Joyride


https://indofanfictionsarts.files.wordpress.com/2015/09/joyride-authumnder.jpg?w=483&h=645

getting a ride from someone as cocky as Sung Cheol is way too much.

starred GFriend’s Yerin and 17’s S.Coups

genre fluff-auschool-life ; length oneshot, 2,8k ; rating teenager.

POSTER BY KRYZELNUT  AT INDO FANFICTIONS ARTS 


Kalau kau tanya pendapatku mengenai cowok kelas sebelah yang—katanya—kekerenannya mati-matian, punya senyuman yang bisa bikin kaki lemah, dan bernama Choi Sung-Cheol, aku pasti akan menjawab dengan, “Aku tidak kenal, tapi kurasa dia cowok sombong yang tenar hanya karena tampang.”

Eits, jangan salah. Aku omong begitu bukan karena aku iri dengannya atau bagaimana. Hanya saja, sikap si Sung Cheol ini memang begitu. Dari penelitianku—yang tidak terlalu sering, sebenarnya, mengingat kami tidak saling kenal dan dia bukan seseorang yang muncul di depan mukamu satu jam sepuluh kali—Sung Cheol ini memang cocky. Terlalu cocky untuk standarku. Bukti: a) dia tidak pernah menjawab sapaanmu atau tersenyum balik ke arahmu ketika kau melambaikan tanganmu, b) dia mengendarai motor mahal yang harus kuakui, membuat tingkat kekerenannya meningkat pesat (aku curiga dia menaikinya hanya untuk gaya-gayaan), c) dia tidak menunduk pada senior ketika lewat di depan mereka (aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tapi bukannya marah, para senior kecentilan ini justru sibuk memandangi wajah rupawan Sung Cheol sambil menjeritkan sesuatu seperti “astaga, ganteng banget!”), d) dia tidak pernah ikut berpartisipasi dalam lomba sepak bola antarkelas yang diadakan setengah tahun sekali. Aslinya lebih banyak, hanya saja aku malas menjelaskannya. Lagi pula, cowok seperti dia mana pantas kuberi atensi lebih dari lirikan sengak?

Tapi… itu pendapatku sebelum malam ini, sewaktu kelasku dan kelasnya mendapat giliran menata panggung untuk ulang tahun sekolah kami yang entah keberapa. Kegiatan ini sangat menyebalkan dan tidak penting, kalau kau tanya komentarku. Wajar sih, mengingat aku tipikal manusia yang menggambar mata kucing saja tidak becus, apalagi harus mendesain seluruh panggung yang lebarnya nyaris sembilan meter ini—duh, ogah banget. Makanya, dua jam ini aku hanya sibuk mondar-mandir ke belakang panggung, membantu sebisaku saja (ternyata, hal-hal yang sanggup kulakukan dengan baik dengan kemampuan pas-pasanku ini sangat sedikit). Lantas sewaktu temanku yang berjiwa seni memutuskan untuk mengakhiri penyiksaaan ini, aku baru menyadari kalau transportasi umum diliburkan secara khusus hari ini, dan tidak ada satu pun dari temanku yang belum terlalu lelah untuk berkendara selama kurang lebih satu jam menuju rumahku (iya, rumahku memang sejauh itu).

“Terus aku pulangnya bagaimana?” aku tidak ingin merengek dan menghancurkan citra cewek dewasa yang mampu berpikiran jernihku, tapi sulit sekali menahan keinginan untuk duduk menjeplak di lantai dan menggerung-gerung.

Aduh, sudah telepon orangtuamu? Minta jemput, begitu?” temanku memberi saran dengan raut harap-harap cemas (ya iyalah, aku tahu benar kalau dia tidak ingin tertahan lebih lama di sekolah malam-malam begini hanya karena salah seorang temannya tidak bisa pulang).

Mama! Aku bergegas mengeluarkan ponselku dan memencet speed-dial satu (berhubung aku belum punya tambatan hati yang bisa membantuku di saat-saat genting layaknya Mama membantuku).

