[Oneshot] B-minus


ray3

Bminus

[C-Clown] Ray Kim & [OC] Riley

Genre: Fluff-AU, School Life! | Rating: Teenager, General | Length: 3.261 words.

Presented by Stxllar.

.

.

Aku terpaksa mengatakan padamu kalau kau harus les lagi denganku.

.

Aku sudah separuh yakin dihapus dari pergaulan ketika tidak ada seorang pun yang bersedia meletakkan baki makan siangnya di mejaku. Separuh, karena setelah burger dagingku tinggal setengah, seseorang membanting bakinya sebelas senti dari sikuku yang kering.

“Anak baru, ya?” tanya cowok itu, tanpa menoleh ke arahku.

Bukannya mau menjadi judger tidak berpengalaman yang menyebalkan, tapi memang aku jadi agak jengkel kepadanya. Maksudku, siapa sih yang mengajak mengobrol seseorang tanpa sekalipun menatap mereka?

“Menurutmu?” balasku, ketus.

Masih sibuk dengan kacang polong, cowok itu tertawa. “Nggak punya teman?”

Aku kepingin menjawab menurutmu? untuk kedua kalinya, namun kurasa aku akan kedengaran seperti cewek tidak kreatif yang jutek. Jadi aku mengangkat bahu, meskipun tahu cowok itu tidak akan melihatnya.

“Aku Ray.”

“Riley,”

“Nama kita mirip, ya?” katanya, tak kutanggapi.

Dua menit sesudahnya, kami hanya duduk berdampingan tanpa suara, fokus kepada makan siang kami seakan-akan tidak melihat makanan selama lima puluh tahun.

Aku mengelap bibirku dengan serbet kecil yang sepaket dengan bakiku begitu selesai. Saat akan beranjak, Ray menahan tanganku.

“Habis ini kau ada pelajaran?”

“Tentu saja.” Kusahuti. “Menurutmu aku sekolah di sini untuk membuang waktuku saja?”

“Pelajaran apa?” tanyanya, kali ini matanya terfokus padaku, yang membuatku merasa agak tidak nyaman. “Kau sudah tahu seluk beluk gedung sekolah memangnya?”

Kepingin tahu banget. “Kalau-kalau kau lupa,” aku merogoh saku celana jins gelapku dan mengeluarkan brosur lecek, “sekolah ini punya peta yang dibagikan kepada siswa baru.”

“Petanya kadang-kadang salah.” Katanya.

Apa aku salah kalau kuanggap Ray tengah berusaha jalan—menemani kedengarannya lebih tepat—denganku? Aku, cewek yang baru diketahuinya sekitar, hm, tujuh menit yang lalu?

“Aku bisa bertanya pada orang yang lewat.” Kataku, mengangkat bahu.

“Siswa di sini sombong kepada orang baru.”

“Terus?” aku jadi agak jengkel. “Memangnya kau mau melakukan apa dengan itu?”

Dia mengangkat bahunya yang dilapisi dengan seragam sekolah berupa kemeja putih dan dan dasi yang harusnya jatuh ke bagian dada, namun justru disampirkan ke bahu. “Membantumu. Aku bisa mengantarmu ke kelas selanjutnya.”

Sarannya oke juga. Sebenarnya aku juga malas menghabiskan waktuku dengan berputar-putar di sekolah yang luas ini sendirian. Jadi kukatakan, “Oke. Geografi tingkat dua.”

Siapa tahu kalau hubungan konyol itu bakal berlanjut? Ray, bagaimanapun, hanyalah seorang cowok aneh yang berbaik hati mengantarkanku ke kelas baru (sekarang aku tahu alasannya, dia hanya ingin membolos dari kelas Matematika, huh) dan tidak seharusnya dia berada di rumahku malamnya.

Benar, cowok itu datang ke rumahku. Dia mengetuk pintu secara bernada, menghasilkan tak-tak-tak yang teratur. Sialnya, akulah yang sedang duduk di depan teve, menonton drama—dan itu berarti, akulah yang paling dekat dengan pintu, yang mengharuskanku mendatanginya dan membukanya.

“Hai,” kata cowok itu, tiga detik setelah aku mengayunkan kenop ke bawah.

