[Vignette] Late Sorry


late-sorry

 Late Sorry

[iKon] Kim Jinhwan & [OC] Roo

Genre: Fluff-AU! | Rating: Teenager, General! | Duration: 1k+ words.

Presented by Stxllar.

.

Roo, mau nggak pergi ke prom bareng aku?” Jinhwan menyuarakannya dengan nada mengejek. “Sorry, Jinhwan, aku nggak mau pacaran denganmu. Nanti merusak kehidupan kerjaku.”

.

.

“Busnya nggak bakal datang.”

Eh? Aku menilik sosok yang dua menit yang lalu memutuskan ikut berteduh—khusus dia, menunggu bus—di halte ini.

“Kau bicara padaku?” ragu-ragu aku berujar. Memang kedengaran bodoh karena hanya ada aku dan dia di sini, namun masih ada kemungkinan kalau cowok ini tengah bicara di telepon-tak-kasat-mata atau bergumam pada diri sendiri.

Nggak, aku ngomong pada tali sepatuku.”

Uh, oke. Makasih, kayaknya.” Kataku, tiba-tiba merasa tidak nyaman. Kalau aku bawa payung atau jas hujan atau apa saja, aku mungkin bakal langsung menyelinap keluar dan meninggalkannya—tindakan yang sangat kuperlukan sekarang.

Cowok itu mengangkat bahunya sedikit, aku menangkap gerakannya itu dari lirikanku barusan. “Kita sudah menunggu bus sialan ini empat puluh lima menit.”

Uhm, kita’? “Itu kau. Aku sudah di sini enam puluh menit.”

“Dan kau masih punya kesabaran untuk duduk di sini, menunggu bus itu bukannya menerobos hujan?” cetusnya, seakan-akan tengah memberitahu bocah cilik berusia enam tahun bahwa lumpur itu berasal dari tanah yang kena air.

“Siapa bilang aku menunggu bus?” tandasku.

Duh, kalau begitu kau pasti kurang kerjaan.”

Aku memutar bola mata, “Aku berteduh, bego.”

Cowok itu balik memutar bola matanya, “Kau mengataiku seperti sahabatku saja.”

Kuangkat bahuku, lalu menurunkannya dengan sedikit entakan. “Kau yang sok membuka dialog. Mau kukacangi saja?”

“Boleh, biar orang-orang mengira kau tuli.”

Wow. Mengerikan banget efek mengobrol dengan cowok sinting ini.

“Dan berhenti bersikap kau nggak kenal aku, Roo.”

“Memangnya kapan aku pernah mengenalmu, Jinhwan.”

Cowok itu—oke, si pendek Kim Jinhwan itu sedikit melonjak dari kursinya, “Kau tahu namaku dan itu artinya kau kenal padaku.”

“Pergi kursus, bedakan apa itu ‘tahu’ dan apa itu ‘kenal’. Kau jelas butuh itu.”

Siapa yang tahu kalau mengobrol dengan Jinhwan bisa membunuh waktu? Lihat saja, sekarang hujan deras mulai surut, tergantikan oleh rintik gerimis yang menenangkan. Mungkin lebih baik aku pulang saja.

“Kau kenal aku, kok. Aku tahu kau kenal aku.”

…atau mungkin aku harus duduk di sini sekitar lima belas menit lagi.

Whoa, narsis sekali kau.”

Jinhwan hanya mengangkat sudut kanan bibirnya.

Membalas kebungkamannya, aku ikut diam dan menonton air yang sekali-dua-kali menciprati betisku.

“Asyik banget jadi pengangguran kayak kau.” Jinhwan ini mulutnya ember sekali, tanganku sampai gatal memasukkan kerikil ke mulutnya.

“Biarin.”

“Jadi kutu buku di SMA dan di kampus tidak berefek apa-apa ya di kehidupan kerja.”

“Bisa diam, nggak?”

“Sok menutup diri dari pergaulan juga tidak membuat kehidupan kerjamu lebih mewah daripada aku.”

Nih, ngomong sama tanganku.”

“Menolak ajakan kencan gara-gara kehidupan kerja juga nggak.”

Mendadak aku diam.

Roo, mau nggak pergi ke prom bareng aku?” Jinhwan menyuarakannya dengan nada mengejek. “Sorry, Jinhwan, aku nggak mau pacaran denganmu. Nanti merusak kehidupan kerjaku.”

Tiba-tiba saja ada rasa sedih dan kecewa yang menyelimutiku. Aku tak bisa mengutarakan apa yang kepingin kukatakan. Waktu kubuka mulutku, justru uap dingin yang keluar—bukannya kalimat yang kutulis di jurnalku enam tahun yang lalu, yang sampai sekarang tak pernah terlontar keluar dari mulutku.

Jinhwan… dia tidak akan pernah tahu betapa menyesalnya aku dan betapa kosongnya malam-malamku yang kuisi dengan bayangan kehidupanku kini, apabila obsesi bodohku tidak mengambil alih kehidupan cintaku. Yang sayangnya, tak akan menjadi nyata.

Memikirkan itu semua membuat mataku seperti ditendang—tiba-tiba saja air mata sudah menggantung di pelupuk.

“B-bagaimana menjelaskannya?” aku tersendat.

