Infatuated


infatuatedd

Infatuated

by Authumnder

featuring [BESTie] Haeryung & [INFINITE] Sungyeol

genre slight!Fluff, Comedy, AU | length 1,7k, vignette rating teen.

an HSLO’s fanfiction;

“Halo lagi, Sungyeol. Jadi, bisa jelaskan mengapa
kau menolak cinta Saeron?”

***

“Tapi aku tidak menyukaimu.”

Aku ingin mencibir mendengarnya, namun berhasil menahan diri di detik-detik terakhir, mengingat kondisiku yang sama sekali tidak memperbolehkanku menimbulkan sekecil apa pun suara. Jadi terpaksa kutarik napas dalam-dalam sembari menempelkan telinga ke tembok, berharap belum ketinggalan tanggapan Saeron atas penolakan tolol yang baru saja dilontarkan oleh manusia yang tidak kalah dungunya, Lee Sungyeol.

Sunyi sejenak—atau kuharap begitu, karena mungkin-mungkin saja mereka berdua memilih untuk mengecilkan suara. Kurasa aku sedang beruntung, karena berikutnya telingaku menangkap dengan jelas nada burung yang terluka dalam vokal Saeron.

“Kenapa tidak?” tanya gadis itu. Aku tidak bakal mengatainya sombong atau apa; karena memang begitulah kenyataannya. Semua orang di sekolah ini juga tahu seberapa besar dan seberapa lamanya Lee Sungyeol sudah menyimpan rasa pada gadis culun itu—yang menjadikannya alasan utama mengapa Na Haeryung (aku) memutuskan untuk repot-repot berhenti sejenak dari perjalanannya menuju surga dunia (rumahku) hanya untuk memepet tembok luar sekolah, menguping percakapan yang ternyata adalah pernyataan cinta antara dua orang yang sudah kusebut tadi.

“Karena… tidak. Aku tidak suka padamu. Itu intinya.” Sahut Sungyeol, dengan tidak begitu yakin, kalau aku boleh menambahkan. Halo, kegentaran dalam suaranya makin memperjelas kebohongannya. Bahkan orang sepertiku tahu itu, dan itu berarti Kim Saeron juga menyadarinya—bahwa Sungyeol yang barusan menerima pernyataan cintanya telah berbohong soal perasaannya.

Itu, tentu saja, tidak menghentikanku dari kegiatanku mencampuri urusan orang lain.

“T-tapi, semua orang bilang kalau—”

“—kalau aku menyukaimu?” Sungyeol menyela, aku berani taruhan dia sedang mengutuki diri sendiri. “Memangnya kau dengar dari mana? Teman-teman? Itulah masalahnya, kau terlalu percaya pada kabar burung. Mereka semua tidak berarti apa-apa—cuma gosip saja.”

Ouw, itu menyakitkan. Bahkan perempuan macam aku merasa kalau penjelasan Sungyeol sudah kelewatan.

Perkiraanku terbukti benar karena berikutnya telingaku hanya menangkap bebunyian sol sepatu yang beradu dengan tanah—kuduga itu sepasang kaki Saeron yang melarikan diri karena, well, terlampau patah hati.

Aku belum juga beranjak dari pos persembunyian, ingin memastikan kalau-kalau Sungyeol menggumamkan sesuatu. Aku yakin dia bakal melakukannya, karena menolak gadis yang kausukai rasanya seperti neraka, tahu, nggak? Namun sampai beberapa menit, hanya hela napas keras yang kudengar. Iya, sih, mereka cukup untuk mengindikasikan kekecewaan Lee Sungyeol, tapi gosip mana yang bakal kedengaran meyakinkan kalau aku hanya mengatakan “dan Sungyeol patah hati setelahnya. Nggak, dia tidak mengatakan apa-apa, tapi dari pernapasannya saja sudah menunjukkan betapa hancurnya dia di dalam!” Maksudku, halo, aku butuh versi hiperbolanya yang (kalau bisa) orisinil dan faktual!

Lima menit berjalan lagi, dan karena sudah tidak tahan berdiam diri dengan kaki kesemutan, kuputuskan untuk menyambanginya.

Syukurlah Sungyeol masih berdiri di tempatnya (karena kalau tidak, bayangkan betapa malunya aku telah membuang-buang waktu menunggu reaksi seseorang yang bahkan sudah berjalan pulang?), dan tepat seperti prasangkaku, ekspresinya benar-benar kacau dan menyedihkan, sampai-sampai aku harus menahan diri untuk tidak memeluknya dan membisikkan, ‘there, there’, seperti yang bakal kulakukan kalau saja cowok patah hati di depanku ini berusia tujuh, bukannya delapan belas.

