#1 Secret Stories


So many books so little time, I loved the albums of Frank Zappa back in the late 70's & early 80's!:

Selamat ulang tahun, diriku sendiri! Wow what an attention seeker ((but it is true that I turn seventeen today hehe))Halo, semuanya! Oke, pertama mau bilang maaf dulu karena nyantumin author note di depan. Terus maaf juga aku mengotori feed WordPress kalian… :’) Masalahnya, teman-teman, belakangan laptopku nggak bener dan karena aku benci membuang-buang sesuatu, maka aku mau kumpulin semua fiksi-tak-mencapai-ending yang kubikin di laptop setahun belakangan ini di sini (soalnya males juga nge-backup mereka semua). Ide awal dari cerita-cerita di bawah ini (menurutku) lumayan orisinil dan layak posting (narsis woy) tapi aku nge-stuck di tengah-tengah, nggak bisa ngelanjutin, jadi…

Nggak mau banyak omong, langsung aja, yuk!


There’s Nothing Such As Coincident

YG K+’s Lee Haeun & Nam Joo Hyuk

(fiksi ini dibuat saat AKMU 200% & Give Love masih ngetren-ngetrennya)

+++

3 Gurat Mata Tanda Kesedihan (disusun tidak berurutan oleh Haeun):

  1. Kesedihan karena kehilangan sesuatu. Bisa terbagi dalam banyak kelompok. Kehilangan keluarga, pacar, teman, sahabat, guru, saudara dekat, tetangga, dan lain sebagainya. Setiap kelompok punya ciri-ciri yang berbeda—sekaligus sama, karena mereka itu pada hakikatnya serupa. Cara mendeteksi: julingkan matamu sampai sejuling mungkin.
  2. Kesedihan karena patah hati. Yang satu ini lebih simpel. Ciri-ciri: tatapan mata kosong, perilaku aneh dan tidak bersemangat, lesu dan lunglai, berubah jadi pemalas nomor satu sedunia, bekas air mata. Cara mendeteksi: duduk di bahunya sebentar, dengarkan denyut nadinya. Gampang.
  3. Kesedihan karena cemburu dan perasaan kosong. Yang ini susah banget, bahkan Fawn (Peri Aethelwyne senior yang sudah mengantongi banyak medali dari Ratu Ellette) bilang kalau kesedihan jenis inilah yang membuat para peri gila. “Mereka kelihatan sejenis, tapi berbeda. Makanya kau harus hati-hati sebelum menaburkan pendarmu. Salah-salah kau malah menaburkan pendar cemburu padahal perasaan manusia itu cuma sedang kosong saja.” Kata Fawn di sela rapat Aethelwyne Bloom, yang kuintip diam-diam. Cara mendeteksi: gunakan feeling. Tapi aku nggak menanggung kalau-kalau feeling-mu justru salah dan kau berakhir di Flutterfield. Memalukan. Menyeramkan juga, karena Flutterfield penuh dengan peri buruk rupa tanpa sayap dan naga jelek bewarna hitam legam yang sewaktu-waktu bisa membunuhmu dengan apinya.

Well, itu dia. Kedengarannya gampang, tapi sebenarnya nggak sama sekali. Justru sangat sulit sekali, mungkin tidak untuk peri berotak lapis, tapi pekerjaan peri ini bisa bikin gila peri goblok sepertiku.

Oleh karena itu, aku meluangkan waktu mencari mangsaku dengan duduk di dahan pohon dan menulis itu di sehelai daun. Kalau-kalau aku lupa, atau peri goblok lain membutuhkannya.

Sekarang, setelah kubaca ulang tulisanku tadi, aku merasa begitu bodoh dan tidak berguna. Aku tidak tahu apakah Aishling lainnya memikirkan ini, atau hanya aku saja. Tulisanku tadi benar-benar tolol dan tidak penting. Lagi pula, tentu tidak ada peri yang akan menghabiskan waktu berharganya dengan duduk-duduk di atas dahan pohon, menikmati angin semilir yang membelai sayap. Aku sudah kedengaran seperti manusia, belum?

Ah, lupakan. Aku harus memfokuskan diri dengan area di hadapanku. Satu jam lagi (waktu Starglitter), aku akan dijemput pulang. Jadi lebih baik aku menyiapkan huckleburry-ku sekarang. Omong-omong, huckleburry itu sebutan baku untuk pendar ajaib peri.

Semenit, kantongku sudah siap. Jadi aku menjajal sayapku beberapa kali dan melejit keluar dari rimbunnya pepohonan. Mataku mengawasi keadaan, sementara kantongku bergetar tanda ada mangsa di dekat sini.

Benar saja. Tidak sampai satu meter, ada seorang cowok yang tengah duduk bersandar di bangku taman. Wajahnya memang tidak kelihatan, apalagi matanya, tapi menilik sikap duduknya saja aku sudah tahu kalau dia sedang terluka.

Aku mendarat dengan tidak begitu halus di kakinya, dengan begini aku bisa melihat matanya. Wow! Ini namanya kesedihan komplikasi, seperti yang selalu digembor-gemborkan Ratu Ellette kepada para peri agar selalu berhati-hati dalam mendeteksi kesedihan, juga selalu memberi dosis lebih untuk para penderita kesedihan komplikasi.

Mendeteksi kesedihan komplikasi, sih, gampang! Kelihatan banget. Mata manusia bakal berubah menjadi gelap—gelap bagi penglihatan peri, sih—dan kehilangan sorot. Dengan melihatnya sekilas, para peri akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami selalu berlomba-lomba menceritakan kesedihan komplikasi pasien kami, biasanya sih ceritaku jadi yang terjelek karena paling-paling pasien komplikasiku hanya menderita kesedihan karena kehilangan dan kebangkrutan. Temanku Ava selalu dapat penyakit yang sulit. Terakhir kali dia bercerita, dia mengobati manusia yang sedang patah hati karena pacarnya hamil dengan orang lain (mengerikan!) dan penipuan yang dialaminya.

Tapi kali ini, sepertinya Ave harus kalah dengan ceritaku.

Cowok di depanku ini penderita komplikasi level parah. Ibunya minggat, ayahnya setiap malam berjudi dan mabuk, adiknya yang baru berusia enam tahun frustasi, dan pacarnya selama empat tahun ketahuan selingkuh dengan tetangganya.

Aku menarik napas kaget sewaktu cowok itu mendongak. Meski berada di ambang kegilaan, tidak ada tanda-tanda air mata atau bekas menangis di pipinya. Hebat. Aku bergegas hinggap di bahunya yang berlapis sweter cokelat tua. Sweternya terasa lembut di kaki tanpa sepatuku. Setelah memosisikan diri, aku memejamkan mata dan membimbing huckleburry-ku keluar dari karung, membebaskan diri mereka dengan hinggap di sekitar cowok ini.

Dalam hitungan detik, pendar kehijauan huckleberry yang khas sudah beterbangan di sekeliling kepala cowok ini, lantas luruh perlahan-lahan ke helai rambutnya, bahunya, dan celana jinsnya.

Sewaktu cowok itu mendongak, dan aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, aku tahu bebannya terangkat sedikit. Memang, hanya sedikit meski sudah kulebihkan porsi pendarku. Itu memang takdir peri, hanya membantu. Mana bisa peri punya andil menyembuhkan.

Mau tak mau aku tersenyum senang ketika melihat lengkungan di bibir cowok ini. Lantas mendadak, pikiran-pikiran gila menusuk, menyerang, dan menerjang otakku. Nama cowok ini Nam Joohyuk dan dia tampan. Dan Lee Haeun si Aishling naksir berat padanya.

Sesiangan ini aku hanya berkeliling taman beberapa kali. Tidak banyak pengunjung, artinya tidak banyak pasien. Setiap tiga peri yang berbeda jenis punya satu daerah kekuasaan. Digunakan bersama-sama. Di daerahku, taman ini, ada dua peri lainnya.

