Not-First Love, and (I Hope) Not Forever Love


not-first-love

Not-First Love, and (I Hope) Not Forever Love

Written by Authumnder

[OC] Seina feat. [INFINITE] Lee Sungyeol

Genre AU | Rating Teenager | Length 2k+

Thanks to Blacksphinx for tis awesome-cool poster!^^

.

.

#1: I Don’t Think This Is First Love… Or Something Like That.

Dari awal, aku sudah bisa menebak kalau cerita ini nggak akan berakhir bahagia. Well, itu pun kalau cerita ini bakal berakhir.

Paling tidak, aku jadi punya waktu mempersiapkan diri untuk jatuh—patah hati, maksudku. Tapi siapa tahu kalau akhir yang awalnya telah diperkirakan bisa berbeda sejauh itu? Bukan berarti akhirnya berubah haluan, loh, ya. Pokoknya segalanya menjadi lebih menyedihkan plus menyakitkan.

Harusnya aku sudah mempersiapkannya, bukan?

Nggak, tuh.

Ternyata selama ini aku tidak mempersiapkannya. Aku hanya duduk menantinya, sementara membiarkan hatiku berharap lebih banyak.

Sekarang aku panik.

Sewaktu bel berbunyi dengan amat nyaring, aku baru menyadari aku tidak punya satu pun teman. Krisis itu menggempurku seperti topan. Sementara murid kelas satu lainnya berlarian ke kelas mereka masing-masing, dengan teman-teman baru mereka, tentu saja—aku masih berdiri sendirian di lobi, dengan seragam baru yang superkaku. Aku sudah mengetahui di kelas mana aku dimasukkan tahun ini, atau mungkin minggu ini, tapi aku nyaris tidak tahu apa-apa mengenai bangunan sekolah.

Bagus, sekarang lobi mulai sepi dan aku kehilangan kesempatan bertanya, atau setidaknya menemukan orang asing yang kebetulan masuk ke kelas yang sama denganku.

“Apa yang kaulakukan di sini?” seseorang tiba-tiba menanyaiku. Mungkin begitu menyebalkannya melihat siswa tahun awal berdiri di pinggir lobi, menahan tangis kebingungan.

“Eh… nggak ada. Maksudku, aku tidak.. mm, tahu.. di mana kelasku terletak.” Aku menggigit bibir, berharap cewek itu mengetahui maksudku—karena aku berbicara seperti penderita bibir bengkak tadi.

Cewek itu tersenyum sekilas dan menunjuk papan putih yang penuh tempelan kertas bewarna-warni dalam berbagai ukuran, “Ada peta di sana.” Ujarnya penuh kesabaran (apa nggak ada murid baru goblok tanpa teman yang bahkan nggak sadar kalau ada papan putih BESAR yang menunjukkan kelas masing-masing kecuali aku di sini?). “Dan sebaiknya kau segera mencari kelasmu dan pergi, karena guru-guru sudah dalam perjalanannya sekarang.”

“Oke. Terima kasih banyak.” Kataku buru-buru, sebelum melangkahkan kaki ke papan tadi dan meneliti kolom-kolom kecil tanpa warna dengan nama kelas-kelas di dalamnya. Kelasku ada di lantai dua.

Sepertinya sedikit berolahraga sebelum masuk kelas nggak apa-apa, kan?

Kelasku sudah ramai waktu aku sampai di depan pintunya. Gemetaran. Sepertinya sindrom ketakutan-tidak-bisa-menyesuaikan-diri-ku menyerbu kembali.

Baiklah. Kau hanya perlu mendorong pintunya sedikit, Seina, masuk dan mencari kursi kosong di sana. Cepat! Sebelum ada guru yang melihat dan mempermalukanmu di kelas sana.

Tapi bagaimana kalau itulah yang bakal dilakukan teman-teman baruku? Mungkin tidak kalau sekarang mereka tengah menyusun strategi penyiksaan untukku? Tapi mereka nggak mengenalmu…

Oke. Aku melantur. Jelas-jelas aku juga siswa seperti mereka semua. Aku harus masuk kalau mau menerima pelajaran dan mencari teman.

Tapi bagaimana kalau mereka tidak suka padaku? Ini sekolah terbaik di sini dan mungkin saja mereka hanya menerima cewek yang memiliki wajah sangat cantik—atau paling nggak punya badan yang bagus—dan otak yang cemerlang, karena aku tidak termasuk dua-duanya. Bahkan tidak dengan badan yang bagus.

Aku masuk.

