Utterly Attracted


UTTERLY

Utterly Attracted

by Authumnder

featuring [SEVENTEEN] Jun & [TWICE] Sana

genre slight!Fluff, College-Life, AU | length 928 words, Ficlet | rating Teen.

“The very first time I remember you, you are blonde,
and you don’t love me back.”

Junhui tahu benar rasanya tertarik pada pandangan pertama. Seluruh atensimu, semua fokusmu, pokok pikiranmu—segalanya ditujukan pada objek itu, peduli amat ketahuan, masa bodoh dengan tak terbalasnya pandangan. Sederhana karena kau sendiri tak mampu mengalihkan perhatian, tak bisa sesenti pun memindah tilikan.

Sejam kemudian, barulah ketahuan identitas si gadis berambut blonde pemicu osilasi dalam hati Wen Junhui. Minatozaki Sana namanya, masuk di tahun yang sama dengan Junhui (membuat laki-laki itu bertanya-tanya bagaimana mungkin matanya tak pernah menangkap sekilas sosoknya sebelum ini), mengambil Seni Pertunjukan, dan cantiknya minta ampun (yang ini, sih, ia tidak perlu diberitahu dua kali).

Yes! Peluang menggaetku makin besar kemungkinan berhasilnya!” seru Junhui kegirangan sedetik setelah kalimat ‘dan dia orang Jepang’ Wonwoo sampai di telinganya.

Wonwoo memutar bola mata, “Bagaimana mungkin?” tanyanya skeptis. Bukan apa-apa, tapi kawannya yang satu ini memang punya tumpukan kepercayaan diri yang teramat tinggi—kadang-kadang terlalu tinggi sampai kegagalanlah yang akhirnya menghampiri. Bukannya Wonwoo mendoakan yang jelek-jelek, sih.

Alih-alih tersinggung dengan kesangsian Wonwoo, Junhui justru mendekap kedua tangannya di depan dada dengan dramatis. “Kami berdua jauh dari keluarga, Jeon Wonwoo. Kami pasti mengerti satu sama lain—wanita lebih menyukai laki-laki yang merasakan kegalauannya.”

“Tapi, Junhui, kau minggat dari rumahmu. Teknisnya, definisi jauh dari keluarga kalian jelas berbeda.”

Junhui ringan menanggapinya dengan cibiran. “Dia ‘kan tidak perlu tahu itu. Lagi pula, ngapain kau masih di sini? Kau bilang kelasmu dimulai sepuluh menit lagi?”

Pemandangan Wonwoo yang kelabakan merapikan isi ranselnya cukup untuk memperlebar senyuman di bibirnya.

Kecuali kenyataan bahwa Minatozaki Sana baru saja melintas dan Wen Junhui tak sempat mengirimkan senyum manis yang kental akan sikap ‘sok-kenal’-nya. Tergesa ia berdiri, tanpa berpikir dua kali refleks meneriakkan, “Mina!”

Yeah, ia melupakan fakta kalau ia tidak benar-benar tahu nama panggilan si gadis (Junhui bahkan tidak tahu sama sekali mana marga dan mana nama kelahirannya!), juga bahwa perempuan itu tidak sedang berjalan sendirian dan, mungkin saja, teman si gadis Jepang itu memiliki nama yang baru saja digemborkan Junhui.

Bukannya Minatozaki Sana, justru kawannya yang menoleh, mengirimkan sorot penuh tanya ke arah Junhui. “Kau barusan memanggilku?”

Junhui mengingatkan dirinya untuk menggempur Wonwoo dengan file-nya sehabis ini. “Bukan, bukan! Sori, yang kupanggil barusan itu Minatozaki Sana.” Ia buru-buru meralat.

“Oh, Sana,” si teman yang ternyata bernama Mina itu tertawa kecil, menggeser tubuhnya sedikit. “Dipanggil, tuh.”

Sana, Sana, Sana. Junhui mencatat dalam hati sembari mempersiapkan senyum paling manisnya untuk anak perempuan yang namanya barusan ia rapalkan.

