[Vignette] When Sparks Die


sparks

When Sparks Die

[RV] Son Wendy & [WINNER] Nam Taehyun

Genre Fluff-AU | Duration 2k+ | Rating Teenager, General.

presented by Summerie.

.

.

I wish I could be that one lucky girl you kiss when you’re getting drunk.


Tidak ada yang spesial dari lelaki di hadapanku ini, kalau dilihat-lihat. Semuanya tampak normal dan standar, cenderung membosankan, malah, namun meskipun begitu, aku tetap tidak sanggup menghentikan pikiranku meraih ke dalam diri lelaki itu, menyambar apapun sesanggupku.

Semenjak Nam Taehyun tinggal di daerah ini, semuanya berubah. Aku tidak bisa mengatakan apa tepatnya yang berbeda, apa tepatnya yang tak sama, tak kutemukan satu pun. Segala perubahan itu muncul dari dalam diriku sendiri. Aku berubah; aku berdandan, aku membeli banyak rok koleksi musim panas di mal, aku menyisir rambutku lebih dari sepuluh kali sehari. Hal-hal seperti itulah yang membuatku tidak nyaman, membuatku merasa sedang dirasuki seseorang—namun tentu saja hal itu tidak benar, aku terpaksa mengakui bahwa inilah diriku yang baru. Diriku dengan eksistensi Nam Taehyun di dekatku.

Awal pertemuan, kami tidak bicara banyak. Cenderung berdiam diri, malah. Itu karena aku kehilangan nyali dan Taehyun tidak tahu apa yang harus dikatakan. Namun, di akhir pertemuan, kami akhirnya menemukan kesamaan.

“Aku suka kucing,” ia mengatakannya dengan santai, seakan-akan sedang mengatakan “Aku sarapan hot dog tadi pagi”, seakan-akan kesukaannya itu bukanlah hal penting atau semacamnya.

“Kau suka kucing,” aku ingat aku mengulanginya dengan nada melamun dan raut dungu. “Aku juga suka kucing.”

“Yeah. Menarik.” Taehyun mengangguk, menatapku sekali lagi dengan senyuman terukir di bibirnya. “Kau harus bertemu dengan kucingku kapan-kapan.”

“Tidak, kau tidak paham,” selaku setelah kesadaranku kembali ke tempatnya. “Kau suka kucing. Kita suka kucing.” Kemudian aku menyadari betapa gilanya itu terdengar. Menutupi kegugupanku, aku tertawa kecil. “Maksudku, aku tidak pernah bertemu anak laki-laki yang menyukai kucing.”

Taehyun mengangguk kecil, menggumamkan, “Well, itu bisa dimengerti. Menyukai kucing kedengaran feminin, mungkin?” Ia tertawa.

Aku tersetrum aliran listrik.

Kami berbicara lebih banyak lagi, dan aku menemukan fakta-fakta baru tentang Taehyun. Fakta yang mengubah hidupku setelahnya.

Begitulah, aku jatuh cinta pada seorang anak laki-laki karena ia memelihara kucing. Sesederhana itu. Eh, mungkin juga karena Taehyun benci rock sebenci aku pada genre itu.

Kami berteman setelahnya—tentu saja, aku tidak akan melepaskan seseorang yang begitu cocok denganku semudah itu. Rumah Taehyun berada dua gang dari rumahku, dan sudah biasa untuk kami saling berkunjung ke rumah yang lain—sehari dua kali, atau mungkin lebih.

Aku tidak ingin mengatakannya, tapi sulit sekali memendamnya, dan aku tidak tahan lagi. Aku menyukai Nam Taehyun dan tidak ingin ia mengetahui ini; takut kalau ia akan menolakku, menendangku jauh-jauh dari kehidupannya. Aku tidak siap dengan konsekuensi itu.

::

“Sadar tidak, Tae, cewek di angka sebelas itu melihatimu terus,” cetusku pada menit kesepuluh setelah kami duduk di salah satu bangku taman, dengan baki berisi junkfood di tangan. “Aku merasa sangat tidak nyaman.”

“Mana?” Taehyun mendongak dari burger-nya, melihat-lihat keadaan sekitar. “Cewek itu? Yang duduk di dekat lampu taman?” Ia menunggu responku, dan melanjutkan setelah melihatku mengangguk. “Aku akan datang ke sana dan memintanya untuk berhenti, bagaimana?” Sebelum aku sanggup meneriakkan jangan, Taehyun sudah telanjur bangkit, menghampiri gadis bodoh yang tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menonton seseorang terlalu lama.

Mereka terlibat dalam percakapan—tidak lama, tapi aku bisa menangkap perubahan ekspresi gadis itu, dari bersemangat karena didatangi cowok-idamannya ke raut gelap dan ngeri, lantas berubah menjadi sangat malu. Sesaat setelah Taehyun bangkit, berjalan menuju ke mejaku, gadis itu memberesi barang-barangnya dengan gugup dan berjalan pergi. Aku sampai harus menggigit bibir bawahku untuk menahan tawa.