Baiklah. Harus kuakui aku peri dengan kasta tengah. Tidak tinggi, atau rendah. Sedang saja. Aishling.

Ada tiga peri di dunia. Yang pertama, sekaligus penyandang peri tercantik dan terpandai adalah Aethelwyne. Kok bisa mereka dipanggil begitu? Well, karena begitulah mereka. Elegan, anggun, punya wajah yang sangat cantik, sayap bergradasi yang mengilat, sangat pandai, punya pendar huckleberry yang benar-benar manjur dan imut, bisa membaca pikiran dan satu lagi; bisa menjadi manusia kapan pun mereka mau. Benar-benar menyenangkan bisa terlahir sebagai bagian dari Aethelwyne. Mungkin karena kelebihan mereka yang terlalu banyak inilah Aethelwyne jadi sombong dan sok. Mereka senang memandang rendah peri lainnya. Menyebalkan.

Yang kedua adalah Aishling. Alias keluargaku. Well, kami memang punya sayap yang cantik, tapi hanya terdiri dari satu warna—kecuali kalau kau mengecatnya seperti temanku Betsy. Bukan tindakan bijaksana mengingat sayapnya jadi JELEK BANGET karena lunturan catnya tak mau hilang, sekarang sayapnya jadi belang-belang nggak keruan. Aishling nggak punya wajah yang cantik banget. Standar saja. Pokoknya segala sifat Aishling itu tanggung. Kami nggak jelek, tapi juga nggak cantik. Kami nggak pintar, tapi juga nggak dungu. Kami nggak punya huckleberry yang berkilauan dari jauh, tapi juga nggak punya huckleberry dari debu. Juga, Aishling tidak bisa jadi manusia kapan pun mereka mau. Waktunya dibatasi. Menyebalkan. Meskipun begitu, Aethelwyne si sombong jelek (well, mereka jelas tidak jelek…) selalu mengejek Aishling dengan sebutan bangsa campuran. Rendah banget. Makanya tetua Aishling benci tetua Aethelwyne, dan begitu pula sebaliknya.

Yang ketiga adalah jenis peri yang paling nggak beruntung. Airyetta. Peri dengan sayap abu-abu, rambut yang tidak bisa tumbuh, bentuk tubuh gempal sewaktu jadi manusia (dengan durasi waktu paling sedikit di antara peri lainnya), dan huckleberry dari debu. Benar-benar kasihan jadi mereka. Tidak ada satu pun Aethelwyne yang mau mengobrol dengan Airyetta—mengobrol dengan Aishling saja mereka ogah!

Nah, jadi di taman ini aku membagi wilayahku dengan Jinx si peri Airyetta dan.. well, aku benci sekali menyebut namanya, Biblee si peri congkak Aethelwyne. Ugh.

Jinx baik sekali, dia memang bukan peri cewek yang cantik tapi sikapnya benar-benar oke. Dia pandai untuk ukuran Airyetta. Lagi pula, dia banyak bekerja sehingga tugasku dan si sinting menyebalkan Biblee menjadi berkurang. Sedangkan si pongah itu… tidak ada kata selain bitch untuk menerjemahkannya. Maafkan aku menggunakan kata itu. Sungguh. Kami para peri juga punya sopan santun, tapi kalau untuk hal-hal yang berhubungan dengan Aethelwyne (DAN BIBLEE UNTUKKU) kami tidak akan mengendalikan diri lagi.

“Haeun!”

Buru-buru aku menoleh. Menelan sumpah serapahku untuk Biblee. Gawat kalau yang barusan memanggilku adalah si monster itu sendiri—ingat, ‘kan, mereka bisa membaca pikiran—tapi jelas tidak mungkin, Biblee pasti tengah sibuk berkeliling dengan tampilan manusianya yang memukau. Omong-omong, ternyata yang memanggilku adalah Jinx.

“Ada apa?” aku menyahut agak malas.

“Ada cowok favoritmu lagi!” Jinx berteriak dengan heboh, membuat huckleberry debunya beterbangan. Debunya bisa membuatmu sesak napas, jadi aku berpura-pura memegangi hidungku seolah-olah ada nyamuk lewat. Tapi terlambat, Jinx sudah menatapku minta maaf. “Sorry. Aku tidak bisa mengendalikan diriku.”

Aku jadi tidak enak. Jadi kukatakan, “Nggak masalah. Aku sudah terbiasa.”

“Tapi, Haeun!” mendadak Jinx heboh lagi. Dua kali lipat lebih heboh malah. “Cowok favoritmu lagi duduk di arah sebelas!”

Oh. Aku nggak bilang pada siapapun kalau aku naksir Nam Joohyuk, kok.

“Kau ‘kan memintaku memanggilmu kalau dia ada!”

Uh. Baiklah. Aku memang mengaku pada SEMUA temanku kalau aku punya seseorang yang kutaksir, yang sialnya adalah manusia, dengan tambahan “sst! Jangan keras-keras!”

“Jadi dia di arah sebelas, ya. Oke.” Aku bangkit, dengan terlalu gembira sepertinya. Sebelah tanganku merapikan celana jins pendekku dan tangan satunya kusiram huckleberry sehingga menjadi cermin.

Sekarang ini pukul tiga waktu Starglitter, dan semua peri tahu (kecuali kalau kau seorang Aethelwyne) saat inilah kami bisa berubah menjadi manusia. Penguasa Starglitter yang menciptakan aturan menjadi-manusia ini jelas peri yang sembrono dan nggak adil, dia membolehkan Aethelwyne jadi manusia kapan pun mereka mau dan selama apa pun, sementara untuk Aishling, dia cuma memberi enam jam.

“Cepat pergi! Tadi kulihat Biblee ada di arah sepuluh. Dia bisa saja merebut perhatian cowok itu.” Jinx menjelaskan, mengangkat bahunya yang tebal—ingat, ‘kan, Peri Airyetta gempal kalau menjadi manusia? “Dan, selamat bersenang-senang!”

Selepas Jinx melambaikan tangannya dan menghilang di belokan, aku berlari dengan seluruh kekuatan manusia yang kupunyai ke arah sebelas. Aku lupa sama sekali soal rambut dan pakaianku. Dan, sebentar, biar kuingat-ingat dulu… uhm, makeup? Begitukah manusia menyebut debu putih jelek yang ditaburkan ke wajah? Juga pewarna berkilauan jelek yang norak itu? Biar kutegaskan, peri nggak pakai makeup. Ratu Ellette bilang sendiri kalau ‘makeup itu bisa merusak wajah muda abadimu’. Aku bahkan mengutipnya.

Aku berhenti berpikir sewaktu tiba di arah sebelas. Kalau aku maju sepuluh atau lima belas langkah, aku bisa menubruk Nam Joohyuk itu dan merasakan eksistensinya—dan berkenalan dengannya, mungkin! Ide bagus. Aku akan berjalan sekarang, perlahan-lahan saja, tanpa suara, kemudian dengan manis aku akan bertanya boleh nggak aku duduk di sini.

Aku mulai melangkah, namun tiba-tiba saja ada angin dingin kasat mata yang mendorongku dengan saaangat kuat, lantas saat aku membuka mata, aku mendarat di rerumputan setengah meter dari kursi Joohyuk—dengan cowok itu yang tengah memandangiku aneh.

Sialan! Aku tahu angin tadi bukan angin biasa, rasa dinginnya itu yang menjelaskan kalau seorang peri baru saja mengirimnya untuk mengerjaiku. Kurang ajar! Aku tahu ini pasti pekerjaan Biblee mengingat Jinx yang pasti tengah menikmati eskrim di kedai dekat sini (Jinx bilang sendiri kalau dia senang jadi manusia hanya karena bisa makan di kedai eskrim).