Sana memang berbalik, namun ia tak memberi sedikit pun kesempatan untuk Junhui dengan berkata singkat, “Sori, tapi lain kali, ya. Aku sedang buru-buru, nih. Yuk.” Lantas ia memutar tubuh lagi, berjalan maju tanpa menoleh lagi.

Dan Junhui, ia tidak bisa melenyapkan perasaan kalau dirinya ditolak pada pandangan pertama.

The next time you are brunette, and you do.”

Junhui ingat benar dirinya sempat berpikir untuk mengacuhkan Minatozaki Sana selamanya. Bagaimanapun, ditolak karena alasan sibuk bahkan sebelum ia sempat membuka mulut itu sangat patetis dan bakal selamanya membekas di memorinya. Peduli amat dengan muka penuh tanya Wonwoo ketika ia menampik tawaran daftar sosial media yang dimiliki Sana.

“Tapi kau bilang kau tidak akan melepaskannya,” oceh Wonwoo, duduk bertongkat lutut. “Tidak seperti biasanya.”

Junhui membalas dengan omongan setajam gigi hiu, “Itu karena tidak ada perempuan sebelum ini yang langsung menolak begitu.”

Fine. Terserah padamu. Tapi jangan menyesal sudah menolak tawaran murah hatiku, ya.”

Sehari kemudian, keyakinan Junhui luruh seutuhnya. Minatozaki Sana duduk di depannya saat makan siang!

“Oh, halo, kau yang kemarin, ‘kan?” tanya perempuan itu dengan senyum di mana-mana yang kemudian berefek pada kupu-kupu yang beterbangan ke segala arah dalam diri Wen Junhui. “Kursinya kosong, ‘kan? Aku boleh duduk di sini, ‘kan?”

Junhui ingin menyela, tapi kau sudah duduk di sini, namun kalimat itu tertahan di tenggorokan, tergantikan oleh pemikiran bahwa sesakit hati apa pun Junhui pada sikap Sana, ia tetap akan memperbolehkan gadis itu melakukan apa saja. Ya Tuhan.

“Omong-omong, kemarin itu, apa yang ingin kaukatakan? Maaf ya aku pergi begitu saja, habis saat itu kami benar-benar sedang terburu-buru. Tahu, ‘kan, pertunjukan dan sebagainya.”

Saat itu barulah Junhui menyadari warna rambut Sana yang berbeda dari yang kemarin. Dari pirang keperakan ke cokelat gelap. Membuatnya bertanya-tanya apa mungkin warna rambut seseorang memengaruhi kepribadiannya. Rasa-rasanya kok tidak mungkin.

“Halo?”

“O-eh, hai.” Junhui terbangun dari lamunan, buru-buru mengirimkan selengkung senyum. “Ya, tidak apa-apa, silakan saja. Dan tidak, tidak ada yang ingin kubicarakan.”

Konversasi tersela sejenak ketika ibu kantin datang membawa pesanan.

“Aneh,” lanjut Sana, seakan-akan tengah menimang-nimang sesuatu. “Karena kemarin kau kelihatan seperti punya sesuatu yang mendesak untuk dikatakan.”

Oh, ya. Kemarin, sih, aku berniat mengajakmu berkenalan. Tapi karena kau menolak, ya sudah. Aku malas berusaha lagi.

Tiba-tiba Sana mendongak lagi, kali ini dengan tampang terkejut di wajahnya. “Tunggu sebentar, jangan-jangan kau marah?”

Junhui ingin menjawab ya iyalah, siapa yang tidak jengkel ditolak begitu, dengan mimik judes pula? Namun ia justru menggeleng, menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut.

“Yah, well, maafkan aku kalau kau marah.” Sana mengangkat bahu. “Omong-omong, kau tahu kedai kopi yang baru dibuka di seberang kampus? Aku belum pernah ke sana, kau pernah?”

