Ada Lelaki dalam Cerminku


Ada lelaki dalam cerminku.

Ia tampan dan menggemaskan. Kami berkenalan setahun yang lalu. Katanya, ia adalah separuh jiwaku yang sengaja dipotong Tuhan untuk diselipkan dalam raganya. Tentu saja aku percaya. Siapa yang bisa menahan keelokan auranya?

Ia selalu muncul sewaktu aku berdiri di depan cerminku, baik saat aku menyisir rambut, menjajal bedak tabur baru ibuku, atau berputar-putar dengan rok milik kakakku yang kekecilan. Sayangnya, ia tidak suka kehadiran orang lain, oleh karena itu kakakku meneriakiku pembohong dan tukang melamun. Tapi ia menenangkanku, bilang kalau kakakku hanya iri karena aku yang masih berusia enam belas tahun sudah bertemu dengan pasangan hatinya, sedang kakakku belum; maka kepercayaan diriku kembali dan aku bersemangat lagi.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, wajah lelaki itu agak terlalu tua untuk anak laki-laki berusia delapan belas. Terlalu banyak kerutan di kanvas tempat Tuhan meletakkan mata, hidung, serta bibirnya. Aku sering curiga, jangan-jangan ia tengah menahan sakit tapi tak mau bilang. Hanya saja, ia terus tertawa dan melambaikan tangan, menjawab ekspresinya yang tua itu semata-mata karena ia telah menuntaskan kehidupan lebih berat daripada aku. Aku setuju. Enam belas tahun kehidupanku ini memang kuhabiskan dengan menyulam, membaca koran harian, serta menjahit di dalam rumah. Ah, setengah jiwaku itu memang amat pandai dan menawan.

Tapi, siang ini, ada sesuatu yang berubah dari gerak-geriknya. Ia kelihatan tidak nyaman, takut, dan repot sekali sewaktu aku bercerita mengenai kedatangan saudaraku dari kota. Aku ingat benar kalimatku yang kusuarakan dengan amat sangat menggebu untuknya,

Sepupu dan saudaraku akan datang! Mereka menaiki kereta kuda milik Paman yang super mewah dan mahal dari kota ke sini, kedengarannya seperti perjalanan yang menyenangkan, bukan? Aku yakin Bibi menyiapkan banyak toples kue dan roti basah. Sayang kamar di sini kurang untuk menampung mereka semua. Makanya, Ibu berinisiatif memindahkan kakakku dari kamarnya ke kamarku. Itu artinya aku tidak akan sendirian lagi di sini. Bagaimana menurutmu?”

Tapi usai mendengarnya, ia tidak berkomentar apa pun. Wajahnya yang sepertinya diukir dengan tangan Tuhan sendiri mengeras dan kaku, membuatku merasa amat muda dan tak tahu apa-apa. Memang apa salahnya tidur bersama kakakmu untuk seminggu ke depan? Aku tidak suka kalau kami tidak sepaham, maka aku memutuskan untuk diam dan menyelinap keluar dari kamarku sendiri, meninggalkan dirinya.

Aku masih marah saat kereta kuda Paman datang, suaranya yang mengentak terdengar sampai ruang makan. Seluruh rumah sangat ramai dan heboh, dan sejenak, aku bisa melupakan pertengkaranku dengan kekasih rahasiaku. Sepupuku Felicia, si Cantik yang selalu mendapat yang terbaik, ternyata belum mempunyai pacar. Aku tidak percaya ini! Aku, Cecily si Anak Tengah Ingusan, ternyata lebih ahli darinya dalam permasalahan asmara! Tapi aku segera membungkam mulutku saat keinginan untuk menceritakan kekasihku membludak dengan amat kerasnya. Cukup sekali aku diteriaki pembohong. Aku sudah kapok.

Malamnya, kakakku Emily dan saudaraku Rosalind memasuki kamarku dengan bantal tambahan di lengan mereka. Aku tertawa menyambut mereka, sementara kekasihku yang tadi terlihat di cermin terbirit-birit lari bersembunyi. Kubilang apa, ia amat pemalu. Lagi pula, aku takut kalau nanti ia melihat Rosalind, ia bakal jatuh cinta padanya. Kami mengobrol semalaman, sampai Ibu harus naik ke lantai dua untuk memerintahkan kami tidur.

Pagi-pagi buta, Emily sudah melipat selimut dan berniat mencari jubah dalam lemariku karena dinginnya udara pagi. Aku setengah sadar dan setengah tidak sewaktu jeritannya yang melengking terdengar sampai gerbang desa, membangunkan Ayah yang lantas berlari ke kamarku.

Seluruh keluargaku akhirnya bertemu dengan kekasihku. Tapi mereka tidak gembira, aku yakin benar. Ayah bahkan meninju wajahnya sampai ia terpental jauh, sementara Ibu menarikku dalam dekapannya.

Ada lelaki dalam cerminku.

