Tale Teller


TALE-TELLER

Tale Teller

By Authumnder

Featuring [EXO] Chen & [f(x)] Luna

genre slight!Fluff, Fantasy, AU | length 814 words, Ficlet | rating Teen.

Challenged by lianadewintasari’s word: Dongeng.

“Pada jaman dahulu, tidak sulit untuk menemukan jodohmu.”

***

Kalau ada hal yang tidak kauketahui tentang Kim Jongdae, yaitu satu; pekerjaan sampingannya sebagai penulis dongeng. Tidak ada yang menyadari ini, separuh karena Jongdae hanya melakoninya ketika ia sendirian, dalam kungkungan apartemennya yang lengang, sedang setengahnya lagi karena Jongdae tak sekali pun membuka mulutnya.

Pengecualian untuk Sunyoung, kawan sedivisi Jongdae itu pernah membobol komputernya dan menemukan segepok dongeng hasil imaji Jongdae dan tidak pernah berhenti merongrongnya dengan itu—syukurlah sampai detik ini daftar manusia yang mengetahui pekerjaannya ini belum memanjang. Tetap saja, desakan-desakan Sunyoung agar Jongdae menceritakan satu saja dongengnya tidak bisa dikategorikan mudah, apa lagi dengan ancaman kalau perempuan itu bakal mencetak semua dongeng ciptaannya dan memasang mereka di mading kantor. Menyusahkan.

“Kau ‘kan sudah membaca mereka semua!” Jongdae biasanya beralasan ketika Sunyoung memulai kegiatan merengeknya—ia juga heran kok perusahaan mau menerima pegawai macam bocah itu. “Apa bedanya membaca dengan mendengarkan, coba?”

“Dongeng diciptakan bukan untuk dibaca sendiri, tahu!” Sunyoung kerap membalas dengan tak kalah ngeyel.

Sampai minggu lalu Jongdae masih bisa berkelit, namun kini, ketika ia telentang di atas kasur dengan mata mengantuk dan Sunyoung yang tiba-tiba menelepon dengan vokal sumbang, sepertinya Dewi Fortuna tak lagi berpihak padanya.

“Aku sedang patah hati setengah mati, dan tugasmu sebagai teman adalah menghiburku, jadi jangan beri aku alasan apa pun dan langsung saja ceritakan satu dongengmu.” Tandas Sunyoung, sesekali terdengar suara hidung yang tengah diseka, membuat Jongdae iba.

Fine.” Jongdae menyahut setengah hati, sementara otaknya mulai memusing mencari satu dongeng yang paling pendek sekaligus paling mudah dinarasikan. Sayangnya, ia gagal menemukan dongeng yang kira-kira sesuai dengan kondisi mengenaskan kawannya itu.

“Jongdae? Jongdae? Kau masih di sana, ‘kan? Kubunuh kau kalau berani tertidur!” seruan Sunyoung di seberang penuh dengan ancaman.

Ia menguap, menyahut dengan kalimat pertama dongengnya, “Pada jaman dahulu, tidak sulit untuk menemukan jodohmu.”

“Kenapa, sih, semua dongeng selalu diawali dengan pada jaman dahulu atau pada suatu masa? Sangat tidak kreatif!”

Jongdae membalas dengan cuek, “Akan kumatikan teleponnya.”

“Hei, jangan! Oke, baiklah, aku akan mengunci mulutku.”

“Mengapa begitu? Karena pada saat itu, pertumbuhan usiamu akan berhenti di angka delapan belas, baru berlanjut kalau kau bertemu dan tinggal bersama dengan pasangan hidup yang benar-benar ditakdirkan untukmu.”

“Jadi kita baru akan menua kalau telah menemukan soulmate?”

Um, ya, bisa dibilang begitu.” Jongdae menguap lagi. “Di sebuah kerajaan terpencil yang kaya raya, hiduplah seorang perempuan yang khawatir setengah mati akan jodoh masa depannya, mengingat sudah dua tahun sejak ia berulang tahun ke-18. Ia takut pasangan hidupnya telah tiada, atau lupa Tuhan ciptakan. Berulang-ulang ibunya memperingatkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun gadis kita ini—”

“Siapa namanya? Siapa?” sela Sunyoung lagi.

Jongdae gelagapan. “Namanya adalah… um, kita sebut saja dengan Luna. Dan jangan menyelaku lagi! Aku tidak akan melanjutkan ini kalau kau bicara lagi!”

“Oke, maaf,”

“Hidup berdampingan dengan Luna adalah kawan masa kecilnya, seorang pemuda bernama… um, Chen, yang juga belum ditakdirkan Tuhan untuk bertemu soulmate-nya. Sialnya, keluarga Chen tertimpa musibah, rumahnya runtuh setelah pohon tua di sampingnya jatuh, menimpanya dengan tanpa ampun. Keluarga Luna, sebagai tetangga yang telah lama sekali menjalin hubungan, berbaik hati menawari mereka tempat berteduh, meski mereka sendiri tahu rumahnya tidak seberapa.

