[Ficlet] F(o)re(ver)


at that moment

F (O) R E (V E R)

Ada banyak doa yang terhembus, menggantung di langit-langit; namun tidak, aku tak semurah doamu.

.

.

written by Stxllar.

[GOT7] Mark feat. [OC] Moira

AU, Angst // Ficlet, 942 words // Teenager.

Senyum itu memang lemah, tanpa harapan, tanpa semangat dan kehidupan di dalamnya: seharusnya aku tahu.

Sebenarnya tak banyak yang berubah dari dirinya. Hanya saja, banyak kekhasan yang lenyap dan tenggelam: tawanya, lesung pipitnya.

Ada rasa bersalah yang menyelusup seakan-akan eksistensinya yang penuh luka hari ini salahku–yang faktanya memang sepenuhnya dosaku. Tetap saja, itu semua masa lalu, bukan? Kalau mau maju, kau harus bisa tinggalkan apa saja di kehidupan lama yang dalam hal ini, tunanganku sendiri.

“Kau ke mana saja?” Tanyanya mengambang, berusaha menggapai harapan yang tak ada, spontan luruh dengan sendirinya.

Aku tahu banyak sekali doa yang ia panjatkan untukku, untuk kehidupan kami di lain hari, untuk cita-cita kami yang telah layu semenjak aku menggila, namun itu saja tak cukup. Aku tak semurah doa-doanya.

“Aku tidak datang untuk mencarimu.”

Lara terlukis di rautnya, namun senyum itu masih tetap ada. “Aku juga tidak mengharapkannya.”

Benarkah? Aku memalingkan muka dengan jenuh. Kentara sekali ia berbohong.

“Bagus. Aku hanya ingin mengambil barang-barangku di sini dan tidak kembali lagi.”

“Oh, begitu.” Ia memaksakan diri, beringsut mendekatiku. “Kau baik-baik saja? Apa kau sudah makan?”

“Apa kau bodoh?” Aku tak kuasa menahan kejengkelan yang kian lama terasa menggelenyar. “Kau dan aku, kita tidak memiliki hubungan sama sekali!”

Hardikanku barusan membuatnya ciut sedikit, bukan berarti lengkungan di sudut bibirnya menghilang.

“Terima kasih.”

Hanya itu kata terakhirnya sebelum ia mendorong kursi rodanya sendiri ke luar dari ruangan berbentuk kotak yang harusnya menjadi kamar pengantin kami.

Lekas kubereskan kenangan yang tersisa. Aku sudah lenyap dan menghilang, tak tepat bila aku lemah lagi hari ini.

Saat aku keluar, ia sudah tidak ada. Aku memang tak berkeinganan menemuinya, hanya berniat melemparkan kalimat ketus yang pongah kepadanya sebagai kalimat perpisahan; supaya ia lekas terluka dan tak merinduiku lagi.

Massa koper yang tengah kujinjing mulai menyakiti, jadi aku mendudukkannya di lantai sementara alas sepatuku menjelajahi seisi rumah.

Sama seperti pemiliknya, rumah ini memang tak banyak berubah, namun sesuatu yang dulu ada padanya menghilang. Aku menghitung langkahku, menyambangi satu pintu ke pintu lain yang kukenal seperti adikku sendiri.

“Mark? Itukah kau?”

Sial. Aku mundur dua langkah dari jendela kamar utama hanya untuk memandangi sosok itu lagi.

“Mengapa? Kau bilang kau mau pulang?”

Ya. Tapi barusan hatiku tertambat lagi ke sini.

“Kenapa? Apa kau… merindukan rumah ini?”

Ya. Terlebih isinya.

“Aku mau-mau saja memberikan kembali rumah ini padamu, tapi aku tidak punya cukup uang untuk menyewa rumah.”

Pahit kopi yang kutenggak–benar, tenggak–pagi ini serasa naik ke lidah.

Tak kujawab.

“Tapi aku akan mengumpulkan banyak uang. Akan kukabari kalau aku sudah bisa menyewa rumah sendiri.”

“Lupakan saja. Aku tak ingin.”

