Existential Crisis


g-friend, kpop, and gfriend image

Existential Crisis

by Authumnder

Gfriend’s Sowon & 17’s Seungcheol | Psychology, Slice of Life

+++

Pelayan toko bilang, warna pink tampak aneh padaku. Kelihatan lucu, kekanakan, dan tidak pantas. Kepalaku refleks tergeleng, mana mungkin begitu? Gaun ini begitu manis dan imut, dan aku suka melihat bayanganku di cermin, dengan tubuhku terbalut olehnya. Tapi sekali lagi, perempuan itu menggeleng.

Roknya tidak cocok. Kau tinggi, gaunnya terlalu pendek untukmu.

Lantas kenapa, aku menyergah, toh yang pakai nantinya juga aku.

Katanya, kami tidak menjual barang-barang pada sembarang orang, kami memilih mereka. Kau tidak cocok memakainya, maka kami tidak akan menyerahkannya untuk kau beli.

Aku teramat marah dan malu, bukan berarti dalam kepalaku tidak muncul pertanyaan:

Apanya yang aneh dari seorang gadis 21 tahun yang menginginkan sebuah gaun bewarna merah muda karena sangat menyukainya?

Diva jurusan bilang potongan rambutku membosankan. Panjang dan tidak terbentuk. Kuno dan ketinggalan jaman. Katanya, kenapa tak sekalian kaubikin menutupi wajah? Supaya dia tak usah repot-repot menatap wajahku.

Aku berusaha membela diri. Aku suka rambutku apa adanya.

Sahabat Diva memotong, iya memang kau menyukainya, tapi memangnya hanya kau yang punya mata? Kau pikir tidak jengkel apa melihat tatanan rambutmu?

Saat itu aku berpikir, lantas kenapa? Ini rambutku. Kalian memang punya mata, tapi kalian juga punya pilihan untuk tidak menatapku. Tak pernah sempat aku mengatakannya, perempuan-perempuan itu sudah telanjur pergi.

Ibu bilang ingin membelikanku contact lens, supaya aku tidak diejek lagi dengan kenyataan kalau kacamataku sudah setebal pantat botol. Aku ingin mengelak, bilang kalau itu tidak benar dan bahwa teman-teman di kampus biasa-biasa saja dengan keberadaan lensaku. Tapi Ibu memaksa.

Ibu bilang aku kelihatan cantik dengan/tanpa kacamataku, tapi sekarang setelah memakai lensa kontak, katanya aku kelihatan lebih spesial.

Aku bertanya-tanya dalam hati:

Aku? Spesial?

Satu-satunya temanku bilang kalau aku berusaha terlalu keras. Katanya aku jadi tidak terlihat seperti Kim Sowon yang dia kenal, katanya aku ingin menjadi bagian dari para diva berengsek itu, katanya usahaku akan berakhir di comberan, karena di situlah keinginanku berasal.

Tapi Ibuku bilang aku kelihatan spesial.

Mamamu bohong, Kim Sowon. Semua Mama memang suka berkhayal, berpikir kalau putri mereka sempurna.

Tapi spesial dan sempurna berbeda, aku ingin mengelak. Aku tidak butuh menjadi sempurna. Kesempurnaan nantinya bakal menyakitkan, bukan?

Temanku bilang, terserah padamulah. Tapi kurasa bakal sulit berteman denganmu kalau kau tak pakai kacamata.

Saat dia berbalik pergi, aku tercenung, apa ikatan pertemanan kita hanya didasari fakta kalau penglihatanku jelek?

Pemain basket andalan kampus bilang kalau salahkulah aku kena lempar bola. Kenapa kau harus berjalan di sana waktu aku sedang melempar?

Aku berdalih, tapi aku berjalan di trotoar umum yang sering digunakan mahasiswa lainnya. Beberapa juga lewat di sana sewaktu aku berjalan.

Tapi kau yang kena bola, ‘kan? Yang lain juga tidak kena. Kalau begitu salah siapa?

Aku terdiam, antara sangat malu dan pusing. Satu-satunya hal yang membuatku lega adalah kenyataan kalau kacamataku sudah tidak bertengger di hidung, karena kalau benda itu masih ada di sini, pasti bakal remuk dan hancur berantakan.

Lalu seseorang datang, berseru, hei, sudah dong, kau tidak lihat kalau dia mimisan kena hantam bolamu?

Barulah aku sadar ada darah segar di atas bibirku. Tapi aku berusaha keras untuk tidak panik meskipun ini kali pertama hal itu terjadi padaku. Mengabaikan denyutan dalam kepalaku, aku membenahi tas dan berlari pergi.

Seseorang bernama Choi Seungcheol meminta maaf padaku, bilang kalau ucapan temannya kemarin sangat tidak sopan dan kurang ajar. Dan seharusnya mereka bertanggung jawab atas luka pada hidungku.