Suasana kelas tidak berubah. Anak-anak cowok berkumpul di deretan paling kanan, bermain lempar-lemparan, dan anak cewek berkumpul di tiga deretan yang tersisa, mungkin bergosip. Dan syukurlah, masih ada satu bangku yang kosong, di samping cewek berambut panjang yang diekor kuda. Kelihatannya ia sedang membaca buku.

Aku menyelipkan diriku di kursi kosong itu. Berharap aku tidak mengganggu cewek itu. Cewek itu menoleh setelah aku mengempaskan pantat datarku di kursi. Ups. Kelihatan jelas banget aku mengganggunya.

“Sori.” Aku menunjukkan raut menyesal.

Tapi cewek itu kembali menatap bukunya dan nggak menjawab apa-apa.

Well, barusan dia mendengarku, kan? Pasti. Pasti dia mendengarku. Apa dia sebegitu kesalnya kepadaku karena aku mengambil kursi di sampingnya? Apa dia menyimpankan kursi itu untuk seseorang dan sekarang dia terpaksa menolak permintaan seseorang yang minta dipesankan itu karena.. well, aku.

Kenapa sih dengan diriku? Kenapa aku terlalu banyak berpikir? Mungkin itu sebabnya mengapa cowok-cowok menganggapku aneh, selain karena tatanan rambutku yang superjelek dan selera berpakaianku yang menyedihkan. Mereka hanya nggak menyukai semua yang ada dalam diriku. Mereka tidak mau menatapku karena aku jelek, aneh, dan pemikir hal-hal konyol yang sama sekali tidak penting.

Dan mungkin itu juga penyebab mengapa seluruh siswa di kelas ini mengabaikanku. Seakan-akan aku lalat menyebalkan yang terlalu jelek. Tapi bahkan lalat pun masih dilirik, dengan penuh kebencian maksudku. Karena lalat kan mengganggu banget.

Selanjutnya ada guru masuk, yang memperkenalkan dirinya sebagai Guru Bahasa kami selama setahun ke depan. Tapi lalu menganggap bahwa mengakui kalau dirinya adalah guru kami termasuk sesuatu yang membosankan, jadi dia mengatur kami untuk melingkar di depan kelas, dengan bergandengan tangan.

“Ya, buat lingkaran yang bagus dan rapi!” teriaknya riang. Aku curiga dia bercita-cita sebagai guru TK, karena membuat lingkaran kan hanya dilakukan di TK saja!

Tapi toh, meski penuh keraguan pada guru bahasa ini, aku menyelipkan diriku di samping seorang cewek berambut pendek dengan seragam kekecilan—bagaimana itu bisa terjadi? Siswa tahun awal baru masuk hari ini! Kok bisa seragamnya seukuran semut begitu?!—yang sedang mengobrol asyik dengan cewek satunya lagi, yang memakai blush-on kebanyakan. Bukannya aku tahu bagaimana memakai blush-on sih.

Miss Gong mengambil alih pembicaraan. “Oke, anak-anak, jadi aku ingin kalian menyebutkan nama masing-masing, dari sana! Ya, darimu, Anak Muda. Kau menyebutkan nama, dilanjutkan orang di sampingmu, begitu terus menerus sampai tiga kali putaran. Setelah itu, kalian harus mengulang nama teman-teman baru yang berbaris sebelum kalian.”

Uh-oh. Ingatanku kan buruk sekali! Tapi setidaknya Miss Gong tidak menyebut-nyebut hukuman…

“…dan orang yang gagal menyebutkan nama temannya secara benar akan dihukum menyanyi.”

Bagus sekali! Benar-benar hari yang penuh keberuntungan. Aku hanya berharap teman-temanku tidak punya nama yang sangat sulit untuk diucapkan, apalagi dihapal. Secara refleks, aku meneliti wajah-wajah asing teman-teman baruku—well, kebetulan orang-orang di baris sebelumku kesemuanya cewek.

“Mulai!”

Cewek pertama, yang memakai kacamata bulat besar yang cantik menyebutkan namanya, “Yeonji.” Dilanjut dengan, “Miyoung.” yang bersahut-sahutan sehingga aku hanya mendengar “Sunhee-Eunmi-Songyi-Donghee…” dan kemudian giliranku.

“Eh, Seina.”

Lalu Cewek Rambut Pendek di sampingku menyambung, “Jieun.”

Aku berusaha berkonsentrasi dan mengingat-ingat nama tadi. Seharusnya tadi aku menulisnya saja. Suaraku seperti kodok, dan tentu saja, aku nggak mau teman-teman baruku mengetahui itu. Tidak sebelum mereka mengenalku lebih jauh, dan mengetahui bahwa cewek aneh sepertiku punya kelebihan juga…

….meskipun nggak banyak.