Aku kelihatan konyol dengan mulut terbuka sedikit dan mata melotot, dengan tatapan hah?! yang menjijikkan.

“Tenang, jangan pingsan dulu.” Tambah Ray, dibumbui senyuman yang kalau aku lupa bagaimana menyebalkannya dia, bakal kelihatan sangat manis. “Aku ke sini untuk bertanya padamu mengenai Bahasa Inggris. Kudengar kau bagus soal itu.”

“Kudengar?” ulangku, masih tidak terlalu connect.

“Yap. Hari pertama dan kau sudah jadi favorit Ms Yoon karena berhasil menjawab semua pertanyaannya.” Jelasnya, belum kehilangan senyumnya. “Apa kau akan mengajariku tentang omong kosong kondisional di pintu depan?”

Aku mendengus, setengah menahan tawa, sebelum mundur dua langkah dari pintu untuk membiarkannya masuk. Ray melangkahkan kakinya yang dibalut celana jins biru tua—warna favoritku!—dan tanpa malu-malu duduk.

“Apa aku harus menawarimu minum?” kutanya dia.

“Apa saja. Asal dingin.”

Mengesalkan, ‘kan? Tapi tak urung aku masuk ke dalam, berniat mengambil sekotak jus jeruk dingin dan dua gelas bersih. Aku kembali ke ruang tamu, mendapati Ray tengah mengetik sesuatu di ponselnya, yang kemudian dia masukkan ke dalam saku kembali begitu aku meletakkan bakiku.

“Apa aku perlu menuangkannya untukmu?” aku memang harus mengatakannya karena ibuku bakal mencak-mencak kalau tahu tamunya tidak dilayani.

Ray tersenyum dengan sangat menyebalkan. Jenis senyum yang memang sengaja diciptakan untuk membuat manusia lain jengkel setengah mati. Tapi toh, akhirnya aku menuangkannya juga.

“Makasih.” Ucapnya ringan, mengangkat gelas dan menenggak isinya. “Kapan kita mulai lesnya?”

“Aku nggak pernah bilang mau mengajarimu, lho,”

“Aku bisa melaporkanmu pada Pak Byun kalau kau tidak mau kuajari tentang Sejarah,” dia mengangkat sudut kanan bibirnya, menghinaku. Cowok ini! “Aku tahu kau payah di mata pelajaran itu. lagi pula, kalau-kalau kau ingin tahu, aku menjuarai beberapa tes Sejarah.”

Dia benar. Aku sukses dipermalukan dalam kelas Sejarah di hari pertama aku bersekolah. Hanya karena aku tidak tahu apa sebenarnya fungsi League of Nations. Dan, tentu saja, aku tidak ingin pandangan Pak Byun berubah menjadi sangat buruk. Meskipun aku benci pemerasan dan penipuan seperti ini—ucapan Ray kedengaran masuk akal.

“Terserahlah.” Aku menyerah. “Tapi bukan berarti aku akan mengajarimu secara gratis.”

“Apa?” Ray tersedak minumannya, dia buru-buru meletakkan gelasnya yang terisi separuh dengan terbatuk-batuk. Kasihan! “Kau nggak kelihatan seperti anak orang kekurangan.”

Blak-blakan banget, aku mendengus. “Siapa bilang bayarannya berupa uang?”

“Jadi kau mau aku sebagai bayarannya?” dia menaik-turunkan alisnya. “Kau mau aku jadi pacarmu dan menyelamatkan status sosialmu?”

Giliran aku yang tersedak, yang sebenarnya konyol karena aku bahkan tidak sedang minum. “Percaya dirimu itu lho, membuatku jengkel.” Cetusku begitu selesai dengan acara batuk-batuk. “Aku akan mengajarimu Bahasa Inggris sebisaku, dan, sebagai gantinya, kau harus mengajariku Sejarah.”

Ray berpikir beberapa saat—bohong, dia nggak berpikir. Dia hanya kepingin membuatku lebih jengkel lagi. Usahanya tidak gagal kok, karena kekesalanku menggila setiap milidetiknya. Tapi akhirnya dia berujar, “Deal.”

Begitu melihat senyum culasnya, rasa-rasanya aku mendapat pandangan masa depan tentang betapa mengerikannya kehidupanku setelah ini.

