7 Wishes & You


https://i1.wp.com/24.media.tumblr.com/tumblr_m1exmyEtp41qmn4q4o1_1280.jpg

Hyejeong has a bucket list where her secrets are hidden. But, unfortunately, Chansik found it.

××

7 Wishes & You

.

starred AOA’s Hyejeong and B1A4’s Chansik

genre fluff-au ; duration ficlet, 900w ; rating teenager.


“Aku tidak tahu kalau kau punya bucket list.”

Aku mengerjap, sekali, dua kali. “Kok kau tahu?” Tentu saja aku menanyakannya. Aku hampir tidak pernah mengeluarkan kertas itu setelah menulisinya dengan keinginan-keinginan konyolku yang belum kesampaian. Wajar, ‘kan, kalau aku menanyakannya?

Sosok di seberang terkikik dengan suaranya yang berat. Ugh. Suaranya enak banget didengar. “Tidak sengaja terselip di buku teksku sewaktu kau meminjamnya,” jelasnya.

Oh, tidak!!! Hari kematianku telah tiba! Aku bisa merasakan syaraf-syarafku menegang dalam waktu kurang dari sedetik dan aliran darahku meningkat empat kali lebih cepat. Segera saja kuteriakkan, “Jangan dibaca!” namun terlambat, karena Gong Chansik si bocah usil tidak bisa ditentang—justru, kalau kau mengatakan tidak padanya, ia akan melakukannya tepat seperti yang kau larang. That asshole.

“Aku akan membacanya!”

Tuh, ‘kan. Aku memejamkan mata erat-erat. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku lebih baik mati dilindas truk ketimbang harus mengalami insiden sememalukan ini (eh, kurasa mati dilindas truk kedengaran terlalu ekstrem). “Please, jangan, itu privasiku.” Aku memohon, berharap Gong Chansik yang ini bermurah hati untuk menuruti apa yang kukatakan.

Chansik masih tertawa. Gawat. Itu artinya ia tidak akan—

“Pertama, mencuri kartu kredit Mama dan berbelanja sesukaku. Wow. Badass banget,” komentar Chansik dibumbui dengan decakan seakan-akan poin pertama dari bucket list­-ku kelewat ‘sangar’ dari standarnya. (Tidak, tentu saja, mengingat Chansik ini pernah tanpa sengaja membakar kebun ibunya sampai ludes menjadi abu.)

Aku mengabaikannya. “Chansik, berhenti! Atau aku akan ke rumahmu sekarang!”

He he, silakan saja datang.” Tanpa takut, ia tertawa.

Rasanya aku mau semaput saja. Rumah Chansik ‘kan jauh!

“Kedua, menghabiskan waktu dengan berbelanja di mal dengan seseorang yang spesial. Hm, cewek banget.” Kata Chansik. Aku bisa membayangkan dirinya berdecak, menggeleng-gelengkan kepalanya sok heran. “Makanya, jangan lupa menabung!”

Sungguhan, nih? Aku kesal sekali padanya!

Namun, sebelum aku berhasil memprotes, Chansik sudah kembali melanjutkan, “Ketiga, bertukar voice note di tengah malam dengan seseorang. Wah, memangnya kau punya suara yang sangat merdu, Jeong?”

“Chansik!”

Tidak, kemarahanku tetap tidak menghentikannya. Karena detik berikutnya, Chansik kembali melanjutkan. “Keempat, bergandengan tangan dengan seseorang yang spesial di tengah sakura yang berguguran.” Chansik bertepuk tangan dari seberang, membuat suara dari ponselnya bergemerisik. “Harusnya kau jadi penulis fanfiksi saja, Jeong! Kau pasti hebat membuat adegan-adegan fluff semacam kencan di Sungai Han atau nongkrong di bukit pribadi!”

Aku tidak menanggapi, karena terlalu sibuk berdoa semoga bagian lima, enam, dan tujuh tanpa sengaja sobek. Atau hilang. Atau luntur karena air mata yang kukirim dari sini (tidak mungkin). Apapun itu, aku memohon pada Tuhan agar Gong Chansik tak sampai membacanya. Atau aku akan mulai menangis.

“Oke, hm, kita tiba di bagian lima.” Kumohon, angin, badai, atau apapun itu, sambarlah kertas yang tengah digenggam Chansik, SEKARANG JUGA!! “Kelima, mencium seseorang lebih dari semenit.” Katanya yang kemudian diikuti dengan tawa menggelegar yang menyakiti telingaku. “Kau yakin kau tidak akan mati kehabisan napas, Shin Hyejeong?” Godanya.

Aku. Ingin. Menangis. Saat. Ini. Juga. Bisakah seseorang mengambil kertas itu dari tangan Chansik sekarang juga? Aku sangat sangat sangat sangat sangat tidak ingin ia membaca poin keenam yang kutulis berbulan-bulan lalu dan membuatku lebih malu dari sekarang ini. Tolong.