“Kenapa kau mengatakannya?”

Saking depresinya, dia sampai tidak menyadari keberadaanku, karena dia kelihatan sangat kaget melihatku mendadak ada di hadapannya. “Mengatakan apa?” tanyanya, sengaja benar memasang tampang pura-pura. Bah, aku nggak bakal tertipu oleh rupanya yang dimanis-maniskan itu.

Kukatakan, “Penolakan itu. Berbohong soal perasaanmu pada cewek yang kausuka.”

Sungyeol mengusap wajahnya yang kusut. “Bukan urusanmu.” Sahutnya, mulai bergerak menjauh.

Aku buru-buru mengikutinya. “Tentu saja ini urusanku, kita berteman, ingat? Apa yang merisaukan temanku, turut merisaukanku.” Oh, jangan percaya omongan buayaku. Mereka kukeluarkan semata-mata agar Sungyeol mau berbagi rahasia denganku. Sst, jangan bilang-bilang!

“Teman sekelas. Bukan teman.”

Damn. Aku mendengus, “Tetap saja teman sekelas punya kata teman di dalamnya.”

Tungkainya makin cepat melaju, membuatku harus berlari kecil untuk menyejajarkan posisi. “Terserah. Kau hanya ingin menjodohkanku dengan Saeron karena kau ingin Woohyun jadi milikmu, ‘kan?” tandas Sungyeol, sama sekali tidak melemparkan tilikan kedua ke arahku.

Laki-laki macam apa membiarkan seorang gadis baik-baik terpaksa berlari hanya untuk berjalan di sampingnya?! Well, tapi poinnya masuk akal, sih.

“Kau diperbolehkan beranggapan begitu.” Kataku. “Buruan, dong! Kenapa kau menolaknya? Seisi sekolah tahu kau naksir berat padanya,”

“Kentara banget, ya?”

Bagus. Sepertinya Sungyeol mulai luluh ke jebakan!

Nggak—eh, ya, kurasa ya. Cuma Saeron saja yang tolol tidak menyadari rasa cintamu yang kalau dibandingkan dengan pegunungan… beuh, menang banyak!” aku merayu.

“Hei!” protes Sungyeol dengan raut tidak setuju, aku tidak yakin bagian mana yang dipikirnya keliru. Orang jelas-jelas omonganku benar seluruhnya! “Sudahlah. Aku nggak bakal memberitahumu.”

Iih, kenapa?”

Sungyeol berhenti sejenak untuk merogoh saku (kukira dia bakal melakukan sesuatu yang dramatis), lantas mengeluarkan sebatang lolipop. “Nih, buatmu. Bisakah kau minggir sekarang?” ujarnya, menyodorkan permen itu yang segera kuterima.

“Lolipopnya oke, tapi bagian minggir sekarang-nya nggak. Aku bakal mengikutimu sampai kau cerita padaku.”

Dia menghela napas secara eksesif. “Dengar, ya, Haeryung, kita bahkan tidak pernah mengobrol sebelumnya, dan menurutmu aku mau-mau saja membagi kehidupan pribadiku pada orang yang tidak dikenal?” tuturnya dengan tegas.

Yeah, baiklah, dia punya poin di sini, tapi bukan berarti aku bakal menyerah dan mundur teratur. Maka kukatakan, “Pertama, kita pernah mengobrol sebelum ini. Kedua, ada tuh orang yang menelepon ke siaran radio, menceritakan kisah hidupnya untuk didengar secara umum. Umum. Jadi kau tidak bisa menjadikan itu alasanmu.”

“Dan, bisa jelaskan kapan tepatnya dan apa yang kita obrolkan? Juga, kau bilang ‘ada, tuh’ yang menunjukkan bahwa tidak semua orang melakukannya.”

Whoa, aku tidak tahu kau jenius waktu berdebat!” pujiku, lepas kontrol. Lantas aku berdeham, untuk mengembalikan aura serius dan bahwa aku tidak sedang main-main. “Ingat waktu kita satu kelompok dalam Sosiologi? Menurutmu kita hanya duduk-duduk tanpa suara, begitu? Terus waktu aku mengingatkanmu untuk piket harian. Bagaimana kedengarannya?”

Yeah, kau bakal tahu betapa kerennya aku kalau kau mau, sedetik saja, keluar dari gerombolan menggosip dan make-over-mu itu.” Balasnya. Tak kusangka sekarang kami nyaris sampai ke halte—sialan! Bus yang kutumpangi ‘kan tidak serute dengan milik Sungyeol! Masa aku harus memegangi seragamnya supaya ia tidak buru-buru naik? Konyol, bagaimana nantinya kalau orang-orang mengira aku ingin berbuat tidak senonoh dengan Sungyeol? Idih. “Lagi pula, Kelompok Sosiologi? Kita tidak mengobrol, Dummy. Kau hanya terus-menerus memberiku arahan ini-itu, pekerjaan ini-itu, sementara kau sendiri sibuk mengeriting rambut.”