Roda kursinya berdecit seiring langkahnya mendekatiku. “Kau ingat kenangan kita di sini, Mark? Ingatkah kau sewaktu kita memilih warna catnya, keramiknya, langit-langitnya?” Suranya semakin mencicit. “Jujur saja, aku masih ingat euforianya.”

Begitu pula aku. Ingatan itu mengental dan mengeras seiring waktu ketika kuhabiskan tahunku menyumpah dan membencinya: namun pada akhirnya mencair tiap kali ia berada dalam radius satu meter dariku.

Aku masih mencumbui kenangannya dalam pikiranku. Tentu saja tak kukatakan itu padanya, atau ia akan berbesar hati dan menarikku kembali dalam lumbung buaya itu.

“Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi pada kita.”

Tak mengerti ia bilang? Demi Tuhan, ia lumpuh dan nyaris mati karena aku! Bagaimana bisa bibirnya mengeluarkan pertanyaan itu?

Aku berusaha membunuhnya! Aku berusaha memutilasinya!

“Mark, aku tahu itu bukan kau.”

Air asin bergerombol di mataku, demi mendengar ucapan penuh kasihnya itu.

“Aku tak takut padamu. Kau sudah kembali sepenuhnya menjadi kau, Mark. Aku tak peduli dengan masa-masa itu.”

Ia menangis. Memang bahuku yang menghadap rupanya; namun aku tahu.

“Mark?”

“Aku orang gila yang haus darah, Moira! Aku mencoba membunuhmu karena aku kehabisan mangsa! Aku menusukmu dan nyaris memotong kakimu! Kau bilang apa? Kau masih cinta padaku?!”

Isak tangis seakan mengepul di langit-langit berhias gantungan galaksi, bercampur dengan kedap suara masa lalu yang memaksa keluar.

“Aku pembunuh, Moira.”

Aku hancur. Kakiku berubah menjadi jeli seiring bahuku yang naik turun. Pikiranku memutar kembali rol film masa lalu yang manis, pahit, gemerlap, yang pada akhirnya berakhir dengan seonggok luka menganga.

“Aku tidak peduli akan hal itu, Mark! Aku tidak peduli lagi, aku ingin kau kembali! Kau sudah menjalani rehabilitasi, melewati hukumanmu, kau sudah normal, Mark!” Bentaknya menggelegar. Aku tak percaya ia masih memiliki suara setinggi itu–sesarat luka itu. “Kalaupun, sekarang kau ingin membunuhku… bunuh saja.”

Inilah yang kutakutkan. Ketika ia bilang ia tak peduli pada keadaan jiwa dan mentalku, ketika ia bilang ia tidak takut padaku,lantas mengatakan kalau ia tidak peduli kalau aku membunuhnya–itu tidak benar.

Tidak benar karena barusan hatiku mengalami goncangan dan patah hati yang menyengat, dan aku masih mencintainya.

“Aku tidak mau kau mati, Moira.” Gumamku pelan, berbalik menghadapnya hanya untuk menghadapi seraut wajah putus asa yang menua tiap harinya. “Kalau pun kau mati, itu harus bukan karena aku.”

Ada sedu sedan tertahan yang meluncur keluar, aku tak yakin siapa empunya menilik keadaan kami berdua yang nyaris sama.

“Aku pergi.”

Oke. Keluar sudah kalimat itu. Kalimat yang telah kupraktekkan bertahun di pusat rehabilitasi, menyita nyaris seluruh waktuku di sel–aku berhasil mengucapkannya.

“Mark..”

Apa lagi? Aku mengerjapkan mata cepat hanya untuk menelan air mata.

“Ini semua sudah berakhir. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk memperbaiki ini.”

Kuanggap kalimat penutup itu sebagai bekal untukku keluar dari lubang ini. Aku melangkah pergi dengan cepat, tak sempat menghitung langkahku lagi, melarikan diri ini sesegera mungkin dan lenyap.

Hanya saja, Moira tidak tahu doa yang kupanjatkan sembari melaju, berusaha lupakan apa yang ada di dalam sana meski rasanya mustahil.

Kuharap kisah ini belum berakhir sampai di sini.

-e n d-

2 thoughts on “[Ficlet] F(o)re(ver)

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s