Miss Chatterbox


Miss-Chatterboxx

Miss Chatterbox

By Authumnder

Featuring [17] Wonwoo & [CLC] Yujin

Genre Comedy, College-Life, AU | Jenis Hidangan 961 words, main course | Rating teen.

Ideas taken from FFC 1st Event’s prompt 10.

“What happened at Pizzeroo’s Cafe?”

***

Wonwoo kelaparan setengah mati, ia bahkan yakin perutnya yang langsing mampu menampung seekor paus di dalamnya—paus yang sudah dimasak, tentu saja, karena Jeon Wonwoo bisa dibilang bukan penggemar berat daging mentah. Kambing hitamkan saja para dosennya yang buta hati, seenaknya menyodorkan seabrek tugas dan karya tulis yang harus diselesaikan sebelum libur Natal tiba, sehingga ia terpaksa bermalam di perpustakaan sekolah tanpa asupan gizi sama sekali dengan laptop dan buku teks dalam jangkauan.

Bayangkan, lima belas jam bekerja non-stop tanpa mengunyah.

Beruntung saat tungkainya yang goyah menapak di Pizzeroo, kedai pizza itu dalam keadaan sepi pengunjung, sehingga Wonwoo tidak perlu  mengambil nomor antrian dan berdiri di depan konter dengan kondisi zombie-nya. Kriing.

“Oh, halo,” sapa si pelayan ramah, memindah atensinya dari mesin pembuat kopi ke mimik Wonwoo yang suram. “Sejak kapan kau tiba? Maaf, ya, aku pekerja baru di sini dan kupikir mesin itu canggih banget. Aku penasaran bagaimana cara mengoperasikannya, apa kau tahu? Oh, tentu saja tidak, kau ‘kan bukan pelayan di sini. He, he, aku akan bertanya pada Seunghee nanti. Kau tahu Seunghee? Dia pemilik kafe—”

Caffè Mocha, please. Dan satu American Favourite.” Sela Wonwoo tanpa ekspresi.

Right, maaf. Aku akan segera membuatkannya. Whoa, tak kusangka saat ini bakal tiba juga!” gumam si pelayan ber-name-tag Yujin itu—Wonwoo meliriknya sekilas, kalau-kalau informasi itu bakal berguna di masa depan (siapa tahu ia bisa melaporkan Yujin-Yujin ini ke komplain pelanggan karena pelayanan yang tidak memuaskan).

Sebenarnya ia malas menanggapi celotehan si gadis pelayan itu, namun kalimat terakhirnya berhasil mencuri perhatian Wonwoo. “Saat ini apa?” tanyanya.

Pertanyaan Wonwoo segera disambut heboh oleh Yujin, mata gadis itu segera dipenuhi binar-binar antusiasme. “Saat aku melayani pelanggan pertamaku tanpa dibantu!” sahutnya ceria. “Kau tahu, orang tuaku sempat melarangku ikut campur di sini mengingat kemampuan dalam dapurku nyaris nihil, tapi Seunghee bilang tidak apa-apa dan bahwa dia percaya padaku—”

Wonwoo sudah mengeluyur pergi.

Tak lama kemudian, Choi Yujin melangkah keluar dari pintu kecil pembatas dapur dengan baki di tangan. Dengan senyuman lebar ia menghampiri Wonwoo, yang rupanya memutuskan untuk mengistirahatkan sejenak otaknya yang berputar tanpa henti sejak semalam.

“Halo lagi!” kata Yujin, meletakkan baki tadi di atas meja dengan sangat hati-hati agar tidak menyenggol kepala pelanggannya itu. “Pesananmu tiba!”

Wonwoo akhirnya mendongak dari kegiatan nyaris-tidurnya, menyeringai malas ketika matanya menangkap raut bersemangat Yujin. Ia melipat kedua tangan di depan dada sementara Yujin sibuk memindahkan piring dan cangkir. Terakhir, ia menurunkan sepiring donat yang, seingat Wonwoo, tidak pernah ia pesan.

