Tukang Ganggu


pink, grunge, and retro image

Ada cowok dari kios sebelah yang gemar sekali menyela aktivitasku mendengarkan lagu. Aku juga kurang tahu apa maksud di balik kelakuan abnormalnya itu, tak pernah sempat aku menanyakannya. Pokoknya, cowok itu selalu muncul tiba-tiba dari pintu penyambung antara kafe tempatku bekerja dengan rental CD tempatnya tiap kali lagu milik Girls’ Generation mulai berdendang dari radio di meja kerjaku. Kalau dia datang untuk ikut mendengarkan sih tentu aku tidak masalah, tapi cowok itu selalu menguras habis kesabaranku dengan cara mematikan radionya, mengganti channel, atau mencabut kabelnya tanpa berkata APA-APA. Seakan-akan tingkah laku di luar nalarnya kurang menjengkelkan, cowok itu juga bakal melempariku sorot mencela yang bakal terbayang-bayang di kepalaku seminggu lamanya kemudian berbalik, pergi kembali ke kursinya di belakang konter kios sebelah.

Kalau aku diperbolehkan memaki, aku pasti sudah menggemborkan ‘what the *uck?!’ padanya atau sekalian menggampar kepalanya untuk meluruskan otaknya. Bukannya aku cewek kasar atau apa ya, tapi bagaimana tanggapanmu kalau tiba-tiba muncul orang asing yang siap sedia untuk mematikan radiomu ketika kau sedang duduk bersantai menikmati lagumu, tak hanya sekali, tapi dua ribu kali!? (Memang sih jumlah aslinya tidak sebanyak itu, tapi kalau aku terus membiarkannya, bisa-bisa kuantitas itu bakal terlampaui!).

Maka sore ini, ketika hujan rintik-rintik sedang mengguyur permukaan bumi dan menghantam jendela kaca kafe, ketika aku iseng mengacak channel dan berhenti sewaktu hits baru milik Girls’ Generation berdendang, dan ketika pintu penyambung tiba-tiba menjeblak membuka dan muncul sesosok manusia yang paling tidak kuhargai kehadirannya; aku siap menggertak. SANGAT SIAP. Lengan kausku kutekuk sampai siku sementara kakiku maju beberapa langkah untuk menghalangi si aneh ini dari kebiasaannya.

“Mau apa kau?!”

Cowok itu menghentikan langkah superlebarnya, lagi-lagi menyorotiku dengan tatapan menghinanya yang ingin kurampas lantas kuinjak-injak tapi tidak jadi karena tampaknya Tuhan menciptakan wajah manusia yang tidak bisa disobek tanpa bantuan alat-alat tajam.

Katanya, “Matikan lagunya.”

Aku pasang kuda-kuda, lengan makin kusingsingkan. “Kalau tidak?”

“Kubanting radiomu.”

“Merusak barang yang bukan milikmu adalah perbuatan kriminal dan kau bisa terjerat hukum karenanya. Lakukan saja, dan kau akan lihat akibatnya.”

Dia tidak khawatir sama sekali dengan ancamanku, malahan kakinya nekat maju setahap. “Tetap akan kulakukan.”

Melihat sepatu kedsnya yang dalam jangkauan, aku buru-buru menginjaknya keras-keras. Yess! Nike-nya itu keluaran baru dan bewarna cerah, kalau beradu dengan Adidas bulukku yang barusan berkecimpung dengan lumpur dan kawan-kawannya tentu akan beralih rupanya, kau tahu sendirilah bagaimana jadinya.

Tapi cowok itu tidak bergeming.

Wow. Kalau sepatu baruku yang masih bersinar terang kena injak, aku pasti meledak oleh raungan penuh amarah dan dendam. Jelas sekali manusia di depanku ini bukan manusia normal. Lagipula orang normal macam apa yang nekat menyelinap ke toko orang lain hanya untuk mematikan lagu?

“Matikan sekarang.”

Lion Heart masih berdendang dengan riang, aku ikut senang.

He he, matikan sendiri kalau bisa.”

Ujarnya, “Kau yang minta sendiri.” Kemudian dia dengan begitu gesitnya mendorongku ke samping, meraih radionya dengan kecepatan setan dan mematikannya dengan sekali sentak.

Lion Heart sayup-sayup menyatakan selamat tinggalnya dalam kepalaku. Wah, tidak bisa begini. Aku mulai berdeham-deham, kemudian dengan nada sengau menyambung lagunya yang terpotong. Rasakan.

Dia diam memandangku selama beberapa saat, sementara aku kesulitan membawakan nada tinggi lagunya; tapi tidak masalah, semakin jelek justru semakin bagus.

“Diam.”

Aku justru mengeraskan volume suara.

Datanglah telapak tangan kanannya, begitu dekat dan menimbulkkan suara ‘ppuk’ waktu mendarat di mulutku.

“Aku benci Girls’ Generation. Jangan setel lagu mereka di dekatku, kau paham?”

Untung aku teringat solusi murahan yang sering ditayangkan di film-film aksi ketika mulut si tokoh tengah dibekap begini: kugigit kuat-kuat telapaknya sampai si cowok ini mengaduh dengan begitu girly. Segelintir manusia di kafe memilih untuk memindahkan atensinya pada kami saat itu juga.

“Dia menggangguku duluan,” aku menjelaskan pada mereka-mereka yang sibuk mengerutkan kening. “Aku hanya mengikuti insting.”

“Kau diamlah, suaramulah yang mengganggu pendengaran.” Cela cowok itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang barusan bergesekan dengan gigiku. Rasakan.

Aku menoleh kembali ke para pengunjung, berkata, “Tuh, kan. Orang asing ini jahat dan tak punya perasaan.”

“Mana bisa begitu. Orang aneh ini coba-coba mengingatkanku akan mantan pacarku yang masih kucintai.”

Mulutku refleks membuka. “Pacarmu salah satu personil Girls’ Generation? Oleh karena itu kau anti sekali mendengarkan lagu mereka?”

Barisan penonton riuh.

“Bukan begitu!” serunya. “Argh!”

Lalu dia menyingkir pergi dari kafeku, kembali ke tempatnya seharusnya.

Sekarang aku masih belum tahu alasannya yang sebenarnya, tapi biar besok kutanyakan langsung padanya. Aku yakin dia bakal memberitahuku kalau aku berjanji tidak akan memainkan lagu Girls’ Generation lagi. Kita lihat nanti saja, ya!

2 thoughts on “Tukang Ganggu

    1. huhu laras kok kamu baca ;_;
      ya itu sebenernya alasannya gara-gara mantan pacar si cowok ini penggemar berat snsd terus mereka putus ga baik2 terus cowoknya baper tiap denger lagu snsd (ok aku tau alasannya sangat tidak masuk akal tapi begitu juga fic ini haha)

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s