Something Borrowed


hanbin

Something Borrowed

by Authumnder

featuring [iKON] B.I & [OC] Jinjoo

genre slight!Fluff, College-Life, AU length 873 words, Ficlet rating Teen.

“Kita bisa janjian, aku bisa pergi ke rumahmu, atau kau bisa pergi ke apartemenku.”

***

“Boleh minta tolong?”

Pertanyaan yang terdiri dari dua kata barusan sukses membuat otakku bekerja ekstra keras dan memusing tanpa henti empat detik belakangan, mengira bantuan macam apa yang ia perlukan dariku. Halo, aku hanya mahasiswa tolol yang nyaris gagal dalam separuh mata pelajaran yang ada dalam jadwal—yang meruntuhkan tebakan bahwa Hanbin ingin bertanya sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran padaku.

Terus apa, dong?

Eh, membantumu apa dulu, nih…” aku nyengir kuda, berusaha melepaskan diri dari aura mengintimidasi yang entah mengapa menguar dari lawan bicaraku ini.

“Oh, tidak banyak, kok. Ujian ‘kan sudah ada di depan mata, dan kau tahu sendiri aku sering absen karena, yah, ini dan itu, dan aku harus lulus. Jadi, kalau boleh, aku ingin meminjam catatanmu untuk beberapa hari ke depan—tiga hari, tepatnya.”

Aku ingin berteriak frustasi di depannya dan mengaku kalau aku sendiri jarang sekali mencatat. Tapi, Hanbin bilang ia butuh catatanku untuk tiga hari ke depan, ‘kan? Jadi melompongnya notasiku hari-hari sebelumnya seharusnya tak jadi masalah. Yah, berdoa saja.

“Oh, oke.”

Hanbin terperangah, “Serius? Kau menyetujuinya begitu saja? Tidak ada syarat?”

Sebenarnya aku punya daftar ‘imbalan-yang-kuinginkan‘ yang amat panjang, tapi kuputuskan untuk tidak mengatakannya. Alih-alih dengan senyum palsu aku menjawab, “Tidak sama sekali. Jadi kita bertemu di sini, hari Jumat?”

Um, Jinjoo, hari Jumat ‘kan kita libur,”

Ah, iya! Tidak dipercaya pecinta liburan sepertiku berhasil melupakan tanggal merah.

Ia sudah menambahkan, “Pilihan yang tersisa tidak banyak. Kita bisa janjian, aku bisa pergi ke rumahmu, atau kau bisa pergi ke apartemenku.”

Janjian di tempat umum dengan publik figur sepertinya? Tidak usah, ya! Kim Hanbin pergi ke rumahku? Amit-amit! Aku yakin keluargaku bakal menggelar karpet merah untuk menyambutnya. Sortiranku tinggal satu…

“Oh-eh, kayaknya lebih baik aku yang pergi ke apartemenmu, deh.”

Aku tidak percaya hasil memerhatikan-dosen-dengan-cermatku menelurkan notes setebal dan seberat ini. Bah, sulit dipercaya aku berhasil menuntaskan pekerjaanku membantu seorang Kim Hanbin dengan amat baik—dan aku agak percaya kalau aku bisa saja keluar dengan nilai gemilang ujian nanti, mengingat betapa rajinnya aku mendengarkan. Yah, berdoa saja semoga harapanku menjadi nyata.

Omong-omong, lift apartemen Hanbin rusak (aku baru menyadarinya setelah berdiri menunggu selama sepuluh menit) dan sekarang aku harus bersusah payah memanjat tangga dengan tumpukan buku di tangan (aku membawa serta buku ujian yang baru dibagikan kemarin).

Kamar Hanbin ada di lantai tiga, sesuatu yang kusyukuri meski tidak kuhargai.

Butuh tepat semenit sampai Hanbin membukakan pintu—mungkin ketakutan yang berhubungan dengan paparazi, dst., dsb. Ia menyengir waktu melihat lenganku yang penuh, kemudian berbaik hati memindahkan mereka ke tangannya sendiri.

“Sori merepotkanmu.” Katanya, menahan pintu sementara aku melangkah masuk. “Di luar dingin, ya?”