Ia manis dan menggemaskan, tapi tidak mencintaiku. Ia bukan separuh jiwaku yang sengaja dipotong Tuhan untuk diselipkan dalam raga orang lain. Ia bohong soal umurnya. Lelaki itu berusia tiga puluh tahun. Dan ia tidak tinggal dalam cerminku, ia mengendap di lemariku.

Ayah bilang ada sebutan untuk lelaki sepertinya: fedofil. Aku tidak mengerti, tapi tidak mengatakan apa-apa. Yang kutahu hanyalah satu;

Ada lelaki dalam lemariku.

End.

Finished: 22:22 | March 08, 2016.

Sedikit banyak terinspirasi dari The Lovely Bones, minus meninggalnya si tokoh. Filmnya bagus banget, 9/10 would recommend! Cover fic ini sendiri diambil dari film itu hehe.

8 thoughts on “Ada Lelaki dalam Cerminku

  1. HAI, MEY! If you saw my comment on your ifk’s post, u probably know me ehe🙂

    nabil kira kamu nulis fanfic aja, tapi orific juga nulis ya? pantes aja tulisannya bagus-bagus ehe🙂 nabil sangka si aku punya penyakit apaa gitu, eh taunya cowoknya

    nice fic

    Like

    1. i know you kok! tenang, tenang! (tenang paan) xD hahahaha gak seseering bikin ff sih karena orific itu kayak lebih susah??? iya gak sih apa cuman aku hahaha. makasih banyak ya udah bacaaaaaaaaa >___<

      Like

  2. Hai, Mey! Ini pertama kalinya aku baca fic kamu, daaaaaannnn… serem banget. Aku pikir kekasih rahasianya cuma khayalan doang yang diliat sama si tokoh ‘Aku’ alias bener-bener enggak ada, dan aku udah penasaran banget endingnya bakalan gimana.
    Tapi ternyata… endingnya di luar perkiraan abis! Aku nggak nyangka sih…. duh, bahkan aku ngetik komen ini aja dengan bayangan pasti serem banget pas keluarganya si Aku ini tau yang sebenarnya…..

    Okey, keep writing Mey! Aku suka aku suka😀

    Like

    1. Heyhoo! Kusenang kalo kesan seremnya kelihatan xD emang iya banget pas idenya mampir juga aku kebayangnya tokoh cowok ini setan atau kao gak siluman /apa/ tapi terus kepikiran ah dibikin manusia aja soalnya kesannya lebih serem xD
      Hihihi okidoki, Kak! Makasih banyak ya udah mampi dan baca ini >__________<

      Liked by 1 person

  3. serem mey T.T aku sempat mikir jgn2 ini si aku crossdresser aka transvestite eh ternyata lelakinya itu beneran dan ngumpet di lemari? lha kok serem amat.
    keren kok, si gaby juga udah ngreview kan ya? ga nemu flaw so keep writing!

    Like

    1. yess aku senang bisa bikin orang salah sangka xD yup jadi ceritanya si lelaki ini kayak penyusup yang suka sama gadis-gadis muda (hiii) ;_; makasih banyak ya kak li udah mampir dan baca ini! maafkan reply yang terlambat datangnya huhuh >_<

      Like

  4. MEYYYY RINDU PADAMU. Kamu hiatus tapi tulisan tetep kece gini ya? ;____; Apalah dibanding aku yang makin hari makin kena writer’s block…

    Btw as always lah penulisan Meyda itu ngalir banget, bikin gak sadar kalau tahu-tahu udah hampir sampai penghujung. Aku malah awalnya mikir kalo si lelaki ini hantu 😂😂😂 atau sejenis teman khayalan gituuu. Ternyata doi orang beneran cuman hobi ngumpet aja… plot twist maksimal! Pemilihan diksi juga nggak mainstream, aku suka bagian ‘kanvas tempat Tuhan meletakkan mata, hidung, …’ top lahhh. Jarang banget penulis yang sempat kepikiran itu. Tapi ngomong-ngomong, yang bener itu fedofil atau pedofil sih?

    Overall okay sangat, keep writing Mb Mey! ❤

    Like

    1. GAAABB! KUJUGA KANGEN EHEH. Hah kece apaan itu soalnya lagi mood sekarang mah udah ga karuan tulisannya huhu T__Thuh kamu lagiu kena wb???? semangat ya aku tahu bagaimana rasanya ==
      aku awalnya juga pengen bikin si lelaki ini hantu tapi terus setelah dipikir-pikir endingnya gimana kalo ternyata tokohnya setan x’D hooh kalimat kanvas itu aku nyuri dari tulisan siapa gitu aku lupa wkwkw ==v bentar bentar, kayaknya yang bener pedofil ya??? iya gab yang bener pedofil wkwk habis males liat kbbi xD
      hihi makasih banyak ya mb Gab sudah mampir, baca, dan ngasih koreksinya!! semangat menghadapi wb!! >_____<

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s