Butuh hitungan satu sampai dua puluh sampai aku teringat bola basket yang mendarat di kepalaku dan darah yang mengalir dari hidungku.

Aku buru-buru mengiakan, lantas bergegas minggir karena waktu itu tim teater lewat membawa tumpukan patung dan cantelan kostum. Waktu rombongan itu menghilang, Choi Seungcheol sudah hilang dari pandang.

Kukatakan pada diriku sendiri kalau aku berlebihan menganggap keberadaanku penting bagi seseorang, hanya karena Choi Seungcheol menyapaku sore ini, bilang ingin mengajakku makan siang kapan-kapan.

Tak perlu waktu lama, aku berhasil meyakinkan diriku sendiri kalau aku terlalu berharap.

Choi Seungcheol bilang aku kelihatan manis dengan bando bunga yang iseng-iseng kujajal sewaktu melewati kios aksesoris.

Aku terlampau kaget untuk menanggapinya, saat kesadaranku pulih dan mulutku setengah terbuka untuk mengatakan sesuatu, seseorang telanjur menariknya pergi.

Otakku menyimpulkan kalau kejadian tadi hanyalah imajinasiku.

Bibiku pernah bilang kalau berhalusinasi terlalu sering adalah tanda-tanda kegilaan.

Aku takut, belakangan aku sering berimajinasi melihat Choi Seungcheol menyapaku/menyenyumiku/melambaikan tangannya ke arahku.

Choi Seungcheol bilang aku sulit sekali dicari.

Aku masih berpikir kalau itu hanyalah mimpi.

Choi Seungcheol bilang kalau aku terlalu pemalu untuk ukuran mahasiswi akhir. Dia menawarkan diri menemaniku makan siang.

Aku tidak menolak, atau mengiakan. Terlalu gugup.

Choi Seungcheol meneriakiku bodoh karena membenarkan olok-olok dan hinaan Diva Jurusan. Katanya, aku jauuuuuuuuuuuuuuuh lebih baik dari ‘kutubuku pencari sensasi’ dan ‘cewek goblok yang berusaha terlalu keras’.

Aku berseru balik, memang apa salahnya berusaha keras? Ini hidupku dan segalanya terserah padaku. Lantas aku membenarkan ucapannya kalau Kim Sowon memang bodoh.

Aku baru menyadari kalau jurnalku belakangan ini dipenuhi oleh Choi Seungcheol.

Jangan sampai Ibu membacanya.

Ibu memaksaku pergi ke psikiater.

Orang asing itu menyuruhku menggambar diriku sendiri di bawah hujan. Aku tidak pandai menggambar, tapi kupaksa diriku untuk melukiskan seorang aku yang tengah berjalan di bawah terpaan hujan tanpa membawa payung atau pun jas hujan.

Psikiaterku bilang aku menderita depresi.

Aku tidak tahu hal semacam itu ada dalam diriku.

Segala dalam hidupku tidak berjalan seperti seharusnya.

Diva Jurusan bilang Choi Seungcheol punya pacar, katanya aku jangan banyak berharap. Aku menyetujui ucapannya.

Aku tidak yakin ingin menghirup udara lagi.

Ibu bilang ingin belanja sesuatu. Kami pergi ke mal bersama dan menghabiskan banyak waktu memilah-milah pakaian. Aku tak berani mendekati blok khusus gaun dan setelan. Bayangan rok merah muda yang katanya tidak cocok untukku itu masih melekat begitu jelas.

Aku benci penolakan, maka kuhindari deretan rok-rok cantik itu.

Choi Seungcheol muncul lagi setelah hiatus berminggu-minggu. Bukannya aku menghitung. Sekarang dia lebih sering duduk di depanku dan menutup mulutnya. Aku tidak tahu mengapa.

Tapi aku rindu sosoknya yang dulu.

Aku sudah gila mengira buket bunga cantik yang ada di lokerku ini memang ditujukan untukku. Namun Seungcheol menegaskan kalau benda itu memang milikku.

Ujian tengah semester mendekat, barusan kutemukan segulung rontokan rambut di atas bantalku. Aku stres, tapi aku tak ingin membuat Ibu makin kalang-kabut.

Diva Jurusan menyobek kertas ujianku menjadi dua saat pengawas pergi ke depan untuk mengangkat telepon. Aku tak tahu mengapa, tapi dia bilang tulisan tanganku membuatnya marah.

Aku tak melapor.

Choi Seungcheol datang lagi, membawakanku susu karamel kemasan.

Untuk merayakan hari terakhir ujian!, katanya.

Aku tidak bicara banyak, hanya menyesapnya.