Ray tidak goblok. Aku tidak bilang begini karena aku naksir padanya atau bagaimana, loh, tapi dia membuktikannya.

Membuktikannya di sini artinya, dia BENAR-BENAR cerdas soal Sejarah. Ray hapal seluruh peristiwa-peristiwa perang dunia—dari yang pertama sampai yang kedua, bom-bom mengerikan, perebutan daerah—pokoknya dia paham semua itu sampai ke akar-akarnya.

Tidak heran Pak Byun begitu sayang padanya.

Seperti saat ini, Ray sedang berceloteh tentang dampak positif dan negatif dari beberapa ideologi negara—yang tidak kupahami sama sekali, omong-omong—sementara aku duduk di depannya, dengan mulut kering karena kelamaan terbuka. Contoh lain kenapa Riley Jun pantas mendapat nilai nol untuk Sejarah.

“Kau paham tidak?!” tanya Ray, kelihatan kesal dengan sikap bingungku yang kentara.

“Eh, kau mau jawaban jujur atau tidak?”

“Ya jujurlah!” sahutnya, menyandarkan punggungnya ke kursi. Hari ini Ray mengenakan sweter garis-garis bewarna biru tua bergradasi merah dan celana jins panjang bewarna sama—sungguhan nih? Biru tua itu kesukaanku! Apa Ray akan menggunakannya terus-menerus tanpa menyadari resiko aku bakalan naksir padanya?!

Aku blank. “Eh, kalau begitu, nggak.”

“Sudah kuduga,” ujarnya. Untuk mendramatisir keadaan, dia menelungkupkan kepalanya di atas buku-buku teks setebal 20-40 cm.

Aku juga lelah. Maksudku, aku sudah agak terbiasa dengan nilai jelek untuk Sejarah di raporku—kelihatan tidak imbang mengingat rata-rata predikatku adalah B-plus—dan sekarang aku harus terpaksa memelajarinya lebih lagi dan lagi sampai aku paham segalanya dan bisa keluar dari sekolah dengan A-minus untuk Sejarah di tangan. Aku bisa saja menyerah dan membuang segala impian untuk jago dalam Sejarah, tapi itu artinya aku akan kalah dengan Ray karena menyerah duluan sedangkan dia tidak—level Bahasa Inggris Ray rendah banget sampai dia kaget sewaktu kuajarkan tentang penggunaan s di belakang kata kerja untuk subjek she/he/it. Ray bahkan mengatakan, “Woah! Aku baru menyadari ini sekarang. Dulu aku berpikir kalimat he loves you itu berarti cowok itu memiliki cinta yang banyak untuk pacarnya.” Bodoh. Banget.

Terserahlah.

Mungkin karena dia menyadari betapa frustasinya aku, Ray menyarankan untuk pergi ke kafeteria. (Dengan iming-iming dia akan mentraktirku setelah tenagaku yang terkuras habis mendengarkan ocehannya mengenai senjata inilah dan itulah.)

Sepertinya bukan ide bagus, karena begitu kami masu   k ke dalam kafeteria (dalam keadaan bersama-sama), banyak sekali siswa yang menyapa Ray dan mengatakan hal-hal seperti,

“Hei, Ray, pacar baru, ya?”

Wassup, Bro! Gandengan baru lagi, nih?”

“Hai Ray. Mm. Aku tidak menyangka kau, mm, sudah punya pacar, mm, aku jadi, mm, sedih.” Yang ini dari seorang cewek yang tidak kuketahui namanya, yang dikenalkan Ray padaku sebagai cewek-yang-tergila-gila-padanya’.

“Jangan mau sama Ray, dia suka gonta-ganti pasangan! Kau lihat cewek di sana? Yang pakai bandana? Nah, dia baru putus dengan Ray sekitar dua minggu yang lalu!”

Gila. Dari awal aku tahu Ray Kim adalah jenis cowok populer di SMA yang tidak berotak—hipotesisku tentang tidak berotak jelas salah, karena dia jenius soal Sejarah dan Bahasa Jepang—tapi aku tidak tahu dia seterkenal itu sampai sapaan yang diterimanya dalam satu hari lebih banyak dari sapaan yang kuterima seumur hidupku. Ironis.

