Disastrous Plans


DISASTROUS-PLAN

Disastrous Plans

by Authumnder

featuring [Lovelyz] Jiae & [BTS] Yoongi

genre slight!Comedy, AU | length 1,1k, Vignette rating teen.

“Jadi mereka berdua hanyalah remaja tanggung berusia lima belas, yang sedang didera kemiskinan ketika Hari Ibu tiba.”

***

“Jadi, kau berhasil masak apa hari ini?”

Si anak cowok yang sedari tadi bersungut-sungut makin mengerut mendengarnya. “Masak apanya, bukannya mendapat pujian, aku malah diteriaki dan disuruh main ke luar rumah. I mean, ibu macam apa yang melakukannya?”

Yoo Jiae, si penanya pertama, kontan tergelak. Ia bahkan tidak berusaha meredam tawa histerisnya meski reaksinya itu dihadiahi lirikan tajam dari si cowok, Yoongi. “Kok bisa?” ia menyempalkan tanya di tengah-tengah kegiatannya mencerca.

“Awalnya aku kepingin memasak dakgalbi, kau tahu sendiri menu itu yang paling aman untuk dapur dengan aku di dalamnya, tapi tiba-tiba saja kompornya meledak dan ibuku tergopoh-gopoh datang, kemoceng di tangan dan menggebukku dengannya.”

Bukannya mereda, tawa Jiae semakin heboh setelah penjelasan Yoongi yang mengandung 45% kepahitan dan 65% bahan tertawaan.

“Stop, bisa, nggak?” ujar Yoongi judes dengan sebelah bibir tertarik ke atas membentuk segores cibiran. “Memangnya rencanamu bagaimana? Berjalan lancar atau sama sialnya?”

Jiae sampai harus menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan pernapasannya yang tersendat-sendat sebelum menjawab, “Gagal juga. Tapi paling tidak dapurku tidak dilalap api dan ibuku tidak—”

“Berhenti di situ, Tukang Pamer.” Sela Yoongi. “Jadi kita bertemu di sini 45 menit lagi, dengan plan B di tangan?”

“Yup.”

Dengan itu, keduanya memanjat turun dari rumah pohon yang mereka klaim sebagai milik pribadi empat, atau lima tahun yang lalu.

Kali ini, Yoongi yang tiba duluan di markas. Sembari menunggu kedatangan Jiae untuk mengeluarkan unek-unek, ia membolak-balikkan buku resep yang dicuri Jiae dari rak buku ibunya. Buku resepnya hanya terdiri dari cara membuat makanan pendamping, bukannya utama, sesuatu yang tidak akan mampu Yoongi atau Jiae buat karena tingkat kesulitannya yang amat sangat dramatis.

Konsentrasi Yoongi kembali sewaktu telinganya menangkap gemerisik dari bawah, ia menjulurkan kepalanya ke luar, untuk kemudian disambut dengan tampang Jiae yang jauh dari ceria.

“Aku gagal lagi, ibuku bahkan tidak mau kubantu sama sekali. Kubilang aku sangat ingin melakukannya, dan bahwa aku tidak menyimpan motif lain, tapi tetap saja—” Jiae mengedikkan bahu. “—ibuku menolak. Jadi plan B kita juga gagal di posisiku.”

Kali ini ganti Yoongi yang terbahak, anak itu bahkan sengaja mengeraskan gelakannya supaya dendamnya ditertawakan tadi terbalas.

Kesal, sih, tapi paling tidak Jiae jadi tahu betapa keki-nya rasanya ditertawakan. Lain kali tidak lagi, deh, ia menjadikan kegagalan Yoongi sebagai lelucon.

Heh, sudah! Berhenti ketawanya! Jadi, bagaimana? Kau sudah berhasil memberi hadiah untuk ibumu?” tanya Jiae, berusaha mengalihkan perhatian kawannya.

Yah, baiklah, jadi mereka berdua hanyalah remaja tanggung berusia lima belas, yang sedang didera kemiskinan ketika Hari Ibu tiba. Dan, memang, keduanya bukan merupakan anak yang manis atau membanggakan—mereka lebih cenderung jadi beban keluarga, malah—namun tetap saja, keinginan untuk membahagiakan ibu masing-masing sangat besar dan tidak bisa dipadamkan begitu saja oleh uang yang tidak ada di tangan.

Jadi, sebagai jalan keluar, keduanya menyusun rencana untuk meringankan tugas si Ibu dengan tindakan. Dan, tentu saja, untuk jaga-jaga, Jiae dan Yoongi tak hanya mencipta satu plan. Celakanya, meski mereka berdua sudah tiba pada plan kedua—yang menyisakan satu plan dalam agenda mereka—keberhasilan belum juga sanggup dicapai.

Yoongi menjawab dengan kedikan.