Dengan rasa malu dan muntab (tapi kutahan, aku nggak mau Joohyuk melihatku sebagai cewek dungu pemarah), aku bangkit dan menepuk-nepuk lututku yang sakit.

“Kau baik-baik saja?”

..eh? Kepalaku sontak mendongak, mendapati tilikan Joohyuk. “Kau barusan ngomong padaku?” aku bertanya dengan lagak bodoh. Jadi bodoh sekali-kali tidak akan mendatangkan masalah, ‘kan?

Well, tentu saja, ya. Memangnya ada siapa lagi di sini?”

Insting periku menolak mentah-mentah ujaran cowok itu. Aku bisa merasakan delikan menusuk dari seorang manusia/peri di balik pohon tadi.

“Uhm, kalau begitu.. yah, aku nggak apa-apa. Oke-oke saja. Sempurna.” Aku mengangkat bahu, tidak tahu harus menyahut apa lagi.

“Kau jatuh dengan suara keras sekali, pasti sakit. Dan, oh! Lututmu berdarah.”

Nggak! Jangan! Aku melotot, melirik lututku dengan ngeri lantas melolongkan awww manja yang menjijikkan. Itu kodrat peri. Maksudku, phobia-darahnya, bukan lolongan manjanya—well, kalau yang itu karena suaraku yang nyaring dan cempreng.

Dan ini… aku harus menyaksikan darahku sendiri mengalir perlahan-lahan, dari lutut hingga menyentuh kakiku. Triple mengerikan!

“Apa?! Apa lukanya sakit sekali?!” entah karena refleks ingin membantu atau ketakutan dikira pemerkosa keji, Joohyuk tiba-tiba saja sudah ada di hadapanku, membantuku duduk di kursi.

Traumatis sekali. Sungguh. Menyedihkan. Phobia darahku muncul di hari yang sangat tidak tepat. Sekarang, apa lagi? Apa ini ajang balas dendam Biblee karena kusumpahi? Mungkin. Peri itu memang jahat.

Aku jadi ingin menangis, tapi kutahan kuat-kuat karena aku akan terlihat terlalu manusia dan itu bukanlah hal yang bagus.

“Tidak, tidak sakit.” Aku bohong, perihnya menusuk-nusuk sampai ke tulang. Peri memang begitu kalau sedang menjadi manusia, keluar darah sedikit rasanya seperti dilindas truk.

Joohyuk tersenyum sekilas, mengawasiku dengan matanya yang kecil. “Bohong banget. Kau kelihatan kayak mau nangis.”

“Ng.. nggak!”

“Iya, nggak apa-apa kok jadi cengeng sesekali.” Joohyuk menimpali. “Tunggu sebentar, aku mau mencari obat merah dan plester.” Ia buru-buru berlari ke arah tujuh, karena di sana ada toko kecil.

Aku merasa konyol sekali. Merasa bersalah juga karena tadi sempat kulihat sorot mata Joohyuk yang kelam. Dia sedang memikirkan masalah-masalahnya, dan di sinilah aku, menambah masalahnya dengan kekacauan yang kubuat. Mungkin lebih baik aku tidak datang saja.

Joohyuk sampai. Di tangannya ada bungkusan putih bergambar tanda apotek. Ugh, padahal apoteknya cukup jauh.

“Maaf, ya, kalau kau jadi menunggu lama.” Ujarnya pelan, sementara tangannya aktif membuka bungkusan; mengeluarkan tisu basah, plester, dan obat merah. Aku nggak salah naksir padanya, Nam Joohyuk jelas berbeda dari semua cowok yang pernah membuat sedih hati cewek—yang kuangkat sedikit bebannya. Itu hipotesisku, peduli amat kalau benar atau salah.

“Ng, terima kasih banyak.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, lagi pula Joohyuk kelihatannya bukan tipe cowok yang suka bicara. Mungkin. Coba kalau Aishling diberkahi kemampuan membaca pikiran!

Joohyuk mendongak lagi setelah beberapa menit berkutat dengan lukaku, “Nah, selesai.” Katanya. “Omong-omong, kita belum kenalan, ya? Nam Joohyuk.”

Sudah tahu! “E-eh, iya. Haeun.”

“Hm, Haeun. Nama yang unik.” Dia mengangguk-angguk.

“Makasih.” Kedua sudut bibirku terangkat secara otomatis. “Kau jarang datang ke sini, ya? Aku nggak pernah melihatmu.”

Aku menangkap sorot enggan di matanya, seakan-akan aku baru saja menyuruhnya menjilati lumpur, “Bisa dibilang begitu.” Katanya akhirnya, menyisipkan senyum terpaksa.

Pasti ada sesuatu. Hanya saja aku tidak tahu itu. Mungkin aku harus berbaikan dengan Biblee dan merendahkan martabatku sedikit saja supaya Biblee bisa membantuku membacakan pikiran Joohyuk. Kedengaran mustahil.

“Kau sering ke sini, kalau begitu.” Joohyuk menambahi.

“Ini tempat wajibku,” kataku jujur. “Aku selalu ada di sini.” Hanya saja sebagai peri. Tak kukatakan, tentu saja.

“Kau nggak pergi ke sekolah?”

“Sudah lulus.” Sewaktu aku jadi peri. Itu pun pelajaran standar peri saja. Bukan manusia.

“Kalau begitu… kerja? Kau bekerja?” aku senang dengan sikap Joohyuk  yang jelas tidak terlalu pendiam. Atau mungkin dia sedang berusaha mengalihkan pikiranku dari pertanyaan kau jarang ke taman ini, ya.

“Tentu saja. Tapi pekerjaanku santai saja, tidak banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran.” Kuangkat bahuku. “Kau sendiri?”

Aku tidak percaya aku memiliki konversasi ini dengan manusia sungguhan! Terlebih seseorang yang kusukai!

“Kuliah.”

“Ah, aku pernah mendengar kata itu.” Aku mengangguk-angguk, lantas melotot. APA YANG SALAH DENGANKU?! Aku jelas kedengaran seperti alien luar angkasa. Aku melirik Joohyuk ngeri.

Namun sebaliknya, cowok itu justru tertawa lepas. Manis sekali. “Kuliah memang menyebalkan, ya.”

Ah, pasti Joohyuk mengira aku tengah bercanda. Tapi, baguslah. Aku jadi nggak terlihat seperti makhluk aneh.

Lalu tiba-tiba terdengar bebunyian lonceng di kepalaku, pertanda jemputan sudah datang. Waktu manusiaku sudah habis karena sekarang jam raksasa antik di Starglitter telah menunjuk angka delapan.

Aku harus bergegas.

“Eh, aku harus pergi sekarang.” aku berkata cepat.

“Ada apa?”

Aku bangkit, memandangnya sekilas. “Pulang.”

“Besok kau ke sini lagi?”

“Ya. Pukul tiga.”

Lambaian tangan Joohyuk-lah yang jadi penutup malam itu.

Hari ini banyak pasien. Tentu saja, ini bukan akhir pekan yang penuh dengan pasangan kekasih. Taman di hari biasa tenang, malah cenderung sepi. Itu karena pengunjungnya biasanya datang secara solo—tidak dalam grup. Dan kebanyakan, pengunjung yang sendirian itu tengah sakit, kecewa, gugup, patah hati, dan sebagainya.

Maka menumpuklah tugas peri. Meski sudah ada tiga peri yang aktif setiap hari, kami para peri tetap saja kerepotan menaburkan huckleburry untuk mengangkat beban. Kadang saking sibuknya menyembuhkan, aku tidak punya waktu untuk berubah menjadi manusia—dan di dalam jemputan, Jinx akan ngomel padaku tentang eskrim yang harus diabaikannya. Sementara Biblee, well, dia selalu berada di kereta express bukannya kereta biasa seperti yang peri normal—peri normal di sini tentu BUKAN kasta tinggi—lakukan.