Sorry, ya, soal teman-temanku.” Kata Ray. “Mereka memang menjengkelkan.”

“Terserah saja.” Aku mendengus, tidak menatap ke arahnya karena sibuk melihat plang menu. Entah mengapa (dan aku malu mengakuinya), aku merasa kesal dan marah karena Ray tidak menyangkal sapaan temannya yang terakhir—yang tentang cewek berbandana itu, lho! Padahal nih, saat Ray, mungkin, masih pacaran dengan cewek itu, aku masih menghabiskan waktuku di sekolahku yang dulu. Lagi pula, memangnya aku siapa sih? Kenapa aku peduli dengan hal-hal seputar Ray Kim yang playboy dan terkenal?

Oke, Riley, cukup sudah. Kau berhasil jatuh ke seseorang yang suka mengenakan pakaian bewarna biru tua. Tapi, sekarang kalau kupikir-pikir, bukan hanya karena itu saja…

Kurasa, aku naksir pada Ray sebagai Ray sendiri. Bukan Ray-pecinta-outfit-bewarna-biru tua. Lihat betapa menyedihkannya aku.

Rasanya ada tali tambang tebal yang menahanku dari karpet untuk bangun dan membukakan pintu ketika ada suara tak-tak-tak teratur yang sekarang mulai kukenali dengan sendirinya.

Benar, karena hari ini adalah jadwal mingguan les Bahasa Inggris. Dan itu artinya, aku akan menghabiskan dua jam ke depan dengan nongkrong dengan Ray, memarahinya atau memujinya, karena aku tahu itu akan berakhir canggung banget saat aku sudah tahu pasti bagaimana perasaanku padanya.

Tapi aku tak bisa membiarkannya menunggu seperti ini. Ray toh sudah membuang-buang waktunya dengan mengajariku Sejarah seminggu dua kali sepulang sekolah—yang meskipun tidak berefek banyak, namun tetap saja membuatku mengalami peningkatan. Lagi pula tidak adil baginya untuk menerima kejahatanku ini hanya karena aku—guru lesnya—naksir kepadanya dan tidak bisa bersikap santai di dekatnya.

Aarghh! Kenapa sih aku ini?!

“Lama banget.” Cetus Ray, waktu aku akhirnya bangkit dari karpet dan drama Itazura Na Kiss-ku yang sudah mencapai episode empat belas. Dia mengatakannya karena, tentu saja, dia nggak tahu perang batin yang kualami semenit yang lalu—apakah aku akan membuka pintunya atau tidak.

Sorry. Tadi aku sedang di kamar mandi.” Aku nyengir, menghindari kecanggungan yang sepertinya bakal menerjang sebentar lagi.

Ray berjalan di belakangku, menuju ruang tamu yang sudah penuh oleh kamus-kamus dan buku pelajaran. “Ngapain?” tanyanya. “Membetulkan riasan karena aku akan datang ke sini?”

Sialan! Dia menyadari bedakku! Well, ya, memang, aku tidak pernah memakai bedak jika di rumah, tidak peduli apa Ray ada atau tidak. Ugh. Kenapa sih dia membuat situasi ini sulit lagi?

“Eh, aku… mm, mencoba-coba bedak Ibuku tadi. He he, jelek banget, ya. Hehe.” Aku terbata, merasakan keringat meluncur deras di dahiku. Aduh!

“Nggak, kau kelihatan manis.”

MANIS! MANIS?!?!??!?!?

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kakiku yang tertutupi meja meleleh dengan sendirinya. Nggak! Aku tidak akan berakhir menjadi jeli jelek yang mengotori lantai ruang tamuku sendiri!

“Bukan manis kayak cewek normal. Tapi manis kayak kucing yang baru mandi.” Ray dengan tidak tahu dirinya menambahi, bahkan dia tertawa keras sekali.

Aku sebal. “Terserah katamu deh!” ujarku ketus, kemudian aku mengeluarkan tumpukan kertas F4 berisi soal-soal, “Nih, kerjakan sampai tuntas! Aku nggak mau kau protes atau mengeluarkan ponselmu di tengah-tengah soal.” Kulanjutkan siksaan ini, tersenyum dengan sangat lebar dan congkak.