“Sungyeol.”

Well, aku tahu tidak seharusnya aku menoleh dengan kecepatan cahaya ke arah suara itu. Memalukan. Tapi aku memang nggak bisa menahan diri karena nama Sungyeol jelas kedengaran akrab di telingaku. Bukannya aku punya teman bernama Sungyeol sebelumnya… yang setampan Sungyeol temanku yang sekarang.

Tapi serius, dia memang tampan!

Aku membuang muka pada saat yang tepat, karena aku baru sadar kalau ternyata, dari tadi, si Blush-On sedang berbincang dengannya. Yang kalau boleh kugolongkan, Sungyeol adalah bagian dari cewek-cewek popular kayak Jieun… Sudah jelas belum? Itu artinya aku NGGAK MUNGKIN mendapatkannya meskipun aku berusaha keras.

“Jadi sekarang, mulai!”

Ternyata sudah tiga putaran.

Aku memutar kembali ingatan mengenai nama-nama cewek sebelumku. Miyoung-Yeonji-Sunhee-Eunmi… siapa selanjutnya?! Siapa? Aku melirik cewek keempat, berusaha mengingat-ingat namanya.. tapi nggak berhasil. Aku tahu, memikirkan cowok ganteng memang selalu berakhir menyesatkan…

Oh, ya! Song Yi! Dan…hm, Donghee!

Apa aku benar? Apa aku akan ditertawakan semua orang? Apa aku akan dipaksa menyanyi di depan? Bagus, sekarang aku nggak fokus lagi. Donghee di sampingku sedang mengucapkan nama teman baru kami dengan lancar, dan sekarang tiba giliranku.

Aku bisa melakukannya.

“Yeonji, Miyoung, Sunhee, Eunmi, eh…” siapa tadi nama cewek keempat? “Song Yi, Donghee.” Aku berhasil!

Miss Gong memberiku senyuman penyemangat, kelihatannya dia tahu kalau aku sangat gugup dengan keadaan ini.

Jieun (ingat, ‘kan? Cewek Pakaian Sempit?) menyebutkan nama teman-teman sebelumku dengan lancar—well, ternyata mereka satu sekolah dengannya sebelum masuk ke sini—dan tiba-tiba berhenti saat tiba di namaku. Tapi bukannya bingung (atau khusus aku, ketakutan), Jieun justru tersenyum manis dan menyikutku.

Seina.” Aku berbisik.

“Seina.” Lanjut Jieun, penuh kemenangan.

Belum apa-apa dan aku sudah tahu, aku nggak mungkin pernah bisa berteman dengannya.

Aku melamun sampai tiba giliran Sungyeol. Cowok itu menyebutkan nama cewek-cewek sebelumku dengan lancar juga, karena ternyata, dia juga satu sekolah dengan mereka dulunya, tapi macet ketika tiba di namaku. Apa sih yang salah dengan nama Seina? Apa mereka lantas nggak bisa menyebutkannya hanya karena Ibuku bereksperimen dengan menambahkan i di tengah-tengah nama pemberian Ayahku? Well, itu bukan alasan yang masuk akal.

“Ya, Anak Muda, kau kena hukuman.” Kata Miss Gong, setelah beberapa detik menunggu Sungyeol mengucapkan namaku, yang ternyata tidak terucapkan sama sekali. “Lanjut.”

Kemudian permainan Ingat-Nama-Temanmu-atau-Kau-Harus-Menyanyi-Di-Depan-Sini selesai dan tiba saatnya sesi hukuman. Aku sedang melamun (atau berpikir) mengenai apa yang harus kulakukan kalau aku tidak punya teman di sekolah baruku, karena, asal tahu saja, tidak ada siswa dari sekolah lamaku yang nilai akhirnya cukup tinggi untuk masuk ke sekolah unggulan ketika tiba-tiba cowok bernama Sungyeol itu menyelinap ke depanku dan memandangi nametag-ku.

Eh, tapi aku tidak yakin dia benar-benar melihat nametag-ku. Karena setelah itu, tanpa berkata apa-apa, dia mundur dan kembali bercanda dengan Jieun dan si Blush-On. Seakan-akan memandangi dada seseorang—mm, kedengarannya nametag lebih tepat—itu sesuatu yang wajar dilakukan.

Tapi aku toh cuma cewek nggak dikenal, nggak punya teman, dan punya nama yang SANGAT SULIT dihapalkan. Atau mungkin Sungyeol sebenarnya kepingin memandangi dada Jieun.