Begitu pula sekarang ini. Dari atas sini, kelihatan kursi-kursi yang diduduki satu orang yang tengah menunduk, mungkin dengan perasaan gelisah. Aku dan Jinx berbagi tugas, aku di arah lima sampai tujuh, sedang dia arah delapan sampai dua belas. Biblee bersumpah nggak mau mengobrol atau berkumpul dengan kami untuk membahas pembagian arah ini, tapi setelah tiga tahun bekerja bersama, sepertinya dia sudah tahu wilayahnya sendiri.

Aku mulai mengepakkan sayap dan menyiapkan karung huckleberry. Kantongku sengaja kuisi penuh-penuh supaya aku tidak perlu bolak-balik meminta transfer dari Starglitter (karena aku malas berinteraksi dengan tukang transfernya, dia itu peri Aethelwyne yang selalu mengatakan ‘well, pantas saja kau minta diisi ulang terus, kemampuan mengangkat beban huckleberry-mu ‘kan tingkat rendah’ setiap ada Aishling atau Airyetta yang minta ditransfer).

Aku juga bisa melihat anak kecil yang tengah memainkan tanah dengan sepatunya yang berlumpur, bapak tua yang memegang polaroid, perempuan yang tengah mengusap matanya yang basah, dan… Nam Joohyuk. Aku bergegas melesat ke arah anak kecil tadi, ingin segera menyelesaikan pekerjaanku supaya aku bisa terbang di sekeliling Joohyuk, mengawasi kalau-kalau Biblee ingin merebut mangsaku.

Setengah jam kemudian, aku bisa menghela napas lega. Huckleberry-ku tinggal separuh kantong karena perempuan tadi ternyata punya masalah yang cukup berat, jadi kutumpahkan pendarku banyak-banyak. Joohyuk masih duduk tenang di kursinya, menyoroti ponselnya dengan tatapan yang sulit diartikan—bohong, ini karena aku berada di ketinggian dan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Setelah kudekati, barulah aku sadar dia tengah membaca pesan-pesan lama dari pacarnya yang bernama Yeonji. Aku nangkring di bahunya, mencondongkan tubuhku ke depan, ikut membaca pesan cewek itu.

Aku nggak lapar. Kau makan malam saja sendirian, ya. xx.

Wah, tega juga cewek ini. Kalau aku yang jadi pacar Joohyuk, aku jelas tidak akan menolak ajakan makan bersama. Hm. Scroll lagi.

Joohyuk, kau kekanakan sekali! Hal itu tentu saja tidak mungkin! Kau pikir kau siapa mengiraku seperti itu?! Pokoknya jangan mengikutiku lagi.

Jemari Joohyuk berhenti di pesan yang satu ini. Tadi dia sengaja melewati pesan-pesan di atasnya. Aku membaca tanggalnya, Dec, 8. Pesan itu baru berumur sepuluh hari. Kutebak Joohyuk mengetahui kalau si Yeonji itu selingkuh dan mengiriminya SMS untuk mengaku saja. Tapi, tentu saja, menjadi cewek jahat, Yeonji berbohong lagi.

Manusia memang rumit. Kebanyakan yang suka selingkuh itu cowok, tapi kelihatannya si Yeonji ini perlu diberi pelajaran. Heran saja ada orang yang kurang tahu diri sepertinya. Berani taruhan, Yeonji ini pasti diberkahi kecantikan yang luar biasa—lantas menyalahgunakan kecantikannya itu. Kalau dia seorang peri, pastilah dia termasuk ke dalam golongan Aethelwyne.

Aku mengamati ekspresi dan sorot mata Joohyuk dari samping. Mengira-ngira apa yang tengah berkecamuk dalam pikirnya. Kesedihan komplikasinya sudah hilang sedikit-sedikit, tapi aku tahu sulit baginya melupakan pengkhianatan pacarnya itu.

Beberapa saat kemudian, Joohyuk memasukkan ponselnya kembali ke saku celana, mendongak menatap kejauhan. Dia tidak bergeming sama sekali, hanya memandang kekosongan seakan-akan tengah berusaha menguatkan dirinya sendiri. Itu normal, kok. Aku sering menemukan manusia yang melakukan ini—tidak menangis, hanya menatap kekosongan.

Aku duduk diam di bahu Joohyuk beberapa saat, menghabiskan siangku bersamanya, sembari menunggu senja ketika aku bisa berubah menjadi manusia, dan mungkin mampu menghiburnya.

Namun sepertinya harapanku sia-sia. Well, jelas, karena menit berikutnya seorang cewek yang sangat cantik dengan T-shirt dan celana jins pendek trendi lewat dan berkata, “Hai, boleh nggak aku duduk di sini?” dengan sangat menyebalkan.

Itu dialogku! Yang harusnya kuucapkan kemarin dengan sama persis kalau aku tidak jatuh dan mempermalukan diriku sendiri… Semua ini tidak akan menjadi sangat menyebalkan kalau cewek itu bukan..

“Aku Biblee. Kau?” yang diucapkan setelah Joohyuk menggumamkan sesuatu yang kedengaran seperti silakan.

Peri itu! Aku menggeram, sangat sangat marah dan jengkel. Aku duluan yang mengenal Joohyuk dan sekarang, seharusnya akulah yang duduk di samping cowok itu, mengobrol dengan cowok itu seperti seorang sahabat, dan bukannya peri sialan dengan kecantikan di luar nalar manusia.

Aku benci. Lantas kebencian itu tumbuh membesar dan lama kelamaan timbul perasaan kecewa, marah, dan terluka. Aku butuh huckleberry untuk diriku sendiri.

“Joohyuk.” Tersenyum ramah. Biblee balik tersenyum, dengan sebelah mata melirik bahu cowok itu—melirikku. Sialan, dia bisa membaca pikiran dan kemungkinan besar dia tahu perasaanku pada cowok ini—dan karena dia peri jahat yang kebetulan punya kemampuan yang sungguh-sungguh hebat (dan jangan lupakan penampilan depannya), Biblee berusaha merebut Joohyuk dariku. Bukan berarti Joohyuk pernah jadi milikku atau bagaimana.

“Nama yang sangat bagus. Siapa margamu?” Biblee mengeluarkan trik mata-tertarik yang bisa membuat siapapun merasa diperhatikan—kalau kau seorang Aethelwyne, semua kemampuan yang dipunyai makhluk biasa bekerja dua kali lipat lebih baik. Jangan heran kalau sebentar lagi Joohyuk mengeluarkan pertanyaan seperti, “apa kau punya pacar?” yang pasaran.

“Nam.” Sahutnya sembari mengantongi ponselnya. “Kau sendirian?”

“Yep. Seperti yang kaulihat,” Biblee mengangkat bahunya, menunjukkan raut sedih yang dibuat-buat. “Maaf, ya, kalau aku lancang, tapi apa kau sedang menunggu seseorang?” melirikku lagi, kali ini dengan bibir terangkat separuh.

Joohyuk menoleh ke arahnya, kali ini benar-benar memandang Biblee dan anehnya, matanya tidak menunjukkan sorot apapun itu kecuali normal. Normal di sini artinya tidak ada ketertarikan, kesedihan, hanya mata yang… biasa. Seakan-akan dia tidak sedang menghadapi cewek yang sangat sangat cantik sekaligus menarik.

Aku harus merayakan ini!

Well, bisa dibilang begitu.” Cowok itu mengedikkan bahunya, membuat posisi dudukku terguncang sedikit. Joohyuk kemudian melirik arlojinya, pukul tiga lebih lima belas. “Seharusnya aku sudah bertemu dengannya.”

