Play Date


Neither Chansik or I give a fuck about each other. We’re just a play date.

×××

Play Date

AOA‘s Hyejeong & B1A4′s Gongchan

vignette, 2k words; fluff-augeneral.


“Aku punya game baru, mau ke rumahku?”

Mendengar nada suaranya yang tenang dan santai, separuh dariku ingin menyahut tidak dan mengakhiri panggilan. Namun, tentu saja, tidak kulakukan. Mau kuapakan hari Mingguku yang sepi kalau aku tidak pergi ke rumahnya? Tambahan, ia bilang ia punya game baru.

Maka, kukatakan, “Oke.” Yang dilanjutkan dengan putusnya sambungan telepon kami—dengan Chansik yang menyentuh tombol merah di ponselnya terlebih dahulu.

Aku tidak mengganti pakaian terlebih dahulu. Aku sering bermain ke rumahnya, dan kami sudah jadi tetangga jauh sebelum aku menyapa dunia. Bahkan, saking dekatnya ibu kami, mereka saling merencanakan tanggal lahir anak mereka—yang artinya adalah aku dan Chansik—yang kemudian berujung pada aku yang lebih tua empat hari ketimbang Chansik.

Tidak ada siapapun di rumah Chansik sewaktu aku tiba. Ibunya sedang berada di toko bunga milik keluarga mereka dan ayahnya tengah bekerja di kantornya, sudah biasa. Tidak perlu mengetuk, Keluarga Gong baru saja kehilangan pembantu rumah tangga mereka yang pergi kawin lari dengan pacarnya, sehingga tidak ada orang yang akan membuka pintu—taruhan, Chansik sudah telentang di karpetnya dengan stik PS tergenggam di kedua tangannya. Lagi pula, pintu samping rumahnya tidak terkunci. Aku menyelinap masuk dengan mudah, berjalan langsung ke kamarnya yang tertutup.

“Chansik?” Suaraku kedengaran terlalu keras setelah aku mengatakannya. Atau mungkin karena rumah ini kekurangan nada.

Terdengar gerungan dari dalam. Aku juga sudah terbiasa dengan itu. Chansik terlalu sibuk dengan permainannya yang intens sampai ia tidak bisa meluangkan waktunya untuk menyahutiku. Tanpa dipersilakan, aku duduk di sampingnya (tebakanku benar, dia memang tidur telentang dengan rambut, T-shirt abu-abu, dan celana pendek berantakan).

Dua detik setelah aku berhasil menemukan posisi nyaman, Chansik menyodorkan stiknya yang lain, tidak mengatakan apapun.

“Aku tidak tahu permainannya,” kataku, menimang-nimang stik tadi di tanganku. “Kau saja yang main.”

“Gampang, kok.” Sahutnya, masih tidak menoleh, “lihat saja cara bermainku, nanti juga kau tahu.”

Aku mencibir, tapi menurutinya. Chansik sudah ahli memainkannya—ia bahkan berhasil menggempur habis seorang monster raksasa dalam waktu kurang dari lima detik. “Melihatnya sih mudah, memainkannya yang susah.” Gerutuku.

“Mainkan saja.”

Kulakukan. Selesai memilih karakterku sendiri, aku terjun ke area perang. Karakter Chansik sudah mengantongi empat bintang—aku separuh yakin karakterku akan ditendang keluar dalam jangka waktu paling lama semenit.

“Payah banget!” Celetuk Chansik, terbahak dengan gaya mengejek yang kentara. Ia mengangkat tubuhnya sedikit dan menyambar tanganku. “Klik ini, kemudian ini—jangan dilepas! Nih, begini. Jangan klik yang itu! Kepalamu bakal memutar dan kehilangan fokus!” Jarinya berada di atas jariku, bergerak dengan lincah di atas tuts stik untuk mendemonstrasikan ajarannya. Sementara itu, konsentrasiku terbagi dari tombol-tombol tadi dan raut mengejek Chansik.