“Untukmu,” kata Yujin, mengerlingkan mata. “Bonus karena sudah menjadi pelanggan pertamaku!”

Wonwoo menahan diri untuk tidak mengerang keras-keras. Donatnya, sih, tidak apa-apa, manusianya itu yang membuatnya ogah. “Tidak perlu,” tolaknya. “Perutku bakal penuh menyantap ini semua.” Ia menunjuk seloyang pizza pesanannya.

“Oh, aku tidak repot-repot, kok! Ini semua kulakukan semata-mata karena aku bersyukur bisa berdiri di posisiku sekarang—sulit, lho, mencari pekerjaan part-time sebebas di sini, apa lagi dengan jadwal kuliahku yang sangat padat, terima kasih pada sepupuku Seunghee.”

Ini masih pukul sembilan, dan Wonwoo bisa merasakan sakit kepalanya menyerang kembali.

“Ya, ya, baiklah. Taruh saja di situ.” Ujar Wonwoo akhirnya, mulai memfokuskan dirinya pada santapannya.

Persetujuan Wonwoo tentu disambut meriah oleh Yujin, gadis itu buru-buru meletakkan piring  dan mengangkat kembali bakinya.

Wonwoo telah sampai pada gigitan ketiganya, sewaktu ia menyadari pelayan itu belum juga meninggalkan mejanya, sekarang malah duduk nyaman di depannya dengan ponsel di tangan.

Um, kenapa kau tidak masuk?” tanya Wonwoo, agaknya mulai merasa tidak nyaman.

Yujin menurunkan fokusnya dari layar ponsel, kembali ke Wonwoo yang menyorotinya dengan raut tidak setuju yang, sayangnya, tak berhasil ia tangkap. “Kenapa harus?” tanyanya balik. “Tidak ada pelanggan kecuali kau di sini, dan para pelayan lain juga belum datang. Jadi dari pada aku nongkrong sendirian di belakang konter, lebih baik duduk di sini bersamamamu, ‘kan?”

“Pernah dengar kata ‘personal space’, nggak?” balas Wonwoo. Fine, ia memang tidak suka bersikap kasar pada orang lain—apa lagi pada orang yang baru saja memberinya tiga donat gratis—namun yang ia butuhkan sekarang adalah ketenangan, di mana ia bisa mengonsumsi pizza-nya yang lezat dengan nyaman.

Yujin, rupanya, masih belum menyadari ketidaksukaan lawan bicaranya, karena kemudian ia menjawab dengan nada gembira, “Pernah, dong! Temanku Ayoung sering bilang begitu kalau aku datang ke apartemennya waktu dia sedang bekerja. Oh, kayaknya ayahku juga pernah mengatakannya—”

“Dan apa yang kaulakukan setelah mendengar Ayeon atau ayahmu mengatakan itu?”

Yujin berpikir sejenak. “Hm, biasanya aku hanya mengangguk lalu pergi.” Katanya.

Then, f*cking do that now!” namun tentu saja Wonwoo tidak meneriakkannya keras-keras. Ia akhirnya memilih untuk memfokuskan diri kembali pada makanannya, jelas-jelas mengacuhkan Yujin.

Umm, pelanggan, keberatan kalau aku mengambil fotomu? Kau tahu, untuk dokumentasi, hitung-hitung sebagai pengingat nanti sewaktu aku sudah jadi pengusaha sukses dan lulus dari—”

Wonwoo nyaris menyemburkan potongan pizza mendengar pertanyaan Yujin. Sekarang ia mulai mempertanyakan kewarasan gadis itu—pelayan macam apa yang mengabadikan pelanggan pertamanya? Bukan pelayan yang sehat, tentu saja.

Terlambat, ponsel Yujin mengeluarkan suara ckrek nyaring yang menandakan penggunaan fasilitas kamera.

Whoa, kau kelihatan keren sekali! Sayang keningmu berkerut di sini dan kau kelihatan begitu serius. Tapi sepertinya kau memang spesies yang menanggapi segalanya dengan serius, ya, ‘kan?”