Suara Mama menyambutku pada dering ketiga. Sebelum mamaku bicara yang lain-lain, aku lebih dulu menyambar, “Ma? Bisa jemput?”

Detik berikutnya, aku segera menyesali pertanyaanku.

Mama bilang tidak ada mobil di rumah, lantas sewaktu aku protes, berkata kalau Mama harusnya mengusahakan kendaraan apapun untuk menjemputku, Mama justru memarahiku, bilang kalau kondisiku sekarang karena keteledoranku sendiri. Lemaslah kakiku.

Myung-Eun kawanku makin panik setelah melihat rautku. “Kenapa? Enggak ada yang bisa jemput?” tanyanya, sembari matanya melirik ke sana kemari kalau-kalau ada seseorang yang cukup baik hati mengantarku pulang. Aku berjanji dalam hati kalau ada yang membantuku, siapapun orang itu, aku akan menganggapnya sebagai Knight in Distress-ku. Bahkan aku rela membayar uang bensin dan tata bengek gas.

“Enggak.” Sahutku, menggigit bibir. Aku tahu benar kondisi rumah Myung-Eun, orangtuanya sedang dalam proses perceraian dan dia punya adik yang masih kecil; kehadiranku bakal mengganggu segalanya. “Santai saja, Myung, nanti pasti papaku jemput.” Lanjutku, menyuguhkan senyum sok menenangkan milikku yang lebih sering menuai kegagalan ketimbang keberhasilan.

“Yah, Yerin, maaf banget ya—” ucapannya terpotong kala matanya menangkap seseorang di balik bahuku (aku tidak melihat siapa orang itu, tentu saja, tapi aku percaya seseorang itu mungkin gebetan baru Myung-Eun atau tetangganya, yang—untuk memperjelas saja, ya—kemungkinan akan membantuku sangat kecil). “Sung Cheol!”

Kuberitahu kau, ya, aku sampai memutar bola mataku mendengar nama tadi. Bukan apa-apa sih, tapi saat ini ‘kan bukan waktu yang tepat untuk Myung-Eun coba-coba menarik perhatian Sung Cheol! Tidak saat sahabat karibnya nyaris mati ngeri gara-gara tidak bisa pulang di hadapannya!

Oi,” sahut suara di belakangku, yang kemudian diikuti suara langkah kaki mendekat.

Aku menyempatkan diriku memelototi Myung-Eun yang dengan teganya membuatku makin tersiksa. ‘Kan malu, harus mengakui kondisi pahitku sekarang ke cowok super-duper cocky macam Choi Sung Cheol ini!

“Cheol, kamu belum mengantuk, ‘kan? Nggak begitu capai juga, ‘kan?” tanya Myung-Eun, membuat alisku berjungkit dengan sendirinya. Aku melirik Sung Cheol, ekspresi cowok itu juga nyaris sama—hanya saja dia kelihatan lebih atraktif ketika melakukannya ketimbang aku.

Meski heran, Sung Cheol akhirnya menjawab, “Enggak, sih, memang kenapa?”

Aku bisa melihat binar kebahagiaan bersinar kembali di mata Myung-Eun—hah, gawat, kalau begini, itu artinya dia akan bilang—

“Bagus! Antar Yerin pulang, dong! Kasihan nih orangtuanya tidak bisa ke sini.”

tuh, ‘kan.

Kukira aku akan segera mendapat gelengan dan penolakan keras dari Sung Cheol (ingat, ‘kan, dia itu sombong sekali!), tapi sebuah senyum justru bertengger manis di bibirnya. “Oh, Yerin tidak bisa pulang?” katanya dengan raut mengejek, membuatku kepingin melibas otakku sendiri karena berpikiran kalau senyum cowok itu manis.

Tengsin, buru-buru aku menyahut, “Eh, kalau tidak bisa enggak apa-apa, kok. Aku tunggu orangtuaku saja.”

“Memang rumahmu di mana?” tanya Sung Cheol, masih dengan senyuman tadi di mukanya. Dia berbicara padaku seakan-akan kami memang saling kenal, bukannya dialog antarasing.

