Banter


Banter

by Authumnder

featuring [17] Wonwoo x Mingyu

genre slight!Comedy, AU | length 654 words, ficlet | rating teen.

“Mesin fotokopinya tiba-tiba rusak! Bukumu belum selesai kufotokopi!”

I don't know if it's needed, but warning! boyxboy.

***

“Satu jam jadi, ‘kan?”

Wonwoo  bisa melihat kegelisahan dari lawan bicaranya yang tak henti melipat-lipat jemarinya. Biasalah, urusan tugas dengan deadline mengejar di depan mata. Berusaha menenangkan, ia mengangguk.

Namun tampaknya anggukan saja tak cukup. Buktinya, bocah laki-laki dengan rambut cepak itu masih mengernyit tak percaya.

Mau tidak mau Wonwoo keki dibuatnya. “Satu jam jadi, kok.” Ia menyuarakan jawabannya kali ini, biar bocah ini lekas pergi dari hadapannya. Lagi pula, rasanya sangat tidak nyaman bekerja sembari diperhatikan lekat-lekat begini.

“Sungguhan, ‘kan? Please jangan sampai nanti nggak jadi.”

Wonwoo menghentikan aktivitas melipat kertas F4 yang bertumpuk di permukaan etalase, mendongak untuk memelototi si bocah. “Pasti jadi, bakal kukebut, deh.” Ujarnya meski hati panas mengepul. Pelanggan seperti ini nih yang bikin pekerjaan sampingannya sulit. Perasaan Wonwoo juga mahasiswa, tapi rasa-rasanya dia nggak pernah bertingkah semenyebalkan bocah ini. (Atau mungkin itu karena efek kepribadiannya yang suka mengentengkan tugas?)

Bocah itu masih tidak beranjak.

Wonwoo menyerah. Menghela napas, ia menyodorkan selembar kertas penuh coretan. “Fine. Tulis nomor HP-mu di situ. Nanti kalau ada apa-apa kutelepon.”

Meski masih ragu-ragu, ia menerima kertas dari Wonwoo, sesekali melirik si tukang fotokopi yang kelihatannya seumuran dengannya itu. Ini semua gara-gara Seokmin kawan menyewa kamarnya, yang tanpa sengaja menumpahkan segelas kopi yang masih mengepul ke buku teks penuh tugas yang harusnya dikumpulkan hari ini. Berakhir dengan Mingyu yang pontang-panting meminjam buku teks Minghao lantas berlarian sepanjang jalan ke tempat fotokopi ini.

Nasib sial.

Mingyu mengembalikan kertas berisi nomor teleponnya ke meja. “Tolong satu jam lagi—”

“Iya, iya!” Si tukang fotokopi yang kelihatan seperti bocah emo buru-buru menyelanya. “Satu jam lagi pasti jadi!”

Menyengir, Mingyu berbalik pergi.

***

Ini kali keempat jantung Mingyu nyaris copot. Pertama, ketika ia terbangun tiba-tiba karena gedoran pintu (ternyata temannya Gyujin); kedua, ketika Seokmin menumpahkan kopinya ke buku Mingyu; ketiga, ketika Minghao bilang bukunya juga hilang (mereka berdua lantas berteriak histeris, berlarian memutari kamar Minghao yang super berantakan. Ternyata buku itu ada di bawah tumpukan celana jins Minghao yang kelihatannya sudah tidak menyentuh deterjen selama sebulan lebih); keempat, ketika si tukang fotokopi tiba-tiba menelepon, menjeritkan kalimat “mesin fotokopinya tiba-tiba rusak! Bukumu belum selesai kufotokopi!” yang berlanjut dengan Mingyu yang tunggang-langgang berlari menyerbu ruko fotokopi.

Berkeringat dingin dan panas, Mingyu menerobos masuk dan bersiap menjeritkan komplainnya. Namun protesnya terhenti di tenggorokan begitu matanya menangkap si bocah fotokopi tengah terbahak-bahak menunjuknya. Apaan, sih? Mingyu tak habis pikir bagaimana bisa cowok emo itu masih bisa tergelak bahagia ketika nyawa pelanggannya nyaris terbang separuh.

Pertanyaannya terjawab dua menit berikutnya, waktu Wonwoo, di sela-sela tawa histerisnya, menyerahkan buku teks yang telah selesai difotokopi. “Aku cuma bercanda.” Katanya, mata nyaris hilang ditelan tawa (jangan bilang siapa-siapa tapi Mingyu rasa-rasanya ingin membatalkan teriakan kejengkelannya yang sudah sampai di tenggorokan begitu menyadari betapa imutnya cowok itu terlihat). “Nih, total harganya—”

“Jadi kau BOHONG padaku?!” Mingyu muntab. Peduli amat dengan ajaran untuk selalu bersikap ramah. Rasa-rasanya cowok ini tidak berhak menerima keramahtamahannya.

Entah menyadari bahaya yang mengancam atau akhirnya puas dengan keisengannya, Wonwoo berhenti tertawa. “Habis wajahmu benar-benar serius terus—”

“Aku nyaris kena serangan jantung, tahu!”

“Ya, deh, oke, maaf soal itu.” Tutur Wonwoo, mencibir sedikit. Dasar bocah tanpa selera humor! “Jadi total harganya—” Ucapannya terhenti lagi ketika sosok di depannya ternyata masih setia dengan mata melotot dan bibir mengerucut.

Imut.

Heh? Barusan Wonwoo berpikir apa?!

Salah tingkah, Wonwoo berakhir menggaruk-garuk rambut hitam ikalnya. “Telingamu nggak ada masalah, ‘kan? Kubilang maaf, oke?” Namun ketika bocah itu tidak menggerakkan secuil otot pun, dia menambahkan sembari mengangkat buku teksnya, “Jadi nggak mau diambil, nih?”

Mingyu akhirnya bereaksi. “Permintaan maaf saja nggak cukup!” Dia menyembur. “Traktir aku makan buat membayar energiku yang sia-sia terbuang waktu lari ke sini!”

Wonwoo tidak yakin apakah permintaan Mingyu itu punya makna lain dalam tanda kutip, namun rasa-rasanya dia tidak berkeberatan.

Fine. Jam tujuh di Pizzeroo.” Wonwoo gagal menyembunyikan senyum miringnya. “Namaku Wonwoo, omong-omong.”

end.

finished: 20:31 | November 08, 2015.

(a/n): my life is definitely in a mess rn!!!!! sorrysorrysorry!!!

averageoppa:

Me irl

2 thoughts on “Banter

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s