Dengannya. Hm… ASTAGA! Nam Joohyuk MAU BERTEMU DENGANKU. COWOK ITU MENUNGGUKU DATANG MENEMUINYA!  Iya, ‘kan? Kami janjian pukul tiga kemarin! Buru-buru aku mengepakkan sayap dan bersembunyi di balik pohon, tidak memedulikan ekspresi Biblee atau apa pun yang dia ucapkan.

Aku mengubah diriku menjadi manusia secepat mungkin. Ratu Ellette sangat baik hati menciptakan sihir agar setiap peri yang berubah menjadi manusia punya pakaian trendi yang berbeda setiap harinya. Hip hip hura! Kusiram tangan kananku dengan sisa huckleberry dan mengubahnya menjadi cermin. Kali ini, aku tidak akan mengalah dari Biblee—well, kecuali kalau Joohyuk ternyata suka padanya.

Menit berikutnya, aku pura-pura berjalan di depan mereka dan berpura-pura tidak mengenal mereka sampai…

kkeut.


Wake-Up Calls

AOA’s Hyejeong & B1A4’s Gongchan

“Aku perlu bantuanmu,”

Kalau kau kebetulan satu kelas dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki, berambut cepak tapi panjang (sulit menjelaskannya, tapi itulah kenyataannya), dan bertitel Gong Chansik ini, maka kau akan menyadari betapa anehnya hal itu terdengar. Dan, bukan salahku juga kalau aku mendongak kaget, seakan-akan separuh nyawaku baru saja dicabut secara paksa sementara setengahnya lagi yang tertinggal meronta untuk dicabut pula, menatap sosok yang berdiri di depanku ini dengan sangat bingung.

Eh, kau bilang apa barusan?” Aku tidak bermaksud menanyakannya. Karena itu kedengaran bodoh dan membuat telingaku seakan-akan tidak berfungsi dengan baik. Tapi, ya ampun, bantuan macam apa yang diinginkan si Jenius Kelas macam Gong Chansik ini dariku?!

Chansik tertawa, dengan lembut dan canggung, kalau boleh kutambahkan. “Kubilang, aku perlu bantuanmu.” Ulangnya.

Tampaknya separuh nyawaku belum dikembalikan karena detik berikutnya aku masih melongo, sibuk menggali otakku; mengira-ngira apa dariku yang Chansik tak punya. Jawabannya sudah jelas; nyaris tak ada. “Uh, sorry nih, tapi bantuan macam apa?” tanyaku, menggaruk dahi.

“Kau dipasangkan denganku di Praktek Kimia, ‘kan? Jam pertama untuk hari Senin?” Chansik memastikan dengan tidak begitu yakin. Melihatku mengangguk, ia melanjutkan, “Dan kau ingin aku datang tepat waktu, ‘kan?”

Pertanyaan yang sangat aneh. Namun aku mengangguk, tidak tahu harus membalas dengan ekspresi atau gerakan apa.

“Bagus!” Keraguan lenyap seketika dari wajahnya, tergantikan dengan sinar tak kasatmata yang menyilaukan. Chansik kemudian menyodorkan secarik kertas yang lecek—aku nyaris yakin kalau kertas itu dulunya bagian dari buku teks Spanish Lanjutan kami. Aku menerima kertas tadi dengan setengah hati. “Kau sungguh orang yang tepat bagiku!” Katanya.

Aku benci mengatakannya, tapi kalimat terakhir Chansik membuat dadaku berdesir. Apa pula isi kertas ini?

“Telepon aku,” jelas Chansik, mungkin menyadariku kebingunganku. “Nomorku ada di kertas itu. Yang kuperlukan darimu adalah meneleponku, memastikanku bangun, dan voila! Kau membantuku datang tepat waktu ke sekolah!”

Aku melongo.

Oke, baiklah. Jadi Gong Chansik yang selama ini terkenal dengan kesempurnaan dan fisik-tanpa-cacatnya ternyata kesulitan bangun pagi. Sebelum ini, Ibunya akan membangunkannya setiap pagi (dengan berbagai macam cara yang sangat ajaib, courtesy of Chansik), namun tujuh bulan yang lalu Ibunya pindah ke Busan dan Chansik berkeras untuk tinggal di sini, sukseslah ia tinggal sendirian. Setelah kepindahan Ibunya, pacarnyalah yang mengemban tugas ‘membangunkan Chansik setiap pagi dari Senin hingga Jumat’. Namun, sayang sekali, mereka baru putus dua minggu yang lalu (barulah aku menyadari kalau akhir-akhir ini Gong Chansik si Jenius Kelas selalu datang terlambat ke sekolah). Dan sekarang… akulah yang menerima tanggung jawab itu. Hanya karena Bu Jung memasangkan kami untuk Praktikum Kimia satu bulan ke depan. Dan karena pelajaran Kimia dimulai pukul tujuh tepat dan aku sama sekali tidak berniat melakukan percobaan membahayakan sendirian tanpa didampingi seseorang. See my points here?

Untuk sebulan ke depan (atau sampai Chansik punya pacar baru yang bersedia menerima tugas ini dengan senang hati) aku akan menjadi mesin-bangun-pagi bagi Chansik.

It’s hard to believe, but me—Shin Hyejeong—is Gong Chansik’s wake up calls starting from today.

kkeut.


Strange Creature

AOA’s Mina & CNBlue’s Minhyuk

Derap langkah berirama dari kamar mandi tak lagi menakutkan untukku, atau sekadar aneh dan mengejutkan. Hentakan kaki kanan yang bergeser ke kiri dalam hitungan acak dari satu hingga tujuh itu bahkan mulai terdengar akrab di telingaku. Awalnya, tentu saja, mendengar sesuatu merangkak keluar dari dalam kamar mandi kamarmu adalah hal mengerikan sekaligus menjijikkan. Aku bahkan tak mandi di sana selama beberapa saat saking takutnya, kalau-kalau makhluk itu bakal melihatku telanjang dan menyebarkannya ke teman-temanku. Yah, itu kedengaran sepele, namun berubah menjadi super penting dengan kuadrat di atasnya mengingat aku adalah bocah sekolah dasar yang nyaris setiap malam memimpikan popularitas dan cewek-cewek cantik yang bersedia melakukan apapun untukku.

Tapi namanya Mina. Benar, ia anak perempuan dan sedikit lebih muda dariku. Ia tinggi, berparas seperti wanita bangsawan—sesuatu yang aneh, meski aku belum pernah nekat mendongak ketika seorang bangsawan dengan kereta kudanya lewat di jalan sempit area kami yang artinya, tak sekalipun aku melihat rupa wanita terhormat dengan gelar bergelantungan di belakang namanya—dengan tulang pipi tinggi, rahang tipis yang rapuh, dan permukaan kulit sepucat sapu tangan yang waktu itu menjadi tren di kalangan masyarakat.

“Jangan takut padaku” adalah kalimat pertama yang ia lontarkan. Saat itu gelap dan lilin di nakasku telah ditiup Ibu semenjak lima belas menit yang lalu. Aku gemetar ketakutan, dalam piama kelonggaran, dan merepet di pojok kasur seperti kedinginan. “Karena kalau kamu takut padaku, maka kamu adalah laki-laki tanpa nyali.” Itu kalimat keduanya, yang mengandung banyak sekali kemagisan mengingat sikapku yang mendadak menyingkap selimut dan dengan berani menyorot matanya.

Satu yang kuingat, mata Mina bergradasi. Campuran antara hijau lumut, hijau hutan di malam hari, dan rerumputan yang merambati dinding-dinding labirin milik kalangan atas. Itu seperti warna yang aneh dan tidak normal, namun berhasil mencabut nyawaku ke dalamnya.

“Aku tahu namamu Minhyuk. Aku tahu mimpi-mimpimu, aku tahu pikiran cabul yang sering kamu pikirkan. Oleh karena itu, mulai sekarang, aku bakal menjadi teman sehidup-matimu.” Jelasnya dan tanpa malu-malu duduk di atas kasurku.