Sebelum aku bisa menjawab, Myung-Eun sudah mendahuluiku dengan menyebutkan alamat lengkapku—bahkan dengan bumbu-bumbu kalau jalan menuju rumahku berpencahayaan lengkap dan punya aspal yang superrrr mulus.

“Jauh juga, ya? Tapi tidak apa-apa, kok. Yerin mau menunggu aku di sini atau ikut ke parkiran?” Sung Cheol menawari, membuatku tidak bisa menyingkirkan pikiran “wah, baik banget dia” dari kepalaku. Tapi tetap saja, caranya menyebut namaku membuatku merasa seperti bocah playground yang makan saja masih tercecer di mana-mana.

Mendapat lampu hijau begini, Myung-Eun buru-buru mendorongku mendekat ke arah Sung Cheol. “Ikut saja, sana! Jadi enggak ribet!” katanya, lalu melambaikan tangannya dengan terlalu bersemangat. Aku tidak mau bersikap jahat, tapi aku benar-benar kepingin mendoakan tangannya itu terpuntir karena melambai terlalu keras. Tentu saja tidak kulakukan.

Sung Cheol sudah balik melambai, kemudian mulai berjalan. Aku mengikutinya, berjalan dengan kaki terseret seperti robot rusak. Banyak teman-temanku yang menyapa Sung Cheol—dan mengangguk ke arahku—dan dibalas! Aku sangat shock! (Sudah kujelaskan di atas ‘kan kalau cowok ini tidak pernah membalas sapaan sopan orang lain?)

Eh, kamu benar enggak apa-apa harus mengantar aku pulang?” tanyaku memastikan. Coba bayangkan, bagaimana kalau Sung Cheol berubah pikiran di jalan dan menurunkanku begitu saja malam-malam begini? “Rumahku jauh, lho,”

Dia malah tertawa. “Kalau aku menolak, terus kamu mau pulang sama siapa, coba? Enggak yakin tuh mamamu mau jemput sekarang, paling dua atau tiga jam lagi,” katanya santai, sembari berbelok ke arah sebuah mobil hitam—oooh! Sekarang dia mengganti style-nya! Aku bertanya-tanya di mana motornya berada.

Aku, mau tidak mau, mendengus mendengar kalimatnya. “’Kan cuma tanya,”

Menit berikutnya, aku sudah nangkring dengan nyaman di kursi mobilnya yang berbau seperti parfum mahal yang tidak bikin pusing dan losion. Sung Cheol sudah pandai menyetir, lho! (Satu lagi poin plus buatnya). Mataku terfokus ke pemandangan di depan (aku tidak bisa melihat dengan jelas, semuanya gelap), tidak tahu harus melakukan apa—mengajak mengobrol? Bilang terima kasih? Tanya kenapa kok dia mau mengantarku? Ih, kedengarannya seperti pertanyaan bodoh. Aku tidak mau diturunkan di tengah jalan karena Sung Cheol pikir aku terlalu cerewet.

“Lapar, enggak?” Dia membuka percakapan tiba-tiba, membuatku menoleh ke arahnya hanya untuk mendapati dirinya sedang memandangiku. Sambil tersenyum, lagi!

“Fokus ke jalan!” aku menyentak, menunjuk kaca di hadapan kami. Edan juga cowok ini.

Sung Cheol mengedik, tapi memfokuskan dirinya kembali. “Santai saja, aku lulus tes menyetir dalam sekali percobaan, kok. Keselamatanmu terjamin!”

Aku tidak bisa menghentikan cibiranku. “Tes ‘kan cuma tes,” balasku. “Siapa tahu kamu menyontek, ‘kan?”

Kali ini, gantian Sung Cheol yang mencibir.

Aku teringat pertanyaannya barusan, jadi kujawab, “Omong-omong soal lapar, iya, aku lapar. Banget, malah. Tapi sudah kemalaman, mendingan makan di rumah.”

Tangannya terjulur ke arah laci di dasbornya, mengekspos beraneka ragam bungkusan makanan ringan. “Tuh, makan, tapi ada syaratnya.” Katanya, menaikturunkan alis.