Kemungkinan kedua kedengaran lebih memungkinan, meskipun kedengaran mesum sekali.

Ini salahku karena aku duduk di samping cewek aneh yang jenius, yang ternyata bernama Seulbi. Dan karena kesalahanku itulah sekarang aku harus duduk di deretan laki-laki, bersama Seulbi yang kelihatannya sudah dihapus namanya dari pergaulan oleh teman-teman cewekku sekelas. Perpindahan bangku kami ini tentu saja berakibat fatal. Salah satunya adalah karena aku jadi tidak bisa bergaul dengan cewek-cewek lain dan berteman dengan mereka—meskipun dari awal, kelihatannya, mereka memang tidak kepingin mengenalku.

Tapi yang paling fatal adalah, karena bangku di belakang kursiku adalah bangku milik Sungyeol. Apa yang dipikirkan Seulbi? Apa dia juga menyukai Sungyeol seperti aku menyukai tampang gantengnya? (Well, bukannya kata menyukai tampang ganteng kelihatan menjijikkan sekali? Tapi paling tidak, kau nggak bisa mencaciku karena alasan terlalu gampang menyukai cowok, bahkan meskipun cowok itu ketahuan memandangi dada cewek.) Tapi itu tidak mungkin, karena kalau ya, Seulbi pasti sudah melancarkan aksinya sejak kami pindah. Tapi dia diam saja tuh, masih membaca bukunya dan mengacuhkanku.

Aku tidak tahu harus melakukan apa, atau mengatakan apa, karena kupikir tidak ada topik yang cukup kukuasai untuk kuobrolkan dengan orang macam Seulbi. Tapi hanya diam pun nggak bakal menolong. Mana bisa aku menghabiskan tiga tahun masa SMA-ku dengan duduk diam, mendengarkan guru mengajar dengan rajin, dan baru bicara kalau ditanya guru? Well, nggak. Karena aku bukan tipe orang yang suka kesunyian—meskipun bakal berbeda ceritanya kalau aku sedang berusaha berkonsentrasi membaca—dan tidak mau menjadi kesunyian itu sendiri. Kukira aku orang yang cukup menyenangkan sebelumnya, ketika aku masih SMP dan teman-temanku berasal dari lingkungan yang sama—tanpa ada stratifikasi sosial seperti sekarang—sehingga aku tidak perlu bersikap formal pada mereka, atau takut kalau mereka bakal mengacuhkanku.

Yang sebetulnya menyedihkan.

Untuk mengatasi kesepianku, aku berusaha mengajak Seulbi mengobrolkan hal-hal datar yang setidaknya tidak membuatku pusing berpikir seperti, “Jenis buku apa yang kau suka?” atau “Sejak kapan kau suka membaca?” atau “Pernahkah kau membaca novel ini…” paling nggak, aku berusaha keras untuk tidak mengeluarkan pertanyaan menjebak seperti, “Apa kau suka duduk di depan anak laki-laki?” atau “Apa kau menyukai Sungyeol?”

Yah, pokoknya aku sudah berusaha. Terlalu keras malah, kalau kupikir ulang. Tapi jawaban yang kuterima benar-benar pantas diberi jempol-turun! Tahu, kan, makna jempol-turun itu…

Tapi kemudian ada guru masuk dan mulai mengabsen. Ibu Geum, alias guru Matematika kami, ternyata cukup menyenangkan. Dia bicara banyak hal, lalu menanyai alamat kami, pokoknya hal-hal yang topiknya keluar dari mata pelajarannya. Setidaknya, aku bebas dari Matematika untuk hari pertama.

Bu Geum kemudian bertanya adakah dari kami yang tinggal di daerah tempat tinggalnya, yang ternyata masih termasuk alamatku juga. Jadi aku mengacungkan tangan.

“Ya… Kau, Sungyeol, di mana rumahmu, tepatnya?”

Aku memutar bola mata. Sungyeol? Kelihatannya hanya aku yang mengacungkan jari tangan.. Mengapa Bu Geum justru menanyai Sungyeol?

Selanjutnya aku mendengar Sungyeol menyebutkan nama kompleks perumahan yang cukup terpandang yang memang ada di daerah dekat rumahku.

well, kecuali kalau Sungyeol memang mengacungkan tangannya juga.

Aku tidak bisa menolehkan kepala untuk melihat wajah Sungyeol, karena itu bakal kelihatan jelas sekali. Dan karena aku tidak punya sedikit pun kepercayaan diri, terutama karena aku baru saja tersingkir dari pergaulan di kelas ini, atau mungkin aku harus menyebutnya… um, nyaris?