“Beres, ‘kan?” tanya Taehyun dengan cengiran lebar di wajahnya.

Aku tergelak, “Apa yang kaukatakan?”

Taehyun hanya mengedikkan bahu, sibuk kembali dengan bakinya, “Stuff.”

“Serius, nih, apa yang kaukatakan?” aku memaksa, menunjuk kursi kosong yang tadinya diduduki cewek-angka-sebelas. “Sampai-sampai dia pergi dengan wajah super malu.”

Taehyun mendongak untuk kali kedua dari bakinya, menonton bangku kosong itu dengan sikap tertarik. “Oh, well, aku hanya bilang kalau aku sedang duduk dengan pacarku, menikmati matahari sore yang sangat menyenangkan dengan burger lezat di depan mataku.” Tuturnya, jelas-jelas melucu. Namun pembawaannya tidak bisa menghentikan otakku untuk berpikir bahwa Taehyun—mungkin—punya sesuatu terhadapku.

Aku tidak salah dengar, ‘kan, kalau Taehyun memang menyebutku sebagai pacarnya? Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk berpikir begitu.

Namun, sialnya—atau untungnya, tergantung dari mana kau melihat posisi kami—Taehyun sudah telanjur tenggelam dalam makanannya. Meninggalkanku bertanya-tanya.. berharap.

::

Rumah Na Haeryung sudah ramai oleh anak-anak dari sekolah kami—dari sekolah lain juga, mungkin, melihat banyak sekali tampang yang tak kukenali sebagai bagian dari SMA Cheon—sewaktu Taehyun menarik lenganku masuk ke dalam keramaian. Na Haeryung ini jelas-jelas adalah siswi populer yang berduit, mengingat prestasinya menghidupkan pesta-pesta bulanannya—benar, ia menyelenggarakan pesta-pesta mahal ini sebulan sekali—dengan makanan mahal, bir, dan stereo di setiap ruangan dalam rumahnya. Bukan berarti aku kenal padanya, Taehyunlah yang menerima undangannya dan mengajakku untuk ikut serta.

Taehyun baru melepaskan tanganku setelah kami mencapai dapur, tempat di mana makanan mahal yang lezat dan bir serta soda berada. Ia bahkan menyapa teman-temannya dengan lengan yang masih bertautan.

“Aku di sini untuk mabuk,” kata Taehyun, segera tenggelam dalam rak tinggi kaca dengan botol-botol tinggi di dalamnya; minuman keras.

“Tapi kau tidak bisa mabuk, belum,” ujarku memperingatkan. “Kita masih di bawah umur untuk menyentuh hal-hal begituan, Tae.”

Taehyun tidak mengindahkanku sama sekali. “Peduli amat, Son,” katanya, menggunakan panggilannya untukku ketika sedang kesal. “Stok masalahku sudah mengantri untuk dikeluarkan.”

Aku tidak mengatakan apapun lagi, selain memandangi Taehyun yang berdiri di belakang konter dengan celana panjang gelap dan T-shirt abu-abu. Baru-baru ini Taehyun sering begini, galak dan pemarah, maksudku. Meskipun begitu, ia masih kelihatan tampan, dan kurus.  Aku tidak pernah berani menanyakan apa masalahnya, terlalu takut dicap sok-ikut-campur dan semacamnya; jadi aku membiarkannya. Aku membiarkan Taehyun menenggak minuman keras itu langsung dari botolnya, begitu terus-menerus sampai dua botol bir ukuran medium habis diteguknya.

Setelah beberapa saat, Taehyun kelihatan lelah dan pusing, sehingga aku harus menuntunnya untuk duduk di bawah jendela kayu berukir.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku, gagal menyembunyikan nada khawatir. Beberapa anak lewat di hadapan kami, berjalan lurus-lurus ke konter dapur, tidak ada satu pun mereka yang memerhatikan kami. Aku kembali memfokuskan pandanganku ke arah Taehyun, bertepatan ketika ia memutuskan untuk membungkuk ke arahku—menciumku.

MENCIUMKU.

Ciuman itu tidak bertahan lama—detik ketika aku memutuskan untuk tenggelam di dalamnya, refleks memejam; Taehyun mundur. Tatapannya ringan dan tidak fokus, dan kesadaran segera menghantamku; ia terlalu mabuk untuk menyadari sedang menciumku.

