Unusual Romeo


unusual

Unusual Romeo

by Authumnder

featuring [Lovelyz] Mijoo & [INFINITE] Woohyun

genre Historical Romance, AU | length 1224 words, Vignette | rating Teen.

“And I don’t know what to do,
cause I’ll never be with you.”

You’re Beautiful, James Blunt.

***

“Tidak berniat pergi? Lumayan, lho, siapa tahu Pangeran lebih suka gadis sederhana yang agak kampungan seperti kita.” Kalimat Soul sengaja diulur-ulur, sebulan belakangan ini—tepatnya semenjak Kerajaan mengeluarkan pemberitahuan akan diadakannya pesta—ia telah berlatih mempertajam aksen putri terhormatnya. Bukan sesuatu yang mudah, apalagi kalau kau bukan seseorang yang konsisten.

Mijoo tersenyum melihat sang kakak yang sibuk berputar-putar, menjajal kibasan rok Eropa-nya yang baru disemprot pewangi pandan. Tubuhnya sendiri hanya dilapisi setelan kelabu berlengan panjang yang, jelas sekali, bukan merupakan busana yang bakal dikenakan wanita muda di pesta bergaya milik Kerajaan. “Tidak, terima kasih,” sahutnya. “Cukup kalian saja yang pergi.”

“Tapi kenapaaa?” Soul merengek, untuk setengah menit melepaskan fokus dari penampilannya. “Kau cantik, dan kau bukan jelmaan Cinderella yang tidak diperbolehkan pergi. Kau juga punya gaun di lemarimu.”

Masalahnya, Kakakku Sayang, rasanya Mijoo ingin menjawab, mimpi kita tak akan menjadi nyata—Pangeran bukanlah seseorang yang akan merendahkan dirinya untuk hidup bersama seorang gadis pinggiran. Namun Mijoo tahu ia akan menghancurkan harga diri kakaknya kalau ia mengatakannya keras-keras, maka ia hanya menggeleng, tidak ada apa-apa.

Namun rencana tinggallah rencana. Ibu Lee tidak menyukai ide meninggalkan salah satu dari mereka, sendirian, di rumah yang berdempetan dengan hutan. Soul menjerit gembira, sedang Mijoo mengangguk lesu, bergegas pergi untuk mengganti penampilan.

Mijoo menyemangati dirinya sendiri, berbisik bahwa segalanya akan baik-baik saja. Ia bisa menyelinap ke perpustakaan Kerajaan yang rumornya memiliki lima puluh lebih rak yang dipenuhi buku dari segala jenis genre. Ya, ia mengangguk sementara kedua mata tertuju pada jalanan gelap di samping kiri dan kanan, ia tidak perlu mengikuti pestanya, sama sekali tidak.

Sewaktu kereta kuda sederhana mereka sampai di pelataran Kerajaan yang berkelip-kelip dikarenakan bohlam yang memuat kunang-kunang cantik, Soul otomatis meloncat keluar, berlanjut dengan ayah lantas ibu mereka, yang kemudian diakhiri oleh Mijoo.

Ruang dansa sudah penuh sesak oleh manusia berpakaian necis yang menggemborkan mahal, dan Mijoo menemukan dirinya kesulitan menjumpai keberadaan perpustakaan yang menjadi poin utamanya di sini. Perpustakaan tidak mungkin ada di dekat-dekat sini, bukan? Siapa pula yang mau membangun tempat di mana ketenangan sangat dibutuhkan di sebelah kawasan pesta yang riuhnya minta ampun?

“Aku akan pergi ke sana!” Soul berbisik di telinganya sembari menunjuk meja tempat minuman disediakan—sekaligus tempat di mana lelaki-lelaki muda berdiri melingkunginya.

Mijoo mengangguk menanggapinya, mengawasi kedua orang tuanya yang sibuk berbincang dengan kerabat entah siapa di ujung ruangan. Sekarang dirinya sendirian, dan Mijoo tidak berniat menyia-nyiakannya. Ia bergegas menyeberangi ruangan, menuju pintu ramping yang tertutup. Setelah melemparkan pandangan menyelisik ke seisi ruangan dan meyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada satu pun yang mengawasi tindak-tanduknya, Mijoo menyelinap keluar.