Aku tergelak mengingatnya—aku bahkan nyaris melupakannya! Pasti Sungyeol punya ingatan yang mahadahsyat. “Gerombolan menggosip dan make-over-ku itu bermanfaat tahu! Dan kenapa tidak memanfaatkan apa yang tersedia? Kau tahu sendiri betapa cintanya Bu Jeon padamu, dia pasti bakal memberimu A+ tanpa melirik isinya. Lagi pula kau bahkan tidak mengeluarkan suara apa pun. Paling nggak protes, kek, kalau kaupikir pekerjaannya susah.”

Sungyeol ingin membalas lagi, sampai aku sadar upaya mengalihkan perhatiannya berhasil. Hah, aku tidak bakal membiarkannya lolos!

“Sekarang setelah kau jadi prince chatterbox, kenapa kau tidak menjelaskan padaku mengapa, oh mengapa, kau menolak cinta Saeron?”

Dia mengerang mendengarnya. Ha ha, makan, tuh!

Namun keberuntungan sepertinya tengah menggayuti Sungyeol, karena detik itu juga bus jurusannya sampai dan prioritasku terbelah antara mengikutinya atau pulang ke rumahku sendiri, mengingat matahari mulai tenggelam.

Bye, Haeryung.” Kata Sungyeol culas, tanpa menatapku lagi, sambil melangkah maju mendekati pintu masuk.

Masalahnya, teman-teman, keingintahuanku tidak bisa dipadamkan begitu saja. Maka kuserahkan pilihan pada kakiku yang langsung ikut beranjak menaiki bus. Demi Tuhan, Lee Sungyeol harusnya menyadari betapa besar pengorbanan yang kulakukan hanya untuk mendapatkan sedikit informasi mengenai kehidupan cintanya yang amat garing.

Melihatku naik, kedua bola mata Sungyeol refleks membulat. Ha ha. Beruntung dia memilih kursi untuk dua orang yang satunya masih kosong, sehingga aku bisa dengan mudah menyelipkan diri di sampingnya.

“Halo lagi, Sungyeol.” Sapaku dengan senyuman dibuat-buat. “Jadi, bisa jelaskan mengapa kau menolak cinta Saeron?”

“Demi Tuhan,” Sungyeol memegang dadanya sembari menatapku dengan tampang terkejut. “Aku tidak percaya punya teman sepertimu.”

Bibirku kontan merekah, kali ini menghasilkan satu senyuman lebar yang original. “Ha, kau barusan menyebutku teman.” Kataku. “Ayo dong, bilang pada temanmu yang paling setia ini mengapa kau menolak—”

Fine, oke, baiklah, terserah.” Gumam Sungyeol kasar, mengerutkan bibir. “Kau tahu aku sahabat Woohyun, ‘kan? Dan kau tahu sendiri ‘kan betapa tergila-gilanya dia pada Saeron? Juga hubungan mereka yang diputus sebelah dua minggu yang lalu hanya karena Saeron menyadari bahwa dia sebenarnya menyukaiku? Maksudku, yah, benar, aku juga naksir padanya, dan seperti yang kau bilang, seisi sekolah mungkin tahu—dan kayaknya Woohyun juga tahu, tapi, Demi Tuhan, Woohyun adalah sahabatku, jadi mana mungkin aku mengkhianatinya begitu saja?” dia menarik napas dalam-dalam setelah mengakui segalanya dalam satu tarikan napas. “Puas?”

Aku masih menganga sewaktu jemariku membuat jalannya sendiri, bertepuk tangan dengan heboh. “Marvelous!” kataku, ekspresi terperangah masih terpampang. “Kau pantas dihadiahi nobel perdamaian!”

“Terserah.” Sungyeol memosisikan dirinya menghadap ke depan, yang tadinya miring menatapku.

“Kau mengambil pilihan yang bagus, Lee Sungyeol! Pilihan yang hanya akan diambil oleh para pahlawan dan para ksat—”

“Diam, Haeryung. Diam.” Perintahnya jutek.

Aku mengabaikannya. “Jadi, Sungyeol, jangan lupa kabari aku kalau kau sudah benar-benar melupakan Saeron, oke?” kataku, mencangklong ranselku kembali sembari bersiap turun. “Dan aku akan membelikanmu eskrim!”

Reaksi Sungyeol tepat seperti yang telah kuprediksikan: menatapku dengan alis terangkat dan bola mata membesar dalam ukuran maksimal. “Memang kenapa?”

