Bumping Closer


bump closer

Bumping Closer

by Authumnder

Lovelyz’s Yein & BTS’ Jungkook | School-Life, Fluff

#800: We got close over time.

+++

Semenjak sahabat cewekku punya pacar, aku jadi lebih sering menghabiskan waktu sendirian. Makan siang, sendirian. Pergi ke perpustakaan, sendirian. Membeli aksesoris rambut, sendirian. Belanja barang-barang kecantikan, sendirian. Sebenarnya tidak terlalu menyedihkan, sih, tapi justru Jieqiong-lah yang tidak enak hati. Temanku itu memang “agak” terlalu melankolis dan katanya, dia benci melihatku melakukan segala hal sendirian seperti seseorang yang kesepian. Aku sudah menepis tuduhannya itu, tapi dia bersikeras memaksaku ikut dalam kelompok barunya: dia, pacarnya, dan seorang anak cowok lain teman pacarnya. Aku benci mengakuinya, tapi sebenarnya aku lebih mending sendirian ketimbang berkumpul dengan dua orang yang tidak kukenal.

“Ih, Yein! Mereka bukan orang asing, tahu!” sanggah Jieqiong pada keberatanku.

Kuputuskan untuk tutup mulut setelahnya.

Siang ini, Jieqiong mengajakku serta untuk makan siang. Dia bahkan dengan baik hati menyuruhku duduk, sementara dia sendiri mengeluyur ke barisan murid yang mengantre makanan. Keputusannya itu, lagi-lagi, membuatku sangat tidak nyaman, karena a) rupanya meja yang kududuki ini telah menjadi meja pribadi untuk beberapa anak kelas A, yaitu pacar Jieqiong dan seorang temannya, b) pacar Jieqiong entah kenapa juga berpikiran sama dengan cewek itu, memutuskan untuk pergi meninggalkan meja setelah mewanti teman cowoknya untuk tetap tinggal menemaniku, sementara dia sendiri pergi mengantre, dan c) sekarang anak cowok itu menatapku dengan sangat tidak nyaman dan penuh keraguan, membuatku ingin duduk di bawah meja saja. Ya Tuhan.

Untuk mencairkan suasana, aku memaksakan senyum lebar yang kuharap terlihat ramah dan mengulurkan tangan. “Halo, aku Yein, uh, seperti yang kau tahu, teman Jieqiong.”

Sial seribu sial, saat aku melakukannya, cowok ini malah sedang sibuk merogoh kantong celananya, membuat kecanggungan makin rapat menyelimuti kami sebab dia tak bisa langsung menyambut jabatan. Saat dia berhasil mengeluarkan apa yang dia cari (ponsel), dia langsung menerima tanganku dan tertawa.

“Sori, sori, aku tidak tahu kau mau memperkenalkan diri.” Katanya.

Aku menyeringai. “Tidak masalah.”

Sepi beberapa saat sampai dia menggaruk kepala sambil berkata, “Aku Jungkook, omong-omong.”

Beruntung Jieqiong dan pacarnya kembali sebelum kami benar-benar kehabisan topik.

“Maaf agak lama.” Ujar Jieqiong sambil meletakkan baki di meja, “antrenya panjang dan beberapa anak terkenal menyela giliran. Menyebalkan.”

Pacarnya tertawa, padahal menurutku tidak ada yang lucu, dan mengangkat sebelah tangannya untuk mengusak rambut Jieqiong. Dia membisikkan sesuatu dan ganti Jieqiong yang tertawa, sementara aku hanya bisa meringis dan menekuni makananku lebih jauh. Orang yang punya pacar memang gila, batinku saat mendongak, hanya untuk mendapati Jungkook yang ternyata juga tengah memandangi sejoli di samping kami lantas menyeringai dengan wajah lucu. Dia memindah fokusnya kembali ke baki, tapi sepertinya matanya lebih dulu menangkap pandanganku. Kali ini kami sama-sama meringis ke arah satu dan yang lain.

+

“Jadinya kau mau ke mana sehabis ini?”

Aku mengangkat kepalaku dari tumpukan buku setelah mendengarnya. “Nggak ke mana-mana, langsung pulang saja. Kenapa?” aku balas bertanya.

Jungkook meringis. “Itu… ibuku barusan mengirim SMS kalau kami kehabisan sereal dan susu. Dia memintaku mampir sebentar ke supermarket di perjalanan pulang, mau menemaniku?”

“Boleh, habis ini, ya.”

Oh, kalau-kalau kau merasa aneh dengan percakapan kami, tidak masalah—karena kadang-kadang aku juga kaget, kok bisa aku benar-benar berteman dengan teman pacar Jieqiong? Tapi memang begitulah ceritanya. Setelah menghabiskan banyak waktu bersama, lama-kelamaan aku tidak perlu repot-repot mencari topik pembicaraan tiap kali ditinggal berdua oleh pasangan itu, obrolan antara kami berdua mengalir dengan lancar dan aku merasa oke-oke saja dengan kehadirannya. Seringkas itu.

Lima menit kemudian, tugas menyalinku sudah selesai dan aku siap pulang. Sementara, setelah kulirik, Jungkook sedang sibuk terlelap dalam tidurnya. Aku menusuk bahunya dengan kuku jariku yang paling panjang, jas seragamnya ‘kan tebal!

Dia membuka mata lalu menyengir, “Sudah selesai?”

