Perhaps, I Waited Far Too Long


water, grunge, and sad image

Sembari kendaraan melaju kencang, aku memusing mencari satu alasan yang tak tak kunjung mampir di penalaranku yang belum pernah berhenti mengusut.

Kamu dan aku. Bah, di mana takdirnya?

Harusnya angin datang dan menyiram seluruh tubuhku, namun mereka tidak melakukannya dan aku, sekali lagi, dihentikan akan satu pertanyaan menohok yang telah datang membayangi dari tahun-tahun yang lalu. Ini bukan sekadar satu cerita di mana kisah kita tidak akan pernah jadi realitas, di mana kamu tersenyum ke arahku dengan satu binar spesial yang hanya ada karena diriku dan aku balik membalas dengan kasih sayang yang tak jemu menyorotimu—ini lebih dari itu dan, Demi Tuhan, aku berharap segala tentang kita sesederhana kamu menolakku dan aku ditinggal patah hati.

Tapi tidak, kamu selalu jadi bagian kompleks yang tidak bisa diuraikan dalam keberadaanku. Kamu selalu ada dan tidak ada. Kamu selalu teraih dan jauh. Kamu selalu membalas tapi—maafkanlah keserakahanku—bukan balasan itu yang kuinginkan.

Aku tak butuh senyum manismu yang kau lempar pada siapapun, atau jengit alis yang selalu kamu tampilkan kalau sesuatu membuatmu bingung, atau isakan kecil yang hanya pernah dua kali kudengar waktu hatimu patah menjadi dua. Mereka memang menunjukan bahwa kamu sosok ekspresif, namun mereka tidak punya satu tanda yang menjelaskan bahwa mereka tertuju untukku, hanya untukku.

Sekali lagi maafkan keserakahanku.

Demi Tuhan, tak pernah sekali pun aku berharap muluk, apalagi yang tidak masuk akal. Selama ini aku hanya senang bisa memandangmu, mengenalmu; namun persetan dengan segala klise yang tanpa henti bercucuran keluar dari bibirku sekarang, ketika angin kecil membelai bagian belakang kepalaku, aku menginginkanmu.

Kamu dengan dahi lebar yang selalu kamu samarkan dengan poni cokelatmu, kamu dengan kedua bola mata serupa almond, kamu dengan hidung mancung yang mungil, kamu dengan pipi tembam yang gampang dibuat merah, kamu dengan bibirmu yang rapat tertutup dan penuh, kamu dengan segala yang kamu miliki.

Dan harus sekali lagi kutekankan pada diriku—satu bagian dariku yang tak mau berhenti menggali sesuatu darimu—bahwa kamu itu ya kamu, satu makhluk yang seberapa pun seringnya aku bersimpuh, tetap tak bakal bisa dimiliki. Dan aku tidak sedang jadi orang pesimis yang membuatmu jengkel, aku hanya berusaha jadi realistis dan menelan bulat-bulat apa yang memang ditakdirkan untuk jadi milikku.

Yang itu berarti menyambut dengan ikhlas kenyataan kalau kamu adalah kamu dan aku adalah aku. Dan bahwa aku masih setengah mati menggilaimu.

What if someday you wake up, realizing that you can’t find even a single reason to stay existing?

2 thoughts on “Perhaps, I Waited Far Too Long

  1. MEYDAAA INI NYESEQ AMAT.

    takut dikira sok kenal, nabil introduce lagi deh. Kenalin, nabil 99L🙂 seumur ya? pertama nabil baca ff kamu itu yang ikon, yang hanbin. udah gitu langsung deh blusukan/? cari Authumnder dan taunya kamu di ifk juga ehe, baru gabung sih jadi nggatau sorii🙂

    cerita kamu bagus bagus. bahasanya ngalir, suka deh pokoknya mah. apalagi yang inu, nyeseq tapi nyampe sih, soale kealaman wahaha

    Like

    1. aku sampe harus buka fic-nya lagi bcs LUPA INI FIC TENTANG APA lmao ;;;; ah gapapa bil aku suka di-sok-kenalin kan serasa apa gitu ya hehehehe :3 yup kita seumuran!! bentar bentar, fic hanbin yang di ikonffindo itu yaaa??? kayaknya pernah liat kamu di sana wjwjw. hoh iya aku di ifk numpang nama doang tapi wkwk udah ga sebegitu aktif karena UN!! ah makasih banyak Bil!!! tulisanmu juga pasti bagus tunggu aku visit wpmu ya!!

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s