“Toleransimu terhadap alkohol rendah sekali.” Kataku, mengabaikan ribuan kupu-kupu yang sedang mengepakkan sayapnya dalam perutku. Aku mengulurkan tanganku, bersiap untuk mengajak Taehyun pergi dari pesta. “Ayo bangun,”

Tapi Taehyun tidak melakukannya. Ia hanya mendongak, menatapku—membuat pipiku terasa seperti terbakar, kemudian menunjukkan senyuman aku-tidak-sadar-aku-sedang-tersenyum miliknya yang khas. Kupu-kupu di dalam perutku bertambah dua kali lipat.

C’mon,” aku memerintah, akhirnya sanggup bersuara. “Aku harus membawamu ke suatu tempat.”

“Jangan rumahku,” sahutnya. “Jangan menunjukkan kondisiku pada ibuku.”

Aku berusaha keras menyembunyikan senyuman. “Tidak akan. Apa taman kedengaran seperti ide bagus untukmu?”

Ia, akhirnya, mengangguk dan berdiri.

“Kau harus memberitahuku masalahmu setelah ini.”

Taehyun mengangguk sekali lagi.

He didn’t tell me his problems that night, though. Because he was too tipsy to stay awake, let alone remembering his problems.

::

Oleh karena itu, pada hari Senin aku memutuskan untuk merongrongnya, memintanya untuk memberitahuku masalah-masalahnya. Mungkin aku bisa membantu, mungkin dengan membaginya dengan orang lain, tekanan masalah-masalah itu bisa berkurang. Aku harus melakukannya, karena Nam Taehyun kelihatan seperti zombie jelek pemakan otak ketika dirundung masalah. Aku tidak suka Nam Taehyun yang itu.

“Baiklah, fine, oke.” Taehyun akhirnya menyerah, melemparkan tangannya ke atas kepalanya. “Nanti, di rumahku, aku akan memberitahumu.”

“Di rumahmu?” aku menaikkan alisku.

“Yap, nanti kau bisa lihat sendiri.”

Aku menghabiskan sisa waktuku di sekolah bertanya-tanya tentang apa yang dimaksud Taehyun, apa sebenarnya masalahnya. Sewaktu bel tanda selesai jam belajar berdering, aku nyaris loncat dari kursiku, berlarian menuju kelas Taehyun.

Taehyun, tentu saja, tidak bersemangat sama sekali. Ia tidak membalas lambaianku, hanya menunjukkan senyum miringnya. Kami berjalan beriringan menuju rumahnya. Raut Taehyun menekankan kalau ia sedang tidak berkeinginan untuk mengatakan sesuatu, melucu, apapun itu untuk menyegarkan suasana—seperti yang selalu dilakukannya di lain waktu. Mau tidak mau, mood Taehyun memengaruhi perasaanku. Aku tidak bisa menyingkirkan beban di dadaku, seakan-akan jeleknya mood Taehyun dikarenakan keberadaanku, memaksanya untuk memberitahuku masalahnya.

Ketika kami tiba di gerbang rumahnya, aku tidak tahan lagi. “Hei, Taehyun?” kataku. “Kau tidak harus melakukannya. Memberitahuku masalahmu, maksudku. Kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri.”

Aku bisa membayangkan Taehyun mengembuskan napasnya dengan lega, mengatakan, “Thanks, Wendy, terima kasih banyak sudah memahamiku.”

Namun tidak, Taehyun justru menggeleng, menawarkan senyum kecilnya. “Well, kurasa kau juga harus tahu tentang ini, Wendy.” Katanya. Saat aku mencetuskan “juga?!”, Taehyun menyahut, “Yeah. Selain orangtuaku. Kau harus tahu ini.”

Kemudian, Taehyun membuka pintu rumahnya dengan ringan. Wajahnya tanpa ekspresi, tenang tapi menyeramkan—jenis ekspresi yang akan pecah berkeping-keping kalau tersenggol.

Aku tidak ingin ini. Aku berkata pada diriku sendiri. Kukira masalah Taehyun menyangkut perasaannya pada…. diriku. Kukira ia hanya bingung. Kukira…

“Oh, Wendy,” sapa ibunya ketika melihat kami. Anehnya, wajahnya kelihatan tidak nyaman dan lelah. Ia mengalihkan perhatiannya pada Taehyun, yang berdiri dengan kaku dan tegap di sampingku. “Ibu akan kembali nanti sore,” ujarnya sebelum menghilang ke ruang tamu.

Aku menoleh, melayangkan pandangan bingung ke arah Taehyun, “Itu… sungguh aneh.” Gumamku.

Well,” Taehyun membalas, “segalanya memang aneh belakangan ini.”

“Apa maksudmu?”

Taehyun tidak menyahut, hanya menunjuk ke meja makan, tempat kami biasanya mengerjakan tugas bersama atau makan makanan ringan. “Duduk di sana dan tenang, oke? Aku mau mengganti bajuku.” Ia mengedikkan kemejanya yang kusut. “Segera kembali.”

