuk-tumpuk karung tanpa label.

“Kau belum diberitahu, ya? Kita sedang berurusan dengan pengedar yang bertopeng sebagai pejudi.”

“Jadi kartu-kartu itu—astaga, kukira kita hanya perlu membakar tempat perjudian dan, voila, selesai.”

Ken tertawa bersamaan dengan suara peluru. Hebat, ia bisa berkonsentrasi pada dua hal sekaligus, dan benar-benar bersungguh-sungguh dalam menghadapinya. Mengapa pula aku perlu mendemonstrasikan kekaguman tidak wajarku padanya?

“Skye, konsentrasi. Fokuslah. Ini belum seberapa. Aku baru saja mengecek data-data mereka dan asal kau tahu, beberapa dari mereka penembak  jitu.”

Baiklah. Aku menarik napas panjang dan berusaha menyatukan pikiran dengan pistolku. Kami terus berjalan dengan Ken memimpin. Dua meter dari kami ada dua belokan, kelihatannya tempat yang berbahaya. Keadaan begitu sepi sehingga derap sepatu yang Ken bawakan terdengar dengan begitu jelas.

Suara tembakan pelor terdengar seketika dan kami berjibaku. Ada begitu banyak orang berjas, beberapa dari mereka berkulit hitam, dan mereka tak henti menembaki kami. Beberapa juga berusaha sangat keras melumpuhkan kakiku.

Aku tak berhenti. Pistolku tetap siaga dan begitu pula kakiku yang terus menendang, menginjak, pokoknya segala yang bisa memberi rasa sakit dan menghentikan mereka. Fokusku tak lagi pada Ken, tetapi orang-orang ini. Seseorang mendekatiku dan berhasil merobek bajuku dengan pisau mereka—sedikit lagi, Swiss Army itu akan masuk dalam perutku, namun aku tangkas menampar pipinya dengan pistol dan mengantongi pisau tadi.

Rasanya pertarungan tak dapat terhenti lagi, aku sangat kelelahan tapi bersemangat. Tinggal beberapa lagi, jemariku cepat menangkap laras panjang yang dilempar Ken kemudian berjalan maju dengan tembakan tepat sasaran.

Tiga menit, kami selesai.

Aku akan segera duduk menjeplak kalau tidak mengingat ladang narkoba di dalam sana. Seharusnya duduk berjam-jam mampu memberiku stamina ekstra. Saat aku menoleh pada Ken, ia memberi isyarat untuk menyebar. Ada banyak lorong  di sini dan waktu kita akan habis, mata Ken berkata. Aku mengangguk saja dan berbelok ke sebuah ruangan dengan pintu masuk dari beton.

Suara dor-dor memekakkan terdengar begitu aku melangkah maju, orang-orang berbaju militer berdiri di sana dengan raut bengis dan congkak. Jangan khawatir, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam satu hantaman keras laras panjang. Beberapa dari mereka memang sulit ditaklukkan, jadi aku mengeluarkan jurus hantam-pukul-tendangku dan mereka mulai ambruk.

Lalu, ada pistol di kepalaku.

Teknik lama, ha. Aku tak akan menggigit telapak tangannya atau semacamnya, tapi kelihatannya refleks cepat yang kulatih diam-diam sangat berguna. Bukan bermaksud congkak, tapi aku memang berhasil menghabisinya.

Aku berdiri dan berdecak puas setelah orang-orang ini bergelimpangan dengan gaya yang sama sekali tidak bagus, tapi salah seorang dari mereka berhasil menekan alarm pengaman dan hancurlah rencana Ken.

Tanpa menahan emosiku lagi, aku menginjak jemari orang itu—benar-benar keras. Kemudian segera berlari ke ruangan lain—semua orang sudah berlarian menuju segala ruangan dan aku harus menahan diri untuk tidak menghambur dalam serombongan orang itu, yang dengan bodohnya lupa tidak memeriksa ruangan di mana alarm itu berbunyi sendiri.

Ketika orang-orang itu sudah menghilang di banyak sekali ruangan di sini, aku berhasil menyelinap masuk ke dalam suatu ruangan yang misterius. Maksudku, sangat misterius. Double super. Ada banyak kursi di sini, lemari-lemari, meja, kemudian pintu-pintu. Kalau Ken ada di sini, dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Kalau Boom di sini, dia akan bersikap tidak sabaran dan langsung saja melempar granat; tapi ini aku.

Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa.

Jadi, aku meneliti lemari-lemari karena meja itu kosong. Sangat disayangkan, lemari itu hanya berisi alkohol botolan dan senjata. Aku mengambili beberapa senjata yang kelihatannya kuperlukan kemudian meninggalkan sisanya setelah menghantamnya satu persatu dengan batu besar yang kudapat dari bawah meja. Kemudian aku beranjak untuk mengecek pintu-pintunya; isinya mengerikan.

Ada banyak sekali tengkorak di sana. Dan bau yang menguar benar-benar menjijikkan. Aku menahan diri untuk tidak muntah dan melanjutkan ke pintu selanjutnya.

Lalu aku ingat pesan Ken, “Kalau kau menemukan pintu utama terlebih dahulu, hancurkan saja. Kurasa mengaktifkan bom di sana dan meledakkannya adalah opsi yang bagus.” Jadi aku beringsut cepat-cepat dari satu pintu ke yang lainnya, secepat yang bisa kulakukan. Kemudian ketika tak tersisa lagi, aku berderap menuju ruangan yang lainnya. Kurasa alarm yang dinyalakan orang tadi cukup berguna juga, setidaknya aku tidak perlu menekan pelatuk dalam sisa perjalananku.

Tapi di ujung koridor aku bertemu Ken, dan dia tidak sadarkan diri.

**

Tenang saja, kami tidak kalah.

Sebelum pingsan Ken sudah menelepon Pusat dan meminta bantuan; kurasa ia agak meremehkan kekuatanku. Selanjutnya berjalan dengan mudah, aku berhasil menangkap Ketua di sana dan melemparnya dalam penjara.

Dan kami baik-baik saja, aku dan Ken, maksudku.

Kami menghabiskan sisa waktu dengan mengunjungi banyak tempat di sini dan mengikuti pesta-pesta—sampai saat ini aku belum mengetahui alasan mengapa kami mengikuti pesta. Dan Ken sangat manis. Ia benar-benar manis dan keren dan sempurna, dan mungkin segalanya.

Ia bersikap sangat baik denganku.

Suatu malam, kami menelepon layanan kamar dan meminta bertumpuk-tumpuk makanan dan berbotol-botol minuman—aku tidak tahu kalau kami sama-sama serakus itu. Semua berjalan semudah itu dan Ken bilang dia menyukaiku. Amat sangat menyukaiku. Dia khawatir ketika aku menghilang pada pagi hari, dan bergegas mencariku ke seisi hotel.

Kami tertawa dan nyaris mabuk karena terlalu kenyang, menonton banyak sekali film di teve hotel sampai rasanya mataku berkunang-kunang, kemudian bergulingan di karpet di ruang tengah. Pokoknya, ada banyak hal menyenangkan yang kami lakukan malam itu.

Dan aku tahu, aku juga menyukainya.

**

“Kau sudah mengepak semua pakaian? Barang-barang? Sepatu?”

Aku tertawa mendengarnya. Lagipula, aku heran Ken mengira aku membawa hal-hal yang berbau perempuan—sepatu; tas; pakaian cantik; hal-hal seperti itu, karena aku sama sekali tidak. Kecuali pistol, pisau, serta peluru bisa dikategorikan dalam alat rias.

Ini hari terakhir kami di Novosibirsk. Makanya dari semalam kami disibukkan oleh koper-koper dan membenahi sedikit barang di kamar. Kau tahu, kami berhasil merusaknya dengan sangat parah. Dan aku tidak mau pihak hotel menghubungi Pusat hanya untuk meminta ganti rugi atas apa yang telah dilakukan salah satu agennya, atau salah dua.

Aku berhasil menyelesaikan satu-satunya koperku bertepatan dengan dikirimnya sarapan. Ken yang membuka pintu dan meletakkan nampan di ruang tengah, satu-satunya ruang dengan meja dan kursi tanpa beledu.

Sarapan pagi ini adalah salmon asap. Harusnya menu sarapan itu sesuatu yang rendah-lemak dan ringan; roti misalnya. Tapi aku tak begitu memedulikannya mengingat ada Ken di sini, dan kami punya status sekarang.