Wonwoo tidak bisa menghadapi ini lagi. Peduli amat dengan donatnya yang masih utuh, ia berdiri dari kursinya dengan tidak begitu halus, memelototi si pelayan. “Aku sudah selesai, berapa semuanya?” tanyanya.

“Oh? Tapi kau belum memakan bonus dariku—”

“Makan saja sendiri. Aku tidak peduli. Sekarang berapa semuanya?”

Yujin menyebutkan total harganya dengan bibir berkerut dan alis menyatu. Ia bahkan terlampau kaget untuk berkata terima kasih ketika Wonwoo menyerahkan bonnya.

Saat kesadarannya kembali, Wonwoo sudah nyaris menembus pintu keluar Pizzeroo. Tergesa Yujin meneriakkan, “Terima kasih sudah berkunjung! Sampai ketemu kapan-kapan!”

Wonwoo mendengarnya, dan ia tahu ia bakal bertemu dengan pelayan sinting itu lagi, bahkan meski kejengkelannya sudah menyentuh level maksimal—karena, ya ampun, siapa sih yang mau melewatkan lezatnya pizza buatan Pizzeroo?

end.

Finished: 11:38 | December 23, 2015. 

(a/n): nggak nyangka bakal jadi secepet dan sepanjang ini (karena tokohnya yang chatty banget, jadi ficnya juga harus panjang lol logic apaan ini xD). Maaf kalo gak sesuai dengan prompt, ini sih yang kutangkap soalnya. ._.v terima kasih sudah baca! ^^

Miss-ChatterboxMiss-Chatterbox2

8 thoughts on “Miss Chatterbox

  1. Uh kayanya tipikal karakternya Kak Mey tuh yang cowo judes sama cewe kepedean/cerewet gitu ya hahahah ku sok tau sekali gak sih baru pertama kali dateng udah sok-sok nebak gini😄 Tapi justru gemash deh dari awal Yujin udah banyak omong gitu terus Wonu-nya cuma “…..”, abis itu sampe dimisuh-misuhin sama Wonu juga kayanya Yujin biasa ae, tetep aja nyerocos dengan riang gembira. Keep writing kak meeyyy😀

    Like

    1. Selamat Ran kamu memecahkan rahasia karakter buatanku!!! Wkwk. Yesh aku memang sangat tipikal :”
      Yujin biasa ae karena… dia bahkan ga sadar sedang dibenci HAHA.
      Makasih banyak udah mampir dan baca ini ya Ran! ( wow kita sehati bikos barusan aku ngubek2 wp kamu wkwk, dikit doang sih soalnya on di hp nih males ngetiknya ;_;)

      Liked by 1 person

  2. Aku gak begitu tau kedua castnya tapi ini lucu banget! Yujin kayanya tipe yg gak mudah menyerah ya. Dan dia kok gak gampang tersinggung banget yak wkwk
    😂😂😂

    Like

  3. Mey aku kangen ngerusuh di fic kamu!!
    Asli ini lucu banget yujinnya ngeselin gitu ih. Sayang banget tapi donatnya nggak dimakan duh gimana sih wonu:(
    Lucu banget meyy. As always, aku selalu suka baca ceritamu♡
    Btw kamu dapet ide dari mana sih masangin wonwoo sama yujin? Kamu bikin aku nyadar kalo mereka berdua lucu kalo dipasangin:(
    Aku kok ngelantur ya. Maafin mey. Udah stop sampe di sini aja kok. Bhai.

    Like

    1. Huhu aku senang kamu masih ingat padaku!! (alay alay alay xD)
      ASLI BENER BANGET aku bikinnya juga waduh mubazir banget donatnya ga kemakan… wkwkwk.
      gak tau aku asal aja wkwk soalnya yujin sama wonu wajahnya seakan mengingatkanku satu sama lain??? (wow maksudnya gmn yha) yess! mari bergabung di yujin-wonu fanclub sayang sekali aku belum menemukan ff mereka :(((
      hihi gapapa kali!! makasih banyak ya sudah mampir ^__________^

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s