Oh, jangan salah sangka. Aku tidak naksir Chansik, kok. Memangnya seleraku serendah itu? Tentu saja tidak! Bahkan kami bertingkah seakan kami tidak saling kenal di sekolah! Tentu saja aku tidak suka padanya.

“Iya, iya, aku sudah bisa, kok!” Cetusku, mengempaskan jemari Chansik dari atas stikku. Aku berusaha memfokuskan pandanganku ke arah karakterku yang tengah kewalahan meninju tikus jelek bewarna hitam.

Melihatku sudah sibuk bermain (atau melihatku berusaha bertahan di permainan), Chansik kembali ke posisi awalnya, telentang. Beberapa detik kami berdiam diri, sibuk menghabisi lawan dan mencuri kantong-kantong emas yang muncul dari mayat para monster, sampai akhirnya Chansik menggeser tubuhnya, sehingga kepalanya kini bersandar dengan ringan di atas pahaku. Aku tidak tahu apakah ini posisi favoritnya—mengingat dia melakukannya cukup sering—namun aku tidak keberatan. Bahkan, kalau aku boleh menambahkan, kupikir posisi ini cukup nyaman. Tentu saja, ini bukan karena aku naksir pada Chansik atau bagaimana. Itu ‘kan pendapatku saja.

“Yah!” Aku berseru kecewa ketika karakter Chansik dengan teganya menebas tubuh karakterku menjadi dua dengan senjatanya. “Kok kau menyerangku, sih!” Protesku, mengetukkan stikku ke dahinya.

“Tugasku ‘kan menghabisi siapapun di area,” sahutnya santai. Ia melanjutkan kembali permainannya menyerang dua karakter lain. “Bukan salahku ‘kan kalau kau payah?”

But you’re supposed to help me, not killing me!” Aku masih tidak terima, walau kini mayat karakterku bahkan sudah menghilang dari layar.

“Siapa peduli.”

Nah, kau bisa menyimpulkan sendiri bagaimana interaksi kami. Pendek, dan tidak penting sama sekali. Aku dan Chansik hanya berkomunikasi mengenai permainan, stik, konsol, dan menang-kalahnya karakter kami. Well, kau bisa menyebut hubungan kami dangkal, dan aku tidak peduli. Aku tidak menganggapnya spesial atau apapun, sehingga itu oke-oke saja.

Karena, well, kami toh hanya teman bermain.

Seseorang baru saja menendang tungkaiku—ugh, rasanya sakit. Aku mengira-ngira dalam hati siapa yang dengan tega berusaha membangunkanku dengan sebegitu kasarnya. Ibuku? Ah, tidak mungkin. Aku yakin seratus persen kalau ibuku akan menggoyang-goyangkan tubuhku dengan ekstra keras namun tidak menyakitkan. Ayahku? Juga tidak mungkin, bukan tugasnya untuk menyadarkan putrinya yang super duper pemalas ini dari mimpi. Bibi? Kami tidak punya. Lalu—

Aku membuka mata. Dan mendapati sebuah lengan asing berada di atas perutku (nyaris menyentuh dadaku, kalau boleh kutambahkan). Oh, well, aku tahu jelas siapa pemilik lengan ini.

“Minggir..” Perintahku dengan lirih, antara sadar dan tidak sadar. Memangnya apa yang kau harapkan dari seseorang yang nyawanya belum terkumpul secara penuh? Tidak mendapat reaksi apapun, aku menambahkan, “Singkirkan tanganmu dariku!”

Berhasil. Chansik mengangkat lengannya dariku, mengubah posisi tidurnya—aku tidak tahu pasti, karena mataku kembali dipenuhi kegelapan yang berasal dari tidur nyamanku; tapi aku bisa merasakan kakinya di kakiku, dan lehernya di kepalaku.

Oh, yeah, rasanya nyaman. Aku menghirup dalam-dalam udara di sekitarku, memenuhi paru-paruku dengannya. Baunya enak dan tidak mencolok. Mungkin aku bisa hidup membauinya.