Dia bertanya apakah minuman favoritnya itu berhasil membuat mood-ku membaik, tapi aku balik bertanya, bagaimana rasanya memiliki mood yang baik? Karena sejujurnya aku lupa rasanya bahagia.

Tiba-tiba dia mencondongkan tubuh, mendekapku dengan kedua lengannya dan saat itu pula sesuatu meledak dalam kepalaku. Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi pelukannya membuatku merasa jauh lebih baik.

Psikiaterku bertanya, apa kau mencatat kegiatanmu sehari-hari dalam sebuah buku? Kau tahu, seperti diari?

Waktu melihatku mengangguk, dia ingin tahu apakah dia boleh membacanya. Aku tidak ingat menulis sesuatu yang terlampau personal di sana, maka kuserahkan buku ini.

Psikiaterku membacanya sampai tuntas, mengembalikannya, lalu berkata, “Sering-seringlah bertemu dengan Choi Seungcheol ini. Energi positifnya mungkin akan membuatmu tenang.”

Aku mendorong diriku sendiri untuk bertanya, hei, Seungcheol, apa menurutmu aku menghadirkan sebuah perasaan negatif yang tidak menyenangkan tiap kali kita makan siang bersama?

Seungcheol bilang tidak, lalu menambahkan, kalau ada seseorang yang berkata begitu padamu, katakan saja kalau hidup memang harus diseimbangkan, antara positif dan negatifnya.

Sepertinya aku jatuh cinta.

Seungcheol bilang kalau yang dikatakan Diva Jurusan tidak benar semua. Choi Seungcheol yang ada di hadapanmu ini tidak pernah punya pacar sejak insiden kepalamu kena bola itu.

Aku hanya diam saja memandangnya.

Sowon? Mau tahu mengapa?

Kutanya, mengapa apanya?

Katanya, mengapa aku tak punya pacar. Mau tahu?

Aku berkata, mau-mau saja kalau kau memang berniat memberitahukannya.

Tapi Seungcheol bergeser mendekat, memasang senyumannya yang paling spesial dan berbisik, karena aku masih berharap kalau Kim Sowon akan menyadari perasaanku dan membalasnya.

Otakku tak menangkap maksudnya, maka kutanya, perasaan apa?

Choi Seungcheol justru menciumku.

Anehnya, aku tak merasa kecil hati dan justru tenggelam ke dalamnya.

Kurasa aku tahu perasaan apa itu.

fin.

finished: 20:44 | May 13, 2016

tepat hari ini juga chimera berulang tahun ke-4 wow!!! xD

word

12 thoughts on “Existential Crisis

  1. Haloo, Meyda /sok kenal banget sih ini, maafkan/. Aku udah lama baca fanfic kamu, cuma baru sempet comment sekarang hehe
    Waahh… I like this one so badly.. Ahh so fluff and this is REALLY slice of life. Sometime we feel that feelings. Ah, pokoknya suka banget deh.
    Apalagi pas bagian Sowon suka kepedean eh tapi ternyata beneran itu… rasanya aku merasakan “wah, ini aku banget” pokoknya suka banget deh!
    Hehe, maafkan ya datang-datang membawa kerusuhan. Dan kalau diperbolehkan, dengan senang hati aku akan membawa kerusuhan di comment box mu hoho /ketawa setan/
    Oh ya perkenalkan, aku juga 99 line, May line pula, tapi ternyata kamu barusan lulus ya? Aku masih harus berjuang 1 tahun lagi😀

    Liked by 1 person

    1. Halo halo! sesungguhnya sok kenal itu adalah tonggak utama pertemanan wkwkw jadi jangan sungkan2!!
      YUP AKU JUGA suka begitu jadi takut dibilang kepedean ;_; BOLEH BOLEH! aku suka kalo comment box-ku dirusuhin haha makasih banyak ya :> btw aku panggilnya siapa nih?
      wah! sebentar lagi kamu akan merasakan tidak enaknya kelas 3 #berasatua hahaha. SEMANGAT SEMANGAT!

      Like

      1. Maafkan baru balas sekarang…
        Oke, sip lah..
        Makanya, THAT’S WHY THIS IS SO SPECIAL! I dunno why, tapi kamu pinter banget sih tahu perasaan orang-orang, ditambah rangkaian kata-katamu itu yang bikin melted /haah/ /so hyperbole/ xD
        KALAU KAMU MEMANG MENGIZINKAN, AKU TIDAK AKAN SUNGKAN-SUNGKAN untuk merusuhi comment box mu hahaha xD /sengaja dibikin capslock jebol karena sangat bersemangat/ Oh iya, panggil Salimah aja🙂
        Iya nih, baru juga masuk kelas 3 feeling nya tuh udah kerasa gitu ;_;
        OKE, SEMANGAT BUAT KAMU JUGA!!
        Btw kalau boleh nanya nih, sekarang lanjut ke mana nih? Kepo mode on ceritanya wkwk

