[Ficlet] Look At Me


ff

Sekarang aku bisa menerima kenyataan kalau aku memang seorang anak kecil menyedihkan di matamu yang kebetulan menyukaimu dan bisa pergi.

.

.

Look At Me

Written by Stxllar

Han Yura & Hong Jonghyun

Genre Fluff-Romance, AU | Rating Teenager | Duration 937

.

.

 

 

Aku tidak tahu mana yang lebih buruk; anak perempuan dari masa laluku tampil memukau atau anak perempuan itu masih menyukaiku. Tapi yang penting, anak perempuan itu memang berada di hadapanku, dengan raut menantang yang biasa didapatkan di usia muda.

“Apa kabar,” katanya, menyodorkan tangannya dengan bibir terkatup.

Aku menyambut tangannya dan menggoncangnya beberapa kali, sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengapa justru saat ini—ketika aku berada di tengah-tengah kegilaan—gadis ini muncul. “Baik saja,”

“Ya, kelihatannya kau memang begitu.” Ia memicing beberapa kali, menunjukkan matanya yang menyorot tajam. Aku seperti meleleh di bawah cengkeraman paruhnya yang ketat. “Senang melihatmu di sini, Hong Jonghyun.”

Harus kuakui, aku agak kaget mendengar nada suaranya ketika menyebut namaku, dan menghilangkan kebiasaan lamanya. “Kau tidak lagi memanggilku oppa.”

Yura menusukku dengan tatapannya yang menuduh. Seakan-akan akulah penyebab mengapa ia kehilangan rasa hormatnya padaku. Tetapi jika kupikir-pikir, mungkin memang aku.

“Sedang apa kau di sini?” tanyaku, menampilkan mimik tertarik pada perubahan-perubahan besar yang kelihatan mengerikan dalam caranya mengerjapkan mata, atau ketika ia memandangi kukunya, atau caranya mengibaskan rambut. Jujur saja, kalau aku tidak menolaknya dan memandangnya rendah dulu, aku pasti telah membuka lebar-lebar lenganku menyambutnya.

“Kau tidak perlu tahu. Dan kupikir, kau lebih condong ke tidak peduli.” Yura memutar bola matanya.

Well, ya, bisa jadi begitu.”

Kami berdiam diri selama beberapa saat dan aku memanfaatkan senggang waktu itu dengan meneliti dan menulis daftar dalam otak apa yang sekiranya mengubah sikap gadis di depanku ini menjadi sangat anggun dan elegan.

“Sejak kapan kau datang ke sini lagi?”

“Sejak lama, kurasa.” Aku mengangkat bahu.

Meskipun berusaha keras, aku melihat kilasan patah hati di matanya, hanya sekejap. “Dan kau tidak menghubungi keluargamu dan…?”

“Dan siapa?”

“Sudahlah, lupakan.” Ia meneguk ludahnya, dan mengoreksiku terang-terangan. “Aku hanya ingin kau tahu sesuatu, Jonghyun.”

“Aku bisa melihat itu.”

“Kau bisa melihat sesuatu yang ingin kuberitahukan?”

Aku tertawa. “Astaga, tidak. Hanya kentara sekali kalau kau ingin menunjukkan sesuatu padaku.”

“Oh.” Yura menatapku lagi dengan mimik melamun. “Sekarang kau melihatku, ‘kan?”

Aku tahu maksudnya. Jadi aku mengangkat bahu sedikit dan menurunkannya lagi, menunggu gadis di depanku ini menjelaskan inti pembicaraan kami.

“Sekarang kau menyadari aku, ‘kan? Coba lihat dirimu, Hong Jonghyun. Kau begitu memalukan. Menolak cinta tulus gadis remaja dengan begitu jahat dan tanpa memikirkannya lebih lanjut, aku sangsi kau bahkan berpikir. Dan sekarang? Kau harusnya malu, aku berubah menjadi seseorang wanita, yang lebih baik.”

Oke, Yura tengah mendemonstrasikan patah hatinya. Aku mengerti itu. Yang tidak kupahami adalah mengapa semua kemarahannya terasa benar, dan bahwa aku memang laknat sekali.

“Apa kau senang bertemu denganku, Jonghyun?”

“Ya, mungkin.”

Aku segera menyesali jawabanku ketika sorotan keberanian dari mata Yura hilang sedikit-demi-sedikit, terganti oleh sesuatu yang menyengat dan menyakitkan. Gadis itu tampak bingung, kemudian terguncang, lalu sakit. Terakhir, ia mendorong kursinya ke belakang dan beranjak pergi meninggalkanku. Ia benar-benar akan hilang, kalau aku tidak menyambar lengannya yang dilapisi kardigan.

