Galaxies Collide


galaxies

Galaxies Collide

by Authumnder

WJSN’s Dawon & Monsta X’s Hyungwon | College-Life, Fluff

Your hand touching mine. This is how galaxies collide.
(Sanober Khan)

+++

Kebiasaan tidak wajar milik Dawon sebenarnya muncul sebulan yang lalu—sewaktu ia masih menjadi bocah anyaran yang tengah melalui orientasi siswa di kampusnya sekarang. Dawon tidak begitu ingat mengapa ia mau-mau saja melakukannya; mungkin karena kasihan, mungkin karena jiwa sosialnya terlalu tinggi, atau mungkin karena sosok senior tukang tidur itu kelihatan manis sekali dengan mata kecil yang nyaris selalu terkatup. Yang mana pun, tidak masalah, Dawon toh sudah melakoninya. Iya, ‘kan?

Semuanya tentu tidak akan terjadi kalau takdir dan waktu tidak ikut campur. Dawon tidak akan naik bus yang sama dengan senior itu kalau ia menyetujui ajakan teman barunya pergi nongkrong bersama (ia menolaknya karena uang bulanannya sudah menipis), Dawon tidak mungkin duduk di kursi tepat di belakang cowok itu kalau ia tidak mengorbankan kursinya di bagian tengah untuk seorang nenek tua yang kesulitan, Dawon tidak bakal menyaksikan cowok itu terkantuk-kantuk dengan kepala bergoyang ke sana kemari kalau baterai ponselnya masih tersisa (karena, tentu saja, ia akan terlalu sibuk berselancar di internet atau memainkan game di sana), dan terakhir, Dawon tidak akan melihat ekspresi superkaget seniornya itu sewaktu bus sampai di satu pemberhentian sebelum milik Dawon, menyadari kalau cowok itu telah melewatkan pemberhentiannya sendiri, kalau ia turun dari bus sebelum laki-laki itu bangun, bukan?

Ini pasti kehendak Tuhan, iya, ‘kan?

“Hei, Dawon, kau tidak mau naik? Busmu sudah sampai, tuh.”

Saking tenggelamnya ia dalam pikiran, Dawon sampai tidak menyadari alat transportasinya yang sudah berdiri gagah di depan mata. Buru-buru ia menyeimbangkan ransel di bahu, menggumamkan “duluan, ya” yang kedengaran tergesa-gesa pada Sujeong, lantas memanjat naik.

Masih banyak kursi tak berpenghuni yang menggoda untuk diduduki, karena universitasnya termasuk salah satu pemberhentian paling pertama dari bus-bus jurusannya, sehingga Dawon bisa bebas memilih tempat mana yang paling nyaman dihuni. Namun, mengesampingkan keinginannya duduk di bagian kanan, kakinya tetap saja melangkah mendekat ke kursi bagian belakang di kiri. Cowok itu suka duduk di depan kursinya sekarang.

Dawon merasa bodoh memikirkannya.

Benar saja, sewaktu cowok itu naik, kaki panjangnya otomatis terarah ke kursi di depan Dawon, melesakkan pantatnya di sana sambil mengeratkan jaket.

Ini juga pasti perbuatan Tuhan, ‘kan? Kalau tidak, mana mungkin selama menjadi mahasiswa di sini, tak sekalipun Dawon melewatkan bus jurusannya dengan cowok itu di dalamnya? (Ia ingat ia pulang terlambat Jumat dua minggu yang lalu, waswas akan naik bus yang berbeda dengan senior itu, hanya untuk dihadapkan kenyataan kalau seniornya ikut-ikutan terlambat.)

Dawon buru-buru menyingkirkan pemikiran tentang sosok di depannya ini, lebih memilih untuk memandangi kuku-kukunya yang dicat terang. Ini perbuatan Myungeun yang nekat membawa sekotak besar koleksi cat kukunya untuk kemudian dibagi-bagikan secara gratis, dan khusus untuk teman-teman dekatnya (yang mana melibatkan Dawon di dalamnya, tentu saja), cewek itu rela memberikan manikur gratis. Bukannya Dawon keberatan, sih.

Atensinya kembali dicuri oleh cowok itu sewaktu aksi kepala goyang-kanan-dan-kirinya dimulai. Dawon tidak merasa terdistraksi sama sekali, malahan, ia beranggapan kalau kelakuan seniornya itu imut dan lucu dengan cara yang paling tidak imut dan lucu. Oke, memang susah menjelaskan perasaannya, tapi setidaknya itulah deskripsi paling mendekati kenyataan yang dapat Dawon suguhkan.