Mendengarnya, tanganku berhenti di tengah perjalanannya menuju surga dunia (alias snack-snack tadi). “Apa? Jangan macam-macam, deh!” Merinding. Gila, cowok jaman sekarang modusnya ada-ada saja—otakku mulai menggali laci-lacinya dan membuatku mengingat kembali kemungkinan-kemungkinan buruk di malam hari; pemerkosaan, pembunuhan, dua-duanya.. hii!

Mungkin merasakan adanya kengerian menguar dari tubuhku, Sung Cheol buru-buru meralat. “Syaratnya enggak ada yang kayak di pikiranmu, kok!” katanya panik. “Tugasmu cuma nyuapin aku waktu kamu makan. Aku juga lapar, tahu!”

“Oh..” kelegaan mengaliriku kembali. Lagian, salah dia sendiri, sih! Tapi… menyuapi Choi Sung Cheol? Aduh, yang benar saja! Kalau Myung-Eun sampai tahu ini, dia bakal menunjukkan tarian Macarena-nya yang ajaib. Aku jadi ragu. Tapi, ya ampun, memangnya apa sih yang membuatmu menolak makanan gratis? (Poin plus: Sung Cheol ini punya wajah ala Adonis, jadi aku tidak sepenuhnya dirugikan). Aku menyerah, membuka bungkus tortilla chips, memasukkannya ke mulutku. Begitu terus selama beberapa saat sampai cowok di sebelahku—sekaligus empunya jajanan—mulai membuat gerakan aneh (ternyata dia sedang berpantomim disuapin), jadi aku meraih beberapa keping chips dan memasukkannya ke mulut Sung Cheol yang terbuka lebar.

Aku melemparkan pandanganku ke depan lagi, mendapati kalau rumahku masih agak jauh.

“Bosan?” tanya Sung Cheol lagi, sembari membelokkan mobilnya. “Tuh, ada radio. Tapi aku enggak tahu kalau seleramu sama dengan seleraku.”

“Enggak masalah,” balasku, sudah sibuk memencet tombol ini dan tombol itu. Sekarang mobilnya dipenuhi oleh suara penyanyi Western yang mana kutahu siapa. Iseng, aku bertanya, “Memang rumahmu di mana, sih? Apa kamu enggak dicari orangtuamu?”

Sung Cheol mengedikkan bahu, menyebut alamatnya—untung saja rumahnya itu searah dengan rumahku. Cuma ya itu, rumahku memang lebih jauh. Kalau begini, aku utang gunung sama dia. Dia menambahkan kemudian, “Enggak dicariin juga, ‘kan aku sudah ijin.”

Aku mengangguk-angguk. Siapa tahu kalau makhluk yang kukira cocky ini enak diajak berkomunikasi? Maksudku, dia bisa saja bersikap kasar dan menyuruhku diam. Tapi tidak, cowok ini justru menawariku makanan dan menjawab pertanyaanku dengan ringan. Aku salah penilaian, nih, kayaknya.

Lalu aku teringat sesuatu tentangnya yang lain, yang masih membuatku bingung. “Oh, ya, kok teman-teman kadang memanggilmu S. Coups, sih? Artinya apa, memang?”

Kali ini, tanggapan Sung Cheol lucu sekali. Dia menggaruk tempurung kepalanya kikuk. “Itu.. cuma julukan bercanda, begitu.” Katanya.

“Terus maknanya apa?”

Eh, janji enggak ketawa, ya?” tanyanya, menoleh ke arahku dengan raut lucu.

“Memangnya apa yang bisa diketawain?”

Dia menggaruk rambutnya lagi. “Soalnya kebanyakan temanku mengira nama lainku itu aneh,” sahutnya, menyambar beberapa keping chips lagi.

Aku menyeringai, diam-diam tentu saja, soalnya aku tidak mau membuat Sung Cheol kesal karena ditertawakan. Mana kutahu kalau cowok seperti dia punya sifat begini? Eh, tapi aku ‘kan memang tidak tahu apa-apa tentangnya, jadi wajar sajalah.

