[Vignette] He’s Never Alone


hes-never-alone

“Tapi kenapa Sungjae tidak mau mengenalkan teman baru-nya itu?”

.

.

Inspired by an Horror Story

He’s Never Alone

Written by Bepimee

Feat. [BTOB] Yook Sungjae

Genre Horror, Gore-AU | Rating Teenager | Duration 1k+

Thanks you D’A Graceyoung @ Poster Chaneol for the awesome-cool poster!

©2014.


Tidak ada yang meragukan kalau Sungjae adalah anak laki-laki yang usil—bahkan, sangat usil. Seluruh penjuru Orethem kesal padanya, bahkan beberapa membencinya. Yah, Sungjae memang tidak pernah bersikap buruk atau jahat, tapi setiap perbuatannya tentu belum bisa diberi label ‘baik’.

Seperti kebiasan-kebiasan menjengkelkannya yang lain, setiap hari Sungjae pergi ke kafe-kafe bersama teman-temannya, kafe dimana semua pelayannya sebal padanya. Sungjae bangga pada dirinya dengan bakat melawaknya yang terkadang melebihi kesabaran orang lain atau membuat masyarakat Orethem terang-terangan memandangnya jijik.

Ketika Sungjae melangkahkan kakinya masuk ke sebuah kafe di pinggiran sungai bersama kedua temannya, Sanghyuk dan Jongup, rahang seorang pelayan mengeras. Pelayan itu bersungut-sungut sembari berjalan menuju meja di mana Sungjae dan kawanannya duduk. Ia bahkan tidak berusaha menampilkan wajah ramah seperti yang seharusnya dilakukan pelayan.

“Kau ingin memesan apa?”

Sungjae berhenti tertawa, “Jus jeruk.”

“Untuk tiga orang?”

“Apa kau buta?” sergah Sungjae, “kami berempat dan kau hanya menawarkan tiga?”

Kawannya Sanghyuk melayangkan pandangan pengertian pada si pelayan. “Hentikan omong kosongmu itu. Itu lawakan terbusuk yang pernah ada.” Ia berbalik lagi pada si pelayan. “Bawakan saja tiga jus jeruk, jangan pedulikan si Gila ini.”

Sungjae melotot pada Sanghyuk ketika si pelayan undur diri tanpa pamitan. “Seharusnya kau tidak melakukan itu! Apa kau tidak menikmati wajah jengkel pelayan itu?”

“Aku mungkin menikmatinya kalau kau melakukannya untuk kali pertama.” Potong Jongup, ia jelas-jelas setuju dengan Sanghyuk kentara dari caranya memutar bola mata. “Kau sudah melakukannya di mana-mana, Yook Sungjae. Itu bahkan tidak pantas lagi disebut lawakan. Kau membuat pelayan-pelayan itu bingung dengan omong-kosongmu. Dan terlebih, mereka mengira kau punya teman khayalan yang mengikutimu ke mana-mana, yang sebenarnya tidak ada.”

“Memang benar, sih.” Sahut Sungjae, masih acuh. “Aku memang tidak bisa melihat setan atau punya teman kasatmata seperti yang kau katakan, tapi tetap saja, mengganggu pelayan-pelayan bodoh itu menyenangkan.”

Kedua temannya menggeram jengkel, tapi berhenti mendebatnya ketika pesanan mereka datang.

::

“Dua es teh, Sir?”

“Apa kau tidak melihat? Kami bertiga dan kau menawarkan dua es teh? Betapa tidak sopannya itu!” gerutu Sungjae sambil memperlihatkan mimik tersinggung. “Untung saja temanku ini bukan pemarah.”

“Tapi, Sir, kalian hanya dua.” Kata si pelayan wanita canggung. “Tentu Anda tidak ingin menambah bon dengan pesanan yang tidak dimakan.”

Sungjae menoleh bosan pada kursi kosong di sampingnya, “Jangan kecewa, Kawan. Aku akan membereskan pelayan yang tidak punya mata ini.”

Wanita pelayan itu tampak ngeri, ia bergegas mundur dan kembali ke dapur. Sementara Sungjae tertawa terbahak-bahak pada Taehyung, temannya yang nyata. “Kau lihat itu? Pelayan itu ketakutan setengah mati!”

Sebaliknya, Taehyung tampak bosan dan kesal. “Aku tidak percaya kau masih melakukan tipuan gilamu itu. Pelayan-pelayan sudah tahu akal licikmu itu, jangan marah kalau lain kali kau disiram air oleh mereka atau kau ditendang keluar.”

Sungjae, tentu saja, tidak takut atau menyesal pada separuh pelayan di seluruh Orethem yang pernah ditipunya. Wanita tadi adalah pelayan baru, oleh karena itu ia tidak tahu tentang omong kosong Sungjae.

