In Which We Escaped


black and white, hole, and dark image

In Which We Escaped

Kang Seulgi & Lee Seunghoon

Fantasy, AU. 657 words.

Detik ketika ia membuka mata, dunianya terjungkir.

Kang Seulgi bukan pemimpi dan, baiklah, ia memang pecinta film horor dan fantasi, namun otaknya masih bekerja dengan sangat baik dan normal—dan Seulgi yakin seratus persen bahwa sekarang nyawanya sudah murni terkumpul menjadi satu: tidak ada lagi satu celah dalam dirinya yang bakal menipu kesadarannya.

Ini bukan dunianya. Telapak kakinya yang masih bersampul flatshoes—yang, seingatnya, baru tadi pagi ia kenakan untuk perkualiahan hari ini—menjejak jalan raya yang tidak ia kenal sama sekali. Bahkan alam bawah sadarnya yang biasanya awas terhadap hal-hal seperti ini sama sekali tidak menunjukkan sinyal, apa pun.

Seulgi mulai khawatir. Kengerian yang makin memuncak tiap detiknya mulai menunjukkan hasilnya di kening: keringat dingin. Sesuatu jelas sekali tidak berada pada tempat aslinya. Kepalang bingung, Seulgi mulai memindahkan tungkainya dari aspal yang basah dan segelap arang, melewati puluhan manusia yang berlalu-lalang—jangan, ia mengingatkan dirinya sendiri, jangan sampai terlibat kontak mata dengan mereka. Pemikiran itu bukannya tanpa dasar, Kang Seulgi jenis manusia yang amat rasional; namun, barusan kedua matanya menangkap sesuatu yang menyimpang dalam sorot mata makhluk hidup itu.

Mati.

Makhluk yang berjalan di samping kanan dan kirinya tak berjiwa, dan setengah mati Seulgi berusaha mengendalikan getar tubuhnya, berlagak supaya mereka tak membaui ketakutannya. Bergaya seakan-akan dirinya adalah bagian dari kerumunan itu.

Namun Seulgi takut, seluruh tubuhnya menggelenyar gentar, bahkan menarik lantas menghela napas saja sulit. Bernapas, bisiknya, bernapas. Barulah disadarinya bahwa tidak ada tanda-tanda hirupan atau keluaran oksigen dari pergerakan tubuh si makhluk.

Tidak apa-apa. Seulgi mengatupkan kedua kelopaknya selama sedetik, menabahkan dirinya sendiri. Ini akan berakhir. Makin cepat ia gerakkan kedua kaki, melangkah tergesa membelah segerombol entah-apa, kedua mata terpancang erat-erat ke tanah yang dipijaknya. Seulgi kini berada di tengah-tengah jalan raya tanpa kendaraan, hanya ada makhluk berkaki dua yang eksistensinya tak terdefinisikan sementara lampu lalu lintas berkedip-kedip mengganti warnanya—merah, kuning, hijau, merah lagi. Percuma, tak seorang pun memberi perhatian singkat pada si benda bermata tiga dan berkaki satu.

Lalu entah karena dorongan apa, tiba-tiba kepala Kang Seulgi mendongak—mencari apa, dirinya juga tak tahu. Langit masih sama kelabunya, dunia di sekitar masih sama janggalnya, namun ada sesuatu di sini. Seulgi tak tahu bagaimana, tetapi satu bagian darinya berhasil mencium aroma kegentaran yang sama, keputusasaan yang nyaris mirip dengan satu yang kini berkumpul di dadanya. Kedua bola matanya refleks menari-nari, memutar sana-sini mengecek keadaan sekitar—sampai benda itu berhenti pada sepasang yang lain.

Seorang laki-laki berdiri di sana, tubuh berlapis kemeja kusut, rambut masai, dan sorot mata penuh kegelisahan.

Seulgi tidak tahu bagaimana detailnya, yang otaknya ingat hanya laki-laki tadi bergerak dengan sangat cepat mendekati dirinya di seberang, lantas tiba-tiba tangannya disambar oleh sesuatu yang ternyata adalah lengan si pemuda.