“Memang artinya apa?” aku bertanya lagi. Pantang menyerah karena kapan lagi aku bisa membuka sesi tanya jawab seperti ini dengan Choi Sung Cheol? Kemungkinan besar besok kami sudah berubah lagi, menjadi orang asing lagi. Pemikiran ini, celakanya, bikin kepalaku pusing. Tapi, ya ampun, memangnya kenapa sih kalau besok Sung Cheol tiba-tiba kena amnesia dan tidak mengenaliku? Atau kalau Sung Cheol tidak pernah melihat ke arahku lagi atau tidak balas melambai saat aku menyapanya? Aduh, kepalaku mulai overthinking lagi.

Sung Cheol tampak ragu-ragu sewaktu menyahut, “Janji enggak ketawa?” setelah menerima anggukan pasti dariku, dia lantas melanjutkan, “Aku bikin nama itu bertepatan dengan ulang tahunku yang ketujuh belas. Jadi ‘S’ itu kependekan dari seventeen, terus ‘Coups’-nya itu… mmm, cuma nama yang kukira keren untuk dipakai nanti, kalau aku sudah jadi rapper terkenal.”

Aku menggigit bibirku keras-keras. Ya ampun. Terlalu konyol. Tawaku nyaris menyeruak keluar. Tahan, Yerin, tahan, kalau ketahuan nanti kamu diturunin di tengah jalan!

Mungkin Sung Cheol sudah melihat ekspresiku yang tampak seperti tengah menahan muntahan, karena detik berikutnya ia mendengus keras-keras sembari mencetus, “Ketawa saja deh kalau kepingin!”

Maka pecahlah tawaku.

Yang berakibat dengan kepalaku yang kena kepingan-kepingan chips yang dilempar oleh Sung Cheol. Saat kulirik, cowok itu tengah memandangiku sebal.

“Iya deh, iya, maaf.” Ujarku, mengibaskan rambutku dari remah-remah makanan. “Habis kamu sendiri enggak maksud banget—”

Sung Cheol, dengan teganya, meraup segenggam penuh snack dan melemparkannya lagi ke arahku. Lalu terkekeh sementara aku sibuk menangkis serangan tak terduga itu.

Idih,” omelku. “Tidak apa-apa, seragam dan rambutku bisa dicuci, lah mobilmu? Susah tahu membersihkan remah-remah kayak begitu. Hi hi, kasihan!”

Ucapanku membuat Sung Cheol menoleh ke arahku kilat dengan raut suram.

“Kenapa?” aku bertanya, ngeri juga melihat matanya yang melotot begitu. Pikiranku mulai melaju ke mana-mana—bagaimana kalau mobilnya kehabisan bensin? Atau bagaimana kalau dia sudah lelah berpura-pura baik kepadaku dan memutuskan untuk menurunkanku saja?

Menambah kepanikanku, Sung Cheol malah sibuk memukuli kepalanya sendiri (pelan, sih, coba kalau aku yang jitak!). “Habis deh aku setelah ini,” gumamnya. “Ayahku cinta kebersihan dan dia pasti menggamparku kalau tahu mobilnya telah terkotori dengan jajanan.”

Ini, mau tidak mau, memeroleh tawa lagi dariku. Dia lucu juga, ya. Humoris gitu. Mana manis banget lagi kalau dilihat dari dekat begini.. Eh, eh, kenapa sih otakku masih sempat berpikir begitu?!

“Santai,” aku melambaikan tanganku di samping kepalanya, mulai membungkuk untuk mengambili chips yang tercecer tadi. “Nanti remah-remahnya disapu saja. Aku punya sapu kecil begitu di kamarku.”

Sung Cheol tiba-tiba saja tergelak dan menjentikkan ibu jarinya di depan mataku. “Oh, aku tahu trik begituan!” katanya sumringah. “Itu artinya kamu mau mengajakku mampir ke rumahmu?”

Aku mendelik. “Kamu terlalu percaya diri, ih!” seruku, tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pinggangnya. (Wow, sejak kapan aku berani pegang-pegang pinggang cowok?) “Ya sudah kalau enggak mau dibantu, nanti biar saja kamu kena damprat waktu pulang.”