“Namun, tentu saja, terjepit keadaan, Keluarga Chen kontan menyetujui. Tinggallah dua keluarga itu di bawah atap yang sama. Meski begitu, keseharian Luna tak juga berhenti, setiap pagi ia pergi ke ruang berdandan untuk mencari satu uban dalam gelungannya. Tenang saja, ini tidak seperti mencari jarum dalam jemari—setiap satu uban pertanda jodoh tumbuh, maka kau pasti akan melihatnya.

“Luna akan panik kalau tidak menemukannya, lantas ibunya akan mengutus Chen untuk menenangkan anak gadisnya itu. Hari itu, tepat seminggu semenjak rumahnya ambruk, Chen memutuskan untuk mengajak Luna berkunjung sebentar ke kerajaan, sekedar berjalan-jalan melihat taman yang dibuka untuk umum.”

Jongdae berhenti sebentar untuk menarik napas. “Di sana, mereka berbicara banyak hal. Chen menawarkan diri untuk tinggal bersama Luna, nanti kalau mereka sudah terlalu tua untuk tinggal di rumah keluarga, dan mereka berdua belum juga menemukan pasangan hidup. Luna menanggapinya dengan tawa meremehkan, namun diam-diam ia menyukai ide itu.”

“Keesokan harinya,” Jongdae berdeham sebentar, “Luna menemukan satu uban di kepalanya. Ia mulai menua hari itu.”

Yeay!” Sunyoung memekik dengan riang, memaksa Jongdae menghentikan ceritanya sejenak. “Lanjutkan, lanjutkan!”

“Belakangan di hari itu, karena perhatiannya diambil alih oleh kehebohan Luna sebelumnya, Chen juga menyadari satu uban tumbuh. Selesai.”

“Hei, masa cuma berakhir begitu? Di mana bagian menikahnya? Di mana bagian hidup bahagia selama-lama-lamanya?”

Jongdae mendengus, “Kau sudah menguap lima kali dalam semenit. Sana pergi tidur! Jangan lupa berdoa semoga matamu tidak bengkak seperti gajah besok.”

Sunyoung tertawa, pelan. “Yah, terima kasih dongeng dan sarannya, Jongdae. Selamat malam.” Saat Jongdae bergerak akan mematikan panggilan, ia menambahkan, “Tolong jangan matikan teleponnya dulu, bicaralah apa sesukamu. Kalau sepi, aku bakal patah hati lagi.”

Meski dengan bibir mencibir, Jongdae mulai berbicara apa saja yang terlintas di kepalanya. Pekerjaan, komputernya yang rusak, touchpad-nya yang edan, semuanya. Sampai tertinggal suara napas Sunyoung di panggilan.

“Selamat malam, Luna.” Ujar Jongdae perlahan. “Selamat malam dari Chen.”

End.

Finished: 20:45 | December 25, 2015.

(a/n): Kak Liana, aku tahu kakak gak ngasih cast lain kecuali Chen, tapi gimana ide dongeng yang muncul di kepalaku punya dua tokoh… jadi yasudahlah kupake saja mb Luna. xD Maaf banget ya kak aku tahu ini sangat tida memuaskan wkwkwk apalagi dongengnya ITU SANGAT TIDAK BERMUTU ;_; (ide cerita soulmate-soulmate itu didapet dari Tumblr btw). Terima kasih sudah request! Jangan kapok, ya! xD

9 thoughts on “Tale Teller

  1. APANYA YANG GA MUTU BAGIAN MANANYA COBA TUNJUKKAN (((GABISA WOLES)))

    Gilaaa ya kakmey. Aku nggak tau lagi. Aku bingung mau komen apa. Sepertinya komenku tidak akan berarti apapun. Sepertinya komenku hanya akan berakhir seperti debu-debu di sudut lemari. Kakmey ini bagus banget tau nggak. Emang walaupun ini nggak terlalu romen romen banget, aku bisa ngerasain jongdae yang care banget aih itu anak sama sunyoung ;-; mau dong kirimin macam jongdae biar aku bisa didongengin tiap malem heu ;-;

    Entahlah kakmey, kayaknya kalo aku terusin komennya bakal selesai waktu matahari terbit ((lha)), soalnya aku kebanyakan curhatnya. Yha sudah, aku selalu suka penyampaian ceritamuuuu ah mumumumu ;u;

    Keep writing!!!