Lorong kerajaan yang sepi menyambutnya. Mungkin para pengawal telah diperintahkan untuk menjaga pintu masuk dan ruang dansa, sehingga tak ada yang tersisa untuk memantau ruang lainnya, termasuk koridor panjang yang sekarang Mijoo injak.

Setelah keluar dari ruangan pesta bising yang melumpuhkan konsentrasinya, tidak sulit lagi untuk menemukan bilik perpustakaan. Pintunya, Mijoo amat bersyukur, tidak dikunci sehingga ia bisa dengan mudah menyelipkan diri masuk. Ia lantas dikejutkan oleh pemandangan sejoli yang tengah bermesraan—Mijoo tidak tahu apakah apa yang dilakukan pasangan itu masih bisa diwakilkan oleh kata bermesraan, karena mereka sudah berada dalam taraf yang lebih jauh daripada definisi kata itu yang selama ini Mijoo ketahui.

Mendadak, ia merasa malu. Tergesa Mijoo menyempalkan diri di balik rak tinggi yang berjajar ketika sejoli tadi saling melepas pagut—ia tidak tahu mengapa alih-alih meluncur keluar, ia lebih memilih melesat ke belakang rak. Namun sesuatu segera mengalihkan teka-teki yang berputar di kepala Mijoo detik ketika perempuan yang tadi dilihatnya bangkit, memperlihatkan siapa yang berada di bawahnya.

Sang Pangeran.

Mijoo kontan membayangkan bagaimana reaksi Soul seandainya kakaknya itu yang kini berada di posisinya. Marahkah ia? Kecewakah ia? Benci? Atau justru biasa saja, menganggap tindakan sang Pangeran normal adanya?

Peduli apa pun itu yang bakal melintas di kepala kakaknya, Mijoo tidak bisa menghentikan perasaan benci dan patah hati yang hendak menyelubungi dirinya. Ya Tuhan, inikah laki-laki yang selalu punya porsi tersendiri di hati para gadis muda? Gadis muda bodoh, seperti dirinya?

“Pergilah.” Suara beraksen itu memaksa. “Pergilah kembali ke pesta.”

Terdengar grasak-grusuk terburu-buru kemudian. Dari sela-sela buku yang berjajar rapi, Mijoo mengiringi kepergian perempuan tadi yang raut kecewa dan malunya tak sanggup ditutupi oleh apa pun.

Alih-alih mengikuti si perempuan keluar, sang Pangeran tetap tinggal, duduk bersandar di kursi kebesarannya. “Keluarlah,” katanya, kedua bola matanya tertuju tepat di mana rak tempat Mijoo bersembunyi berada. “Jangan takut, keluarlah.”

Lee Mijoo tidak percaya aura mengintimidasi seseorang bisa sekuat itu. Ia bahkan bisa merasakan jemarinya yang tengah menggenggam sebuah buku tua bergetar—namun seberapa ngerinya dirinya, Mijoo tidak menggerakkan satu pun otot. Ia tahu kalau dirinya menampakkan batang hidungnya keluar, ia bakal mati—Pangeran pasti ingin menjaga nama baiknya, bukan? Tapi setidaknya di sini, ia bisa menyelinap ke mana saja, rak-rak tinggi ini akan membantu melindunginya dari tangkapan sang Pangeran.

“Hei, kau tahu aku punya nama baik yang harus dijaga, ‘kan?” Mijoo makin terkokol mendengarnya. “Memangnya kau pikir aku mau kehilangan nama baikku hanya karena ketahuan melukai anak perempuan yang tidak tersohor sama sekali?”

Tepat seperti dugaannya. Mana mungkin laki-laki macam pangeran keterlaluan itu mau meluangkan waktunya menemui gadis-gadis sederhana seperti Soul atau Mijoo?