Terakhir, sebelum Bu Geum meninggalkan kelas, dia memberitahu kami mengenai tes penjurusan yang bakal kami lalui setelah ini. Kebanyakan dari kami—kelihatannya—telah mendengar itu sebelumnya, tapi tetap saja tercetusnya kata tes membuat geng cewek-cewek cantik dan beberapa cowok kelabakan.

Aku juga kebingungan, dan mual, tapi aku tidak bisa mengungkapkannya karena, well, aku tidak punya satupun teman untuk berbagi mengenai kepanikanku. Karena, jelas saja, cewek yang duduk sebangku denganku tidak merasakan ketakutan-menjelang-tes, sama sekali.

Masalahnya, aku sudah lupa semua materi yang diajarkan di SMP. Dan aku tidak belajar sama sekali semalam, karena sibuk mematut-matut diri di depan kaca setinggi badan dengan mengenakan seragamku yang baru.

Tes berlangsung menyebalkan.

Maksudku, mereka benar-benar sulit dan membuatku pening. Setengah jam setelah soal dibagikan, aku sudah mual dan kepingin menyobek lembaran-lembaran soalnya yang kalau nggak penuh dengan angka, maka penuh dengan soal cerita yang sulit sekali dipahami kalau kau tidak bisa berkonsentrasi, seperti aku. Tapi aku menahan diri dengan tetap berkutat dengan bolpoin, pensil, serta lembar jawab, padahal sesuatu yang paling kuinginkan saat itu adalah menggemborkan betapa aku membenci angka dan hitungan!

Tapi kelihatannya Seulbi menikmati jam-jam tadi, tuh. Dia mengerjakan—atau larut dan tenggelam—dalam tesnya dengan raut berbinar-binar. Dugaanku, dia sudah mempelajari materi yang ada di soal-soal itu, dan dia bisa mengerjakannya dengan lancar.

Satu jam kemudian, Seulbi keluar dengan sukses. Wow. Hebat banget. Saat itu lembar jawabku baru terisi separuh.

Dan cowok-cowok di belakangku mulai ramai. Aku mendengar bisik-bisik mereka, frustasi karena soal Matematika yang diberikan begitu rumit untuk otak anak SMP—teknisnya, karena, kan, kami baru saja keluar dari SMP dan ini hari pertama kami di SMA. Jadi kuputuskan aku akan melingkari jawabannya dengan sangat indah—maksudku, ngawur.

Peduli amat.

Toh, penjurusan tidak begitu penting. Aku sudah mengisi angket penjurusan dan memilih jurusan yang PALING mudah dimasuki, jadi setidaknya aku tidak perlu repot-repot berpikir keras untuk masuk jurusan yang oke, karena toh mereka yang gagal masuk penjurusan teratas bakal masuk ke jurusan yang kupilih. Ha ha.

Menyedihkan nggak, aku ini?

Butuh dua hari untuk menyeleksi tes penjurusan kami. Dan hasilnya akan diberitahukan hari ini. Siswa kelasku sudah duduk tenang di bangku masing-masing—sesekali terdengar bisikan-bisikan penuh harapan seperti, “Aku masuk nggak ya?”—dan menunggu nama mereka disebut.

Aku sih santai saja. Karena sudah jelas kan di mana aku akan masuk?

Jadi nama teman-temanku mulai disebutkan, setelah itu nama kelas di mana kami akan dimasukkan. Aku memang masuk jurusan biasa—diiringi lirikan mata beberapa cewek, aku tahu jelas makna lirikan itu. Well, mereka pasti mengira aku tidak diterima di jurusan atas plus akselerasi, karena aku goblok atau semacamnya. Tapi kenyataannya aku tidak masuk ke sana karena aku memang tidak memilih, bukan?

Dan… tebak!

“Lee Sungyeol-7.”

Well, aku sekelas lagi dengannya.

Bagus, karena jantungku mulai berdegup secara mengerikan… dan oleh penyebab yang tidak jelas.

Lol I’m sorry for making this chapter fiction (bcs u know… I’m easy-bored person) but I hope you will wait for the next chapter!! And sorry for the poster too. I’m not good at poster edit (I mean, ALL the editor application) but yeah, I’ll request at someone🙂

So thanks for reading and if you like this fiction (and you’re interested) please leave a comment.

Anyway, this is my COMEBACK fiction!!! I’m so hoppy idk lol😄 And I changed my penname to, from Bepimee to Authumnder :3

Anyway, sorry for using my bad English… My bad!😦

Bye-bye!!!

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s