    Liked by 1 person

    1. GA MUTU BAGIAN SEMUANYA DEK TT

      “Sepertinya komenku hanya akan berakhir seperti debu-debu di sudut lemari.” = BRB NGAKAK DULU😄😄 gak kok gak semua komen dicintai keberadaannya (halah alay) wkwkw. ya kalo aku punya stok cowok macam jongdae AKU GA BAKAL browsing tumblr setiap hari cuman buat oppa-oppa ganteng huhuhuhu /cries/
      aih aih makasih banyak loh shia udah mampir dan baca ini!❤

      Like

      1. Jangan merendah aduhai kakmey, aku bahkan nggak bisa kalau disuruh bikin cerita macam gini jadi sedemikian menarik dan nggak bosen dibaca. Mungkin udah pada angkat kaki baca kalimat pertamaku ;;-;;
        I KNOW RIGHT. Tapi oppa oppa ganteng bahkan nggak kesampean untuk diraih :’)

        Like

  2. HYAAAAAAHA KOMENMU YG TERAKHIR TTG ‘PAKE MBAK LUNA AJA DEH BUAT PENDAMPINGNYA’ ITU SESUATUUUU sepertinya aku tlah meracuni org2 utk ngepair chen sama luna *jiah pede bgt ni org
    oke, dari posternya hahai ya Tuhan aku baru sadar mbak luna kalo lagi setengah pouting gitu unyu jugak :p
    sejujurnya cerita ini mau dibilang romantis sih nggak terlalu ya *krn ini memang bukan romance fokusnya Li *jgn tersinggung ya mey :p* tapi yg terakhir itu lho gaaaaaaaaaaaah apa2an.
    .
    .
    “Tolong jangan matikan teleponnya dulu, bicaralah apa sesukamu. Kalau sepi, aku bakal patah hati lagi.”

    Meski dengan bibir mencibir, Jongdae mulai berbicara apa saja yang terlintas di kepalanya. Sampai tertinggal suara napas Sunyoung di panggilan.

    “Selamat malam, Luna.” Ujar Jongdae perlahan. “Selamat malam dari Chen.”
    .
    .
    aku. pingin. mati. aja.
    carinya di mana sih, cowok yg serela itu nemenin kamu tidur meski cuma di telepon? *nangis darah krn iri* maksudku bisa ga sih kamu bayangin si trolldae senyum di seberang telpon secara oppa-like setelah berhasil menyenangkan hati mbak luna?
    oke, fangirling selesai.
    poin tambahan di sini adalah kamu mengawali kisah ini dg friendship konyol duo cerewet ini yg kental, sehingga walaupun ga banyak momen romantis tapi kisah kedekatan mereka jadi lebih berarti krn itu tadi huhu. hubungan seperti ini memang lebih baik klo dikisahkan tanpa banyak skinship, tapi lgsg ditunjukkan ke hal2 kecil yg berharga *yg mana teknik menulis ini tidak bisa kuterapkan sebab pikiranku kotor terus blkgan *jgn dicontoh
    terus soal promptnya sendiri…. iya gapapa kok, ini masih sangat masuk😄 krn memang aku lagi butuh inspirasi fantasi dan thanks to jongdae *atau meyda ya* aku jadi dpt ide mau nulis apa. klo bisa tak bikinin sequel versi dongengnya nanti hehe tapi ga janji ya.
    kalau masukannya sih… hm ya mungkin ini terasa agak terburu-buru ditulisnya, sehingga bbrp kata dipasangnya agak ga pas…. kyk misalnya kalimat ini: syukurlah sampai detik ini daftar ‘Jongdae-aku-tahu-kau-tukang-dongeng’-nya belum memanjang. –kurang kumengerti apa maksudnya.
    terlepas dari ini, kosakatamu kan sudah kaya, terus aliran dialognya mereka juga manis jadi ya aku ga mau komplen panjang2 ttg itu ^^
    makasih banyak mey sudah nulis ini utkku, aku tau kamu pasti rada2 kaku nulis chen berhubung emang jarang *atau ga pernah* nulis ttg dia haha, walaupun begitu hasilnya memuaskanku sekali😄
    keep writing ya!

    Liked by 1 person

    1. Kak… wkwkwk komentarnya panjang bener kusuka❤
      eh tapi bener loh aku pake Luna itu.. gara-gara baca fic dikau xD hooh, aku juga sadar itu kak abis aku bingung mau nyempilin romensnya di mana huehuehue, terus juga kesannya ntar tambah makjang kalo kujelasin perasaannya Jongdae ;_; aih ga, ga tersinggung sama sekali kok santay saja hehehe.
      GA ADA KAK GA ADA, cowok macem karakter jongdae ini lebih banyak ditemuin di fiksi ketimbang di kenyataan (nangis) dan IYA BENER BANGET kak aku juga mikir ini pantes ga ya chen dipakein karakter yang tenang gini huhuhu abisan dia nglenyer (??) banget.
      HAH MAKASIH BANGET KAK KALO MAU DIBIKININ LANJUTANNYA😄 dan iya bagian daftar-daftar itu aku pas aku baca sekarang kok ya gak nyambung banget??? brb kuganti xD

      makasih juga ya kak sudah mempercayakan chen dan dongengnya padaku x3 maaf yha kalo ini belum memuaskan huehue ;_;

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s