“Hyejeong?”

Oh, itu suara ibuku. Mungkin sekarang jam di ponselku telah menunjukkan pukul enam. Mungkin aku harus bangun sekarang juga.

Aku membuka mata. Dan menyaksikan Chansik terlelap kurang dari satu sentimeter dariku. Gong Chansik. Dan aku. Kami tidur bersama. Kurasa ada yang tidak benar di sini—

“Hyejeong!”

Aku terduduk dengan kecepatan ekstra—disokong oleh kekuatan yang berasal dari shock berat—yang menyebabkan erangan dari pihak lain yang kakinya baru saja kena tendangan keras dariku.

“Kami mencarimu semalaman!” Seruan ibuku mendengung di telingaku seperti nyamuk.

Satu detik, dua detik, Chansik masih tidak sadar juga. Aku mencubit lengannya.

Aw! Apaan sih—” Belum komplit seruan protesnya, tapi kurasa Chansik sudah menyadari singa kelaparan di hadapan kami. “Ugh… ini tidak kelihatan seperti… seperti apa yang kelihatan.”

Aku mencubitnya sekali lagi. Mengirim telepati mata, ‘mengapa kau memakai kalimat itu, sih?’.

Well, paling tidak kita sudah menemukan Hyejeong,” ujar Ayahku, mungkin menghibur Ibuku. Aku mengiakan dalam hati, berterima kasih. Mereka berdua (ditambah dengan orangtua Chansik) berhamburan keluar dari kamar dan—ini sungguh memalukan—menutup pintu. Seakan-akan mereka mengira kami akan melakukan sesuatu saja!

Tentu saja hal itu tidak akan terjadi, neither Chansik or I give a fuck about each other. We’re just a play date, aku menambahkan dalam hati.

Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Chansik berjalan menuju ruang kelasnya, berdialog dengan seorang gadis dari kelas sebelah dengan begitu ceria. Tebakan, mungkin gadis itu pacarnya. Kalau aku mau, aku bisa memanggilnya, atau melambaikan tanganku. Kalau aku mau, aku bisa melakukan apapun untuk mendapat perhatiannya. Kalau.

Sayang sekali, aku tidak ingin merusak perjanjian tak tertulis kami mengenai sikap-saling-tidak-kenal di sekolah. Mungkin dari awal Chansik tidak ingin berteman denganku, mungkin ia memintaku pergi ke rumahnya hanya karena ia kesepian, karena tidak satu orang pun temannya tinggal di kompleks kami. Dan ia tidak punya pilihan selain mengundangku. Rasa-rasanya masuk akal. Karena itu, kalau Chansik tidak ingin bicara denganku di sekolah, maka aku pun juga.

Oh, please, jangan salah sangka, aku bersikap sensitif begini bukan karena aku menyukai Chansik. Ini mungkin karena siklus menstruasiku. Atau mungkin karena aku sedang sedih karena tidak berhasil mendapat cokelat di hari Valentine.

Atau mungkin karena selamanya, aku hanya akan menjadi teman Chansik bermain video games.

Come over to my house, will you?”

Aku ingin menjawab tidak, karena nada Chansik begitu ringan dan santai, bukannya harap-harap cemas. Namun kemudian, aku meyakinkan diriku sendiri untuk terus bersikap tidak peduli. Memangnya kenapa kalau Chansik tidak mengharapkanku datang meskipun dia sendiri mengundangku? Toh, kami tetap ‘berteman’.

Maka aku mematikan telepon, bergegas pergi ke rumah sebelah. Seperti hari-hari normal lainnya, Chansik sudah siaga di kamarnya, memainkan satu permainan baru lain yang tidak kuketahui. Tanpa berkata, aku duduk di sampingnya, menatap lurus-lurus layar televisi entah ukuran berapa inch miliknya yang tergantung di dinding. Seperti biasa pula, Chansik menyodorkan stik lainnya ke arahku, namun kali ini, aku melawan takdirku untuk menerimanya. Justru, kugelengkan kepalaku tidak setuju.