“Apa?”

“Kau tahu, Jinhwan, setiap orang punya penyesalan terbesar dan tergelap dalam hidupnya.” Kupaksa diriku mengatakannya. “Mau tahu punyaku?”

“Jadi sekarang kita berubah dari orang-yang-saling-tidak-kenal ke teman-curhat?”

Aku menyeringai. “Kau. Kaulah penyesalan terbesar dan tergelapku.”

Auranya jadi tidak enak sekali. Kami berdua sama-sama diam, lebih ke arah kehabisan kata—dan bukannya diam nyaman. Aku tahu sekarang telanjur telat, makanya tak kuharapkan Jinhwan membalas ujaranku.

Tapi, toh, dia membalasnya.

“Penolakan itu? Kau menyesalinya?”

“Sekarang aku sudah dewasa dan ya, aku menyesalinya.” Napasku satu-dua. “Aku punya permintaan maaf yang kubuat untukmu berminggu-minggu, tapi akhirnya tidak pernah terucapkan karena… well, karena saat itu kau pacaran dengan Jimin dan teman-teman bilang kau mengajakku ke prom karena aku nerd yang patut dikasihani. Lenyap deh, tertelan lagi.”

“Katakan saja. Sekarang.”

“Apanya?”

“Permintaan maafmu.”

 …

“Roo! Berhenti dulu! Roo!”

Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badan, hanya untuk mendapati Kim Jinhwan yang ngos-ngosan, dengan seragam atasan yang dikeluarkan dan tali sepatu yang lepas dari ikatannya.

“Apa?” sebenarnya aku punya banyak sekali ujar, namun kutahan.

“Roo, mau nggak pergi ke prom bareng aku?”

Saking terkejutnya, kakiku refleks mundur dua langkah.

“J-Jinhwan…” saat itu, aku-versi-bodoh kepingin mengatakan ya, mau banget, namun mendadak, kepalaku dipenuhi oleh kalimat Kakakku—kalau kau pacaran sewaktu SMA, saat kau kerja, kau akan sengsara. Karena kalau kau diajak ke prom oleh lawan jenismu, itu artinya dia menyukaimu dan ingin menjadikanmu pacarnya. Dan mengingat kedunguanku kala itu, pantaslah kalau yang keluar justru, “Sorry, Jinhwan, aku nggak mau pacaran denganmu. Nanti merusak kehidupan kerjaku.” Lalu berjalan pergi.

Sorenya, waktu aku sampai di rumah dan bertemu Kakakku yang sedang menyesap tehnya, keinginan untuk bertanya itu besar sekali.

“Kak, memangnya kalau kita pacaran sewaktu SMA, bisa membuat dunia kerja jadi hancur, ya?” takut-takut kukatakan itu.

“Kau menguping pembicaraanku dengan temanku di telepon, ya?” Kakakku memasang raut menyelidik.

“E-eh, iya..”

Kemudian, tak seperti yang kubayangkan, tawa Kakakku pecah. Dia tertawa sambil menepuki bantal. “Roo—ha ha—itu cuma omong kosongku saja, kau percaya padaku?” dilanjutkan tawa jelek si nenek lampir yang menyebalkan.

Begitulah.

Sedari dulu aku suka Jinhwan, makanya kuhabiskan minggu-minggu setelahnya menyusun permintaan maaf dan ajakan ke prom balik. Tepat seminggu sebelum prom, permintaan maaf itu sudah selesai dan kuhapal di luar kepala.

Aku ingat diriku berdiri di kelas Jinhwan yang berseberangan dengan kelasku, dengan jantung berdebar-debar dan seluruh tubuh gemetaran—sebelum seorang anak kelas lain lewat dan mengatakan,

“Tahu, nggak, Jinhwan mengajak Kak Jimin ke prom dan katanya mereka pacaran sekarang! Iih, senang banget, ya?!”

Hapalanku jatuh dan retak separuh di sana.

 …

Hai, Jinhwan. Maafkan aku menyita waktu istirahatmu, tapi ada hal penting yang ingin kukatakan padamu.” Tarik napas dalam-dalam. “Jinhwan, aku minta maat telah menolak ajakan ke prom-mu. Aku tahu aku jahat banget mengatakan itu, dan sekarang aku ingin menarik lagi jawabanku. Jinhwan, aku juga naksir padamu, mau nggak kau mengajakku ke prom lagi?”

Kuakhiri hapalanku, menengadah ke langit-langit halte yang bercat biru muda, sengaja benar tidak menatap ke arah Jinhwan.

“Itulah permintaan maafku.”

Hening sesaat sampai sebuah mobil lewat dan mengacaukan keheningan ini dengan suara mesinnya.

“Kuterima permintaan maafmu.” Katanya. “Omong-omong, besok Minggu ada acara penyambutan di kantorku, untuk mengganti prom yang gagal, kau harus datang sebagai pacarku—

“Dan tidak ada alasan merusak kehidupan kerjamu lagi. Kau, ‘kan, pengangguran.” Senyuman licik Jinhwan mengakhiri kalimatnya.

..mengakhiri hidupku juga, kayaknya.

end.

Finished: 19/03/15 – 20:05.

 

 

 

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s