Barulah Junhui mendapat pencerahan. Apa pun itu yang kemarin terjadi, lupakan saja—karena kelihatannya Minatozaki Sana hari ini tengah berusaha untuk memperbaiki yang kemarin. Dengar saja kalimatnya barusan, bukannya kentara sekali kalau perempuan Jepang itu tengah menguji kepekaan Wen Junhui?

“Namaku Wen Junhui.” Junhui berkata, kali ini dengan kepercayaan diri yang naik kembali ke singgasananya dalam dirinya. “Dan soal kedai kopi, aku belum pernah mampir. Tapi aku bisa mengajakmu ke sana kalau kau ingin.”

Melalui senyuman penuh syukur Sana, Junhui mengambil kesimpulan: Minatozaki Sana juga tertarik kepadanya!

End.

Finished: 13:59 | January 01, 2015.

(a/n): jadi hm bisa dibilang favoritku di TWICE itu mb Sana dan sudah merupakan keinginan terpendam semenjak dahulu kala untuk bikin fic dia—sayangnya kemarin dulu itu aku belum menemukan cowoknya. Terus kemarin ceritanya aku lagi scroll biasa gitu kan kurang kerjaan di Tumblr, terus pas banget ketemu pic Sana sendirian dan di bawahnya itu pic Junhui yang kebetulan juga lagi sendirian—iya, se-tidak-bermutu itu caraku masangin orang WKWKWK. Anyway, this story is based on:

iya, itu hyungwonho lol
iya, itu hyungwonho lol

 

6 thoughts on “Utterly Attracted

  1. KYAK JUNSANA YAAMPUN KOK BARU NEMU SIH. /dateng dateng kepslok/
    aku suka ff ini soalnya aku rp-in sana dan ehemcoupleehem ku junhui:”””””) dan gausah ditanya deh hatiku gimana. Suka deh pokoknya aaakkkk jjang!

    anw, terima kasih sudah mau follow wpku🙏 followers pertama ihiy.g

    Liked by 1 person

  2. WALAH KAKMEY.

    Tau nggak (gak), aku merinding waktu lihat posternya!!! Terus terus, buru-buru aku buka. Sana-Junhui… yah, entah kenapa kalo aku pikir mereka somehow cocok dan lucu gitu kalo dipasangin :’D Apalagi, waktu baca fic ini. Ah, nggak tau lagi. Terus, soal note-nya, aku nggak paham kenapa kamu bisa nentuin bias di twiceu. Aku kesusahan😦 (curhat gpenting)

    Keep writing kak!!

    Like

    1. Ngapain merinding deh shia, itu karya edan saking aku ga tau mau dipakein cover apa xD YAKAN COCOK YAKAN!!! (maksa). HEHEHE gimana ya soalnya dari dulu waktu sana ada di mv-nya GOT7 tuh daku sudah naksir??? kayak langsung nyari-nyari itu siapa terus begitu debut otomatis aku nyari lagi sana mana ya TERUS DI OOH-AAH DIA MAU NIRU MOMO GABISA yaudah fix ditemukan sudah bias meyda di Twice xD tapi omonganmu bener banget huhu siapa sih di Twice yang enggak visual huhu pengen nanges😦
      makasih banyak ya shia udah mampir dan baca ini!!! x3

      Like

  3. international pair! XDD iya iya aku ga ada yg kenal castnya but abaikan hal itu, aku suka cara mereka ketemu yg rada2 awkward yaapa tapi akhirnya mbak sana mulai membuka hati cihui😄 sesungguhnya mengharapkan language barrier yg agak konyol sih tapi ternyata tidak ada. gapapa sih, ttp tidak mengecewakan kok😄
    keep writing ya!

    Like

    1. Halo Kak Li! wuaduh terima kasih banyak loh kak udah mampir walaupun gak tahu cast-nya xD oh, language barrier karena junhui orang cina sedangkan sana orang jepang gitu ya? malah aku gak kepikiran ;_;
      yaa sekali lagi makasih banyak ya kak! xD

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s