Aku menurut, berjalan pelan ke meja untuk satu keluarga besar itu, duduk diam di sana selama beberapa menit. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau ini bukanlah hal besar, semuanya baik-baik saja. Mungkin perkiraanku benar, mungkin Taehyun hanya tidak yakin dengan perasaannya terhadapku. Mungkin ia memang menyukaiku. Namun, separuh dariku juga tahu masalah ini bukanlah tentang itu. Probably something bigger. Dan dengan itu, aku bisa merasakan ketakutanku bertambah.

Taehyun akhirnya muncul, mengenakan sweatpant dan kaus oblong yang kelihatannya nyaman. Ia duduk di hadapanku, hal yang agak aneh, karena biasanya ia akan duduk di sampingku. Aku memperbaiki posisi dudukku.

“Minggu yang aneh, ya?” ia tertawa, menyoroti posisi dudukku yang tegap dan kaku. “Bagaimana mengatakannya ya..”

Aku menggigit bibirku. “You know… you don’t have to tell me if you don’t want to… Really.

Nope. I want to. I need to.”

Aku terdiam.

“Aku…” Taehyun memulai, matanya tidak fokus. “Apa kau akan menjauhi setelah kau mengetahui kenyataan tentangku?”

“Tentu saja tidak. Kau sahabatku,” aku ingin menambahkan ‘dan orang yang kusukai’ namun merasakan kalau ini bukanlah saat yang tepat.

“Ada yang aneh dariku.” Katanya tiba-tiba.

“Apa?”

“Wendy… Banyak sekali anak laki-laki yang mengalami masalah yang sama denganku.” Taehyun tertawa dengan gugup. “Beberapa dari mereka berhasil ‘coming out’ tapi beberapa dari mereka memutuskan untuk menyimpannya sendiri.”

Coming out?” aku terbata, menelan ludahku. “Maksudmu kau adalah—”

“Aku gay, Wendy.”

Saat itu juga, aku bisa merasakan ratusan kupu-kupu dalam perutku mati, jatuh bergelimpangan dengan hati yang patah. Namun separuh dari diriku tidak menyerah. “T-tapi, kau menciumku waktu itu..” pipiku panas lagi.

Sialnya, Taehyun tertawa. Tawa ringan yang penuh kelegaan. “Saat aku mabuk?” tanyanya memastikan, segera memperoleh anggukanku. “Maaf ya, tapi aku memang begitu. Saat mabuk, aku memang… well, suka mencium perempuan.” Ia mengatakannya dengan nada meminta maaf, yang membuatku membenci diriku sendiri karena merasa gembira atas ciuman-tidak-sengajanya itu. “Kebetulan saja kau ada di dekatku saat itu.”

Taehyun mungkin tidak menyadari ini, namun hatiku pecah berkeping-keping sedetik setelah ia mengatakan itu. Kebetulan saja kau ada di dekatku saat itu.  Kebetulan saja aku, yang secara kebetulan berada di dekatmu saat itu, adalah orang yang menyukaimu selama lebih dari setahun.

Aku tidak mengatakannya.

::

“Lihat cowok di angka enam!” Aku nyaris berteriak, dengan terlalu bersemangat, kepada Taehyun. “Ganteng bangeeeeeeeeet!”

“Bukan seleraku,” Taehyun menyahut dengan ringan, mencari mangsa lainnya. “Cowok di angka dua! The definition of hot!”

Nah,” aku menolak. “Cowok-angka-enam is.”

Perang “siapa-yang-lebih-hot” berlanjut sampai kami bosan. Well, selepas menyadari kalau Taehyun ternyata… uh, tidak tertarik pada spesiesku, aku memutuskan untuk membungkus erat perasaanku itu, menendangnya jauh-jauh ke dalam laci meja belajarku. Aku tidak pernah memberitahu Taehyun tentang itu, tentu saja.

Well, meskipun aku kehilangan cowok yang kusukai, paling tidak sekarang aku mendapat—

Holy shit! Look at that dark-haired boy wearing polo shirt!” Taehyun berteriak.

—teman menemukan anak laki-laki keren/tampan yang kebetulan nongkrong di taman dekat rumah kami.

Sore itu, Taehyun berhasil membuatku berkenalan dengan cowok-angka-enam, yang ternyata bernama…

“Do Kyungsoo.” Cowok-angka-enam menjulurkan tangannya, tersenyum.

Kupu-kupu dalam perutku, ajaibnya, membuka matanya kembali ke kehidupan.

end.

Finished: 07/07/2015 | 23.58.

Simply because: 

damnn

One thought on “[Vignette] When Sparks Die

  1. Lol, si Namtae gay *jadi inget dia pas sama Seungyoon*

    Wjahnya emang cocok jadi seorang gay sih, muka muka maknae kagak polos.

    Ini happy ending apa sad ending yah ? hihi.
    Good job, I like it🙂

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s