The Upswing of Catastrophe


thE UPSWING OF CATASTROPHE

The Upswing of Catastrophe

by Authumnder

featuring [Actor] Ahn Jaehyun & You/OC

genre slight!Comedy, Fluff, AU | length 2457 words, Oneshot | rating Teen.

“Halo? Apa kucingmu baik-baik saja? Dari tadi aku mendengarnya mengeong terus, butuh bantuan?”

***

“Halo? Apa kucingmu baik-baik saja? Dari tadi aku mendengarnya mengeong terus, butuh bantuan?”

Senyap sejenak. Sebenarnya, kamu bukan orang yang suka berbasa-basi begini dengan tetanggamu. Salahkan perkuliahanmu yang memberimu setumpuk tugas setiap harinya sampai-sampai kamu tidak punya waktu bersosialisasi dengan orang lain—orang kumpul-kumpul bersama temanmu saja jarang. Lagi pula, meskipun kamu sudah tinggal di apartemenmu ini selama lebih dari setahun, kamu toh hanya mengetahui nama tetangga kanan-kirimu. Yang lain? Boro-boro.

Terus barusan, kamu mengobrol dengan siapa?

Oh, itu tetangga yang apartemennya selantai di bawahmu. Kamu tidak kenal penghuninya, tapi sedari tadi pagi hingga sekarang, kucing milik tetanggamu itu berteriak-teriak melulu, membuat telingamu pedas dibuatnya. Terlebih, kamu paling tidak tega kalau harus mendengar/melihat kucing merintih. Iya, kucing memang hewan favoritmu, makanya kamu nekat mengetuk lantai apartemenmu (alias atap apartemen empunya kucing) dan bertanya kendala yang mungkin kucing malang itu alami.

“Hai, bisa mendengarku?” Karena tidak mendapat jawaban, terpaksa kamu ulang lagi pertanyaanmu.

Syukurlah, kali ini seseorang di bawah sana berdeham. “Halo juga. Ugh, aku tidak tahu siapa kamu, tapi kurasa kucingku butuh bantuan.” Kata orang itu dengan suaranya yang besar dan dalam, membuatmu diam-diam merinding. “Dan, ugh, aku baru di sini, jadi aku tidak tahu di mana tempat praktek dokter hewan—”

Tiba-tiba, kamu jadi bersemangat. Iyalah, baru tadi pagi sahabatmu memintamu mengiklankan rumah sakit hewan kecil-kecilannya yang baru dibuka dua hari yang lalu. Kalau begini, ‘kan, hitung-hitung promosi, iya, enggak?

“Oh, jangan khawatir!” Kamu buru-buru berseru. “Aku punya kenalan dokter hewan. Kalau kamu mau, aku bisa mengantarmu ke sana. Nama dokternya sudah besar, lho!” Oke, kamu tahu kamu baru saja berbohong mengenai ‘nama besar’ itu, tapi kamu hanya tidak ingin tetanggamu itu meragukan temanmu si dokter hewan—atau kalau-kalau tetanggamu itu bakal menolak dan memilih mencari dokter hewan lainnya.

“Serius? Kamu—maaf, siapa namamu?” tanya orang itu, berdeham sekali lagi—panik mungkin, karena pada saat yang bersamaan, kucing itu mulai mendengking-dengking kesakitan. Kamu jadi ikutan ngeri.

“Park Seul.” Kamu buru-buru menjawab. “Dan aku serius. Kamu tidak usah khawatir merepotkan, tugas-tugasku sudah selesai kok barusan. Kalau kamu mau, beri tahu aku nomor kamarmu saja, nanti setelah ganti pakaian aku langsung ke sana.”

Dari sini, kamu bisa mendengar tetanggamu itu menghela napas lega. Kamu jadi senang bisa membantu orang lain. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui, iya ‘kan?

“Nomor 49.” Jawab tetanggamu. “Omong-omong, namaku Ahn Jaehyun, dan terima kasih banyak ya atas bantuanmu.”