“Keenam—”

“TIDAK! Jangan buka lipatannya!” Aku berteriak panik. Aku ingat benar aku melipat bagian keenam dan ketujuh—aku berdoa semoga Chansik belum membacanya.

“—mencium Chansik.” Sudah terlambat.

Halo? Apa kau mendengarku? Tidakkah? Syukurlah. Itu artinya aku sudah mati. Selamat tinggal dunia. Aku akan melanjutkan hidupku di surga sekarang. Sampaikan pada orangtuaku kalau aku sayang mereka, oke? Karena sepertinya serangan jantung yang datang secara tiba-tiba ini tidak akan mengijinkanku menyampaikan ucapan perpisahanku.

“Ketujuh,” kenapa, Ya Tuhan, mengapa aku masih mendengar suara Chansik dengan sangat jelas ketika aku sudah mati? Kenapa ponsel yang tengah kugenggam tidak tembus pandang dan dapat kuraih dengan normal? Bukankah roh tidak bisa memegang apapun?

Oh, sialan. Siksaan ini masih berlanjut.

“Ketujuh,” Chansik berdeham. Bagus, mungkin sekarang ia mengalami serangan jantung juga setelah mengetahui betapa besar—ugh—perasaanku padanya. Tapi itu bukan salahku, iya, ‘kan? Ia sendiri yang mengobrak-abrik privasi orang! “Melakukan hal-hal yang tertulis di atas dengan, tidak lain tidak bukan, Gong Chansik seorang.”

Aku tidak tahu apakah aku bisa menatap wajah Chansik lagi selepas ini.

Well…” Suaranya kedengaran normal tapi lucu. Tapi keadaannya jelas lebih baik ketimbang keadaanku sekarang yang bahkan membuka mulut saja tidak sanggup. “Aku tidak percaya kau hanya punya tujuh keinginan.”

Are you kidding me?!” Seruku, frustasi dengan keadaan yang menjepitku. Seakan-akan tujuh poin itu belum menghancurkan hidupku saja!

Chansik tertawa (dengan gugup, kalau boleh kutambahkan). “Saat kau menulisnya, apa kau memang benar-benar ingin mewujudkannya?” tanyanya.

“Chansik—bisakah kau berhenti?” Aku menghela napas lelah. “Kau tidak suka padaku dan perasaanku tidak terbalas, dan sekarang kau merasa sangat canggung harus berbicara denganku. Mungkin hal yang paling kau inginkan sekarang adalah mematikan telepon dan menjauhiku selamanya. Lakukan saja. Tidak masalah. Aku bisa menerimanya dengan lapang dada. Sungguh.”

“Jawab dulu pertanyaanku, dong. Kau ingin mewujudkannya atau tidak?”

Bebal banget! “Yah, tentu saja,” jawabku enggan.

Nah, itulah masalahnya. Kalau kau memintaku menjauhimu selamanya, bagaimana kau bisa mewujudkan tujuh impianmu itu?”

“Maksudnya?” Keningku mengerut dengan sendirinya.

Chansik menghela napas dari ujung sana. “Aku bisa membantumu mewujudkan mereka. Bukan poin nomor satu, tentu saja, karena aku bukan seorang kriminal. Tidak lagi, maksudnya.” Ia tertawa. Dan jantungku mencelos. Serius?

Aku menyuarakan rasa tidak percayaku.

“Serius. Aku mau-mau saja bergandengan tangan di bawah sakura yang berguguran denganmu atau menciummu selama satu menit. Hanya denganmu.” Katanya.

“Jadi maksudmu kau suka padaku juga?” Lamat-lamat aku bertanya. Kalau Chansik bilang tidak, aku akan menggali liang kuburku sendiri.

Untungnya, Chansik tertawa. “Mau jadi pacarku?” tanyanya, masih dengan tawanya yang khas itu.

Oh, Tuhan, batalkan saja permintaanku untuk mati tadi! Lupakan saja! Seakan-akan aku tidak pernah memintanya, oke?

end.

Finished: 20:53 | 17 Agustus 2015.

a/n: bikinnya kilat, jadi amburadul banget. Sebenarnya udah ide lama mau bikin bucket list gini tapi baru kesampean sekarang. Maaf banget kalau ada yang biasnya Chansik atau Hyejeong karena aku ngehancurin karakter mereka di sini lol. Anyway, thanks for reading *winks* now, are you going to give me a feedback?😀

4 thoughts on “7 Wishes & You

  1. Sempet nggak tau, Chansik itu siapa *lol* -perasaan nggak ada nama tuh orang di B1A4, eh ternyata dia Gongchan- lmao.
    Aku suka suka suka. Cerita fluff gini cocok banget di hatiku. Yihiy –”
    Ditunggu karya karya lain. Klo bisa kpan2 bkin epep anak2 Bikseu yaa😉

    Semangat🙂

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s