Setelah menunggu beberapa saat, pelayan wanita tadi kembali dengan tiga gelas es teh yang ditaruh di baki. Ia mengangsurkan gelas-gelas itu; satu di hadapan Taehyung, satu di Sungjae, dan satu di kursi yang kosong.

“Hei, kenapa kau membawa tiga?” Sungjae belum berhenti. “Apa kau tidak melihat kalau kami hanya berdua?”

“Tapi Sir, Anda tadi bilang—”

Ck, apa kau mau aku bilang pada bosmu atas pelayanan tidak menyenangkan ini? Jelas-jelas kami hanya berdua dan kau membawakan tiga lalu meletakannya yang satunya di hadapan kursi kosong? Aku baru tahu kalau kursi bisa minum. Tapi memang, sih, cuaca sedang sangat panasnya.” Sungjae menoleh pada kursi kosong tadi dengan sikap serius. “Apa kau mau es teh, Kursi?”

Wanita itu, dengan menggeram marah, berbalik dan mengentakkan kaki di sepanjang jalan menuju dapur.

Di sisi lain, Sungjae tertawa puas sampai air matanya berlinang.

::

Sungjae mengerutkan kening kesal mendengar penolakan teman-temannya ketika diajak makan malam bersama di kafe. Ia memandang ketiga temannya; Taehyung, Jongup, dan Sanghyuk.

“Apa kalian serius? Aku malas makan di dekat-dekat sini. Ayo, cepat, kutraktir.” Sungjae memberikan penawaran untuk kali terakhir.

“Tidak, Sungjae,” Sanghyuk kukuh. “Mengapa kau tidak pergi ke dengan dia?” lanjutnya sambil menunjuk sisi kosong di samping Sungjae.

Sungjae, dengan kesal, menoleh ke samping dan hanya mendapati kekosongan. “Tidak ada siapa-siapa di sampingku!”

“Bagaimana bisa kau melakukan itu? Lihat ekspresi kecewa temanmu itu. Omong-omong, siapa namanya? Dan dari mana ia berasal? Aku belum melihatnya di Orethem.”

Jelas sekali kalau teman-temannya tengah berusaha membuatnya kesal. Mereka tetap menolak meski diiming-imingi makanan gratis dan terus memaksa Sungjae untuk menjelaskan siapa yang kini ada di sampingnya, dan mengapa ia bersikeras mengatakan tidak ada orang di sampingnya. Sungjae mendengus dan berderap keluar dari tempat mereka biasa nongkrong bersama.

Ketika T-shirt yang dikenakan Sungjae sudah hilang di belokan, Jongup menoleh pada kedua kawannya. “Kenapa dengan dia? Maksudku, dia tahu kalau kita semua sudah tahu bahwa dia gila karena terus menipu pelayan dengan teman khayalannya itu, dan dia tentu tahu kalau kita tidak akan termakan omong kosongnya. Tapi kenapa dia tidak mau mengakui pria berwajah sedih di sampingnya?”

Sementara itu, Sungjae tengah mengomel panjang-pendek sambil membuka pintu kafe di dekat-dekat sini. Tentu saja, ia tidak bisa pergi jauh dari tempatnya tinggal—di mana semua pelayan sudah tahu kelakar tentang pesanan yang kelebihan satu itu—sendirian. Sungjae duduk di bangku paling pojok dengan dua kursi berhadapan, menunggu seorang pelayan datang.

“Aku pesan kopi dan kue krim.” Katanya ketus ketika seorang pelayan datang.

“Untuk dua orang? Baik, segera diantar.”

Mendadak amarah Sungjae meledak, ia melotot pada si pelayan. “Kau sedang mempermainkanku, ya? Aku sedang sendirian dan marah! Jangan berusaha membodohiku dengan trik milikku sendiri!”

Pelayan itu tampak bingung, ia menunjuk kursi di depan mata Sungjae. “Tapi Anda sedang bersama pria itu.”

Bah! Sekarang pelayan itu mempermainkannya juga? Sungjae menggeram kesal dan menunjuk kursi kosong di depannya.

“Itu hanya kursi kosong, Bodoh! Cepat bawakan pesananku!”

Pelayan itu buru-buru berbalik dan kembali dengan dua porsi pesanan dan meletakkan satu di hadapan kursi kosong. Sungjae menekan dadanya untuk menahan teriakannya.

“Ya ampun! Apa kau buta?! Aku sedang sendirian, Nona! Apa kau tidak melihatku duduk di sini, sendirian?” desisnya. “Dan bukannya aku sudah bilang padamu untuk membawakanku satu saja?!”

“Tapi, Sir, barusan pria di depan Anda mengatakan padaku untuk membawa dua pesanan.”

