Romance Was Born


romance was born

Romance Was Born

by Authumnder

WJSN’s Dayoung & 17’s Chan | Slice of Life, Fluff

+++

Aku suka Chupa Chups.

Dengan suka, maksudku sangaaaaat suka. Suka yang sehari tanpa menikmatinya membuatku uring-uringan dan mood-ku tak karuan. Bisa dibilang ketertarikanku padanya sudah melampaui batas—ibuku bahkan memberiku titel ‘pecandu’. Tapi, ‘kan, permen tidak membuatmu berhalusinasi dan tidak sadarkan diri. Maka kuiyakan sekalian, biar ibuku puas lantas menyingkir.

Yang membuatku makin suka permen itu adalah karena aku bisa mendapatkannya secara gratis kapan pun. Kapan pun. Serius. Aku punya penyuplai Chupa Chups pribadi yang tidak pernah kehabisan. Seakan-akan cewek itu adalah robot pabrik permen yang tanpa henti berproduksi, atau orangtuanya ternyata pemilik pabrik Chupa Chups cabang Korea. Yang mana pun, aku tidak terlalu peduli.

Aku masih agak-agak ingat kali pertama dia memberiku persediaan permennya. Waktu itu masih tahun ajaran baru dan rambutku masih terlalu cepak karena tukang salon langganan ayahku mengantuk sewaktu menggerakkan guntingnya, dan dia datang begitu saja di depanku, bertanya,

“Mau?” sambil sebelah tangan menyodorkan permen favoritku itu.

Memangnya aku siapa sampai menolak rejeki gratisan? Maka, tanpa banyak basa-basi aku menerimanya. Kemudian cewek itu tersenyum sambil lalu sebelum akhirnya berbalik pergi.

Aku lupa menanyakan nama dan tujuannya memberiku permen saat itu.

Tapi, hari-hari selanjutnya, Dayoung (aku baru tahu namanya setelah Hansol bertanya apa hubunganku dengan cewek itu—kujawab tidak ada, pertemanan kami sebatas dia menyediakan permen dan aku memakannya) tidak pernah berhenti membawakanku Chups. Tanpa absen sehari pun. Kubilang apa, dia pasti empunya pabrik!

+++

Aku tidak suka Chupa Chups.

Permen itu menjijikkan dan aneh rasanya. Aku omong begini karena aku pernah mencobanya sekali dan muntah-muntah setelahnya—bukan berarti hal itu bakal menghentikanku dari membelinya, karena aku punya misi.

Ada cowok imut di kelas sebelah. Namanya Lee Chan, dan dia suka sekali dengan musuh terbesarku itu. Butuh pengamatan selama seminggu untuk membuatku menyadarinya, maka hari Senin minggu setelahnya, aku pergi merampok persediaan Chupa Chups milik supermarket depan rumahku. Penjaga kasirnya sempat memberiku tatapan menyelidik waktu aku menumpahkan belanjaanku di konter, tapi tidak bilang apa-apa.

Senin, Chan hanya memandangiku bingung waktu aku memberinya sebungkus permen, tapi dia mengangguk dan aku tersenyum, riang menyodorkan lolipop itu.

Selasa, Chan baru keluar dari kelasnya yang baru saja melangsungkan ujian Logaritma, masih kelihatan ragu-ragu waku aku mengulurkan sebungkus lagi. Tapi, lagi-lagi, dia menerimanya. Aku langsung kabur setelahnya dengan pipi terbakar.

Rabu, Chan kelihatannya mulai terbiasa dengan aksiku. Masih agak bingung, tapi tanpa banyak mengerutkan kening, dia langsung menerimanya.

Kamis, agaknya Chan sudah mengerti cara mainku.

Jumat, aku menjulurkan permenku dan Chan langsung menerimanya. (Dia bilang makasih!)

Senin dua minggu setelah hari pertama aku memberinya permen, aku tidak melihatnya keluar dari ruang kelas, tapi dia menghampiriku duluan, bertanya, “Mana suplai Chups-ku?”

Rabu tiga minggu setelah hari pertama aku memberinya permen, MISI SUKSES! Chan tersenyum lebar sekali waktu melihatku lewat. Dia kelihatan super-senang, lalu sedetik kemudian, BLAM! Dia kaget sendiri—aku tahu apa yang ada di otaknya, “Mengapa aku gembira sekali melihat cewek itu?”

Jumat empat minggu setelah hari pertama aku memberinya permen, Chan masih tersenyum amat lebar saat melihatku, tapi aku tidak bisa berhenti berdoa, “Ya Tuhan, buat dia cepat-cepat jatuh cinta padaku. Uang jajanku bulan ini sudah nyaris melompong…”

+++

Setelah dipikir-pikir, aku akhirnya sampai pada satu konklusi:

Kayaknya aku naksir Penyuplai Chupa Chups-ku.

fin.

finished: 09:05 | April 28, 2016.

bismillahirohmanirrahim, semoga ini gak terlalu garing dan malesin buat dibaca sampe akhir. amiin.

terinspirasi dari ini
terinspirasi dari ini

4 thoughts on “Romance Was Born

  1. setuju sama gaby kamu kyk pegawai pabrik gula yg naburin gula sembarangan di ff.
    bikos ampun konklusinya itu lega bgt yeay uang jajan habis ga percuma😄
    dobel POV lagi, unyu bgt ^^
    tapi awas typo ya, cuman satu sih sejauh mata memandang. sisanya bersih!
    keep writing!

    Like

    1. bentar kak li aku pengen ngakak dulu bagian “pegawai pabrik gula” WKWKWKW
      soalnya aku gak tau mau jelasin gimana kalo gak pake dobel pov huhu.
      oke kak li!! makasih banyak ya sudah mampir dan baca ini! >__<

      Like

  2. UNYUNYAAAA. Gapaham sama Meyda kayaknya you jago banget bikin fiksi imut menggemashkan bikin diabetes??? Btw Chan itu yang mukanya bocah banget bukansi >_< HUHUHU intinya sangat sukaaa! Terus ya bahasamu ngalir pol and what's wrong w you Mb Mey??? Kayaknya segala hal bisa dijadiin cerita dan hasilnya selalu oke.

    Keep writing eniwei 😍😘

    Like

    1. HALO GAB! hahahaha apaan yang unyu itu castnya kan bukan akunya (loh loh) (kepedean). heeh iya!! yang dulu aku request poster ke kamu itu lhoo! hehe.
      huhuhu ngalir apaan aku bikinnya macet-macet kok?? hahaha tapi makasih banyak ya gab udah mampir dan baca ini!! ^____^

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s