[Ficlet] He’s


ff

He’s

He’s everywhere, somewhere… nowhere.

Jung So Min & Kim Hyun Joong

Teenager; AU, Angst, Romance; 998 words.

.

.

 

He is everywhere.

Ternyata, berbelanja dengan niat bersenang-senang sia-sia saja. Maksudku, lihat tempat ini!—memang, sih, mereka punya banyak barang yang menarik dan bahkan ada diskon besar-besaran, tetapi tetap saja, seharusnya tempat seperti ini tak membawaku lagi ke belakang.

Aku menyedihkan, aku tahu.

Tak ada sesuatu yang mampu mengalihkan perhatianku darinya, tidak dengan jalan-jalan, tidak dengan taman bermain, tak pula dengan berbelanja sesuka hati. Ia ada di mana-mana, dan itu semua kesalahanku sendiri.

Kalau sedari awal aku tidak memaksakan diri, tidak mengajaknya ke manapun aku pergi, semuanya tak akan begini. Namun bukan itu masalahnya.

“Tidak menikmatinya?” Temanku (atau harus kusebut dengan korban pelampiasan?), bertanya dengan nada khawatir.

Aku tak mengangguk, pun menggeleng. Rasanya sangat tidak menyenangkan, seperti patung—tak punya ekspresi dan perasaan; seperti ia. Tuh, kan, aku kembali lagi ke titik yang itu.

“Jangan memaksakan diri, Somin. Kalau mau pulang, pulang saja.”

Aku mau-mau saja melakukannya. Namun kalau aku mengikuti kemauanku, biarkan diriku terhempas lagi, itu sama dengan kekalahan telak. Aku tak mau.

“Patah hati memang seperti itu.” Berdeham dua kali. “Mungkin pacar—ups, mantanmu memang sempurna, terkenal, dan ada di mana-mana. Tapi tetap saja, kau perlu untuk membuka mata, melihat sekelilingmu—benarkah dia ada di sana, di sini, di semua tempat yang aku kunjungi?

“Jawabannya tidak ada, Jung Somin.”

Temanku benar. Meski ia mulai menggunakan kalimat beratnya, aku paham betul yang satu ini. Dan yang sangat kusesalkan, ujarannya tepat menancap. Ugh.

“Kau lihat sendiri, dia tidak ada di sekitarmu. Dia tidak ada di belakang semak-semak itu, seperti yang kaukira. Dia tidak ada di belakang kulkas di kedai eskrim tadi, dia juga tidak ada di balik patung-patung peraga yang kita lihat sejak tadi. Yang kau lihat tadi adalah kenangannya. Kenangan. Sisa. Hanya ampas.”

Temanku menarik napasnya panjang, memasang raut prihatin. “Dia tidak pernah ada lagi sejak kau putuskan untuk membanting ponselmu itu, kenangannyalah yang mengelilingimu.”

Sekali lagi, kebenaran tersampaikan: he is everywhere, no, his memories are everywhere.

 

 

He is somewhere.

Kembali lagi ke tahap pertama. Tahap paksa-memaksa menelan pil pahit yang dengan terpaksa kuberi titel ‘kepahitan yang mencandu’. Aku tahu nama tadi menjijikkan, menyedihkan, dan bahkan membuatku sebal hanya dengan memikirkannya.

Lepas dari semua hal yang terlewati—kesalahpahaman yang berujung kenekatan dan amarah, aku tahu dia masih hidup. Tentu saja, dia bukan aku. Dia tidak membutuhkanku seperti aku membutuhkannya. Mungkin saja dia sedang menderita tuli-sementara sewaktu kunyatakan perasaanku saat itu, dan mengira aku tengah menawarinya eskrim. Tentu saja dia bilang ya, siapa yang menolak eskrim di tengah musim panas yang mendera?

Tapi mungkin karena ketuliannya itu, dia harus berakhir dengan kencan berturut-turut denganku, walaupun hal itu tak bertahan lama; hanya tiga minggu lebih dua hari. Tetap saja, berurusan dengan seorang Jung Somin tak pernah masuk dalam daftar dengan plang mudah. Aku harusnya tahu saat ia menderita menghadapi Jung Somin si Monster, alias diriku sendiri.

Lantas, kenapa? Kenapa aku mengulang semua ini di kepalaku, di tengah siang dengan hujan yang mengguyur atap? Aku toh diharuskan menguburnya, mengudap pil-pil ini dan membangunkan diriku sendiri.