Hi hi. Dawon membekap mulutnya dengan sebelah tangan saat kepala cowok itu terbentur jendela. Aw, pasti sakit. Tapi cowok itu tidak terbangun, sama sekali tidak, karena berikutnya yang Dawon saksikan adalah goyangan kepala itu lagi. Begitu terus menerus, sampai akhirnya bus mulai mendekati pemberhentian cowok itu lima belas menit kemudian, membuat Dawon menegakkan tubuh; siap untuk melaksanakan aksi yang sudah dilakukannya semenjak hari kedua ia duduk di belakang si senior. Mau tahu apa itu?

Dawon mulai merogoh ransel bagian depannya, mengeluarkan… uh, sebatang bulu dari sana, lantas mendekatkannya ke telinga si tukang tidur lewat sela kecil di samping kiri tempat duduk. Gerakannya itu sangat manjur, karena detik selanjutnya cowok itu tersentak bangun, lantas segera bangkit menyadari pemberhentiannya sudah dekat.

Segera setelah bus berjalan kembali dari halte si laki-laki, satu perasaan asing menyusup dalam diri Dawon. Sesuatu yang hangat dan terasa penuh dalam dadanya, namun di saat yang bersamaan juga aneh dan tidak masuk akal. Dawon tidak menelusuri hatinya lebih jauh.

+++

Nama cowok itu Hyungwon.

Dawon baru mengetahui fakta itu tadi pagi, sewaktu Sujeong berbisik di telinganya mengenai senior mereka di jurusan hukum yang kelihatannya selalu mengantuk setiap saat sambil menunjuk sesosok jangkung yang tengah mengantre makan siang. Tanpa perlu menelisik lebih jauh, Dawon langsung tahu kalau Hyungwon itu adalah cowok itu.

Rasanya melegakan, akhirnya mengetahui identitas manusia yang selama ini dibantunya. Tapi Dawon tidak berkomentar apa-apa, selain mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya menyendok makanan.

Sore itu, ia duduk di belakang Hyungwon lagi, membangunkannya sekali lagi.

+++

Dua menit setelah Chae Hyungwon (kali ini Myungeun yang memberitahu nama lengkap cowok itu, sewaktu Dawon iseng bertanya) turun dari bus, satu pikiran menyusup lagi di otak Nam Dawon.

Mengapa Hyungwon tidak pernah bertanya-tanya siapa yang menyadarkannya dari alam mimpi?

+++

Malam itu juga, saat Dawon akhirnya menyelesaikan tugas melukisnya dan memilih untuk telentang di atas kasur sambil menonton langit-langit kamar, sebuah teka-teki mampir lagi.

Mengapa Hyungwon tidak pernah menoleh ke belakang? Karena, kau tahu, cowok itu pasti menyadari ada sesuatu yang salah saat sebuah bulu selalu singgah di telinganya. Iya, ‘kan? Dan dia pasti tahu, kalau bulu itu tentu digerakkan oleh tangan manusia.

—yang mana berlanjut ke pertanyaan lain:

Mengapa Hyungwon tidak pernah menyadari keberadaannya yang begitu kentara dan… selalu ada?

+++

Dawon tidak berusaha membangunkan Hyungwon lagi dua hari setelah pemikiran itu tiba. Ia acuh saja membiarkan seniornya kelabakan turun di bukan pemberhentiannya. Sudah saatnya ia berhenti ikut campur, bukan?

+++

Dawon pindah dari kursinya di belakang Hyungwon. Selama tiga hari.

Cowok itu tidak kelihatan keberatan.

+++

“Aku tidak punya pilihan lain kecuali mengobrol denganmu sekarang.”

Dawon memandang kosong sosok di depannya, yang kelihatannya tengah berusaha menjalin konversasi. “Uh… apa kau yakin? Buku-bukunya… kelihatannya berat.” Mulutnya melantur, itu sudah jelas. Tapi melihat Hyungwon yang kesulitan menyeimbangkan setumpuk buku di lengannya… Dawon jadi agak kasihan.

“Sudah kubilang aku tidak punya pilihan lain.” Hyungwon mengeluarkan tawa tersiksa. “Aku harus membawa mereka ke pembimbingku sekarang tapi aku bertemu denganmu di sini dan aku tidak tahu kapan lagi kesempatan seperti ini bakal datang—”

“Biar kubawakan beberapa.” Dawon memotong, memberi senyuman bersimpati yang kelihatan bingung.