“Lepaskan aku!” ia mendesis sambil mengayunkan lengannya yang kugenggam liar. “Kubilang lepaskan, Hong Jonghyun.”

Saat aku menariknya keluar dari kafe dan menyudutkannya ke sebuah lorong; rautnya terlihat seperti manusia yang kehilangan semangat hidup. Ia menunduk seperti elang yang dipanah, kesan yang ditampilkannya jauh berbeda dengan ketika ia masuk ke kafe dan duduk di kursi depan mataku.

“Sekarang apa lagi?” tanya Yura, menatapku dari bulu matanya. “Kau ingin menolakku lagi? Tidak perlu, sekarang aku cukup sadar siapa diriku sebenarnya dan siapa kau.”

“Dan,” ujarku, berusaha terdengar lembut di telinganya. Itu memang harus kulakukan ketika mata gadis di depanku ini mengabur dan mulai membentuk pola heksagon dan pentagon. “Siapa sebenarnya aku dan siapa sebenarnya kau?”

Yura mengempaskan cekalanku di lengannya dan mendongak, matanya yang bening bertabrakan langsung dengan mataku. Secara refleks, ia mengusapkan lengan kardigannya ke matanya yang basah. “Sekarang aku tidak sebodoh dulu, atau tadi. Dan ternyata kau memang tidak berubah. Harusnya aku tahu kalau semua yang kulakukan tentu akan sia-sia saja. Tapi terima kasih, sudah menunjukkan kebenarannya padaku. Sekarang aku bisa menerima kenyataan kalau aku memang seorang anak kecil menyedihkan di matamu yang kebetulan menyukaimu dan bisa pergi.” Ia menggigit lidahnya untuk menahan diri. “Sekarang lepaskan aku dan biarkan aku pergi.”

Aku terhenyak mendengar celotehannya. Kukira ia sudah melanjutkan hidupnya dan melupakan tingkah bodoh kami berdua di masa lalu—ketika ia jatuh cinta padaku dan aku memang menganggapnya anak ingusan yang tak tahu apa-apa, tapi tentu saja itu semua salah kalau aku memandang sedikit lebih dalam ke pengakuannya. Ia masih menyukaiku.

Rasanya seperti ada dorongan dari dalam diriku untuk memeluknya dan mengucapkan sesuatu yang menenangkan karena kami berada di saat dan tempat yang tepat untuk melakukan semua itu. Aku maju selangkah dan ia mundur, tampak ketakutan dan bingung.

“Tetapi, Kim Yura,” kataku, “bolehkah aku menyelamu dengan mengatakan bahwa kau banyak berubah?”

“Kau sudah menyela.”

“Ya, memang, tapi ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu.” Aku menggenggam tangannya yang jatuh di kedua sisi tubuh Yura. “Bukan berarti aku ini memanfaatkan keadaanmu atau berpikiran pendek hanya karena kau yang berubah jadi cantik.”

Ia tergelak dengan getir. “Jadi sedari dulu kau menganggap aku anak itik buruk rupa?”

“Itu tidak kedengaran tepat.” Aku menciumnya, tanpa bisa menahan diri. Kemudian aku mundur lagi. “Maafkan aku, mengambil kesempatan seperti ini. Tapi sungguh jahat kalau aku melewatkannya.”

Yura mundur dari terkamanku. Ia menyilangkan lengan di depan dada seperti itik yang terluka. “Bodoh sekali. Bodoh sekali aku ini.” Bisiknya, tapi aku masih mampu mendengarnya. Ia tersadar kemudian. “Jadi katakan apa maksudmu dengan semua ciuman itu?”

Aku tertawa, “Bukan salahku kalau aku terpesona denganmu. Dan kurasa aku harus menarik lagi ucapanku dulu yang telah menolakmu.”

Yura kaget.

“Jadi, boleh ‘kan kalau aku bilang kau sangat cantik dan—”

“Dan apa?!”

Aku menampilkan senyum mautku sebagai jawaban, “Dan aku menyukaimu.”

– e n d –

bib6

Finished: 26 July 2014, 12.37.

4 thoughts on “[Ficlet] Look At Me

  1. agh endingnya manis sekaliii. ku suka. tapi emang pas sih ya karakter yura dan jonghyun di sini; yura agresif dan jonghyun yg dingin. kapan2 buat ff jjongah lagi boleh dong ya. ditunggu karya (jjongah) lainnya. hehe.

    Liked by 1 person

    1. bener kan :’) kadang suka sedih abis yura-nya kadang2 kelihatan excited abis sedangkan jonghyunnya… santai sekali ;_;
      hehehe kapan2 pasti bikin lagi!! makasih banyak ya sudah mampir dan baca ini! meyda 99L di sini :>

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s