Tetapi, meski sudah kusangkal ribuan kali, kenyataan itu menerjangku seperti anak sekolah dasar yang baru belajar bela diri: ceroboh, kasar, yang sialnya, tepat sasaran.

Aku mencandunya seperti orang yang menggilai psikotropika.

Aku mengemban sayang dan dendam pada ia yang kini hidup, bernapas, dan berada di suatu tempat yang mungkin tak terjangkau. Siapa tahu?

He is somewhere, I can’t get-in-touch.

Above all, he is nowhere.

“Sudah cukup! Hentikan omong kosong ini, Jung Somin!” ada seseorang yang berteriak sembari merebut botol sake dalam genggamanku.

Aku mendengarnya sayup-sayup, tak begitu jelas ditambah dengan segala kepengangan yang kuidap semenjak matahari ditelan bumi.

“Apa lagi yang kaulakukan?”

Ada suara langkah yang diseret, ups, sepertinya itu suara kakiku sendiri. Apa aku punya kaki? Masihkah aku punya kaki? Kalau kakiku masih dua, apakah ia akan menyambangiku lagi?

Lalu insiden pecahnya layar ponsel akibat mencumbu tembok beterbangan di otakku. Ah, iya. Mau kakiku dua, mau tiga, bahkan lima belas sekalipun; aku sudah tak punya kesempatan itu lagi.

“Kau mabuk berat, apa lagi yang kau mabukkan?”

Apa lagi, ha? Memangnya aku pernah mabuk-mabukan begini sebelumnya? Memangnya aku pernah berpikir kakiku ada lima belas sebelum ini? Siapa yang bodoh di sini?!

“Kalau kau frustasi, temui dia! Temui dia dan katakan apa yang mengganjal pikiranmu! Kaupikir mabuk-mabukan seperti ini bisa menyelesaikan semuanya?”

Kupikir kalau kakiku benar-benar lima belas, dia akan datang padaku dan menjadi manajerku saat aku menjadi pemain sirkus yang terkenal di seluruh dunia.

Aku mendengar helaan napas yang berat dan kelelahan, “Somin, kalian sudah berakhir sejak lima bulan yang lalu.”

Benar. Kesempatanku mendapatkannya hanya tiga minggu lebih dua hari, dan aku terus memikirkannya lima bulan sesudahnya? Manusia macam apa aku ini? Ha? Apa kau masih layak disebut manusia, Jung Somin?

“Terakhir kudengar, dia sudah bertunangan.” Helaan napas kelelahan lagi. “Dan kau masih seperti ini?”

Aku masih seperti ini.

Jatuh cinta, bahagia, patah hati, hancur berkeping-keping. Itu adalah fase. Fase yang pernah kulalui juga, sembilan bulan yang lalu, kalau kugenapkan waktu kami berpacaran menjadi sebulan.

Jatuh cinta tiga bulan, bahagia satu bulan, patah hati satu bulan, hancur berkeping-keping empat bulan.

Apakah itu masuk akal?

Bulan pertama jatuh cinta, dia telah temukan temukan calon-pendamping hidup. Bulan kedua, dia sukses nyatakan cinta dan berbalas kasihnya. Bulan ketiga, aku nekat datang dan merangsek masuk dalam kehidupannya. Bulan keempat, bulan bahagia, pacaran diam-diam; tidak bisa menelepon secara bebas, jalan-jalan berdua, belanja bersama. Bulan kelima, pacarnya mengetahui segalanya, mencabut paksa kabel relationship kami, pertengkaran datang, pecah telepon genggamku setelah cekcok di telepon. Putus, berakhir. Empat bulan yang tersisa: melihat bayangannya di mana-mana, menangisi ketidakhadirannya, mabuk.

Pathetic.

“Kau tidak bisa begini terus, Somin. Bagaimanapun, kau juga bersalah.”

Aku tahu.

“Lupakan saja dia, apa hebatnya?”

“Dia hebat! Dia sangat hebat! Dia terlalu hebat untuk dicapai! Dia terlalu hebat untuk dapat kutemukan! Dia terlalu hebat untuk kuajak berumah tangga! Dia terlalu hebat menyembunyikan keberadaannya! Dia hebat nyaris dalam segala hal.” Menangis tersedu-sedu.

Terus saja begini, pagi hari setelah ini, sewaktu aku membuka mata dan bangun dengan kepala sakit, dia tetap tak diketahui.

He is unreachable, good-looking, attractive. He is nowhere-to-be-found.

e n d –

Finished:

end

Finished: 28.1.2014; 00.24 WIB.

2 thoughts on “[Ficlet] He’s

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s