“Oh, ya? Apa itu artinya kamu bisa membaca pikiran? Berapa usiamu?”

“5 tahun. Dan jangan konyol, aku tidak perlu repot-repot membaca pikiranmu, pikiranmu sudah tercetak jelas di matamu.”

Saat itu, tentu saja, aku tidak mengerti banyak mengenai penjelasan loncat-loncatnya yang tak karuan, dan juga keheranan mengapa anak usia lima tahun mampu menjadi semenawan itu. Bukan berarti aku tahu apa makna menawan yang sebenarnya. Hanya saja, kosakata menawan begitu cocok dan seolah menempel erat di punggung Mina, begitu aku melihat dirinya.

“Aku akan tidur, besok aku memiliki banyak sekali acara. Tapi dari mana kamu berasal?” tanyaku, menyibakkan selimut dan menariknya sebatas leher. “Kamu pulanglah, Ibumu bakal mencarimu dan aku tidak mau dicap penculik di sini.”

Mina menolehku dengan mimik serius, “Apa kamu serius? Aku ini sudah dewasa!” sergahnya. “Dan kamu yang bocah! Kamu bahkan tidur pada jam segini dan mengatakan aku seorang anak kecil?”

Aku tidak memahami maksudnya. Tapi pada saat itu otakku mengirimkan impuls bahwa penolakan keras Mina mungkin memang beralasan. Anak kecil memang tidak pernah suka disebut bocah, bahkan aku pun begitu. Jadi aku mengangguk saja dan telentang di bawah hamparan selimut.

Selanjutnya, Mina secara rutin menyambangi kamarku. Ia muncul dari tempat-tempat aneh yang tidak seharusnya, lewat jendela, almari, nakas, bak mandi, bahkan bagian bawah tempat tidur pun pernah. Dalam jangka waktu terus-menerus yang keseringan, akhirnya aku tidak kaget sama sekali. Eksistensi Mina tampak tak logis, sureal, dan tak kentara.

Satu-satunya alasan mengapa aku tak mengusir Mina keluar dari kamarku adalah, bahwa aku menyukai Mina. Ia sosok teman yang menyenangkan meski ia tidak mengenakan gaun beludru dengan bulu-bulu di sepanjang lehernya. Ia bilang, tak masalah kalau aku memiliki hobi memukuli tembok kamarku, lis jendela, atau pinggiran ranjang dengan potongan kayu bakar yang keras. Mina bahkan meyakinkanku bahwa esok hari, ketika dunia bisa lebih maju dan bangsawan-bangsawan kehilangan ekor—gelarnya, seseorang akan menyebut hobiku ini sebagai sebuah seni, yang tentu saja, kuanggap sangat lucu. Tapi aku senang-senang saja membayangkan bangsawan sombong itu berjalan kaki dengan gaun-gaun sepanjang tanah, topi bulu angsa, dan tongkat berukir.

Yang aneh, aku tak pernah berhasil membuat teman-temanku, atau orangtuaku, melihat Mina. Setiap aku akan menceritakan pada mereka mengenai anak itu, aku justru akan mengatakan hal-hal kotor yang menjijikkan. Berulang kali aku berusaha meneriakkan ‘Ada cewek cantik di kamarku!’ dan yang keluar justru, ‘Aku adalah anak jalang murahan!’. Pantas-pantas saja kalau Ibuku memukulku di pantat. Waktu aku menanyakan mengapa pada Mina, ia bilang ucapan burukku itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, dan mulutkulah yang harusnya bertanggung jawab. Karena bokongku terlalu sakit untuk dipukuli, aku berhenti memberitahu mereka.

Pada akhirnya, Mina hidup berdampingan denganku—dalam kamar mandiku—selama lima belas tahun penuh, dan tidak ketahuan.

Ciuman pertamaku terjadi ketika usiaku menginjak sembilan tahun. Dengan Mina. Itu adalah sebuah kecelakaan yang menyenangkan, untukku. Saat itu, aku tengah terlelap—bermimpi terbang bersama sepasang unicorn bertanduk—dan tiba-tiba saja, sesuatu yang berat menimpaku. Itu Mina, tentu saja. Ada sesuatu yang salah dengan dirinya; tubuhnya gemetar tak beraturan dan mata hijau bergradasinya semakin pudar—tertinggal hijau dalam kegelapan hutan di sana. Ia mengerang, seperti sapi yang dicabut nyawanya, dan saat ia pingsan—refleks tubuhnya terkulai ke bawah, kami berciuman.

Hal itu seperti sesuatu keajaiban bagi kami berdua. Bibirku rasanya kebas beberapa saat, jantungku berpacu dengan mengerikan, serta seperti ada warna-warni surgawi di mataku. Sedang Mina, ia membuka matanya dan kolaborasi hijau ganjil itu kembali. Ia tersenyum, tubuhnya tak lagi gemetar.

“Terima kasih, Minhyuk. Kamu telah meniupkan kehidupan untukku.”

Kurasa setelah tiga belas tahun, aku mengerti apa maksudnya.

Setelah ciuman itu, Mina terasa kembali hidup. Bukan berarti sebelumnya tidak, namun ada sesuatu—seperti cahaya terang, yang memancar dengan sangat kuat darinya. Kadang-kadang, ketika aku sedang tak berkonsentrasi dan pikiranku bercabang, aku mendapati cahaya keemasan itu keluar dari berbagai sudut dirinya. Itu sesuatu yang mengerikan, karena sedetik; Mina terlihat seperti wanita tua yang penuh keriput.

Banyak sekali hal yang kami lewati bersama. Aku dan ia, kami teman, namun terkadang sikapnya melebihi batasan-batasan seorang kawan. Meskipun begitu, tak satupun dari kami mau membuka diri dan menyatakan perasaan, mungkin Mina pernah, tetapi dengan cara yang tak bisa kau sebut sebagai intim atau apapun.

Sekarang aku dua-dua, cara yang aneh untuk menyebut usia dua puluh dua. Sedang Mina, ia baru saja beranjak dua puluh. Tak ada yang banyak berubah dari kami—selain jaman yang berkembang pesat dan ekor bangsawan yang lenyap. Lambat laun, aku merasa dunia berjalan dengan begitu kuat, dan ekstra cepat, entah bagaimana itu terjadi. Seperti ada bulatan besar di tengah bumi yang terus berputar, sementara aku terseret di dalamnya, bersama Mina.

Sayangnya, sampai sekarang, tak kuketahui makhluk apa itu Mina.

Pada awal musim panas, aku harus bergegas membereskan barang-barang di loker sekolah dan pergi pulang dengan hati ringan. Aku sudah mulai mengepak semenjak awal tahun ajaran, benar-benar mengindikasikan bahwa aku laki-laki yang terlalu mudah merindukan rumah. Tetapi untungnya, aku bisa pergi keluar dari kota secepat mungkin dan menemui keluargaku, serta Mina.

Saat kutinggal, Mina tak banyak bicara. Ia tak menampakkan raut sedih atau mimik ditinggalkan, hanya menepuk bahuku.

“Jangan mencari pacar di sana, dan cepat pulang. Di sini tidak ada apapun yang bisa menyenangkan hatiku.” Katanya. Aku mengangguk sebagai jawaban, dan merasa sangat cengeng karena harus meninggalkannya. Lagi pula, aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa perasaanku telah tertanam jauh di dalam sana. Sementara Mina, entah.

Kereta berjalan tersendat, roda-rodanya mulai bergesekan dengan besi dan mengantarku kembali ke rumah

Seperti tahun-tahun sebelumnya, orangtuaku menyambutku dengan cara yang sangat berlebihan dan mampu mengempaskan bukti kelaki-lakianku yang kuusahakan tertanam sejak kecil. Ibuku memelukku lama sekali begitu aku turun dari kereta pedesaan yang hanya bermodalkan sapi dan kayu yang dipaku membentuk kursi, dan saat ia melepaskan pelukannya, aku baru merasakan kemejaku yang basah dan lembap. Ayahku, sebaliknya, hanya menepuk-nepuk bahuku dengan senyuman bangga.