        Like

      2. halo, halo! ketemu lagi!
        alah tahu perasaan orang-orang apaan sal (loh udah sok mendekin nama orang) aku tuh cuman berbekal sotoy aja???
        huehue terima kasih banyak ya aku shock baru buka notifikasi wordpress dan banyak komen wow aku senang??? ;_;
        cieee anak kelas tiga baru cieee, siap-siap aja nanti banyak tugas terus pemadatan terus sosialisasi kampus, pengalaman banget nih wkwk.
        oooh boleh-boleh! aku tidak melanjutkan ke universitas tapi ke politeknik!! jadi d3 gitu hehehe.

        Like

  2. WAAH HAPPY 4TH YEARS ANNIVERSARY (walaupun telat yak)

    yaampun aku awalnya ngira kalau sowon itu gila atau gimana karena pikiran dia itu lempeng padahal orang lain ngata2in dia wkwk
    DAN SUMPAH S.COUPSTASTU KAMU MANIS BANGET DISINI!

    kalau seungcheol memberi energi positif buat sowon, kalau meyda memberi energi positif buat aku WKWKWK /sumpahcheesybgt /abaikan

    SUKAAAAA~~~~ KEEP WRITING YAAA AKU SELALU SUKA TULISAN KAMU HUHU

    Like

    1. YOOO MAKASIH YHA! lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali wkwkw.
      bener kan seungcheol tuh kenapa di bayanganku sangat angelic sekali tipe2 cowok yang superduper romantis terus sekalinya naskir cewek pasti bener2 niat huhu AKU INGIN BERTEMU YG SEPERTI ITU TT
      AKU JUGA SUKA TULISAN KAMU ZAHRA HEHEHEHE :3

      Liked by 1 person

  3. KYAAA~ TAHUN KE EMPAT, CONGRAST KAMEY~~

    kusuka ceritanya, unyu unyu gitu😄 seungcheol nya juga unyuu, kyaa~ (apasih ju) oiya, pas bagian yang katanya sowon nemuin rambutnya yg rontok, aku kira dia kena kanker gitu😀 eh ternyata bukan😀 ngomong2 marganya sowon bukannya Kim ya?

    Maapkeun kerusuhan dd emesh ini kamey (plak) (dibuang)

    Like

    1. Hahaha tua banget ya Juuu xD
      eh ya ampun bener juga ya kalo rambut rontok buanyak itu identik sama penyakit??? wow aku ga kepikiran ;__; dan IYA HUHU SOWON NAMANYA KIM padahal aku habis ngesearch pas bikin tapi lupa?? ok akan segera dibenahi xD
      huuu tida papa ju aku senang dirusuhin?? heuheu makasih banyak ya sudah mampir ^___^

      Like

  4. SELAMAT ULANG TAHUN KEEMPAT!!!
    ps selamat juga buat sowon udah jadian sama bapak sekups ^^
    haaaaaa hurt comfortnya kena sekali! dan bullying itu… aish. meski ga separah itu dulu jaman sma aku dibully juga dan rasanya–ya ampun bully cewek itu terutama, ngeselin abis!
    dan melegakan bagaimana seungcheol hadir dgn energi positifnya😄 not a simple fluff tapi bner2 ada sesuatu di baliknya. aih rindu aku dgn kisah seperti ini!
    keep writing!

    Like

    1. hihi makasih kak li!!
      kakli dulu pernah dibully??? dan wow iya banget mulutnya cewek itu cablak banget kalo mau ngomong ga pake dipikir dua kali makanya suka jahat gitu ;__;
      makasih ya kak li huhu awalnya aku ragu ngepost soalnya rada… plotless sih hahaha tapi makasih banyak ya kak sdudah mampir dan baca ini ^__^

      Like

  5. Waaah tahun keempat, congrast yaa^^

    aku suka ficnya, hmm suka gaya2 diarinya gitu, nggak ngebosenin dan oke nice idea❤ mungkin lebih lucu kalo dikasih tanggal2 gitu ya kan sampe tanggal terakhirnya 13 mei 2016, tapi ide kamu bagus mey. Selamat yahh^^ sukses sama blognya dan tetap berkarya❤

    Like

    1. Haha makasih kak Ayu!
      yeuu awalnya aku juga pengen nambahin tanggal tapi nggak ah??? males??? soalnya males juga ngerapiinnya ntar kan tanggalnya biar imut gitu harus dikasih tampilan beda dari isi diarinya kayak dibold atau diitalic nah itu aku males (((dasar)))
      makasih banyak ya kak sudah mampir dan baca ini! ^_^

      Liked by 1 person

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s