Kamu terkikik—suara Ahn Jaehyun kedengaran manis sekali sewaktu bilang ‘terima kasih’. “Tidak masalah! Tunggu, ya!” Kamu bergegas masuk ke kamarmu dan menyambar jaket tebal dan sepatu kets.

Lima menit kemudian, kamu sudah berdiri di depan apartemen Jaehyun. Kamu memencet bel dan melambaikan tanganmu ke arah interkom—kalau-kalau Ahn Jaehyun ini tipe orang parnoan yang selalu mengecek interkom tiap kali ada tamu. “Hai! Ini Park Seul. Sudah siap?”

Pintu segera terbuka setelahnya. Dan—kamu mengucek matamu, sekali, dua kali—muncullah tetanggamu yang ternyata sangat tampan dan keren dengan pakaian trendi yang menjeritkan kata ‘mahal!’ dengan sebelah tangan menggenggam keranjang kucing besar.

Entahlah, tapi tiba-tiba kamu jadi panik sendiri. Setengah hati kamu juga menyesali mengapa kamu tidak berpikir orang macam apa Ahn Jaehyun itu sebelum menawarkan bantuan. Gantengnya sih enggak apa-apa, tapi bagaimana kalau sosok di depanmu ini psikopat edan? Siapa yang tahu, ‘kan?

“Maaf ya, kalau suara kucingku mengganggu aktivitasmu.” Kata Jaehyun, mendorong keranjang berisi kucing itu ke depan. Kamu tidak bisa menghentikan bahumu yang segera menunduk ke depan untuk mengecek kucing Jaehyun yang sakit itu.

Ih, imut banget!” Kamu setengah menjerit dan setengah berteriak. Yeah, ini memang reaksi alami kamu kalau bertemu kucing. Meskipun ibumu bilang kalau menjerit seperti itu enggak ladylike banget, kamu tetap tidak bisa menghilangkan kebiasaan itu. Tanganmu tanpa bisa ditahan terjulur ke depan untuk mengelus-elus kepala kucing bewarna putih dengan totol-totol hitam yang manis. “Scottish fold, ya? Siapa namanya?”

Kamu buru-buru tersadar dari kegiatanmu mengagumi kucing milik Jaehyun itu, karena si Totol Hitam mulai berteriak-teriak lagi, kali ini dengan mata sendu dan berair yang membuatmu kepingin mendekapnya. “Yuk, buruan ke halte. Perjalanan dari sini ke rumah sakitnya enggak jauh-jauh amat, kok!” Katamu, menunjuk ke arah lift.

Ehm, naik mobil saja bagaimana? Kalau harus naik bus repot nanti, apalagi bawa keranjang gede begini.” Jaehyun menawarkan selengkung senyum ke arahmu, yang membuat tengkukmu tiba-tiba gatal. Malu-malu kamu mengangguk.

Ternyata, tebakanmu mengenai Ahn Jaehyun yang jelas orang ‘berduit’ benar adanya. Atau mungkin karena sudah lama sekali sejak kamu hidup merdeka dengan uang mengalir seperti air—duh, mahasiswa memang dituntut hidup kere, ‘kan? Pokoknya, kamu segera menyesal tidak berdandan terlebih dahulu tadi sebelum melesat turun ke apartemen Jaehyun, karena sekarang kamu agak kelihatan seperti gembel tersesat—itu pikiran kamu saja, sih, karena sosok di  samping kamu yang sedang membelokkan mobil kelihatannya tidak berkeberatan dengan pilihan kostum kamu.

“Eh, Seul, alamatnya dong. Sekalian kuatur di GPS,” pinta Jaehyun, menyengir.

Kamu yang sedang sibuk mengelus si Totol Hitam memperbaiki posisi dudukmu—yang tadinya memuntir ke belakang karena Jaehyun meletakkan keranjangnya di kursi belakang—dan buru-buru menyebutkan alamat rumah temanmu karena si Totol Hitam mulai mendengking-dengking lagi. Memang, sih, kamu punya banyak kucing di rumah, tapi kamu nyaris tidak tahu apa-apa tentang penyakit-penyakit kucing beginian.

