Secretly and Dumbly


secretly&dumbly

Secretly and Dumbly

By Authumnder

featuring [BTS] Taehyung, Jimin & Hoseok

genre Comedy, School-Life, AU | length 728 words, Ficlet | rating Teen.

Ideas taken from BTSFFI’ white version.

“Singkat cerita, kami tertangkap.”

***

 “Kayaknya aku berhasil.”

Aku berhenti menulis, mengalihkan atensi kepada Hoseok kawanku yang lima belas menit lalu menerobos kamarku lantas telentang di atas kasurku, tanpa sepatah kata pun. Kalau dia tidak bicara, maka aku juga tidak—itu regulasi tak tertulis yang sudah ada dari jaman kami masih memakai dasi sekolah dasar.

“Berhasil apa?” tanyaku.

Hoseok menghela napas, melemparkan tatapannya ke langit-langit kamarku yang kelabu—usaha gagal kami untuk mengecatnya dengan cat biru gelap yang menyala dalam kegelapan, lalu menyahut pelan, “Tahu, ‘kan, tiket dan sebagainya.”

Pantatku refleks melompat dari busa kursi, “Kau nggak tahu betapa Jimin dan aku nyaris mati kebosanan menunggumu mengatakan itu!” jeritku histeris. “Biar kutelepon dia.”

Dua belas menit kemudian Jimin datang, badan bersampul celana piama dan kaus kusam yang punya lubang di sana-sini. Kuduga ia tidak sempat berganti pakaian, langsung saja berlarian dari gang sebelah ke rumahku.

“Taehyung! Taehyung! Mana Hoseok?! Mana si anak sialan itu?!” seru Jimin berulang-ulang dengan heboh tanpa mengecek sekitar terlebih dulu. Kemudian matanya mendarat pada ranjangku dengan Hoseok di atasnya, mencibir. Jimin melanjutkan langkahnya mendekat, menggoyang-goyangkan Hoseok sampai poni anak itu tergoyang ke sana-kemari. Ekstrim. “Kau serius mengatakannya, ‘kan? Kau tidak bohong, ‘kan?!”

Hoseok menghalau poninya jatuh menutupi mata. “Kubilang iya, anak setan. Dan aku nggak akan memberimu satu kalau kausebut aku anak sialan sekali lagi.” katanya.

Buru-buru Jimin melepaskan cengkeramannya dari Hoseok, memasang senyum manis khas penjilat di muka. Untuk urusan menjadi sepalsu mungkin, Park Jimin ini ahlinya.

“Tenang saja, Hope, aku tidak akan memanggilmu itu lagi. Bahkan mulai sekarang aku akan menggantinya dengan Anak Emas.”

Aku dan Hoseok kontan mencibir.

“Omong-omong, Hoseok, kenapa tadi kau bilang ‘kayaknya’? Jangan bilang kau sebenarnya belum mendapatkannya?” tanyaku, kedua alis menyatu.

Jimin mundur selangkah, kegarangan terlukis di matanya—dia jelas siap menyembur kalau ketahuan kawanku yang satu itu ternyata belum mendapatkan tiketnya.

Untung saja senyuman lebar seorang kuda Hoseok kembali, lantas ia mengeluarkan tiga lembar kertas. Sedetik kemudian, kami bertiga sudah membentuk lingkaran kecil, berloncatan dengan teriakan yang bisa membuat tuli masyarakat.

“Sekarang, nih?”

Kami bertiga sedang berjongkok di balik semak-semak lapangan belakang sekolah, ransel tercangklong dengan aman di punggung dan badan sempurna tersembunyi di balik tanaman.

Nggak, kau tinggal saja di sini seharian terus keluar besok,” balasku sarkastis.

Hoseok tergelak, jenis tawa yang ditahan-tahan—habis kalau dia mengeluarkan tawanya yang tanpa filter, satu sekolah pasti sudah mendengarnya dan bakal menyerbu kami.

“Buruan, yuk.” Kataku, menyelimpat mendekat ke tembok belakang yang tingginya nyaris mencapai dua meter. Beruntung Jimin sudah meminjam tangga milik penjaga sekolah kemarin.

Jimin dan Hoseok mengangkat tangga tadi, menyandarkannya ke tembok, sementara aku menggulung lengan kemeja, siap naik. Hap!

Giliran Jimin—Hoseok sendiri yang meminta supaya dia jadi yang terakhir, mungkin dia merasa itu sudah kewajibannya untuk mengalah mengingat usianya yang tua setahun. Menurutku, sih, dia lebay, orang Jimin dan aku selalu menganggapnya seumuran, memanggil hyung saja tidak.

Celakanya, saat kaki pendek Jimin berada di tangga teratas, tergopoh-gopoh berlari Bu Kim, guru BP kami, dengan pentungan di tangan—aku memang tidak melihatnya, tapi aku bisa mendengar Hoseok mulai berteriak-teriak histeris dan menyebut ‘Bu Kim! Bu Kim!’ secara berulang-ulang.

“Anak nakal! Turun kalian semua! Mau jadi apa kalian kalau membolos pelajaran begini!”

Singkat cerita, kami bertiga tertangkap—karena Bu Kim, menurut Hoseok, adalah mantan atlet lintasan sehingga mudah saja baginya untuk menghampiri tangga dan memegangi kaki Jimin serta Hoseok.

“Kubilang apa, tidak usah berangkat saja sekalian,” bisik Jimin sangat pelan, sehingga hanya telingaku dan Hoseok yang mendengarnya.

Hoseok kelihatan seakan-akan ia ingin membalas, namun kegiatannya itu dihentikan oleh amukan Bu Kim.

“Sekarang jelaskan alasan kalian membolos!”

Kami bertiga berkontemplasi, antara mengatakan yang sejujurnya atau berbohong. Sialnya, Pak Park yang baru datang memutuskan untuk menggeledah saku-saku kami, dan lebih celaka lagi, Hoseok ternyata menyimpan lembar tiket-tiket itu di saku celananya.

Alamak!

Menerima tiket-tiket itu, kening Bu Kim makin mengerut sebelum ia mendongak lagi untuk memelototi kami.

“Park Jimin! Jung Hoseok! Kim Taehyung! Kalian membolos untuk menonton konser, hah?! konser Red Velvet, hah?!”

Hoseok berusaha beralasan, “Red Velvet itu keren banget, Bu! Saya bahkan hapal gerakan menarinya—” dia mulai bergerak-gerak seperti manusia kesetanan.

Jimin menambahkan, “Ya! Mendapatkan tiket konsernya saja susah sekali, Bu! Ibu harusnya—”

Aku menepuk dahi. Dalam keadaan beginilah aku mulai mempertanyakan alasan mengapa aku mau-mau saja berteman dengan mereka.

Delikan Bu Kim makin menajam menatap kami.

Sudahlah, maut rupanya telah berada di depan mata kami bertiga.

“DIAAAAM! SEKARANG PERGI BERSIHKAN TOILET ANAK LAKI-LAKI! TIKET KALIAN SAYA SITA!”

End.

Finished: 12:52 | December 25, 2015.

(a/n): diikutkan ke event-nya btsffi tapi… KALAH😄 dan kayaknya juga di-post di sana tapi like I already said before, i want to compile all of my stories here, in my own wordpress so… :) thank you so much for reading this! 

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s