Mereka berlari menerobos jalan raya yang penuh akan ketidakhidupan.

“Siapa kau?” Seulgi menemukan dirinya berteriak. “Apa kau—”

“Diam,” laki-laki tadi menjawab dengan sangat cepat sementara cekalannya mengencang. “..atau mereka akan mendengar.”

Satu sisi darinya tahu bahwa si pemuda asing ini bukanlah bagian dari kerumunan tadi. Maka ia mengangguk, langkah kaki makin lebar berpindah. Tungkainya dipaksa berhenti ketika keempat kaki-kaki mereka berada lima senti dari sebuah gelombang besar yang berputar tanpa henti. Gelap, hitam, dan bukan sesuatu yang sensasinya ingin Seulgi rasakan dalam hidupnya.

“Namaku Seunghoon dan ini satu-satunya jalan keluar.”

“Apa?” napas Seulgi tersedak, keras namun pecah di akhir. “Aku tidak—”

Seunghoon menolehnya sedetik dengan tatapan tak bermakna, lantas beralih menghadap lubang raksasa tadi. “Bola ini hanya akan mencuat ke permukaan kalau sepasang manusia terseret ke sini,” tuturnya terburu-buru. “Pasanganku sudah meloncat entah berapa bulan yang lalu, aku sendirian dan bola ini hilang begitu saja. Aku peduli padamu dan aku tidak ingin kau sendirian di sini menanti manusia lain. Tapi kalau—”

“Aku akan meloncat.” Seulgi buru-buru berkata begitu menyadari sesuatu tengah menghampiri mereka. Ia meregangkan kedua lengannya sekali lantas menautkannya kembali pada Seunghoon.

Satu. Dua. Tiga.

Keduanya melompat dalam waktu bersamaan, permukaan gelombang tadi lenyap seketika bersamaan dengan tertelannya tubuh mereka dalam pusaran.

Sekali lagi, dunia Kang Seulgi dijungkir balikkan.

End.

Finished: 21:34 | January 12, 2015.

(a/n): ide muncul akibat dari hujan, petir, dan pulang kesorean kali, ya. Dan maaf aku bawa satu lagi cerita yang gak jelas juntrungannya. Akhir-akhir ini aku lagi kekurangan pasokan ide soalnya.😦 btw tanggal 18 udah tryout, doakan yang terbaik untukku ya kawan!🙂

2 thoughts on “In Which We Escaped

  1. MEYY! Tumben kau membawa mba seulgi dengan si seunghoon ini?! Aku sempet salah baca tadi, kukira seungyoon. Dan kupikir ini bakal bergenre family, sebab marga mereka sama. Sampe aku sadar ternyata itu LEE SEUNGHOON😄
    Waah, kamu bikin aku penasaran di endingnya. APAAN COBA. Mereka lari-lari diantara orang mati, trus lompat bareng, dan udah. HEHEU. Tapi ending yang menggantung itu salah satu favoritku. Bikin geregetan tapi ada kemenarikan tersendere.😀 Anyway, kamu harus sering bawa mba seulgi lagi yah. *ditabok*
    Semangat buat try out-nya MEY!! Semoga sukses~~ Keep writing yaa ^^

    Like

    1. Halooo, Pat! huhu maaf telat banget balesnya abis kemarin-kemarin nahan diri ga on dulu ini lagi tryout soalnya :(( lah malah curhat xD
      OH IYA YA, abis aku ga nambahin groupnya apa HUHU maafkan sudah membuatmu bingung pat xD dan btw akhir-akhir aku lihat seunghoon, kok malah keinget seulgi????? sama-sama sipit kali ya wkwkwkw.
      YHAAA MAKASIH BANYAK ya Pat, kamu juga semangat yha!!! makasih banyak lho sudah mampir dan baca ini!!❤

      Liked by 1 person

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s