Mobil mahal Ahn Jaehyun melaju dengan kecepatan sedang.

Iseng, kamu bertanya, “Jaehyun, siapa namanya?” sembari menunjuk kucing dalam keranjang yang masih menatapmu.

Jelas sekali Jaehyun ini juga sosok pecinta kucing, karena begitu melihat si Totol  Hitam melongok dari dalam keranjang, menunjukkan raut memelas, tangannya otomatis tergerak ikut mengelus—yang dalam perjalanannya justru menabrak tanganmu yang masih berada di pinggiran keranjang.

“Eh, maaf,” kata Jaehyun, tertawa pelan. “Oh, namanya Ahnju.”

“Ahnju?” kamu mengulang dengan ekspresi konyol, diam-diam tertawa. “Ahnju kayak nama kamu, Ahn Jaehyun?”

Malu-malu, Jaehyun tertawa. “Konyol banget ya, namanya? Habis waktu itu aku sedang kekurangan ide,” jelasnya. “Kamu juga suka kucing, Seul?”

Kamu mengangguk cepat. “Kucing favoritku itu scottish fold. Terus munchkin. Uuh, mereka tuh imut banget! Setiap lihat foto-foto mereka di internet, rasanya kepingin aku tarik terus peluk. Sayang banget aku enggak bisa pelihara kucing sendirian, soalnya sibuk kuliah terus setiap hari.”

“Kamu masih kuliah?”

Eh, iya, angkatan tua,” kamu menyengir. “Harusnya sih lulus tahun lalu, tapi waktu itu aku kena tifus jadi harus absen nyaris tiga bulan. Ya sudah deh,” kamu mengedikkan bahu. “Tertunda lagi lulusnya. Omong-omong, kamu sudah kerja atau masih kuliah juga?”

“Kerjalah,”  sahut Jaehyun, tertawa. “Masa iya muka setua aku masih kuliah? Jadi dosennya, kali,”

Nyaris saja kamu keceplosan bilang ‘iya tua, tapi tetap saja ganteng’. Untung masih bisa kamu rem. Kalau enggak? Duh, jadi bubur deh muka kamu!

“Kamu kerja apa?” tanyamu lagi, kepingin tahu. Belum sempat Jaehyun jawab, kamu sudah melihat gedung rumah temanmu. Buru-buru kamu berseru, “Berhenti! Itu rumahnya,”

Tidak perlu waktu lama bagi Jaehyun untuk memarkir mobilnya (setelah kamu teliti, tetanggamu itu juga sangat pandai menyetir). Dua menit, kalian berdua sudah berjalan menuju pekarangan rumah temanmu yang bercat putih—“Biar mengeluarkan aura rumah sakit,” jelas temanmu saat kamu membantunya memilih warna cat—dan segera saja disambut resepsionisnya alias adik temanmu itu.

“Halo, Kak Seul!” sapa adik temanmu itu, melambai riang. Kemudian matanya jatuh ke Jaehyun yang sibuk menggotong keranjang dengan Ahnju mengeong di dalamnya. Kamu tahu sekali apa yang sekarang tengah berkecamuk di pikiran Yoojin—adik temanmu itu. Yoojin pasti sedang mengagumi Ahn Jaehyun di depannya, atau bertanya-tanya apakah kamu punya hubungan tertentu dengannya. Beruntung, Yoojin mampu menguasai dirinya kembali. “Kak Yejin ada di dalam ruangan, langsung ke sana saja, Kak.”

Yuk, Jae, langsung masuk saja.” Kamu tidak bisa menahan senyummu—peduli amat dibilang sok kenal oleh Jaehyun gara-gara asal memendekkan nama orang. Selanjutnya, kalian berdua sudah kembali berjalan menuju ruangan periksa. Tanpa mengetuk pintu, kamu masuk begitu saja, yang disambut dengan temanmu Yejin yang sedang mengecek seekor anjing dalam kandang.