“Ya sudah, jadi plan C? Kalau gagal juga bagaimana?” Jiae bertanya denan bibir berkerut. Baiklah, bukannya ingin bersikap pesimis atau bagaimana, tapi mengingat dua rencana sebelumnya yang gagal total, kecil kemungkinannya yang satu ini bakal berhasil.

“Kalau gagal semua..,” Yoongi mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk, berpose tengah berpikir. “..ya sudah, kita batalkan saja semuanya, duduk tenang di rumah dan menyetujui apa pun yang disuruh ibu tanpa memprotes atau bilang ‘ah, tapi..’.”

“Oke, kalau begitu. Yuk, pulang. Jadi pertemuan ditutup sekarang?”

Yoongi menyetujui dengan anggukan kecil.

Fine, sampai bertemu besok, Min Yoongi! Fighting!

Menepati janji, keduanya nongkrong lagi di rumah pohon/markas tidak resmi mereka. Tak seperti biasanya, pertemuan mereka kali ini tidak diwarnai celotehan ramai di awal, bahkan kini, di menit kelima belas sejak keduanya sampai, tak satu pun dari mereka mau membuka percakapan.

Jiae melirik Yoongi, berlanjut dengan Yoongi mengedikkan dagu, lantas berujung dengan Jiae yang menyatukan kedua alisnya tidak setuju.

(Itu Bahasa Alien mereka, omong-omong. Artinya, mereka berebut menyuruh satu sama lain untuk memulai pembicaraan. Sejauh ini, sih, kode mereka belum terlakoni.)

Yoongi berdeham, mengakibatkan pandangan Jiae yang segera jatuh ke arahnya—mengira Yoongi akhirnya menyerah dan berbicara terlebih dahulu. Dugaannya terbukti salah karena selanjutnya Yoongi hanya menekan-nekan lehernya, pertanda bahwa tadi ia hanya membersihkan tenggorokan.

“Hah, sudahlah, jadi ceritakan padaku apa plan C-nya berhasil di posisimu?” tanya Jiae akhirnya, mencibir.

Yoongi tersenyum penuh kemenangan (sebenarnya ia sudah tahu, sih, kalau dirinya bakal keluar sebagai pemenang di kontes ini). “Bukannya mau pamer, ya, tapi aku dapat hadiah pelukan dari ibuku.” Jelasnya bangga, sementara senyum penuh kesombongan membuat jalannya sendiri ke wajahnya. “Siapa tahu kalau cokelat batangan murah begitu berhasil meluluhkannya?”

Jiae mau tidak mau ikut tersenyum mendengarnya. “Yah, aku senang kau berhasil juga.”

Juga? Jadi kau juga berhasil?” Yoongi menyuarakan rasa ingin tahunya dengan terburu-buru.

Jiae menyeringai, “Tentu saja, kau kira hanya dirimu yang bakal berhasil? Ibuku juga memelukku dan menciumku di pipi! Dia bilang dia sangat bersyukur memiliki putri sepertiku—”

“—jadi ibumu senang punya putri yang tidak bisa memasak dan pernah nyaris membakar kebun depan rumah sewaktu disuruh menyirami bunga?” sela Yoongi.

“Hei! Itu ‘kan sudah terjadi lama sekali! Lagi pula waktu itu ‘kan kau yang membawa korek apinya! Jadi peristiwa itu bukan sepenuhnya kesalahanku.”

Yoongi mencibir, “Ya, terus saja menyalahkan orang lain.”

“Itu memang kesalahanmu, kok!”

“Memangnya aku yang menyembah-nyembah minta dipinjami pemantik antikku? Memangnya aku yang—”

Yah, meskipun Plan C mereka hanyalah rencana sederhana—yaitu membelikan ibumu sebatang cokelat, lalu membungkusnya dengan pita merah yang cantik, serta kalimat-kalimat seperti “aku tahu aku bukan anak yang paling baik, tapi aku ingin Ibu berbahagia di hari yang sakral ini”—paling tidak agenda Yoo Jiae dan Min Yoongi berhasil.

Meskipun sekarang kedua anak itu kembali ke diri mereka yang sebelumnya, bertengkar, bersilat lidah dengan mata melotot dan bibir mencebik.

end.

Finished: 14:34 | December 22, 2015.

(a/n): bukan ending yang bakal kubanggakan, btw, tapi i have fun writing it so nvm. Also, kid!jiae and kid!yoongi are so cute i actually can imagine them sitting side-by-side quarelling (not physically or serious of course). This story is dedicated to every mother in the world (lol even though i know this fic contains so little information about their mothers but yea whatever). Especially to my mother who’s apparently not getting any gift from me since im broke😦 im sorry but im trying my best not to argue with you today and ill try my best to do everything without you telling me beforehand! I love u❤ and thank you so much if you finished this story like it means so much to me since i know how badly written this fic is lmao.❤

2 thoughts on “Disastrous Plans

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s