Sembari memencet tombol merah meminta supir menghentikan busnya, aku menyahut dengan sedikit berteriak, “Karena kayaknya aku naksir padamu dan aku kepingin tahu kalau-kalau kau bisa lepas dari Saeron dan, kau tahu, berbalik padaku.”

Saat itu juga bus terhenti, dan sementara aku melangkah turun, kulambaikan tangan ke arahnya, memasang senyum terlebarku.

Tepat sebulan setelahnya, Sungyeol menemuiku sepulang sekolah. Well, sebelum itu, komunikasi kami meningkat lumayan pesat—yah, meskipun kebanyakan konversasi kami diwarnai dengan aku yang menuntutnya untuk mengerjakan ini dan itu, dan dia mengiakan dengan raut mencela.

Di dalam, aku harap-harap cemas, penasaran akan apa yang ingin dia sampaikan padaku—maksudku, halo, Lee Sungyeol mengajakmu berbicara berdua saja merupakan sesuatu yang dahsyat dan hebat. Namun, ekspresiku seutuhnya dalam kendali; tersenyum dengan raut tulus dan blah-blah-blah, jadi saat Sungyeol berdiri tepat di hadapanku, dia bahkan tidak punya ide bahwa kakiku bergetar dan detak jantungku berlompatan.

Setelah satu menit, dan ternyata Sungyeol hanya diam, menatapku dengan alis bertaut seakan-akan dia tidak setuju dengan pilihan bandanaku hari itu, akhirnya aku bertanya, “Apa? Kau mau bicara apa?”

Sungyeol menghela napas, lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain sewaktu berkata, “Traktir aku eskrim.”

Aku berusaha meyakinkan diri bahwa yang dimaksud traktir aku eskrim di sini adalah traktir aku eskrim dalam makna sebenar-benarnya, di mana artinya Sungyeol hanya sedang mengiginkan eskrim tapi lupa membawa dompet.

Namun dia menambahkan lagi, kali ini dengan nada terburu-buru, “Kau tidak dengar, ya? kubilang traktir aku eskrim, karena aku sudah benar-benar melupakan Saeron, dan kurasa aku, um, berbalik padamu.”

Senyumku sukses terpecah mendengarnya.

“Kutraktir eskrim sepuasmu!”

End.

Finished: 0:08 | December 22, 2015.

(a/n): dibikin dini hari (bener, DINI HARI) tepat setelah aku nonton MV-nya Junggigo yang Too Good (salah satu soundtrack-nya HSLO) AND IM SO HAPPY I CAN FINISH THIS BECAUSE MAN YOU DONT EVEN KNOW HOW LONG I’VE BEEN WANTING TO WRITE THIS!!!!!!!!! Sebenernya aku punya draf fic ini tapi gak terselesaikan dan nyoba-nyoba nulis lagi dan berhasil ya Allah aku bahagia, Haeryung-Sungyeolku berakhir gembira di sini x) btw ini ditulis secara buru-buru dan gak pake buka kbbi/sinonimkata SAMA SEKALI maka maafkanlah bahasa yang digunakan sangat tidak aesthetically pleasing tapi ya sudahlah yang penting aku happy. xD terima kasih banyak kalau baca ini! x)

4 thoughts on “Infatuated

  1. Mey kamu bikin 1,7k kata ini terasa cepat sekali. Bacanya enak banget as always, sukaaaa😚😚 Meskipun aku nggak ngikutin hslo sih tapi tetep aja tulisanmu nyaman banget buat dibaca ;u;

    Like

    1. hamdalah ya mb Rahma kalo ini gak bikin kamu bosen :’) santaii aku juga gak berhasil nyelesain hslo bikoz ngebosenin huhuhu.
      anyway terima kasih banyak ya udah mampir dan baca ini❤

      Like

  2. ASTAGA MEYDAAA
    INI RINGAN, ENAK DAN SWEET BANGET BERASA ESKRIM VANILA!
    GILAAAA AKU JATUH CINTA BANGET SAMA FF2MU YANG MODEL BEGINI. SUMPAH INI SWEET BANGETT AAHHH MANA AKU JUGA SUKA HSLO.
    THUMBS UP BUAT MEYDAA
    ♥♥♥♥♥

    Like

    1. KAK TYAA! HUEE TANGGUNG JAWAB AKU JADI PENGEN ESKRIM TT
      HSLO AKU SUKANYA SAMA HAERYUNGNYA DOANG GIMANA NIH KAK? WKWKWK. ANYWAY MAKASIH BANYAK UDAH MAMPIR DAN BACA INI! FULL CAPS LAGI😄

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s