“Bercanda kali, Yerin,” katanya, tapi masih tertawa. “Eh, rumahmu masuk gang yang ini, ‘kan?”

Oh. Perjalanan satu jam terasa cepat sekali—tiba-tiba saja wuss, aku sudah sampai di gang rumahku. Padahal biasanya, saat naik transportasi umum atau dijemput Papa, perjalanan terasa super-duper lama dan membuatku nyaris keriput di jalan. Mungkin ini efek dari lagu-lagu dari radio Sung Cheol yang sedari tadi menyala. Atau mungkin karena aku begitu menikmati perjalanan ini gara-gara keberadaan cowok sombong ini di sampingku, mengajakku mengobrol dan membuatku tertawa.

Kakiku jadi berat.

Aku mengangguk.

Berikutnya malah lebih cepat lagi. Rasanya seperti detik. Tiba-tiba saja mobil sudah berhenti di depan rumahku yang berplang 023.

Aku grogi berat sewaktu membuka mulut, melontarkan, “Eh, Sung Cheol, terima kasih banyak, ya, sudah repot-repot mengantarku ke sini. Juga snaknya tadi! Eh, berapa uang bensinnya?”

Cowok itu malah tertawa, menunjukkan barisan giginya yang rapi dan putih. Matanya kelihatan imut sekali malam-malam begini. Setelan seragam sekolah kami yang biasanya kelihatan cupu sewaktu kupakai juga tampak oke-oke saja di badan Sung Cheol.

Ugh, jangan bilang—

No problemo. Lumayan tahu, sekalian jalan-jalan sambil nyoba kemampuan menyetirku.” Katanya.

“Oh, iya, mau ikut masuk enggak? Aku ambil sapu sebentar.” Aku berdeham-deham.

“Tidak usah. Tadi cuma bercanda,” dia tertawa lagi. “Habis kamu imut kalau panik begitu.”

Aku mendelik. Imut?

Menangkap ekspresiku, Sung Cheol jadi kelihatan tidak nyaman. Sekarang dia bahkan sibuk berdeham, just like what I did minute ago.

“Eh… kamu beneran enggak mau turun dulu? Makan sesuatu, mungkin? Balas budiku buat kamu,” ujarku sembari menggigit bibir. Kenapa coba suasananya jadi aneh begini? (Sebenarnya aku tidak begitu asing dengan keadaan macam begini, biasanya aku juga jadi panas dingin secara tiba-tiba kalau tengah mengobrol dengan gebetanku di sekolah. Tapi ‘kan Sung Cheol bukan gebetanku. Kenal saja enggak!)

Dia menyuguhkan senyuman. “Enggak, deh, lain kali saja. Kemalaman.” Katanya. Aku mengangguk setuju, meloncat keluar dari dalam mobilnya.

“Ya sudah, kamu hati-hati ya pulangnya. Oh, nanti kapan-kapan aku traktir kamu, deh.” Aku menyengir.

“Oke. Omong-omong, Yerin, tawaran mampirmu barusan… masih berlaku buat besok-besok, ‘kan?” Sung Cheol memastikan dengan mimik serius yang lucu. Meski bingung, toh kepalaku refleks mengangguk—ya iyalah, memangnya siapa yang bisa menolak cowok macam Sung Cheol begini? “Soalnya… kapan-kapan… aku, eh, kepingin ke sini lagi. Enggak apa-apa, ‘kan? Atau kamu enggak usah traktir aku, katanya kamu jago masak, jadi masak saja buat aku..”

Suaraku. Ke mana larinya suaraku? Tenggorokanku tiba-tiba kering. Ini kenapa?

O-oh.. iya bolehlah. Kamu kasih kabar saja kalau eh, kepingin ke sini, biar aku bisa siap-siap begitu.” JAWABAN APA INI.

Namun demi mendengar jawabanku yang sungguh sulit dicerna otak normal manusia, Sung Cheol justru tersenyum dan mengangguk. Tangan kanannya tiba-tiba terjulur, membuat alisku berjungkit dengan sendirinya.