“Baiklah, terserah kalau kau tidak mau keluar. Padahal kau bisa menghabiskan waktumu dengan meminum secangkir teh denganku. Teman gadismu pasti bakal sangat terkejut mendengar dirimu bisa bertemu denganku.”

Ya, itu pun kalau kau membiarkanku melihat matahari besok pagi.

Mendengar gelakan kecil sang Pangeran, barulah Mijoo menyadari ia menyuarakan pikirannya barusan keras-keras.

“Berapa usiamu?”

Mijoo mengira-ngira apakah ia harus menjawab yang sejujurnya atau tidak. Bagaimana kalau setelah ia memberitahukan umur aslinya, Kerajaan tiba-tiba mengeluarkan perintah untuk mengumpulkan semua gadis seumurannya? Karena terlalu sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya, Mijoo kehilangan fokusnya terhadap gerak-gerik si lawan bicara—yang menyebabkan tak awasnya dirinya ketika Pangeran Nam mengendap-endap menuju tempatnya bersembunyi. Barulah konsentrasinya kembali setelah tangannya yang tengah menggenggam buku dipegang seseorang.

“Tertangkap.” Kata Nam Woohyun dengan ekspresi yang sangat puas.

Bukannya menyentakkan lengannya dan bergegas pergi, dunia Mijoo terhenti ketika matanya menangkap sosok di depannya. Laki-laki itu ada di seberang rak, mereka hanya terhalang buku-buku dan rak tadi—dan ini kali pertama Mijoo bersemuka dengan seseorang yang memiliki pangkat setinggi Nam Woohyun.

Mijoo menemukan dirinya kesulitan berbicara ketika mata sang Pangeran lekat tertuju padanya. Ia tak sanggup berkonsentrasi, apalagi memikirkan kalimat runtut, satu-satunya sesuatu yang melompat keluar dari mulutnya adalah,

“Apa yang kaulakukan dengan perempuan tadi?”

Yang, percayalah, segera ia sesali.

“Sebelum kau menyimpulkan sesuatu, ada baiknya mengetahui satu fakta terlebih dahulu, bukan?” Mijoo tak mampu bereaksi, tangan Pangeran yang melingkari lengannya terasa hangat dan membakar. Harusnya ia memilih gaun berlengan panjangnya saja tadi. “Kau tahu, tidak semua perempuan yang hidup di sekitar istana sepolos kau atau gadis-gadis lainnya yang tinggal di pinggir Kerajaan. Dan mereka tidak segan-segan untuk—”

“Tidak perlu menjelaskannya.” Mijoo menelan ludah. “Aku mengerti dan aku tidak akan memberitahukan itu pada siapa pun. Tidak pada ibuku, atau kakakku. Bisakah kau melepaskanku sekarang?”

Woohyun tersenyum, dan mendadak timbul keinginan dalam diri Mijoo untuk bisa membaca pikiran seseorang. “Tentu saja kau tidak akan.” Sahutnya. “Pergilah.”

Dan Lee Mijoo melakukannya, ia menyentakkan lengannya dari terkaman jemari Woohyun dan berlari pergi, tidak berhenti sedetik pun untuk menoleh.

Di akhir pesta, Raja mengumumkan dengan raut bahagia bahwa sang Pangeran telah menemukan calon istri.

Malam itu, di dalam kereta kuda yang melaju kencang membelah malam, Mijoo berharap wajahnya mudah dilupakan dan kini telah hilang seluruhnya dari memori Pangeran Nam.

End.

Finished: 16:01 | 02 January, 2015.
  1. Barusan aku nonton MV-nya Last Romeo lagi dan baru sadar kalau ceweknya itu Mijoo???? Terus ya sudah berhubung aku tiba-tiba pengen bikin fic berlatar kerajaan begini maka
  2. Plotnya gak jelas. Endingnya apa lagi (tapi boleh kok menyimpulkan siapa si calon istri ini hahay). Dan kentara banget gak sih kalo di akhir cerita aku udah bosen nyebut ‘sang Pangeran’ yang akhirnya kuganti dengan nama si tokoh???
  3. Terlalu banyak deskripsi yang gak penting huhu terus judulnya HUAHUA ITU MAKSUDNYA APAAN WA JUGA TIDA MENGERTI.
  4. Ini vignette keduaku setelah sekian lama bergelut dengan ficlet, maafkan kalau membosankan atau jangan-jangan kamu udah close tab duluan sebelum selesai baca? xD
  5. Sekarang aku bingung lebih milih siapa, Mark-Mijoo atau Woohyun-Mijoo😦
  6. Terima kasih banyak sudah membaca sampai di sini!