Kemudian, sembari menunggu Ray selesai dengan kertas-kertas tadi, yang pasti bakal membutuhkan waktu yang lama banget, aku tenggelam dalam pikiranku. Aku tiba di satu titik, keputusan akhir; aku tidak bisa begini terus. Aku tidak bisa berubah menjadi cewek dangkal yang tiba-tiba memakai bedak dan ketahuan dan terus menerus berusaha mendapat perhatian Ray untuk hal-hal sepele. Nggak, aku nggak akan pernah bisa. Aku nggak mau menjadi cewek kesekian Ray yang mudah terlupakan. Aku nggak mau.

Tapi BAGAIMANA?! Beritahu aku cara jitu untuk membereskan patah hati. Sebelum perasaan ini berubah dua kali lipat makin mengerikan dan aku tidak akan tahan hanya melihat Ray sebagai guru les/murid, lalu aku akan mulai menyusun cara menyatakan cintaku yang murni kepada Ray yang akan berujung ke (1) rasa malu tidak tertahankan dan kegilaan akibat stres karena ditolak, (2) patah hati parah yang mendorongku untuk mengonsumsi obat-obat terlarang yang membuatku berakhir di panti anak-anak nakal.

Omong-omong, hari ini Ray cuma mengenakan T-shirt—biru tua lagi!—dan celana jins lagi. Penampilannya tidak terlalu beragam, tapi karena disokong penampakannya yang rupawan (apaan sih, kenapa aku menggunakan kata itu?!) semuanya jadi kelihatan sempurna dan oke-oke saja. Aku mulai gila.

“Mm, Ray? Menurutmu apa aku ini guru yang, uhm, oke? Maksudku, apa kau paham materi yang kuajarkan?” kutanya dia.

Ray mengangkat kepalanya, menatapku dengan dahi berkerut-kerut karena soal-soal yang sulit dikerjakan mungkin. “Kenapa memangnya? Kau akan membuka kursus sendiri?”

“Enggaklah!” sahutku buru-buru. “Jawab saja kenapa, sih?”

Dia nyengir. “Oke. Menurutku kau, hmmm…” ujarnya dengan gaya dilebih-lebihkan ala Ray-Banget yang menjengkelkan. “Lumayan.”

Aku tiba di puncak emosi tertinggi yang menyebabkan ucapanku tidak terkontrol. Aku, Riley Jun, menyemburkan emosi dan perasaanku kepada cowok itu. Termasuk, segala omong kosong aku naksir padanya.

“Aku nggak kepingin jadi gurumu lagi!” teriakku mengawali. “Kau tahu, Ray, kau menyebalkan banget dan kau bisa dengan mudah membuatku jengkel dan kepingin membenturkan kepalamu ke kaki meja, sofa, apa saja! Aku punya jerawat di pipi kananku dan itu karena aku kepikiran tentangmu! Dan kau tahu nggak, aku suka biru tua dan teganya kau memakai pakaian bewarna itu setiap saat waktu kau bersamaku! Aku begitu jengkel padamu sampai rasanya capek, capek banget memikirkannya dan well, uh, kita tiba di bagian paling bodoh dari kejengkelanku ini, aku NAKSIR padamu. Dan, sedihnya, itu bukan karena kita mungkin menyukai warna yang sama atau kau yang kelihatan oke banget di biru tua—tapi ini karena itu kau. Aku benci mengakui ini tapi begitulah. Kurasa sudah saatnya mengakhiri drama ini karena aku tahu banget hidup nggak kayak cerita-cerita gratis di Wattpad di mana aku bisa jadi tutormu dan kau bisa naksir padaku!” Aku kehabisan napas, terengah-engah dan kehausan. Cairan dalam tubuhku tersedot habis oleh emosi menggebu-gebu dan sekarang aku kering kerontang. “Jadi, Ray, ayo kita akhiri urusan les ini dan pergi cari cewek lain yang lebih pintar dariku dan nggak akan semudah itu naksir padamu dan, uh, membuat segalanya jadi canggung dan tidak nyaman.”

Terakhir, aku mendorong Ray keluar dari rumahku sebelum dia lepas dari keterkejutannya dan memberesi barang-barangnya. Aku keburu membanting pintu di depannya, terlalu edan untuk menyadari bahwa, ponsel, ransel, dan barang-barangnya yang lain masih tergeletak di mejaku, sementara empunya di luar, terlalu terkejut untuk memahami semua ini.

