Putus


snow, grunge, and swing image

Waktu berlalu, kamu melaju, mulai melupakanku. Wekerku berdentang, aku mengerang, kamu masih jauh dari pandang. 

Aku berlari, sebelah tangan meraih sesekali, namun kamu telanjur melangkah pergi. Kutanya mengapa, apa alasannya, tak seoktaf pun berhasil meluncur keluar.

Kita sama-sama terluka—salah, itu bukan kebenaran yang nyata. Di mana kamu berlalu dengan rupa bahagia, sedang aku tersaruk dungu dengan hati yang sembiluan.

Tak apa, kita bisa berkawan. Tapi bagaimana kalau rasionalku tak ingin dibatasi? Bagaimana kalau penalaranku tak mau dipagari? Bagaimana kalau esok aku datang lagi, sementara kamu sudah tak sendiri?

Untuk apa jadi kawan, kenapa tak sekalian jadi lawan? Kamu mendengus, biarkan isi hatiku tak terendus. Sampai besok pun kamu masih akan tetap jadi penyebab utama mengapa asaku mampus.

2 thoughts on “Putus

  1. … Tapi bagaimana kalau rasionalku tak ingin dibatasi? Bagaimana kalau penalaranku tak mau dipagari? Bagaimana kalau esok aku datang lagi, sementara kamu sudah tak sendiri?

    …. Kamu mendengus, biarkan isi hatiku tak terendus. Sampai besok pun kamu masih akan tetap jadi penyebab utama mengapa asaku mampus.

    RHYME NYA ASIQUE BANGET MEY

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s