“Ken, kau akan kembali ke Korea atau?” tanyaku, sebelah tanganku tak berhenti mencincang daging salmon.

“Aku masih memiliki urusan. Belakangan ini mereka terus-menerus mengandalkanku untuk menghadapi banyak hal. Semoga saja lain waktu jam kosong kita bersamaan.”

Kemudian aku merasa malu karena bersikap menyebalkan hanya karena memiliki jadwal yang sangat padat. Setidaknya, aku memiliki jeda waktu antara kasus satu dengan yang lain, tapi Ken tidak. “Kalau begitu kau harus mengirim e-mail padaku sesering mungkin.” Usulku. “Oh, dan mungkin, menelepon juga. Setidaknya memberi kabar kalau kau, yah, masih hidup.”

Ken tertawa. Kami melanjutkan acara sarapan kami yang tertunda. Dan aku tidak berkeberatan sama sekali ketika kami saling diam. Maksudku, terkadang diam pun memiliki makna.

**

Mobil kami datang. Atau aku harus menyebutnya taksi?

Ken mencium pipiku kilat, sangat-sangat kilat sampai-sampai aku berpikir bahwa itu hanya khayalanku saja, tetapi mengingat darah yang berpacu ekstra keras di sekitar pipiku, aku tahu itu memang terjadi.

“Hati-hati, kalau kau merasa terlalu lelah, ambil saja cuti. Aku akan ke rumahmu sesegera mungkin.” Katanya sebagai penutup. “Aku menyukaimu.”

Aku juga.

Lalu perjalanan panjang menuju bandara menjemputku. Terakhir, aku melihat punggung Ken di kaca belakang mobil.

Kelihatannya, itu hal yang sangat cukup bagiku. Yah, harusnya aku menghentikan segala kekhawatiran tak berdasar dan secepat mungkin sampai di rumah. Dan mengecek e-mail-ku.

***

“Sore ini, pukul lima.” Kata Boom dengan suara seakan-akan itu hal yang paling kutunggu. “Mereka akan berada di tempat yang sama denganmu, dan kau bakal punya banyak waktu untuk bermesraan dengan pacarmu itu, siapa namanya? Ah benar, si Pacar Barbie—Ken.”

Mau tak mau, penuturan Boom nyaris membuatku menangis. Kembali ke “Lubang Hitam” yang telah berminggu-minggu lalu kutinggalkan, berkat terapi. Sebisa mungkin aku menahannya dan bertindak seakan aku baik-baik saja.

“Kau yakin akan memilihku untuk kasus yang satu ini, Boom? Kedengarannya begitu berat untuk standar mata-mata yang sudah berhenti nyaris setengah tahun.”

Boom tersenyum dengan matanya, aku sungguh ingin tahu bagaimana cara melakukannya dengan baik. “Hanya empat bulan. Aku tahu kau bisa, Skye. Maka, kau bisa.”

Oh, baiklah. Aku hanya berharap pertemuan itu tidak berakhir dengan perang saudara dengan satu korban utama dan banyak sekali korban sampingan.

**

Dan dia tetap di sana.

Dia siapa? Oh, tentu saja kau tahu siapa. Laki-laki menarik dengan setelan jas dan sepatu Converse berkilat. Memang bukan padu-padan yang bagus, tetapi hampir tidak ada sesuatu yang terasa salah di dirinya.

Aku duduk di salah satu kursi, terjauh dari bangku yang didudukinya bersama beberapa spy yang sepertinya kuketahui. Di sampingku duduk perempuan, yang pernah menjadi PIA-ku ketika menghadapi penculik anak.

“Hai,” sapaku, separuh tak ingin disebut bodoh dan kesepian karena duduk sendirian dan tidak tahu harus melakukan apa. “Masih mengingatku?”

“Skye!” teriak Hyeju, agaknya terlalu keras karena orang yang duduk di deretan bangku kami menolehnya cepat. “Senang bertemu denganmu!”

Aku melempar senyum yang termeyakinkan milikku, “Aku juga. Bagaimana kasus-kasusmu?”

“Tidak semenarik ketahuan bos besar Perkumpulan Penculik Anak di Bawah Umur, waktu bersamamu.” Dia terkekeh. “Tapi, ya, kebanyakan dari mereka membosankan sekaligus menyenangkan. Apa kabarmu? Kudengar kau resign beberapa saat.”

