Skipping


.

Skipping

by Authumnder

[Girl/You & Monsta X’s Kihyun]

rating teenager | genre comedy, school-life | length ficlet.

“Pertemuan pertama memang selalu mengejutkan dan nyeleneh, ‘kan?”


Pertemuan pertama kami aneh dan canggung. Tidak normal dan sarat akan pemberontakan (hm, ‘pemberontakan’ tidak terdengar benar, karena hal-hal yang kami lakukan waktu itu mungkin masih berada selevel di bawahnya). Tapi, memangnya, pertemuan mana yang tidak begitu?

Aku tahu namanya, tapi buta akan kepribadiannya. Maksudnya, aku sering dengar dirinya dielu-elukan seisi sekolah setelah berhasil membintangi lomba menyanyi tingkat nasional, tapi mana kutahu hal-hal krusial seperti genre lagu macam apa yang dia nikmati?

Lantaran kesimpulan gegabahku itu, aku tidak menyangka sama sekali kalau orang sepertinya akan membolos bersama anak pemalas tanpa bakat sama sekali (baca: aku) sewaktu sekolah mengadakan pentas seni mahabesar yang, tentu saja, wajib diikuti oleh setiap siswanya.

Juga, lantaran kekagetanku sewaktu melihatnya memanjat tembok dengan maksud keluar dari lingkaran setan yang ramainya minta ampun itu kami tertangkap. Iya, karena aku menjerit ekstra keras ketika melihatnya, seorang guru bergegas lari ke arah pagar, tepat ketika Kihyun duduk di atas tembok, bersiap untuk meloncat dan membekap mulutku.

Habislah kami berdua.

Eh, kurasa tidak. Mungkin Yoo Kihyun si cowok bergelimang piala dan kesuksesan ini akan tersisa separuh selepas keluar dari ruang kepala sekolah, tapi aku? Maksudku, kontribusiku di sekolah ini nyaris nol. Ikut lomba? Tidak pernah. Piala? Boro-boro.

Habislah aku.

Kepala sekolah ingin kami berdua menjelaskan alasan kami mengapa kami memutuskan membolos, bukannya ikut bersenang-senang menonton pengisi acara seperti teman-teman ‘normal’ kami yang lainnya. Serius, nih? Otakku blank. Aku tidak punya alasan bagus yang sekiranya dapat mengeluarkanku dari lubang hitam berupa hukuman ini.

“Dia sakit perut dan menangis sendirian di koridor kelas sewaktu aku lewat, juga terlalu malu untuk pergi ke ruang kesehatan. Kami tidak punya pilihan selain pergi dari sini lewat tembok samping sekolah.” Kihyun lebih dulu menjelaskan.

Aku mendelik. Sakit perut? Menangis sendirian?

Pak Kepala ganti menatapku dengan tatapan menyelidik, “Lalu sekarang sakit perutmu sudah hilang?”

Kihyun menendang mata kakiku. Buru-buru aku mengubah ekspresi, meringis dengan ekstra berlebihan dan memegangi perut. “Masih sakit,” sahutku. “Tadi… ugh, hilang sebentar karena…” aku tidak tahu kata apa yang bisa digunakan untuk melanjutkan kalimat ngeles-ku, refleks mataku beralih ke Kihyun, meminta dukungan.

“…kaget dan ngeri.” Tambah Kihyun, melirikku dengan tatapan bengis.

“I-iya, kaget dan ngeri.”

Well, memangnya apa yang kauharapkan dari alasan bodoh seperti ‘sakit perut‘ dan ‘terlalu malu untuk pergi ke UKS’?

Tentu saja, kami ditendang keluar dari kantor dan dipaksa membersihkan kamar mandi laki-laki di lantai dua—kamar mandi paling kotor yang pernah kautemui.

Seakan-akan berkutat dengan kain pel di kamar mandi yang baunya minta ampun belum cukup, sosok yang dihukum bersamaku juga ikut-ikutan memelototiku setiap dua detik, menendang ember air sabunnya dengan kasar sampai isinya bermuncratan ke sana kemari setiap enam detik, dan mendengus ke arahku keras-keras setiap tujuh detik.

Literally the worst punishment I’ve ever had.

Di menit kelima belas, setelah Yoo Kihyun dengan sengaja menginjak lantai yang baru saja kuseka, aku tidak tahan lagi.

“Maafkan aku, oke?” ujarku. “Kukira aku satu-satunya orang ingin membolos saat sekolah bebas begini… Makanya aku kaget banget waktu lihat kamu tiba-tiba sudah nangkring di atas tembok semenit setelah aku berhasil melompat.”

Dia berhenti mengepel. Melirikku dengan jengkel sekali lagi. “Kalau aku bukan cowok berpendidikan dan tidak punya sopan santun, aku pasti sudah menyuruhmu melakukan ini semua sendirian dan pergi bersenang-senang dengan yang lain!”

Aku meringis. “Iya, iya, maaf..”

Pada akhirnya, toh, kami tetap menyelesaikan siksaan menyebalkan itu. Pada menit ketiga puluh, dengan bersimbah peluh, kamar mandi lantai dua sudah bersih berkilau.

“Terima kasih atas kerja samanya,” ujarku buru-buru, membungkuk sedikit sebelum berbalik, pulang ke kelas. Usahaku gagal.

Yoo Kihyun sudah terlebih dahulu berseru dari balik bahuku sebelum aku sukses melarikan diri.

Heh, enak saja pergi begitu saja! Aku lapar, tahu! Dan, sebagai ganti aksi kamu menggagalkan acara membolosku, juga supaya kamu dapat pengampunanku, traktir aku makan di kantin!”

Pertemuan pertama memang selalu mengejutkan dan nyeleneh, ‘kan? Maksudku, saat itu sewaktu kami mengepel bersamaan—dengan Kihyun yang dibakar amarah—mana pernah terlintas di kepalaku kalau kami, setahun dua bulan setelahnya, akan merayakan ulang tahun hubungan kami yang pertama?

end.

finished: 20:28 | October 18, 2015. 

(a/n): jadi intinya si OC berakhir pacaran sama kihyun gitu paham gak hehehehehehehe kujuga mau dihukum sama mas-mas macem oppa ini terus dipacarin ah dasar delusi babu. x’) terima kasih banyak sudah baca! ^^

One thought on “Skipping

  1. Oh my god. Oh my god. Oh my god. Kihyun yang kiyut bisa bolos kayak gitu ? Klo gak bolos dia juga pasti gak akan kenal si aku ya🙂

    Good ff Meydaa..
    See you di karya selanjutnyaa

    Ppyong🙂

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s