Aku ada di ujung tangisanku sewaktu pintu rumahku diketuk lagi, dengan tambahan seruan, “Riley! Barang-barangku!”

Tentu saja aku tidak setega itu membiarkan Ray pulang tanpa barang-barangnya.

Aku toh, pada akhirnya, menarik napas dan menghelanya sebelum tertatih mencapai pintu, hanya untuk memutar kunci dan menarik kenopnya membuka, hanya untuk menyaksikan penolakan Ray atas pernyataan cintaku yang nyaris bersamaan dengan meledaknya emosiku karena marah.

Aku tahu dia akan mengingatku selama-lama-lama-lama-lama-lamanya sebagai cewek aneh yang terlalu gampang dibuat jatuh cinta, kemudian dengan cara paling unik sekaligus abnormal cewek aneh itu (aku) menyatakan cintanya yang penuh kedunguan. Aku juga tidak akan melupakannya, dan semua pikiran ini membuatku makin sinting.

Ray, syukurlah, tidak mengatakan apa-apa atau menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya melenggang melewatiku, memasukkan buku-bukunya, berhenti sebentar untuk mengangkat kertas soal tadi dan menatapku, seolah-olah tengah bertanya apa aku bisa membawanya pulang untuk kupelajari sendiri dengan isyarat.

Aku mengangguk ragu.

Lalu saat Ray selesai dengan pekerjaannya, aku tahu tepat saat itu juga, hatiku patah dan jatuh bergelimpangan di lantai ruang tamu. Tempat di mana aku, harusnya, memberinya les tentang Bahasa Inggris. Ironi rumit yang membuat air mataku menendang-nendang ingin keluar.

Aku tidak percaya ini semua akan berakhir dengan begitu cepat. Seakan-akan baru kemarin aku menjadi anak baru di SMA dan tidak punya teman—sekarang pun masih, dan Ray baru saja membanting bakinya di sampingku, dengan sikap menjengkelkan menanyai apa aku tidak punya teman. Tapi kurasa beginilah yang terbaik.

Mungkin.

Ray, dengan teganya, justru berhenti di hadapanku dengan tas tercangklong di bahunya. “Apa ini artinya les Sejarah kita juga berhenti?” tanyanya dengan nada bodoh.

Aku ingin tertawa, lalu menangis, lalu berjumpalitan di hadapannya sembari meneriakkan, “Tentu saja bodoh!” namun, tentu saja aku tidak melakukannya. Aku bahkan hanya mengangguk sekilas, terlalu lemah dan patah hati untuk menatap matanya langsung dan meyakinkan diriku sendiri—yang memang sudah yakin—kalau dia tentu saja, menolakku.

“Eh, itu artinya kau nggak akan menyapaku lagi?”

Tak kutanggapi.

“Maksudnya kau nggak mau bertemu denganku lagi?”

“Aduh, Ray,” aku akhirnya berseru gemas. “Kau mau aku meneriakimu lagi seperti psikopat?”

Dia meresponsnya dengan tawa kecil yang kelewat manis. “Boleh saja. Aku juga sudah siap dengan kalimatku.”

“Apa-apaan…”

Tapi Ray mengacuhkan kalimat tanyaku yang dipenuhi keraguan, meloncat langsung ke pidato kemarahan dan kejengkelan Ray padaku sejak hari pertama.

“Aku juga jengkel padamu! Kau, sudah nggak punya teman, duduk sendirian di kafeteria kayak orang linglung tapi masih punya keberanian untuk bersikap ketus padaku! Padaku! Ray Kim, Kim Hyun Il yang tersohor! Kau bilang kau kesal padaku, ‘kan? Aku juga, tahu! Kau bahkan tidak menanggapi flirting-ku tentang nama yang mirip. Memang, sih, itu kalimat flirting yang goblok banget tapi seharusnya kau nggak bersikap begitu! Paling nggak, kau harus mengatakan sesuatu, bahkan kata-kata judes sekalipun masih lebih baik ketimbang tidak mengatakan apa-apa!” serunya tertahan. “Lalu saking sebalnya aku padamu, aku memutuskan akan mengganggu hidupmu dan membuat sisa masa sekolahmu menjadi neraka tapi nggak tuh, karena ternyata kau cukup licik untuk memerasku juga—dengan menyuruhku membantumu belajar Sejarah.”