Sungguh, aku tak ingin membicarakan hal itu. Bahkan kepada Hyeju yang kelihatannya bisa menyimpan rahasia dengan baik. Tapi aku sendiri tak yakin penyebab kegilaanku masih menjadi rahasia.

“Baik-baik saja. Kau lihat? Aku masih sama membosankan dan congkaknya dengan setahun yang lalu.”

Begitulah. Kami terlibat pembicaraan seru. Kurasa Hyeju berubah menjadi perempuan sangar setelah kasus terakhirnya; pemboman. Tapi lepas dari semua itu, dia tetap si cerewet yang sama. Kemudian bel berdenting keras-keras di podium, dan aku segera memfokuskan diri di sana.

Basa-basi tak penting dilontarkan oleh—bagaimana ya menyebutnya?—ketua Pusat Agen di seluruh Korea Selatan, kemudian suasana berubah menjadi serius dan tibalah kami di inti pembicaraan.

“Kalian tahu, maraknya hacker di beberapa negara baru-baru ini? Bahkan salah satu dari mereka berhasil menyentuh situs resmi terselubung kami dan melakukan invasi besar-besaran dengan cara yang sangat modern.”

Aku kurang memahaminya. Kuharap Hyeju bersedia menjelaskannya padaku nanti.

“Dan kalian tahu, mereka mengubah segalanya! Mereka menghancurkan keaslian kita dan menggantinya dengan hal-hal tak berguna seperti budaya-budaya asing berbahaya dan itu digunakan untuk mengancam setiap orang yang berhubungan dengannya.”

Seseorang mengacungkan jemari. “Maksudmu, melakukan hal seperti… invensi?”

“Kurang lebih seperti itu.” Sahut Ketua Besar dengan nada ringan. “Dan sekarang kalian dikumpulkan di sini. Kita akan menyerang!”

**

Kurasa aku mabuk dan mataku mulai menipuku dengan fatamorgananya yang konyol.

Aku harus berpegangan pada tembok di sampingku, menempel padanya seperti cicak—tapi dia nyata.

“Hai, apa kabar?”

BEGITU? Begitu yang dia tanyakan selepas apapun yang dilakukannya kepadaku?

Apa mungkin aku bisa melakukan hal yang sama dan melempar ujar, “Ya, aku baik-baik saja dan aku sudah menghapus e-mail-mu dari ingatanku dan mulai mengerti bahwa kau mencampakkanku. Dan aku oke saja, tuh.” Yang ternyata, hanya sanggup kuteriakkan keras-keras dalam hati.

Well, laki-laki ini masih menunggu balasan sapaku.

“Menurutmu terapi itu apa?” kataku.

Ken tampak bingung, mungkin sekarang dia mengira aku gila. “Usaha untuk memulihkan kesehatan?”

“Yang terjadi padaku, memulihkan kewarasan; patah hati juga.”

Ken sengaja mengambil jeda. Kelihatannya dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi wanita gila yang menjalani terapi hanya karena ditendang keluar dari hidup seseorang.

“Skye, dewasalah. Itu hanya beberapa hal konyol. Kau bahkan tahu itu. Bukannya aku sudah menjelaskannya padamu?”

Sekuat tenaga, aku mengepalkan tanganku untuk tidak meninjunya. “Oh, begitu. Aku harus bersikap dewasa dan hadapi momen apapun dan jangan terlalu banyak berharap padanya. Menurutmu, apa dewasa itu menerbangkan kemudian menjatuhkan?”

Aku berlalu darinya.

Dan aku tak percaya, aku masih sakit. Aku masih membutuhkan terapiku.

***

Malam ketika aku tiba di Korea.

Boom menyambutku dan menjeritkan selamat kepadaku berulangkali bersama teman agenku yang lain. Aku berterima kasih kepada mereka, dan pulang ke rumahku secepat mungkin untuk istirahat. Oh, dan mungkin beberapa hal lain yang penting.

Tapi tidak ada apa-apa.

Serius. Butuh dua belas jam nonstop untuk perjalanan dari Novosibirsk ke Korea Selatan, dan selama itu, Ken tidak mengirimkan apapun. Bahkan salampun tidak.