Begitu menyadari kehadiranmu, buru-buru Yejin mencetus, “Oh, Seul! Tadi pagi aku bertemu dengan Sung Yeol—cowok yang kamu suka itu—tapi ternyata dia sudah punya pacar. Please, jangan mengunci diri di kamar selama sebulan penuh habis ini, ya—” curhatan tidak bermutu Yejin yang berhasil menghancurkan imejmu terpotong ketika ia menyadari kehadiranmu yang ‘tidak sendirian’.

Duh, kamu gemas banget kepingin mencubit Yejin karena membocorkan rahasiamu yang naksir pada adik kelas—cuma sebagai fans sebenarnya, habis Sung Yeol itu tampan banget!—ke Jaehyun.

“—Eh, maaf, ada yang bisa saya bantu?” Yejin meralat.

Mendengus jengkel, kamu memelototi Yejin sebelum berbalik ke arah Jaehyun dan menyuguhkan senyum simpul penuh rasa malu. Kamu menunjuk kursi yang tersedia dan mengisyaratkan Jaehyun untuk duduk di sana. Sementara Jaehyun sibuk menenangkan Ahnju yang ribut berteriak-teriak, kamu berkata tanpa suara ke Yejin, “Kugorok kamu habis ini!” yang dibalas dengan cengiran tak bersalah.

“Jadi, sejak kapan kucing kamu seperti ini?” tanya Yejin, segera mengubah ekspresi.

Diam-diam kamu merasa bangga akan profesionalitas kawanmu itu, setidaknya Yejin tidak akan mempermalukanmu dengan pelayanan pas-pasan atau bahkan rendahan. Kamu menghela napas lega, melemparkan satu lirikan singkat ke arah Jaehyun yang kini sibuk membuka mulut, berusaha menjelaskan perihal kucingnya yang sakit.

Tidak tahu harus melakukan apa, kamu memindah atensimu lagi, kembali ke si Totol Hitam yang matanya berair dan sekali-dua kali membuka mulut mungilnya. Ugh, kamu merasa amat bersalah harus menjadi saksi kesakitan Ahnju. Sebelum matamu yang ganti berair, buru-buru kamu alihkan penglihatanmu kembali ke Yejin, yang tengah mengangguk-angguk dengan mimik yakin dan menguasai keadaan. Yah, semoga kawanmu itu memang benar-benar memahami kondisi Ahnju—karena kalau tidak, kamu sendiri yang bakal memberinya tendangan di pantat dan melaporkannya ke kepolisian hewan (well, siapa tahu kantor kepolisiannya memang benar-benar ada di dunia paralel!).

Setelah berkonsultasi beberapa saat, sesi tanya-jawab itu akhirnya berakhir. Kalian berdua, kamu dan Jaehyun tentu saja, bukan kamu dan Yejin, diusir secara halus keluar ruangan oleh si dokter hewan. Yejin masih sempat-sempatnya mengerlingkan mata ke arahmu dua detik sebelum ia menutup pintu—kamu memang geram, tapi tetap saja semburat merah berhasil membuat jalannya ke pipimu.

“Dia… bakal baik-baik saja, ‘kan?” Jaehyun membuka mulutnya. Saat kamu meliriknya, dia terlihat sangat khawatir yang membuatmu merasa diberi tugas baru; menenangkannya. “Kalau tidak..”

Kamu melambaikan tanganmu ke depan, membubuhkan tawa kecil yang kamu harap kedengaran renyah di telinga untuk mengurangi ketegangan yang membubung di antara kalian berdua. “Enggaklah, percaya deh, semua bakal baik-baik saja. Yejin itu dokter hebat dan dia pasti tahu apa yang harus dilakukan.” Katamu, namun reaksi yang kamu harapkan dari Jaehyun tidak muncul sama sekali, maka kamu buru-buru memutar otak, mencari ide.