Aku mengangguk. Melihat Hanbin dengan piamanya membuatku merindukan kasurku sendiri—catatan pribadi: Kim Hanbin kelihatan cute dalam piama pink garis-garisnya (mungkin aku bisa menambahkan ini dalam fakta panjang yang dimiliki penggemarnya).

“Cokelat panas atau kopi?” tanya Hanbin setelah menempatkan buku-bukuku di atas meja kecil.

Bayangan cokelat panas yang melumer di lidah membuatku refleks mengangguk.

Sementara Hanbin menyelinap ke dapur (setelah menggumamkan kalimat pasaran ‘anggap saja seperti rumahmu sendiri‘ yang kutanggapi dengan lambaian ringan), aku mengistirahatkan pantat di sofanya. Gila, sepertinya aku harus sering-sering berolahraga, mengingat kakiku pegal-pegal dan napasku tersendat-sendat hanya dengan aktivitas menaiki tangga.

Hanbin keluar lagi, menyodorkan cangkir yang buru-buru kuterima.

Jeda sejenak sampai ia bertanya, “Semua dosen masuk?”

“Yup.”

“Giliran aku hadir saja mereka absen,” gerutu Hanbin, lengkap dengan cibiran di bibir. Ia lantas meraih catatannya, membolak-balik halamannya dengan sangat hati-hati. Ah, aku suka caranya memperlakukan catatan sampahku, ia tidak bertingkah seakan-akan tulisanku yang besar-kecil dan tidak rapi menyakiti matanya.

Beberapa menit diisi dengan aku menyesap cokelatku dan ia belajar. Kalau ini adalah sebuah karangan fiksi, mungkin penulisnya bakal menambahkan omong kosong seperti ‘di antara kami adalah jenis kesunyian yang nyaman, bukan lengang karena kehabisan pembicaraan’. Memikirkan itu membuat konsentrasiku kembali, barulah kusadari jarum pendek jam dinding Hanbin hampir menunjuk angka sembilan. Whoa, cepat sekali.

“Hanbin, kayaknya aku harus pulang, deh.” Aku menggigit bibir begitu menyadari betapa ambigunya kalimat itu terdengar.

Loh, kenapa buru-buru? Takut tidak ada transportasi? Tenang, nanti kuantar.” Sahut Hanbin sembari menjentikkan jemari, mengentengkan.

Heh, bukan itu.” Kataku.

“Terus kenapa? Takut turun salju? Tadi aku mengecek perkiraan cuaca dan mereka bilang nanti malam salju tidak akan turun, hujan juga tidak.”

Aku gemas. “Bukan itu, Hanbin. Masalahnya adalah tetangga—”

Ia malah tergelak. “Kau masih memedulikan omongan tetangga? Anggap saja mereka anjing yang menggonggong, Jinjoo—”

Keinginanku menggempur kepalanya dengan tas makin besar. “Hanbin.” Aku memperingatkan.

Hanbin mengangkat kedua tangan, akhirnya. “Fine, kuantar.” Ujarnya, sebelah tangan menyambar kunci di meja kecil tadi. Lantas ia bangkit dari posisi duduk santainya, berjalan ke pintu depan.

“Pakai piama?” aku bertanya, ragu-ragu. Dia gila, ya?

Ia menyengir, menyambar sesuatu dari gantungan di dekat pintu masuk, “—dan mantel.”

Belakangan, sewaktu Hanbin berhasil memarkir mobilnya di depan rumahku, ia menyodorkanku ponselnya: “Minta nomormu, dong. Nanti kalau-kalau aku mau tanya sesuatu, atau nanti waktu aku kepingin mengembalikan catatanmu—atau mentraktirmu.”

Memangnya siapa yang mau menolak tawaran manis begitu? Plus, tidak ada sejarahnya Baek Jinjoo menampik makanan gratis.

end.

finished: 18:49 | December 26, 2015.

(a/n):

  1. Aku cuma bilang Hanbin itu publik figur, jadi di sini dia bukan member boygroup yha.
  2. Pertama liat pic ini aku langsung mikir ‘INI HARUS DIBIKIN FF GA PEDULI POKONYA HARUS’ habis HANBINNYA IMUT BANGET HUHUHU PENGEN KUUYEL-UYEL
  3. Jeng jeng jeng, maka jadilah ini. x3
  4. Terima kasih banyak sudah membaca! ^^

3 thoughts on “Something Borrowed

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s