Aku tahu aku harusnya gembira melihat mereka, namun ada sesuatu yang belum terpuaskan kalau aku belum kembali ke kamarku yang lama; Mina. Maka, setelah menghabiskan setengah jam awal dengan melepas rindu, aku berlari ke kamarku, meninggalkan tas besarku di bawah saking terburu-burunya. Kamarku tak terkunci, hanya tirai dari satin tipis yang didapat Ibuku dari meminta di penjahit untuk bangsawan yang menutupi isinya. Aku menyibaknya dalam sekali tebas, dan di sanalah Mina.

Tidak banyak yang berbeda dari kamarku, juga dengan isinya yang lain. Mina hanya duduk di sana, tidak menyadari kedatanganku. Awalnya aku berniat mengagetkannya, namun setelah kulihat-lihat, Mina tidak tampak seperti dirinya.

Badan Mina bergemetaran, bisa dilihat dari ranjangku yang berkeriut pelan akibat gerakan penghuninya, dan rambutnya berantakan. Ini bukan Mina. Maka kujangkau tempatnya duduk, karena khawatir ia sakit.

Mina menyebut namaku sekali begitu merasakan tepukanku di punggungnya. “Kau pulang.” Ia berucap pelan, nyaris tanpa suara. Aku mematung di hadapannya, menyoroti penampilannya hari ini dengan nyeri di ulu—ini bukan Mina, tapi ia Mina.

Menyadari kediamanku, Mina mengangkat sudut bibirnya sedikit, mencondongkan tubuhnya ke depan dan menciumku. Kali ini lebih baik dari insiden ciuman pertama kami; dan saat ia mundur, Mina telah kembali seperti semula.

Rautnya normal, pakaiannya entah mengapa lebih rapi ketimbang tadi saat aku berdiri di ambang pintu, dan sinar matanya berkilat oleh sesuatu: kehidupan.

“Selamat datang kembali, Minhyuk.”

Benar. Mina memang kembali seperti semula, akulah yang tidak. Satu sisi dari keberadaanku runtuh.

“Kau tahu, Mina, sampai sekarang aku tidak mengerti kau.” Ujarku di bawah temaram dan lilin yang apinya bergoyang ditiup angin. Mina tengkurap di sampingku, memainkan rambutku yang baru dipangkas dua hari yang lalu.

Mendengar ucapanku, Mina tertawa pelan. Suaranya santai dan tanpa beban. “Kau tidak perlu mengerti aku, Minhyuk.”

“Tapi aku ingin,” ujarku, menatap tembok kamarku yang mulai runtuh warna catnya. “Aku ingin mengenalmu seperti kau mengenalku.”

Tawa renyah yang lembut Mina kembali. Kali ini, ia menautkan lengannya yang tidak terlapisi kain ke lenganku yang tergeletak lemah. “Bagaimana kalau begini,” katanya, “kau akan menciumku dan aku akan menceritakan tentang diriku?”

Aku tidak tahu apakah itu ide bagus atau bukan. Satu yang kutahu pada saat itu; kedengarannya cukup adil. Lagi pula, aku tidak bisa menjadi pacar sah Mina kalau asal-usulnya saja tak kuketahui, bukan?

kkeut.


Fictitious

f(x)’s Soojung & WINNER’s Seung Yoon

“Jadi dulu kau satu sekolah dengan Kang Seung Yoon? Kang Seung Yoon yang itu?”

Ini pertanyaan yang sama dari orang yang sama. Seolah-olah pernah bersekolah di tempat yang sama dengan seorang Kang Seung Yoon adalah salah satu keajaiban dunia yang patut dijadikan rekor di Guiness Book.

Tapi memang harus kuakui, rasanya semenakjubkan itu. Dulunya, ketika aku masih siswa SMA dengan teman laki-laki mengasyikkan yang kebetulan punya suara emas. Okay, I’m exaggerating.

“Iyaa, Choi Jinriku sayang.” Aku selalu membubuhkan ‘sayang’ dalam kalimatku ketika aku jengkel, atau ketika aku ingin menekankan sesuatu. Makanya, aku harap Jinri memahami itu dan meninggalkanku sendirian tanpa kalimat bertema Kang Seung Yoon yang ini, atau Kang Seung Yoon yang itu.

“Jung Soojung! Bisa-bisanya!” Harapanku berguguran ketika Jinri justru memandangku tajam. “Kau tahu, ‘kan, siapa yang tengah kita bicarakan sekarang?”

“Oh, well, tentu saja.” aku menyergah, tersinggung. “Aku tahu betapa terkenalnya Kang Seung Yoon, atau betapa tampannya, atau betapa bagusnya suaranya.”

“Itu kau tahu! Lantas mengapa kau tidak senang bisa bersekolah bersama dia sebelum dia debut?”

Benar. Mengapa?

Aku tertegun sejenak, memutar balik kenangan lama. Lalu sampai pada satu titik; well, tentu saja karena itu.

“Dia tidak kenal aku, tahu namaku saja tidak. Jadi untuk apa aku senang bisa satu sekolah dengannya?” merupakan kalimat pelindungku dari pertanyaan-pertanyaan lain Jinri yang telah siap meluncur—karena kalimat itu mengandung kegetiran. Aku tahu Jinri tidak akan membiarkan temannya bersedih hati.

Dugaanku benar. Choi Jinri tersumpal mulutnya.

Sebenarnya, kalau aku boleh mengatakannya tanpa terkena pasal hukum karena pencemaran nama baik atau apalah itu, alasan tadi tidak benar.

Bagaimana mungkin seseorang tidak mengetahui nama sahabatnya sendiri? Well, paling tidak sahabatnya dulu—ketika namanya belum muncul di Top Charts?

Benar. Kang Seung Yoon itu sahabatku. Tidak tahu dia menganggapku apa, yang penting dulu kami duduk sebangku, naik bus bernomor 23 setiap pagi dan siang sepulang sekolah bersama, dan juga saling mendukung satu sama lain—yang lebih ke arah aku mendukung Kang Seung Yoon, yang sialnya, kini kusesali.

Kenapa?

Apa aku harus menjawab yang ini juga? Jung Soojung ini orang yang lemah banget, loh! Maka jangan salahkan aku kalau setelah aku menyelesaikan tulisan ini, aku sudah beruraian air mata.

Karena, setelah aku mendukungnya dan dia berhasil, Seung Yoon punya jalannya sendiri. Dia tidak lagi sejalan denganku, jurusannya sekarang berbeda—yang menyebabkan alasan naik bus bernomor 23 setiap hari tak lagi valid.

Begitu terekrut dan ditetapkan sebagai trainee, Seung Yoon pindah sekolah.

“Bakal capek banget kalau harus bolak-balik gedung YG ke sekolah kita. Makanya ibuku memilih untuk homeschooling saja.”

Yah. Saat itu harapanku telah jatuh berguguran—seperti remah-remah kue yang dijual di dekat sekolah; tak terselamatkan.

“Jadi kau tidak bisa menemaniku lagi? Tidak bisa memberiku contekan lagi?” well, aku tahu jawabanku itu tak masuk akal, namun kalimat itulah yang muncul di permukaan otakku yang berawan hitam—yang sebentar lagi menjadi hujan.

Namun bukan hanya itu. Kalau hanya homeschooling, aku masih bisa menerima. Lagi pula, rumah kami berdekatan dan bukan tidak mungkin Seung Yoon pulang. Jadi harapanku tak sepenuhnya tercerabut.