Masih tidak menyerah, Chansik tidak menurunkan tangannya, ia makin mendekatkan stik itu, tidak menatapku sama sekali.

Sama bebalnya, masih tidak kuterima stiknya.

“Hei, aku menawarimu bermain,” katanya setelah sekian lama berpantomim.

“Aku tahu, dan aku tidak mau menerimanya.”

Jeda beberapa saat. Aku berusaha sangat keras untuk tidak memindahkan pandanganku dari layar, berusaha sangat keras untuk tidak menatap Chansik. Sementara itu, aku bisa merasakan Chansik mengubah posisinya (itu karena kakinya yang panjang tidak sengaja menabrak kakiku), namun aku bersikeras untuk tidak melihatnya.

“Jeong? Kau baik-baik saja?” ia bertanya. Aku tidak bisa mendengar sesuatu yang kuinginkan dari nadanya. Aku bahkan tidak bisa mengindentifikasi perasaannya saat ini. “Tidak biasanya kau menolakku.”

Menolakmu? Hah!

“Hei, Shin Hyejeong, kau ini kenapa? Kau sakit, ya?” Tanpa berpikir lebih lanjut, Chansik meletakkan bagian belakang telapak tangannya ke dahiku. Ia bahkan tidak memikirkan bagaimana reaksiku nantinya. Dasar ratu tega. “Nggak panas, kok.”

Aku tidak bisa mengendalikan mulutku. Tiba-tiba saja, aku sudah berkata, “Dahiku nggak panas, tapi hatiku iya.”

Chansik memundurkan kepalanya beberapa senti, tersentak mungkin. Aku juga kaget, bahkan mungkin lebih kaget dari dia.

“Kau barusan bilang apa?”

Aku malu, tapi bukannya ini sudah telanjur? Mengapa tak sekalian melampauinya? Lagi pula, aku sudah lama menantikan momen ini. “Gong Chansik, kau menganggapku apa?” Kutanya dia, dengan nada penuh harap yang tak berhasil kusembunyikan. “Maksudku, kita sudah berteman sejak kita masih seukuran semut, kerajaan semut, maksudku, karena tidak mungkin kita bisa berubah seukuran semut. Tapi kita tidak pernah bicara mengenai hal lain selain pelajaran di sekolah atau konsol atau game baru, jadi kau menganggapku apa?”

Mendapati raut kaget di wajahnya, aku segera tahu. Tentu saja begitu. Hidup ini bukan drama, dan harusnya aku tahu kalau hubungan pertemanan kami hanyalah itu, bukan hal-hal lain yang lebih intim atau intens. Menarik atau indah.

Fine, I’ll admit. Aku suka pada Chansik. Aku suka pergi ke rumahnya. Aku suka kenyataan kalau aku tidak diharuskan mengetuk pintu kamarnya ketika aku ingin masuk. Aku suka ketika Chansik menjadikan pahaku sebagai bantal (kedengarannya mengerikan, tapi aku bisa meyakinkanmu kalau rasanya lebih menyenangkan dari apa yang kau pikirkan). Aku suka ketika Chansik menyodorkan stiknya padaku dan memanggilku bodoh ketika aku kalah lima kali berturut-turut. Aku suka segalanya dan aku takut, terlalu takut untuk mengakui betapa besar aku menyukainya hingga aku mulai menipu diriku sendiri, mengatakan aku tidak suka padanya dan bahwa aku tidak peduli padanya.

Tak kunjung mendapat jawaban berupa penolakan (atau penerimaan, meskipun kuyakinkan kau, peluangnya nyaris nol), aku menambahkan lagi dengan versi lebih didramatisir. “Did you know, Chan, that I give a fuck about you everyday? Did you know that I think I did something wrong when I realised you didn’t talk to me at school? That I think, maybe you don’t want to be friend with me. Maybe you’re ashamed of me. Is that right?” Aku menggigit bibirku. “Do you even give a fuck about me?”

