Stumble Upon


stumble-upon

Stumble Upon

By Authumnder

Featuring [OC] Areum & [17] Lee Chan

Genre slight!Fluff, Comedy | length 729 words, ficlet | rating teen.

Poster © Kryzelnutbig thanks! [x]

Ideas taken from prompt K:

“Di ruang yang pengap, mata kita saling bersitatap,
seolah memberiku suatu harap.”

***

Kalau kau meragukan diriku dua puluh menit yang lalu, maka aku bakal menyepak lenganmu, dengan muka sombong mencacimu dengan kalimat ‘dasar parnoan!’, karena, ya ampun, rencanaku sudah amat matang dan terorganisasi dengan sangat rapi—kemungkinan gagalnya nyaris nihil.

Namun itu dua puluh menit lalu—sekarang pendirianku menipuku dengan putar haluan menjauhi intensi awal. Lagi pula Guru BP macam apa, sih, yang kurang kerjaan mengitari sekolah pada jam pelajaran keempat? Bukan guru yang waras, menurutku.

Lantaran agenda membolosku tak menggelinding sesuai rencana, aku terdesak untuk mencipta plan B yang jauh tak terstruktur ketimbang plan sebelumnya. Yang kemudian berujung dengan aku dan teman-temanku yang kocar-kacir berlarian menjauhi guru BP yang siaga dengan pentungan di tangan.

“Memencar!” teriak Yein kawanku, sementara kakinya yang panjang menjurus ke perpustakaan sekolah. Dua orang lagi mengikutinya, memaksaku memusing otak, mencari jalan keluar lain yang bukan merupakan perpustakaan atau tempat yang kira-kira bakal disinggahi Pak Kim, guru BP sekolah.

Aku ditinggalkan dengan sortiran yang sangat minim; kantin atau gudang sekolah.

“Hei, berhenti!” Pekikan Pak Kim kedengaran semakin dekat, sementara kantin sekolah masih lumayan jauh (siapa tahu kalau-kalau Pak Kim mantan atlet lintasan? Aku, sih, nggak mau mengambil resiko balapan lari dengannya untuk kemudian kalah dan dicekal!) jadi kuputuskan untuk menyelimpat ke gudang sekolah.

Belum juga memosisikan pantat, seseorang yang ternyata memiliki inisiatif yang sama denganku sudah memprotes, “Jangan mengumpet di sini!”

Aku memutar bola mata, menoleh ke arahnya. “Jangan pelit-pelit! Sesama tukang bolos harus—”

Belum juga kalimatku genap terselesaikan, cowok itu membekap mulutku sembari beringsut mundur, menjauh dari pintu gudang. Aku ingin menentang pergerakannya lagi, namun terpotong oleh langkah kaki seseorang di luar.

“Diam.” Desis cowok yang berbagi pos persembunyian denganku.

Aku mencibir, lagi pula siapa yang bakal bersuara di saat-saat genting seperti ini? Dipikirnya aku gila, ya? Namun tak kulisankan komentarku itu, mengingat bunyi berderap tadi belum juga lenyap.

Barulah setelah siapapun itu yang berdiri di luar gudang berpindah tempat, kami berani bersuara.

“Sudah sana pergi!” dengus cowok itu, mengekspresikan ketidaksukaannya melalui mimik muka yang kelewat asam.

Kubalas dengan tak kalah masam, “Menurutmu aku suka sembunyi di sini? Kalau aku punya pilihan lain, pasti aku tidak akan berada di sini.”

“Terus?” cowok itu melipat kedua lengannya di depan dada, posisi yang sangat aneh mengingat kami berdua sedang berjongkok. “Sekarang di luar sudah tidak ada orang, jadi kenapa kau tidak pergi saja?”

Aku membersut, “Serius, nih? Coba pikir, tempat mana lagi yang bakal aman dari Pak Kim?”

Dia berhenti sebentar untuk berpikir—kuduga tidak ada satu pun solusi yang melintasi kepalanya, karena kemudian ia memutar bola mata, mengangkat kedua tangan di atas kepala. “Terserahlah. Pokoknya kalau aku tertangkap karena kau—”

“Apa? Kau akan mengapakanku?!” Selaku penuh kemenangan.

Dia menyerah, menggeser tubuhnya mendekati tembok yang rontok di sana-sini untuk kemudian mengeluarkan ponsel dan bersandar sekenanya.

“Kok aku tidak pernah melihatmu di sekolah?” tanyaku, berusaha menjalin konversasi setelah lima menit yang dipenuhi kehampaan (ponselku kehabisan baterai, sialan). “Namaku Areum, omong-omong.”

“Karena aku murid baru di sini.” Sahutnya, fokus masih tertuju ke layar ponsel. “Dan aku tidak ingat pernah bertanya siapa namamu.”

Aku menghela napas, menahan diriku untuk tidak menendangnya. “Dan siapa namamu? Kalau aku boleh tahu?”

Matanya akhirnya meninggalkan aplikasi apapun itu yang tengah ditekuninya, untuk kemudian melemparkan senyum manis ke arahku dan menjawab, “Sayangnya, nih, kau tidak boleh tahu.”

Nah, kaupikir aku bisa bertahan sampai nanti siang bersama dengan makhluk sepertinya? Tentu saja tidak!

Aku bangkit, mencangklong kembali ransel dan berniat menerjang keluar gudang—

“Keluar! Keluar kalian semua!”

—sampai teriakan Pak Kim dari luar yang kemudian diikuti suara gedoran terdengar.

Buru-buru kuletakkan ranselku kembali ke tanah, beringsut mendekat ke tempat di mana cowok itu duduk (kali ini tidak bersandar, dia sama awasnya denganku).

“Bagaimana ini?!” tanyaku.

Di ruang yang pengap, mata kita saling bersitatap, seolah memberiku suatu harap.

Dia menjawab, “Tidak ada pilihan lain.”

Aku panik. Maksudku, halo, bagaimana pendapat orang tuaku akan ini? Aku yakin seratus persen kalau mereka bakal memutuskan tali keluarga denganku selepas ini!

“M-maksudmu, kita menyerahkan diri saja, begitu?”

Dia sudah memberesi barang-barangnya yang berserakan, bergumam, “Tentu saja, Tolol. Memang apa lagi yang bisa kita lakukan?”

Diiringi dengan jeritan-jeritan Pak Kim dari luar (dan jangan lupakan gedoran pintunya yang mahadahsyat!) kami berdua menyelinap ke luar dengan tampang dimanis-maniskan. Pak Kim sudah menanti di depan, ekspresi culas beristirahat di wajahnya.

“Lee Chan! Gong Areum!” serunya.

Dan, well, meski tidak begitu manis apalagi romantis, itulah pertemuan pertamaku dengan, um, pacar dua tahunku; Lee Chan.

End.

Finished: 10:21 | December 20, 2015.

(a/n): maafkeun kalau ini tidak sesuai dengan prompt. TT dan entah kenapa setelah kubaca lagi, aku baru nyadar kalo ending fic ini gak jauh beda dari ficku yang lama (this) ._.v aih gak kreatif banget aku huhuhuhu. TT

 

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s