Selang beberapa detik, atau menit, kamu akhirnya menemukan sesuatu yang mungkin bisa mengalihkan konsentrasi Jaehyun—paling tidak untuk sebentar. Tentu saja, tanpa berpikir dua kali, kamu menceploskan ide itu.

“Hei, Jaehyun, suka fish & chips, enggak?”

Meski dengan dahi yang tertekuk, tetanggamu itu mengangguk pelan—jenis anggukan yang imut, kalau kamu boleh memberi penjelasan. Hhh, kamu jadi kepingin membekapnya karena Ahn Jaehyun tiba-tiba jadi kelihatan seperti kucing di matamu (bagaimana hal itu terjadi, hanya Tuhan yang tahu).

Tergesa kamu menelan ludah, berusaha melenyapkan pikiranmu barusan (itu, lho, yang berhubungan dengan imut dan bekap). “Ya sudah, yuk, kita pergi beli itu. Tadi ‘kan Yejin yang bilang untuk keluar sebentar, mencari udara segar?”

“Iya, deh,” Ahn Jaehyun bangkit dari kursinya. Sebelah lengannya mengaduk saku celana; tebakanmu, dia sedang mencari kuncinya.

Heh, enggak usah naik mobil segala. Tokonya enggak jauh-jauh amat, kok. Paling cuma tujuh menit jalan kaki.”

Jadilah sekarang kamu dan Jaehyun berjalan beriringan di trotoar yang tidak begitu ramai, sementara kendaraan berlalu-lalang tanpa henti di samping kiri kalian. Jaehyun tidak bicara apa-apa, hanya sesekali menghela napas panjang yang membuat dadamu jadi ikut-ikutan terbelit, setengah karena khawatir, setengah lagi karena cemas (hei, dua-duanya sama, tahu!).

“Kamu pernah punya kucing selain Ahnju?” kamu akhirnya membuka percakapan, kurang nyaman dengan tekanan yang membuatmu serasa dicekik.

Jaehyun tersenyum, menghargai usahamu mengalihkan perhatiannya. “Pernah, dulu waktu aku masih tinggal di rumah orang tua.”  Dia tertawa. “Kamu sendiri?”

Kamu mengangguk heboh. “Pernah, dong! Banyak banget, malah. Ibuku pecinta kucing juga soalnya. Nenekku juga. Kayaknya semua keluargaku kecuali ayahku suka kucing, deh.”

“Kenapa kok ayahmu enggak suka?”

Tampaknya Jaehyun sedikit-demi-sedikit mulai melupakan kondisi Ahnju yang memedihkan. Kamu mengirimkan satu senyuman kecil yang dalam maknanya (paling tidak menurutmu), melanjutkan, “Enggak tahu juga. Ibuku pernah cerita kalau ayahku itu alergi bulu kucing. Tapi selama kami memelihara kucing, nggak pernah, tuh, gejala alerginya kambuh. Hah, paling alasan doang.”

Jaehyun tertawa. Dan begitulah, percakapan tertunda sebentar sewaktu kaki kalian menyentuh lantai toko yang kamu ceritakan punya fish & chips yang “eksotis”. Kamu memerintah Jaehyun untuk duduk saja di bangku yang disediakan, sementara kamu mengantre membeli pesanan, namun tetanggamu itu menolak, bilang kalau tugas seorang gentleman-lah membeli makanan itu.

Well, mana bisa kamu membalas lagi? Maka kamu beringsut mundur, memilih bangku yang paling dekat dengan meja tempat si penjual melayani pembeli, sembari melihat-lihat keadaan sekitar.

Mendadak bungkusan cokelat fish & chips yang kamu kenal baik itu ada di depan matamu, dengan senyum Ahn Jaehyun jadi pengantarnya. Kamu buru-buru meraihnya, bilang terima kasih dan basa-basi ingin mengganti uangnya, yang langsung ditolak Jaehyun (huh, tepat seperti yang telah kamu tebak).