Karena memang itulah kenyataannya. Dulu, sewaktu kami masih bocah, aku bahkan akan melakukan segalanya agar aku bisa tetap tinggal di kamarnya, memainkan video game sampai kami ketiduran. Namun sekarang, segalanya berbeda.

Tentu saja.

Stik yang sedari tadi dipegang Chansik jatuh di lantai yang terlapisi karpet tebal bermotif alfabet. Aku, akhirnya, mendongak. Sorot mata Chansik sudah tertuju di mataku, dan aku tak lagi bisa mengendalikan diriku sendiri. Siapa tahu kalau mata seseorang seperti dia bisa kelihatan begitu dalam?

I do give a shit about you.” Sahutnya, dan ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya mengarah ke bibirku. Dan aku tidak bisa berpikir.

Kami berciuman selama beberapa detik (atau mungkin semenit, aku ingin menghitungnya, namun aku tidak sanggup berkonsentrasi ketika bibir Chansik berada di bibirku), sebelum Chansik kembali mundur.

Kemudian dia tertawa, keras sekali sampai aku mengira ciuman itu adalah salah satu bentuk humornya yang dimaksudkan untuk mengejekku. Aku tidak tertawa, tersenyum pun tidak.

“Menurutmu, mengapa aku meneleponmu, menyuruhmu ke sini ketika aku bisa bermain sendirian, tidak terganggu oleh teriakan-teriakan protes kekalahanmu? Menurutmu, mengapa aku meminta ibuku untuk tidak mengunci pintu samping kalau kau akan datang? Menurutmu, mengapa aku meminjamkanmu stik kesukaanku? Menurutmu, mengapa aku membeli helmet lainnya dan menempelkan stiker bertuliskan inisial namamu? Dan menurutmu, mengapa aku tiduran di atas kakimu ketika aku bisa mengambil bantal dan tidur dengan nyaman?”

Aku mengerutkan kening, “Loh, kukira kau bersandar di kakiku karena kau merasa nyaman?” Tanyaku balik. Well… “Dan kau jelas bohong soal helmet lainnya itu! Aku tidak pernah melihatnya, tuh,”

Chansik mencibir. “Karena kau tidak pernah melihatnya, bukan berarti itu tidak ada,” ujarnya, berjalan menuju lemari kecil di samping nakasnya, mengeluarkan sebuah helmet biru dengan stiker HJ besar di bagian belakangnya. Oh. “Aku membelinya setahun yang lalu, kalau-kalau kau ingin meminta tumpangan.” Ia mengedikkan bahu.

“Tapi kau bahkan selalu bertingkah seakan-akan kau tidak mengenalku di sekolah,” aku protes.

“Memang iya, tapi itu karena kau duluan yang melakukannya.”

Aku duluan? Masa, sih? “Jadi kau tidak merasa malu berteman denganku?”

“Memang sih kau menyebalkan, tapi jawabannya tidak.”

Hatiku melambung mendengarnya. “Boleh kubawa pulang?” Aku menunjuk helmetnya.

Chansik berjalan ke arahku. Ia kembali duduk di atas karpet, mengulurkan helmet tadi. Aku menerimanya, mengeceknya (tidak ada goresan, tidak ada debu, jelas sekali benda ini masih baru). “Jadi… mulai besok aku akan memboncengmu ke sekolah?” Tanyaku.

Angguk.

“Jadi…. kau suka padaku juga?”

Angguk.

“Jadi…. kau mau jadi pacar…ku juga?”

Angguk.

“Jadi… kau mau membelikanku PS4 sebagai kado ulang tahun? Atau lamborghini?”

Angguk. Kemudian seruan, “Tidak!

 end.

Finished: 20:26 | 16 Agustus 2015. 

a/n: I really love this song and I tried my best to make this fic but I’m still disappointed with my work so (because i really love the meaning of this song) I’ll make another fic using the same song and the same plot. (Not sure tho if i’ll make it better lmao).

Anyway, thanks for reading this trash!😀

2 thoughts on “Play Date

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s