 

10 thoughts on “Unusual Romeo

  1. MEY, KENAPA AKU MALAH BAYANGIN MYUNGSOO YANG JADI PANGERANNYA😄 Apa wajahnya yang tipe-tipe pangeran nakal/? gitu. Tapi, Mas Namwoo juga oke😀
    Tulisan kamu ini yah, makin dilihat, bikin makin minder. Pa kabar sama kemampuan nulisku yang sudah wafat. HUHU. Pengen pake genre historical gini. Yang mana penjelasan detilmu itu malah kusuka, mey. Mba mijoo yang udah ogah-ogahan, tapi tetep aja berangkat, eh malah ketemu yang begituan😉 Bikin senyum-senyum sendiri, entah kenapa.
    Anyway, Ini bedtime-story yang sangat manis🙂 Keep writing!

    Like

    1. (gak mau ngaku dulu tapi…)
      AKU JUGA BAYANGIN MYUNGSOO PAS ADEGAN ANU ITU PAT GIMANA DONG TT kayak woohyun mukanya masih terlalu kalem buat kupakein scene gituan wkwkw.
      Hoh? kamu lagi kena wb Pat? cepet sembuh, ya! x) syukur deh kalo penjelasannya membantu bukannya malah bikin bosen abis kalo udah nyentuh genre historical gini pengennya dideskripsiin semua dari lemari sampai lantai wkwkwk xD
      Makasih ya Pat sudah mampir dan baca ini! Keep writing juga buat kamu x3

      Like

      1. HAHAHA ENTAHLAH WAJAH MYUNGSOO ITU SESUATU EMANG
        True banget itu mey, biar kayak di film-film gitu semua perabotannya di shot.😄
        HAHA Maap merusuh kembali~~

        Like

  2. haloo kak!

    kayaknya ini pertama kalinya aku baca fic kamu yaa kak? eheh. btw, Hani di sini. salam kenal yaa kak :))

    dan ya ampun Soul sampe latihan aksen ala putri-putri ya HAHAHAH. entah kenapa aku suka karakter Mijoo di sini. dia ini tipikal cewe yang cuek gitu, tapi aslinya baik ._. aku juga suka ceritanya, soalnya setting-nya kerajaan sih. jadi bayanganku latarnya kayak pas era victoria gituu eheheh :3

    nice fic, kaakk! keep writing yaa! sekali lagi, salam kenal! :))

    Like

    1. Halo Hani!
      Iya kali, ya? Meyda di sini, salam kenal juga, ya! Wah makasih banyak ya, Han (sok kenal banget sampai mendekin nama wkwk) wah iya! ini memang ceritanya aku pakein latar jaman victoria :3
      Iyaa, makasih banyak ya Hani sudah mampir dan baca ini! x3

      Like

    1. HUEEE aku juga suka Mark-Mijoo soalnya xD loh ada dua versi toh? Bentar bentar aku mau nonton yang satunya hehehe.
      Makasih banyak ya Fan udah mampir dan baca ini x3

      Like

      1. Iya. Sebenarnya versi soosoo(?) Tapi karena scenenya water terus comeback ifnt dekatan sama kejadian sewol makanya syuting ulang dengan alur dan cast yang beda.
        Hahahha iya sama-sama😄 aku tahu siapa yang dipilih woohyun…. itu aku :3

        Like

      2. OOOH, ya ampun kasian banget kerja dua kali xD WKWKWK iya terserah boleh ngambil kesimpulan siapapun Fan terserah kamu woohyun aku sungyeol sajalah xD

        Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s