[Vignette] They’re Not My Friends


collage

Mengapa teman-temannya datang terlalu pagi?

.

.

inspired by Italian’s Horror Supertitious

They’re Not My Friends

Written by Bepimee

Choi Junhong feat. B.A.P’s members

Genre Horror, Gore-AU | Rating Teenager | Duration 1k+

©2014.


“Menurutmu kita akan berangkat pagi-pagi dari rumah?” tanya Junhong.

Mereka, berenam, sedang melangkahkan kaki panjang-panjang menuju kompleks setelah dua jam yang lalu bereuforia. Di sepanjang jalan yang mulai menggelap dan sepi, mereka membicarakan rencana mereka untuk besok yang bakal ramai dan membahagiakan, tebak Junhong.

Dalam hal ini, tentu saja Yongguk yang paling bertanggung jawab. Dia telah menyusun perjalanan mereka super rapi dan mulai membincangkan rencananya itu.

“Benar, Junhong. Kita akan berangkat pagi. Lalu kita akan menumpang kendaraan yang biasanya lewat sampai ke pelabuhan dan naik kapal.”

“Kedengarannya perjalanan yang jauh,” celetuk Jongup. Tapi dia buru-buru meralatnya ketika lima pasang mata menatapnya tajam. “Maksudku perjalanan jauh yang bakal menyenangkan.”

“Jadi begini,” Yongguk memulai kembali selepas selaan Jongup. “Karena rumahku yang terjauh, aku akan bangun lebih dulu dari kalian semua dan kemudian pergi ke balai kota—tempat kita akan bertemu.”

“Tapi balai kota terlalu jauh bagi rumahku,” sela Junhong, memang benar, rumahnya berada tepat di gapura masuk kompleks.

“Tenang saja, nanti kami yang akan datang menemuimu.” Yongguk menarik benang inti masalah dan melanjutkan. “Intinya, kita semua—kecuali Junhong—akan bertemu di balai kota dan melanjutkan perjalanan dengan menjemput Junhong.”

Mereka semua setuju.

“Dan Junhong,” kata Himchan. “Kita akan melempari jendelamu untuk membangunkanmu.”

Junhong nyengir.

“Kurasa kita semua akan kesulitan tidur malam ini dan bangun kesiangan esoknya.”

“Kurasa dari kita semua tidak ada yang akan bangun terlalu pagi!” seru Youngjae.

“Aku sangat senang!” kata Daehyun.

“Dan bersemangat!” susul yang lainnya, kemudian mereka tertawa ketika tungkai mereka sampai di gapura. Mereka berhenti dan Yongguk memperjelas.

“Ingat, teman-teman, pukul lima, di balai kota. Kecuali untuk Junhong. Oke?”

“Oke!”

Lalu mereka melambaikan tangan pada Junhong, yang begitu bergembira, sebelum menghilang di tikungan inti kompleks.

::

Junhong kontan sadar begitu telinganya mendengar suara biji-bijian yang dibenturkan ke jendelanya. Masih mengantuk, ia melirik weker di nakasnya. 04.10. Mengapa teman-temannya datang terlalu pagi?

Junhong turun dari kasurnya dan membuka jendela. Matanya menangkap lima sosok kawannya itu berdiri di bawah dengan pakaian yang rapi dan melempar senyuman kepadanya.

“Bukannya Yongguk hyung bilang jam lima, ya?” seru Junhong, menguap lebar.

Jongup menyahuti, “Kami semua tidak bisa tidur, dan jadilah berangkat lebih pagi.”

“Oke, sebentar ya, aku akan segera mandi dan turun ke bawah.” Kata Junhong dan bergegas menyambar pakaian yang telah disiapkannya semenjak malam tadi dan berlari kecil ke kamar mandi.

Beberapa menit, menit yang sangat cepat, Junhong menyisir rambutnya dan berdiri di depan cermin setinggi tubuhnya.

“Aku cukup tampan untuk jadi penyanyi Korea,” gumam Junhong, lebih kepada dirinya sendiri. Dia memerhatikan senyumnya, kemudian tersenyum lebih lebar. “Baiklah, segera meluncur!”

Junhong sampai di teras rumahnya, tempat Yongguk, Himchan, Jongup, Daehyun, Youngjae telah menunggu.

Mereka berjalan meninggalkan pekarangan rumahnya secepat mungkin. Junhong memaksimalkan kaki panjangnya untuk berjalan lebih cepat dari kawannya yang lain dan tertawa-tawa di depan mereka.

“Aku agak tak percaya kita melakukan ini,” kata Junhong dengan nada melamun. “Kita sudah menjual lagu kita ke mana-mana dan tidak ada yang menawari kita untuk rekaman.”

“Benar.”

“Semalaman aku tidak bisa tidur dan akhirnya ibuku membuatkanku segelas susu.” Junhong memulai ceritanya, “kau tahu, ‘kan, minum susu bisa memudahkan tidur? Dan benar, aku memang tertidur setelah itu. Bagaimana dengan kalian?”

“Aku juga tidak bisa tidur.” Gumam Youngjae.

“Kami semua tidak bisa tidur, Junhong.” Kata Daehyun.

Junhong agak mengerutkan keningnya mendengar nada datar temannya itu. Tapi itu mungkin karena mereka tak bisa tidur semalaman.

“Lain kali kalian harus mengikutiku. Minum susu sebelum tidur sungguh berkhasiat.”

“Ya, mungkin. Kami akan mencobanya lain kali.”