Menyengir, Sung Cheol menjawab, “Nomor ponselmu. Kalau-kalau aku kepingin mengucapkan selamat pagi, selamat malam, selamat tidur, atau mimpi indah.”

Aku beku. Namun, tetap saja, sebuah senyum berhasil muncul, bertengger di bibirku. Mengangguk yakin, kujawab, “Pasti aku balas.”

end.

Finished: 21:08 | 17/09/2015. 

(a/n): ya Allah apa ini aku nggak tahu kenapa kok otakku menghasilkan fanfic fluff-gagal macam begini HUHUHUHU. Tapi coba bayangin deh dibonceng sama mas Sung Cheol begini HAH APA KAMU YAKIN KAMU BISA MELIHAT MATAHARI BESOK HAH???? Terus terus myane buat dialog terakhirnya yang gombal sangatt astaghfirullah aku nggak segaring itu kok :’) Cuman ya itu kalo liat tipe-tipe manis imut ganteng macam S. Coups tuh emang susah nahan diri buat bikin fic-fluff beginian sambil diem-diem ngarep bisa kejadian yang enggak mungkin banget, jadi yaudahlah telanjur juga WKWKWK ini daritadi aku ngomong apaan.

(Anyway gurauan makna S.Coups itu tidak nyata ya khayalanku saja).

Makasih banyak ya kalo ada yang baca ini sampai selese wkwkw. :’D

—Authumnder.
Atau Meyda.

12 thoughts on “Joyride

    1. Tenang aja Ras aku juga suka begitu pas baca ff, kayak castnya aja aku gak begitu kenal tapi tetep aja dilanjutin baca :’)
      Huhuhu makasih banyak yaa udah baca ini meskipun kamu gak tahu orangnya huhu❤

      Like

  1. Abang Sung cheol !!! lu bikin gue nge fly *andai ceweknya itu aku*.

    Ini kayaknya Bang Sung cheol udah jatuh cinta sama Yerin sejak dahulu kala deh *benar kagak yah* mana yang terakhir itu ngegombal buat Yerin, yang senyum senyum gaje malah yang baca. Duh duh..

    Keep writing🙂 Aku tunggu karya karya lain. Fighting !!
    Ppyong🙂

    Like

    1. Hanuuuuuuuuuuum!😀 Makasih lagi kamu udah repot2 mampir ke lapak ini huhuhu terharuu. Sebenernya alasan bikin ini juga karena aku ngarep gitu sama Sung Cheol (enggak deng wkwkw). Tapi itu ceritanya mereka emang awalnya gak punya perasaan apa2 cuman ya karna nyambung gitu waktu ngobrol jadi naksir2an ehehehehe.
      Sekali lagi makasih banyak yaaaa udah baca ini!❤

      Like

      1. Iyaaaa.. Badewe, aku nggak repot repot kok.. Aku kekurangan asupan baca ff, jadi cari cari ff gitu -anak yang lari dari tanggung jawab tugas ya kek gini-. Apalagi kangen ff anak anak vixx *kode buat nyuruh bikin* -waks, abaikan saja kalimat tadi-.

        Demi apa Sungcheol si liderrr imut banget nggak nahan pas senyum bisa cinta dgan sekali ngobrol *aku pengen sumpah kek gitu* lmao.

        Masama Meydaaa🙂

        Like

  2. Meydaaaaa aku datang~~~ Aih mas seungcheol aih hayati butuh oksigen:”):”):”) Backsound blognya juga pas pula jadi makin kerasa feel fluff-fluffnya:”) (abis ini cuss langsung download day 1) bahasa yang kamu pake juga enak, teenlit abis. Aku sukaa:”)
    Heuheu maafkan begitu muncul langsung kayak gini ehehehehehe *menghilang*

    Like

    1. Hola Rahma wowowow!😀
      Itu mah bukan bahasa teenlit tapi bahasa lagi mumet pengen nulis tapi enggak ada ide :’)
      Makasih banyak banget ya udah mampir ke lapak aing yg gak seberapa ini :’))

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s