Oh, mungkin dia hanya bersikap jual mahal dan malu-malu. Atau dia sedang supersibuk dengan pekerjaannya. Atau mungkin dia sedang tidak bisa diganggu karena tengah memasang bom di sebuah gedung.

Jadi aku menghabiskan waktuku dengan tidur lelap di kasurku sendiri, sampai keesokannya aku bangun.

Kotak masuk: 1.

Tentu saja, Ken! Kau akan mengirimiku apapun, dan bergegas mengunjungi rumahku selepas tugasmu selesai.

Tapi itu hanya struk gaji dari Boom yang baru saja dikirimkan ke tabunganku. Tentu saja aku senang mendapatkannya. Ya, harusnya aku begitu.

Kenyataannya, Ken tidak memberitahukan alamat e-mail dan nomor teleponnya padaku. Dia hanya meminta milikku dan berjanji.

**

Dua belas hari selanjutnya.

KEN BAHKAN TIDAK MENGIRIMKAN KABAR APAPUN; separah itu. Aku bertanya-tanya apa Manhattan tidak memiliki koneksi internet atau sinyal—karena di sanalah Ken berada. Tapi tentu saja bukan begitu.

Aku merasa seperti separuh nyawaku diambil. Ketika aku bangun dari tidur dan memandangi atap kamar lamat-lamat, kemudian mulai menangis ketika ingatan aku dibuang mencuat dengan liar dan brutal. Ketika aku makan dan teringat salmon asap, aku menjerit kehilangan dan merasa mati selanjutnya. Ketika aku akan melakukan segala sesuatu, selalu ada bayangan gelap menyertai dan aku tak bisa menyingkirkannya. Terlebih, kenyataan bahwa Ken nyaris tak peduli lagi padaku—sama sekali tidak, karena sebulan berlalu tanpa apapun darinya.

Seakan itu belum cukup, Ken ternyata masih bernafas dan hidup di suatu tempat. Mungkin aku tidak akan segila ini kalau saja Ken ternyata mati dan mayatnya lenyap dalam timbunan gedung yang telah dilempari granat serta kabar-kabar mengenai agen tampan yang mati secara mengenaskan. Tapi dia hidup. Dia hidup dan berhasil menghancurkan hatiku, dengan lebih brutal. Dan dia masih bahagia di luar sana.

Tapi aku di sini dan nyaris kehilangan kewarasan.

Mungkin Ken harus tahu ini, tapi aku tidak mandi. Aku tidak mengganti piamaku. Aku tidak menyisir rambutku atau menguncirnya—seburuk itu. Padahal, percayalah, aku adalah mata-mata perempuan terhebat di Pusatku, dan dia berhasil mengambrukkanku, bahkan hanya dengan menyenggol seinci saja bagian tubuhku, atau lebih tepatnya; hatiku.

Segala macam hal abnormal kulakukan. Aku bahkan melacak Ken, seperti yang dilakukan penjahat-penjahat yang biasa kami hadapi, kemudian pergi menyusulnya.

Lalu menghadapi Ken masih seperti sedia kala.

Dia kaget melihatku, sudah tentu. Aku tak berani membayangkan bagaimana ekspresinya ketika melihatku terkungkung dalam kegilaanku karenanya.

“Skye? Itukah kau?”

Ken mengatakannya seolah aku baru saja melakukan operasi plastik yang sangat gagal dan menghilangkan bibirku menjadi cekungan bolong.

Lalu aku mulai menangis. Aku menangis dengan ekstra keras sehingga Ken mendekapku dan membawaku ke mobilnya. Tapi sikapnya tak menyiratkan rasa sayang; aku menangis makin keras menyadari bahwa dia merasa jijik padaku.

“Mengapa kau tidak menghubungiku?” tanyaku dengan air mata menetes-netes di sela-sela suara penyanyi Michael Learn to Rock dalam lagunya Breaking My Heart yang disetel rendah. “Maksudku, kau tidak memberiku kabar sama sekali, Lee Jaehwan. Memangnya kau anggap apa hubungan kita?”

Kukira—atau kuharap—masih ada sedikit saja rasa suka Ken untukku ketika dia memojokkanku. Tapi dia hanya memandangku seperti majikan memandang anjingnya. Kemudian dia berhenti mendorongku, bersamaan dengan surutnya Air Terjun Niagara-ku.

“Sudah berapa lama kau menjadi Agen, Skye?”