Junhong akhirnya tidak berbicara lagi dan berjalan di samping Daehyun. Biasanya, Daehyun adalah orang yang tepat untuk diajak bereuforia. Tetapi mimik Daehyun kali ini tampak seperti orang yang tidak tidur dan makan bertahun-tahun sehingga menyurutkan keinginan Junhong untuk bercerita atau mengoceh sepuasnya tentang berbagai hal.

Langkah kaki mereka makin cepat ketika memasuki wilayah hutan yang masih tampak gelap. Junhong berasumsi matahari terlalu malu untuk menampakkan dirinya sekarang. Jalan setapak yang semalam dilaluinya kelihatan seakan menyempit, atau itu hanya pandanganku saja? Junhong berpikir dalam hati. Oleh karena itu ia mendempetkan diri dengan bahu Daehyun.

Junhong ingin sekali berbicara untuk meredakan kecanggungan ini. Tetapi tidak ada satu pun dari kelima temannya yang menampilkan minat untuk menanggapi apapun ujaran Junhong, jadi anak laki-laki itu menutup mulutnya kembali.

Ada sebuah belokan di depan untuk menuju pelabuhan—jalan yang lebih dekat. Mereka selalu lewat sana agar mencapai pelabuhan dengan lebih cepat lagi, tetapi kali ini Yongguk tetap berjalan lurus, yang tentu saja diikuti temannya yang lain.

“Kenapa kita lewat sini?” tanya Junhong tidak mengerti. Tapi Daehyun dan Yongguk hanya menengoknya sekilas. “Hei! Bukannya jalan ini akan semakin memakan waktu kita? Bagaimana kalau kapal yang akan kita naiki pergi duluan?”

“Kita berangkat lebih pagi, Junhong.” Jawab Himchan, “lagi pula ada sungai dekat-dekat sini dan kami ingin berenang.”

“Berenang?”

“Ya, itu sungainya.” Kali ini Yongguk yang menanggapi.

Benar, di depan mereka kini ada sungai beraliran deras yang begitu jernih. Pantas saja mereka ingin berenang. Junhong memandangi teman-temannya ketika mereka langsung menceburkan diri tanpa mengukur kedalaman airnya terlebih dahulu.

Junhong belum menceburkan diri ketika air makin beriak.

“Junhong, tolong kami!” teriak teman-temannya bersamaan. Mereka melambaikan tangan mereka ke atas dan bertingkah seolah-olah tenggelam.

Awalnya, tentu saja, Junhong tidak percaya. Ia mencibir dan menunggu salah satu dari temannya itu—biasanya Daehyun—meneriaki Junhong dengan kalimat seperti, “Ah kau tidak asik!” atau apapun.

Tapi kelima temannya itu tetap dalam air.

Junhong ketakutan. Dia bergegas mencari ranting atau apapun untuk menarik keluar teman-temannya segera dari dalam air tetapi kemudian dia menoleh kembali ke sungai.

“Junhong, tolong kami!”

Junhong berhenti. Ia mundur dua langkah dari pinggir sungai, menyadari sesuatu pada akhirnya. “Kalian bisa berenang.” Katanya.

“Tidak, kami tidak bisa!” seru temannya keras kepala. “Cepat tolong kami atau kami akan mati!”

Tapi Junhong tahu ada yang salah di sini. Dia tidak tahu harus melakukan apa dan hanya diam di pinggir sungai sampai air sungai kembali tenang dan hanya kepala teman-temannya yang nampak.

Baik Daehyun, Yongguk, maupun yang lain berdiri diam dan memandangi Junhong dengan tajam. Dengan kaki sampai leher dalam air. Mendadak angin bertiup perlahan, membelai tengkuk Junhong dengan cara mengerikan. Ia mundur, terus mundur dengan dada berdentum.

Junhong segera berbalik dan berlari menjauh dari sungai itu, kembali ke rumahnya. Ia berlari terus menerus meskipun kini terdengar suara meminta tolong dari dasar sungai, ia terus berlari, mengayunkan tungkainya dengan lebih lebar dan panjang sampai tiba di gapura kompleks.

Dia memelankan langkah kakinya ketika sudah masuk dalam rumah namun rautnya masih menampilkan kengerian dan ketakutan yang amat sangat. Junhong menyelinap dalam kamarnya dan duduk di atas kasur dengan kehabisan napas sampai rasanya tercekik.

Ketika ketakutannya sudah agak mereda, ia masuk kembali ke dalam selimut dan otaknya mengirimkan kesimpulan, mereka tadi bukan temannya.

Dada Junhong seperti terpelanting. Ia menatap kembali wekernya.

04.45

::

Junhong terjaga kembali ketika terdengar suara biji-bijian yang dilemparkan di jendelanya. Dia gemetar ketakutan tapi tetap melangkah menuju jendelanya.

“Maafkan kami, Junhong! Kami terlambat bangun! Ayo kita pergi! Rekaman sudah menunggu kita!”

Junhong menatap wekernya.

05.30.

Mereka memang temannya.

..End.

20 Jul, 07.00

Halo!

Aku tahu ini gak ngeri sama sekali -_- Bikinnya super kilat dan tanpa pertimbangan lebih hehe jadi maafkan sajalha kalo ini tidak mengeluarkan aura horor huhu. Tapi emang ada takhayul di Italia yaitu jangan membicarakan rencana kita di jalan yang gelap atau rada horor gitu karena biasanya ada yang muncul, eits.

Hehe, ya udah meskipun ini horor gagal, boleh minta review-nya gak nih?  😄

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s