::

Sungjae masih mengira pelayan-pelayan menyebalkan di Orethem tengah mempermainkan dan menipunya. Ia selalu datang sendirian—karena temannya bersikeras tidak mau pergi dengannya kalau ia tidak memperkenalkan teman baru­-nya pada mereka—di setiap kafe maupun restoran dan mulai berhenti melakukan trik tipuannya. Tetapi, pelayan-pelayan itu justru selalu memberinya dua porsi. Selalu.

Awalnya Sungjae memutuskan bahwa mereka sedang berusaha membalas dendam dan memberikan efek jera padanya. Tapi keputusannya itu gugur berjatuhan ketika ia mengunjungi satu restoran baru di luar Orethem—yang belum pernah dikunjunginya—dan pelayannya bersikeras bahwa Sungjae tidak sendirian.

Ia mulai takut.

Sungjae sering kali menatap sisi kosong di sampingnya, tidak merasakan siapa pun di sana, tapi orang-orang tidak menarik ucapan mereka yang memaksa Sungjae untuk memperkenalkan teman barunya itu, serta mempertanyakan mengapa temannya itu tampak murung.

Oleh karena itu, Sungjae mengepak barang-barang dan pakaiannya ke dalam ransel besar dan membeli tiket kereta. Ia berencana keluar dari Orethem sesegera mungkin dan pergi ke sekitar Gunung Amrounth untuk meminta pengampunan atas apa yang telah dilakukannya kepada pelayan-pelayan tak bersalah dan memohon agar teman berwajah sedihnya itu pergi dari hidupnya.

Keputusannya sudah bulat.

::

Satu tahun selanjutnya, Sungjae menilai-nilai apakah sekarang saat yang tepat untuk kembali ke Orethem. Di sini, di kuil kosong yang dihuninya belakangan, Sungjae menghabiskan waktunya dengan berdoa dan kelaparan. Ia sering turun dari gunung dan membeli perbekalan, tetapi ia tentu harus menghemat.

“Mungkin sekarang saatnya.” Gumam Sungjae pada dirinya, sambil memasukkan pakaian-pakaian ke dalam ranselnya yang sangat kotor. “Aku yakin Tuhan telah mengampuniku dan membiarkan aku pergi sendirian ke Orethem.”

Sungjae keluar dari kuil dan berjalan ke daratan yang lebih rendah. Ia pergi ke stasiun dan membeli tiket ke Orethem dengan sisa-sisa uangnya. Dan kemudian, ia sampai di kota kelahirannya itu.

Sebelum pulang ke rumahnya, Sungjae menyempatkan diri masuk ke sebuah bar malam dan duduk di kursi depan konternya. Seperti biasa, bartender-bartender yang kebetulan berdiri di belakang konter akan menyebarkan gelas-gelas ke tamu-tamunya. Saat itu, bar dalam keadaan sepi dan hanya Sungjae yang duduk di sana.

Pertama, bartender itu meletakkan segelas di hadapan Sungjae.

“Terima kasih,” ujar Sungjae tulus, ia mulai menenggak minumannya ketika bartender itu mengangsurkan segelas minuman untuk siapapun yang sedang duduk di samping Sungjae. Bartender itu mengangsurkan segelas lagi, segelas lagi, segelas lagi, segelas lagi, sampai genap delapan gelas di deretan konter.

“Anda membawa banyak teman, Sir.” Kata bartender itu dengan gembira.

Perlahan, raut Sungjae memucat.

Ia tidak akan pernah sendirian.

..End.

July 26, 07.12.

Haha! Ini apaan???

Yah, sama kayak horrorku yang lain, ini sama sekali gak horror (bahkan cerita aslinya lebih horor daripada ini, tapi aku lupa link he he) dan gak ngeri juga sih huhuhu😦

Pokoknya walaupun ini gak nakutin sama sekali, bolehlah minta reviewnya😦 Insyaallah lain kali diperbaiki ahahaha :3

Dan… Selamat Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan bathin, Movie-freak!❤

3 thoughts on “[Vignette] He’s Never Alone

  1. duh!! Aku sempet merinding lho! 0A0”’ hiiii……..
    awalnya kukira cuma kejahilan si Sungjae aja, eh ternyata… 0A0”
    bagus kok~ >,<)/
    aku baru buka-buka blog ini btw, hehe… numpang blog walking ya😀

    Liked by 1 person

    1. Halo, Kak! Hehe ketemu lagi soalnya aku baru cek komentar huhu /berdosa/ ._.
      Aaak ini gak ngeri sama sekali ya walopun aku bikinnya juga merinding lol
      Tapi makasih banyaaakk lho Kak udah baca dan leave comments! :3

      Like

      1. halo!😄 wkwkwk~ tak apaa
        ah aku nya sih ini yang penakut, baca yang horor dikit merinding :’v hatiku lemah sama horor *plaak*
        iyaa sama-sama ya X3 hihi

        Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s