“Kau yakin?”

“Sangat. Sini, kemarikan.”

Dawon menyadari rekahan senyum di bibir Hyungwon sewaktu cowok itu mengangsurkan dua buku berukuran superkecil ke tangannya, juga ekspresi ragu-ragu yang terpatri di wajahnya ketika Dawon berdecak dan meraih empat buku tebal dari lengannya.

Keheningan berdiri di tengah-tengah mereka selama semenit ketika keduanya berjalan menaiki tangga menuju ruang pembimbing Hyungwon, sampai akhirnya cowok itu memberanikan diri untuk membuka mulut,

“Jadi, uhm, aku menyadari kau tidak membangunkanku lagi.”

Mata Dawon refleks membulat mendengarnya.

Hyungwon berdeham-deham sambil membenarkan posisi lima buku tebal lainnya, melanjutkan, “Aku, uh, semacam menyadari tindakan murah hatimu itu.” Ia diam sesaat, sebelum akhirnya melanjutkan karena Dawon jelas-jelas tidak akan memberi komentar. “Kau lupa keberadaan jendela di sampingku, ‘kan? Tentu saja aku bisa melihat bayanganmu dari sana.”

Oh. Hati Dawon tercelus mendengarnya. Ternyata cowok itu bukannya tidak ingin tahu, melainkan sudah tahu. Keinginan terbesarnya sekarang adalah menjatuhkan buku Hyungwon dan menghambur pergi. Tapi Dawon tidak melakukannya.

“Belakangan ini aku mendapat istirahat yang cukup.” Hyungwon menjelaskan dengan intonasi kebingungan. “Jadi aku tidak menghabiskan perjalanan pulangku dengan tidur di dalam bus lagi. Tapi aku, uh, berpura-pura melakukannya karena, uh, karena kau—yah, karena aku tidak punya nyali untuk mengajakmu mengobrol dan belakangan kau berhenti berinteraksi—maaf, kayaknya berinteraksi bukan kata yang sesuai tapi aku tidak menemukan kata lain yang berarti sama—denganku dan kau bahkan duduk di tempat yang jauh dari jangkauanku. Well, maksudku memberitahumu ini adalah karena aku ingin bertanya mengapa kau melakukannya? Menjauh, maksudku.” Mereka sampai di ruang guru. “Kau tunggu di sini saja, biar aku yang membawa mereka masuk.”

Setelah pintu ruangan tersebut menutup dengan Hyungwon yang menghilang di baliknya, Dawon terbirit pergi.

+++

Sore bergulir lagi.

Dawon sudah duduk nyaman di kursi untuk dua orang, mendudukkan tasnya di kursi satunya agar tidak diduduki, saat Hyungwon melenggang masuk.

Cowok itu menatapnya sekilas, jelas tidak tahu harus berekspresi apa, ketika Dawon menyunggingkan senyumnya, melambaikan tangan sambil berseru,

“Hyungwon! Sini!”

Mungkin Dawon yang sekarang telah mengetahui arti perasaan asing dalam dadanya itu.

fin.

Finished: 22:47 | May 01. 2016.

wow, aku kebablasan??? 1344 words, how awesome is that?!

4 thoughts on “Galaxies Collide

  1. Aww manis banget.. Suka suka… geli aku bacanya. Apalagi waktu tahu fakta Hyungwon selama ini memperhatikan Dawon. Aww, berharap terjadi di kehidupan nyata hehe

    Liked by 1 person

    1. YESS, mari kita berharap kalo (paling gak) mereka berdua saling kenal ya wkwk #sedih
      makasih banyak ya sudah mampir lagi dan baca ini!! maaf balesannya telat ;_;

      Like

  2. SUMPAH
    INI
    FICT
    MENGGELITIK
    PERUT
    AKU
    Waaaaaa seneng pake banget bacanya fluffy sefluffy fluffynya!!! cerita yang kayak gini sumpah bisa bikin mood orang naikkkk wkwkwk
    pokoknya suka banget deh meyda!!!! HARUS.BIKIN.LAGI.YANG.KAYAK.GINI!!! /kepslokjebol /bye

    Liked by 1 person

    1. HIHI hamdalah ya kalo fluff-nya tida gagal-gagal amat soalnya aku keburu-buru pas bagian akhirnya:’)
      kapan2 pasti bikin lagi ra!! :> makasih banyak ya sudah mampir dan baca ini ^_____^

      Liked by 1 person

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s