Aku melongo. Tidak tahu kalau Ray yang sangat menyebalkan itu punya perasaan kesal juga. Aku menunggu kelanjutan kalimatnya, menunggu impresi-impresi tentang diriku terlontar keluar dari mulutnya, membiarkan dirinya menilaiku dengan sudut pandangnya sendiri dan mendeskripsikan perasaannya kepadaku dengan kalimatnya sendiri. Tapi tidak, Ray justru nyengir lebar sekali sampai matanya agak menghilang.

“Sebenarnya masih banyak yang kepingin kukatakan,” ujarnya. “Tapi karena kelanjutannya bersifat rahasia dan terlalu vulgar untuk dibicarakan, jadi ya, sudah. Selesai.”

“Vulgar?! Apanya vulgar?” cowok ini gila, ya?

“Rahasia. Sudah ya, aku pulang dulu. Oh ya, untuk terakhir kalinya, cocokkan jawabanku di soal yang itu, ya.” Dia menunjuk lembaran kertas di meja. “Dah!”

Kekanakan.

Aku jadi makin suka padanya.

Sayang sekali dia nggak melanjutkan kalimatnya. Meskipun aku juga nggak kepingin tahu, kalau-kalau kalimatnya yang ‘vulgar’ itu sebenarnya terisi penuh oleh cewek lain, calon pacar kesekiannya, dan bukannya aku.

Aku maju ke arah meja dan duduk di sofa, meraih lembaran tadi dan mulai meneliti. Lembar pertama bagus juga, hanya ada beberapa grammatical error, tapi Ray masih layak mendapat B-plus di sini.

Lembar kedua. Ini pertanyaan esai terstruktur atau begitulah guruku di sekolah yang lama menyebutnya. Tapi lembar ini jelek banget, karena Ray membubuhkan banyak coretan jelek yang menyakiti mata. Aku mulai memeriksa.

  1. What is the point in Riley’s words?

      Answer: She likes me. She crazily likes me.

  1. Why is she so angry?

      Answer: Because I made she frustrated.

  1. If she, actually, asks about your feeling towards her, what would you say?

     Answer: I think “Riley, sama kayak kau, aku juga naksir padamu. Dan omong kosong soal pacarku yang banyak hanya karang-karangan temanku saja. Cewek berbandana itu memang mantanku, tapi kami sudah putus sejak tiga bulan yang lalu” is enough.

Sialan.

Ray mengganti nyaris semua soal. Dan soal-soal itu tentang diriku. Dan bagaimana perasaannya. Dan bahwa, mungkin saja, dia sebenarnya juga menyukaiku.

Tapi aku tidak ingin berharap banyak. Jadi kukeluarkan bolpoin merahku dan menggembar nol besar di atas coretannya yang jelek. Setelahnya, aku meneleponRay.

“Kau dapat B-minus untuk lembar kedua.” Kataku sebelum Ray sempat mengatakan halo. “Dan omong-omong, jawabanmu nomor dua tidak benar. harusnya her, bukan she. Aku terpaksa mengatakan padamu kalau kau harus les lagi denganku. Dan,” aku menarik napas. “Aku juga masih membutuhkan pelatihan Sejarahmu.”

Kemudian, aku menutup telepon sebelum mendengar pendapat Ray soal ini, dengan pipi merah terbakar.

Aku mengidap penyakit kesintingan stadium akhir.

end.

Finished:29/03/15 – 0.08.

Maaf udah bikin ini. T_T Aku tahu Ray terlalu bagus untuk dinistakan dengan cara ginian apalagi dengan karakter karangan punyaku yang amburadul. T_T

Dan soal ending, aku udah mabuk berat karna ini tengah malem sekarang dan aku ngantuk. :” Makasih kalo ada yang baca karya absurd-ku ini HUHUHU.

Cuma itu yang pengen kuomongin, jadi BYEBYEE^__^

P.s. Boleh dong reviewnya kalo kamu udah baca ini HEHE.

Bonus:

ray1

ray2

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s