“Halo, bisa menyambungkan ini ke Kang Seung Yoon?”

Suara wanita di seberang menyahut sopan, “Anda siapanya?”

“Sahabat. Maksudku, saudaranya.”

“Baik, bisa berikan nama?”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Jung Soojung.”

Jeda sejenak. Mungkin si wanita operator tengah menyambungkan telepon ini telepon yang ada di dorm Seung Yoon, atau mungkin ruang latihannya. Aku tidak tahu pasti. Beberapa saat setelahnya, terdengar gemerisik seperti panggilan yang diangkat.

“Nona, kau masih di sana?” suara wanita operator kembali terdengar.

“Ya.”

“Kang Seung Yoon bilang tidak bisa. Sedang sibuk katanya.”

“Oh. Terima kasih.”

Yah, mungkin dia sedang sibuk latihan, ‘kan? Atau mungkin tengah berjuang menyesuaikan diri dengan member grupnya. Atau mungkin tengah…. mengabaikanku.

“Soojung! Seung Yoon pulang! Ibunya menelepon tadi!” Kakakku, Jung Sooyeon, berteriak gembira dari lantai bawah, yang untungnya masih terdengar sampai ke lantai dua.

Apa yang kau lakukan kalau mendengar sahabatmu pulang dari kesibukannya? Well, tentu saja. Kau akan menjerit dan bergegas pergi ke rumah sahabatmu itu, yang tentu saja segera kulakukan.

Tanpa mengganti pakaian dengan yang lebih ‘layak tampil’, aku melesat pergi. Melupakan telepon genggam dan dompet.

Aku mengetuk pintu rumah Seung Yoon keras-keras, tidak sabaran. Ibunya yang datang membukakan, menyambutku dengan senyuman ramah yang telah biasa kulihat.

“Ayo masuk! Seung Yoon sedang di kamarnya.”

Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku masuk ke dalam rumahnya dan mengarahkan kaki ke sebuah pintu kayu berplang ‘Seung Yoonie’. Plang itu sudah ada semenjak Seung Yoon remaja, dan ibunya melarang Seung Yoon melepasnya (padahal Seung Yoon benci sekali kalau ada orang yang melihat betapa manjanya dia dulu).

Aku membuka pintu.

Seung Yoon, seperti biasa, tengah memegang gitarnya dengan earphone terpasang di kedua telinganya. Mungkin saking keras volume lagunya, dia sampai tidak awas terhadap keadaan sekitar.

“Seung Yoon!” adalah jeritanku yang menyambutnya. Dan untuk kali ini, Seung Yoon menyadari keberadaanku.

Seung Yoon menyandarkan gitarnya dan menghampiriku, lantas kami berpelukan. Benar, terdengar cheesy dan kekanakan sekali, tapi aku selalu suka ketika Seung Yoon memelukku dan kemudian setelah kami melepaskan pelukan, kami akan tertawa terbahak-bahak seperti seorang idiot.

Beruntungnya, saat itu Seung Yoon kembali seperti sedia kala.

“Bagaimana sekolahmu? Apa gurumu menyenangkan? Banyak teman-temanyang menanyakan keberadaanmu, apalagi karena kau tidak memberitahukan mereka kalau kau pindah karena jadi trainee di agensi terkenal.” Seperti normalnya, aku selalu banyak bicara dan Seung Yoon akan manggut-manggut, mendengarkanku sampai mulutku berbusa dan telinganya kepanasan. Tapi toh, dia tidak pernah protes atau mengusirku keluar dari kamarnya.

“Dan, coba tebak! Guru Fisika kita akhirnya dipindahkan! Kau harus tahu betapa bahagianya aku, Kang Seung Yoon!”

Yeah. Kami berdua sama-sama membenci guru Fisika yang satu itu—karena Bu Park suka sekali melemparkan pertanyaan yang sulit dijawab ke siswa yang tidak beruntung lantas menghukumnya kalau siswa itu gagal menjawab.

“Sial sekali, padahal salah satu alasanku pindah adalah karena guru itu, kenapa setelah aku pindah dia justru pindah…”

Aku tertawa. “Tapi omong-omong, aku menelepon ke agensimu kemarin. Ke nomor yang kau berikan padaku itu.”

“Ah, maaf, ya. Aku sedang sibuk sekali waktu itu.” Seung Yoon mengerutkan kening, merasa bersalah mungkin. “Dan Soojung! Aku punya hadiah untukmu.” Dia beringsut turun dari kasur, berjalan ke arah laci dan mengeluarkan sebuah kotak. “Untukmu.”

Lalu, bagaimana kelanjutannya?

Apa hubungan kami tetap baik-baik saja? Apa aku hanya menganggap Seung Yoon teman atau saudaraku saja?

Well, I’m not. I fell for him.

Tentu saja. Siapa yang tidak? Seung Yoon punya senyum yang manis dan ramah, dia berbakat membuat moodku membaik sewaktu aku dilanda PMS, dia pintar memparodikan lagu dan mengganti liriknya dengan kata-katanya sendiri yang konyol, dan begitulah.

Kalau boleh kubilang, dan kubilang di sini diambil dari sudut pandangku sendiri, aku dan Seung Yoon saling menyukai sama lain.

“Aku suka melihatmu tersenyum, Soojung.” Itu ucapannya, yang masih kuingat hingga hari ini, meskipun agak terasa menyedihkan karena itu toh hanya kenangan. “Aku suka sekali padamu.”

Tapi, kalau kupikir ulang sekarang, ‘pertanyaan suka’-nya itu mungkin hanya pikiran remaja kami saja, mengingat Seung Yoon mengatakannya sewaktu kami masih menjadi junior.

Namun, tak hanya itu.

Seung Yoon pernah menciumku. Di bibir. Empat puluh lima detik.

Dan bahkan dia bilang sendiri, kalau ciuman itu bukanlah ciuman persahabatan. Dia bahkan tersenyum kepadaku, dengan cara yang benar-benar berbeda dari senyuman-senyumannya yang lalu.

Semenjak itu, aku tahu Seung Yoon menyukaiku. Kami berbicara banyak hal sebagai sahabat, namun tak satu pun dari kami pernah mengungkit jenis hubungan yang kami jalani. Kukira, Seung Yoon hanya ingin begini saja. Tahu, ‘kan, ada jenis pacaran di mana tidak pernah ada pernyataan cinta, namun keduanya tahu perasaan masing-masing? Yeah, aku senaif itu mengira kami juga berada dalam hubungan jenis itu.

Namun, itu terjadi sebelum Seung Yoon terekrut. Dan, bodohnya, aku masih mengira dia menyukaiku, sebesar rasa sukanya dulu.

Sayangnya, bibit yang kusemai itu rata oleh kenyataan pada akhirnya. Tumbang.

Kang Seung Yoon tak pernah menyapaku lagi.

Itu benar.

Sebulan setelah kembalinya Seung Yoon ke kampung halaman—dan saat dia memberiku hadiah itu—dia menghilang. Pada awalnya, kukira ini kebijakan agensi dan para trainee wajib menaatinya. Jung Soojung memang pandai menyenangkan hatinya sendiri, sampai-sampai tak sadar kalau Seung Yoon telanjur lupa padanya, enggan bertemu dengannya lagi.

Itu hadiah terakhir dari Seung Yoon.

Bah. Pacaran apanya. Harusnya aku bangun dari mimpi indahku, dan mulai menyongsong kenyataan. Kenyataan di mana Kang Seung Yoon pada akhirnya debut dan tidak ingat lagi kepadaku.

kkeut.


Sebenernya masih banyak lagi, tapi beberapa terlalu pendek dan ide awalnya juga nggak terlalu menarik, dan sisanya yang lumayan bagus (???) mau kuposting nanti di Secret Stories #2 HAHA. Makasih banyak kalau kamu masih baca sampai sini! ^_____________^

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s