Saat kalian sampai di klinik, Yejin sudah duduk-duduk asyik di meja resepsionis, berbincang dengan Yoojin. Segera saja percakapan mereka terhenti waktu kamu menyerukan nama mereka.

“Oh, sudah selesai jalan-jalannya?” tanya Yejin dengan tawa kecil terpampang, membuatmu gemas ingin melemparnya dengan sandal. Kamu curiga jangan-jangan Yejin tidak diajarkan adat basa-basi.

Namun berbanding terbalik dengan ekspresimu yang siap menjungkir balikkan meja, tetanggamu Jaehyun justru tertawa, kedengaran renyah dan krispi dan lembut (perpaduan yang aneh, tapi segala tentang kalian berdua memang aneh, jadi tidak masalah).

“Ahnju baik-baik saja, operasinya berjalan lancar.” Tutur Yejin pada Jaehyun, sementara kamu mengekor di belakang. “Sakitnya itu karena dia tanpa sengaja menelan karet gelang. Sudah diambil, kok, tenang saja. Tapi, cuma saran, ya, lain kali lebih baik berhati-hati.” Yejin tertawa lagi, mendorong pintu prakteknya sampai terbuka.

Dan di sanalah si Totol Hitam yang tadi tak henti mengerang, tertidur lelap dengan posisi telentang. Kalau saja kucing itu tidak sedang dalam keadaan hangover (maksudnya dibius) dan baru saja menjalani operasi, kamu pasti sudah menubruknya dan menenggelamkan wajahmu ke bulunya. Hah, sayang sekali.

Kini Jaehyun dan kamu sudah duduk rapi di dalam mobil (Ahnju sengaja ditinggal di klinik untuk mendapatkan perawatan setelah-operasi), dan kenyataan kalau kalian hanyalah orang asing sebelum ini menyerbu kembali, membuatmu bertanya-tanya apakah ini akan menjadi pertemuan pertama sekaligus terakhir kalian—karena, tahu sendirilah, kamu tidak punya alasan lain untuk tetap berpapasan dengan si tetangga lantai bawah. Tiba-tiba napasmu tercekat dan kesedihan yang tidak masuk akal menguasai dirimu.

Sayang sekali setelah ini kamu tidak bisa lagi bertemu dengan si Totol Hitam.

Dugaan-dugaan itu terus berkubang di kepalamu sampai Jaehyun tiba-tiba memecah kesenyapan dengan kalimatnya yang bagai kembang api beserta petasan di kepalamu.

“Makasih banyak ya, Seul. Dan kalau kamu tidak keberatan atau sibuk, aku rencananya ingin mengajakmu makan malam besok, atau kapan saja sebisa kamu. Bagaimana?”

Kamu, seperti yang sudah diharapkan, mengangguk, muka berseri-seri dan senyum mengembang lebar—pikiran akan kemungkinan-kemungkinan romantis berlarian di kepalamu dan kamu terpaksa berdoa agar Ahn Jaehyun tak punya kemampuan membaca isi kepala orang lain.

Please, jangan sampai dia tahu!

end.

finished: 22:14 | January 09, 2015.

i couldn’t believe i did this!! this fic was first made on october 2015 and i’d stopped writing in the middle because my laptop had broken down and when it was getting back to life i couldn’t continue writing it even when i forced myself to lol. despite the plotholes and unnecessary descriptions, i hoped you’d find this interesting and nice and blah-blah because i really had fun making this!! xD also, Ahnju is real and you could find him/her on Jaehyun’s instagram!! i really loved Ahnju, though! it’s so cute I can’t. TvT thanks so much if you read this and i’d really appreciate it if you leave something for me (preferably chicken nugget because i’m craving for it but hey let’s not push my luck too far so a COMMENT would be nice!!!)❤

2 thoughts on “The Upswing of Catastrophe

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s