Aku tak menemui alasan mengapa aku harus menjawabnya, jadi aku diam dan tetap memandanginya.

Ken mendesah keras-keras dengan nada lelah, kemudian ketika dia memandangku, aku tahu dia sudah terlalu sering melakukan ini pada setiap agen wanita di luar sana. “Dalam dunia kita, tidak ada mencintai.” Tuturnya lambat. “Yang ada, hanya memanfaatkan.”

Aku menampar dan meninjunya kemudian keluar dengan amarah mengerikan yang menguasai jasmani dan rohaniku.

“Bukan kita, sialan. Hanya kau.”

Percayalah, aku berhasil menghancurkan mobilnya lalu pergi dari sana sesegera mungkin.

Karena rasanya seperti bola basket; dipantulkan, dilemparkan, kalau berhasil aku lolos dari pinggiran ring yang keras, tapi Ken gagal. Dia membuatku ditampar pinggiran ring—yang dalam hal ini, cinta.

**

Kemudian orangtuaku habis kesabaran dan mendaftarkan namaku di tempat praktek psikolog.

Aku akhirnya pergi dan berkonsultasi. Kuhabiskan berember-ember air mataku dihadapan Dr. Park—menangis tanpa henti ketika tiba pada bagian dilupakan. Dr. Park memberiku banyak sekali motivasi—pada awalnya terasa sangat konyol—yang berhasil menarikku dari kubangan kotor dan gelap yang dua setengah bulan kuhuni.

Aku baik-baik saja.

Aku masih hidup dan bayangan itu berhasil dirampas dariku.

Aku kembali ke duniaku sebelumnya.

Dan kali ini, aku bertemu Ken untuk kali ketiga.

***

“Pertemuan keduanya akan diadakan hari ini, Skye.” Tutur Boom ketika aku sedang duduk bersantai di kubikelku. “Omong-omong bagaimana kemarin? Apa kau berhasil menyelinap dengan si Pacar Barbie?”

“Jangan mengkhayal, Boom. Kirimkan saja.”

“Cek saja. Memang kau sudah tidak memiliki apa-apa dengannya?” desak Boom. Ia menaik-turunkan alisnya seolah aku akan segera memuntahkan isi hatiku sekaligus sebab-sebab mengapa aku bolos dari Pusat hampir setengah tahun.

Aku tak memiliki alasan untuk menjawab. Lagi pula, bukan hak siapapun untuk mengorek apa-apa dariku. Kecuali kalau itu memang keinginanku. Sayangnya, dalam hal ini, aku tak akan membaginya dengan siapapun.

“Aku akan bersiap.”

Oh, kecuali Dr. Park.

**

“Jadi kau membenciku?”

Napasku tersengal, sampai dadaku serasa meledak detik itu juga. Aku kehilangan kemampuan salah satu indraku—berbicara. Tapi melihat ekspresi yang ditunjukkan Ken, kurasa dia sudah bisa menebak apa jawabnya dengan sangat gamblang.

Aku benci ini. Ketika organ yang kau miliki tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dan kau hanya akan jatuh semakin dalam, tersakiti lebih. Aku bahkan tidak tahu mengapa kami bisa berada di sini, bagaimana aku bisa sebodoh itu tidak mengempaskan lenganku tadi—begitu Ken menyambarnya. Tapi, sekarang tidak ada gunanya.

“Kalau kau memang benar-benar membenciku—tolong lupakan.” Ujar Ken dengan nada setenang rawa penyesat. Ia belum melepaskan cekalan tangannya sehingga aku tidak bisa melenyapkan diri dari sini. “Kalau perasaanmu tidak sebenci itu.”

“Lantas mengapa?” aku mengaum, begitu marah dan kecewa. Dan juga, patah hati. Seperti ketika tisikan kain jebol kembali. “Kau bahkan tidak memiliki hak untuk itu! Kau tidak sepenuhnya berkuasa di sini.”

“Skye, aku tahu kau masih menyukaiku.”

Seharusnya aku menyemburnya dengan makian sok tahu kau! tapi ucapan itu terhenti di tenggorokan.

“Di antara yang lainnya, kurasa kau perempuan yang paling membenciku.” Katanya. “Dan aku sungguh merasa tidak enak akan hal itu.”

“Oh, benar. Jadi kau merasa tidak enak ketika aku terus menanti pesan darimu? Atau kedatanganmu? Merasa tidak enak ketika aku pergi ke psikolog sendirian dan menangis di sana hampir dua jam penuh?” aku menjerit, setengah frustasi dan gila. “Atau kau merasa tidak enak karena aku berubah menjadi benalu menyebalkan di hidupmu? Seperti itu, Ken?”

“Ken?”

Kami berdua menoleh pada suara itu—Hyeju. Apa dia sudah pernah rekanan dengan Ken sehingga bisa menyapanya dengan begitu mudah? Maksudku, seperti mengganggu perbincangan kami atau apalah itu?

Aku bergegas menyeka air mataku ketika fokus Hyeju terarah padaku.

“Oh, halo, Skye.” Sapanya. Kemudian dia tampak bingung.

Ken mengambil alih. “Kalian sudah saling mengenal?”

Klise sekali, aku bahkan tidak ingin mengangguk atau menggeleng atau bahkan bernapas sekalipun.

“Baiklah, Skye, kukira kau harus tahu ini.” Laki-laki berengsek itu menggeret Hyeju ke sisinya dan menggenggam jemarinya. “Ini Hyeju—”

Aku menampilkan tampang malas. Aku sudah kenal Hyeju dan Ken jelas tidak perlu mengenalkannya padaku untuk kali kedua.

“—dia istriku.”.

.

.

Maybe some part of you just hates me.

You pick me up and play me.

You lie, and say it’s all for love.

How do I call this love?

..End.

Haloha!

Selamat kamu berhasil nuntasi 4k lebih! Seriusan gak nyangka ini bakalan sepanjang itu (kebanyakan adegan gak penting, aku tahu :”) Genrenya nipu banget, yak? Aku emang gak pinter bikin action-fic, dan ini maksain aja deh abisan aku udah telanjur dapet ide dan mubazir kan kalo dibuang X’D

Aslinya terinspirasi dari film 007 (tahu sendiri, kan, di sana Bond playboy-nya macam apa!) hehehehehehe tapi ini asli gagal sekali .__. Ada yang bingung sama alurnya? Pokoknya kalo batas paragrafnya pake ‘***’ berarti flashback. Kalo ‘**’ ceritanya masih lanjut gitu. Semoga paham deh!

Maafin kalo bikin bingung </3

Terakhir, boleh minta reviewnya enggak nih eak😄

Poster Credit: flaminstkle19 at Poster Channel. 
 

 

6 thoughts on “[ONESHOT] NICHEGO

  1. Aduh, si Ken . . Aku suka gaya bahasamu nih, enak dibaca dan aku nggak bingung kok. Apalagi aku lagi suka si imut gesrek Ken ini. Hoho. Ikutan sedih ngerasain patah hati kek Skye. At last, semangat buat karya selanjutnya.

    Like

    1. Haloooo! Aku Meyda, 99liner. Btw nama kamu siapa nih? Hehehe ._.

      Duuh seneng deh kalo kamu paham ini cerita soalnya alurnya emang ribet (yha) Dan kalo Ken, duuuh siapa sih yg gak naksir dia lol😀

      Makasih yaaa udah baca ini dan ninggalin komen :3

      Like

      1. Namaku Hanum🙂 Btw, kita udah saling kenal lo dulu seingatku, kita saling smsan klo nggak salah.
        Ah, aku juga ikut seneng klo kamu jga seneng *loh*
        Terimakasih kembali🙂

        Like

  2. gezzz kenapa aku ikutan sakit ati —

    gak bisa ngebayangin ken yang imut” cetar ngalahin syahrini bisa bikin cewek seteres akut ottokkajiiiiii :3

    tapi entah waktu bayangin ken senyum yg muncul di otakku malah hongbin /ini curcol/

    oke aku ngerusuh wp orang lagi
    nice ff, keep writing ^^
    eh iya aku agustya salam kenal🙂

    Like

    1. Halooo!

      Lohloh sapa tau ken itu di belakang playboy hayoloh hahaha. Emang sih yaa awalnya aku jg pengen pake hongbin bikoz dia kalo dijadiin playboy gini lebih mendalami pasti lol

      Silakaann ngerusuh ih aku malah seneng hahaha anyway makasih banyaak yaaa udah baca dan komen hihiw❤

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s