“Sudah. Buru.”

Kami melompat masuk dalam bus pulang lima menit setelahnya, aku mencari kursi selagi Jungkook membayar ongkos dengan kartu-kartu kami.

Setelah sukses melesakkan pantatnya ke kursi busa, Jungkook menguap. “Tugas apa sih yang barusan kau kerjakan?” tanyanya malas-malasan.

“Bahasa Inggris. Kau belum dapat giliran? Eh, atau malah sudah?” aku meralat setelah mengingat kalau dia belajar di kelas unggulan yang, sepertinya, lebih cepat dalam menerima pelajaran.

Dia mengangguk-angguk, “Ooh, yang preposition blah-blah-blah itu?” setelah itu dia menguap lagi.

“Iya, yang itu. Sudah sana kau tidur, nanti kalau sampai kubangunkan.”

+

“Jadi mau yang mana, Froot Loops atau Lucky Charms?” tanyaku, mengangkat dua karton sereal yang kusebut namanya tadi. “Yang mana?”

Bukannya menjawab, Jungkook malah sibuk meringis dan menggaruk kepala. “Eh, memang bedanya apa?” tanyanya.

“Kok tanya aku, yang biasanya sarapan sereal ‘kan kau.” Omelku, meliriknya. “Memang biasanya ibumu beli yang mana?”

Dia menyambar karton Froot Loops dari tanganku dan memandanginya. “Kayaknya yang ini, deh.” Tapi aku tahu dari ekspresinya kalau Jungkook sendiri menyangsikan keputusannya. “Eh, atau yang ini?”

Ampun, deh. “Kita undi koin saja, bagaimana? Lucky Charms kepala dan Froot Loops ekor.” Aku memberi saran sambil merogoh saku pakaian, mengeluarkan satu uang recehan dari sana. Kusodorkan koin itu pada Jungkook, tapi dia menggeleng dan menunjukku. Baiklah, mari kita lihat. Koinnya melayang selama sedetik di udara, lalu jatuh menggempur lantai dengan bunyi gaduh. Ekor. “Froot Loops, it is.

Jungkook langsung memasukkan sereal yang terpilih ke dalam keranjang kecil yang sedari tadi dijinjingnya. Dia mengeluyur lagi menuju deretan rak yang lain, kali ini dia memandangi berkaleng-kaleng susu dengan bingung.

“Varian susu ternyata banyak juga, ya,” katanya malu-malu. Dia melirikku dengan ekor matanya, memberi ringisan penuh penyesalan. “Koinnya dong.”

Aku berdecak, tapi bersiap-siap mengundi lagi.

+

“Belakangan kau sering jalan sama Jungkook, ya? Apa kalian pacaran sekarang?”

Mulutku refleks berhenti mengunyah, nyaris menyemburkan isinya kalau Jieqiong tidak segera menyodorkan air mineral. “Jangan ngawur, ih.” Sahutku gusar. “Belakangan ‘kan kau sibuk sekali. Sementara kau sendiri bilang benci melihatku ke mana-mana sendirian, jadi kuminta Jungkook menemaniku.”

Jieqiong mengangguk, mulai menyantap makan siangnya dengan riang.

Saat aku akan beranjak mengembalikan piring, dia menahanku. Katanya, “Yein, nanti sore kau tidak ada acara, ‘kan? Hangout, yuk!”

“Boleh. Jam berapa? Di mana?”

“Nanti kuberitahu detailnya lewat SMS. Kelas, yuk!”

Sebagai seseorang yang bodoh dan tidak awas keadaan, aku sama sekali tidak mencurigai gerak-gerik Jieqiong yang berulang-kali melirikku dengan senyuman mengembang. Tapi sore ini akhirnya aku tahu, dan sudah terlambat untuk mundur lagi.

Loh, Jungkook? Kok kau di sini?” tanyaku, terkejut ketika melihat sosoknya di kafe tempat Jieqiong mengajakku janjian. “Lihat Jieqiong, nggak? Dia bukan tipe orang yang suka terlambat.” Kataku lagi, karena saat itu sudah lima belas menit lewat waktu janjian.

“Huh?” Jungkook balik memandangku dengan kening berkerut. “Aku di sini juga karena pacar Jieqiong.”

Barulah kesadaran itu menerjangku seperti banjir bandang. Oh, tentu saja. Aku melesakkan bokongku ke kursi dengan seringaian agak jengkel terpasang. “Paham, nggak? Permainan yang dimainkan pasangan itu?” ujarku.

“Maksudnya apaan?”

Kalau ada kontes untuk orang paling clueless sedunia, aku yakin cowok di depanku ini bakal menang. Kuputuskan untuk mengacuhkan pertanyaannya dan membolak-balik menu, “Langsung pesan saja. Jieqiong atau pacarnya tidak akan muncul.”

Dia belum juga paham. “Kok gitu?”

“Iya, begitu.” Sahutku enggan, lalu menghela napas. “Mereka berdua sekongkol supaya kita pergi hangout berdua saja.” Lanjutku, sengaja benar meninggalkan kata ‘kencan’. “Biar kutelepon Jieqiong.” Aku mengeluarkan ponsel dan menghubunginya, tapi panggilannya tidak terjawab bahkan sampai kali ketiga. Aku menyerah.

Jungkook tersenyum tipis. “Tidak diangkat, ya? Ponsel cowoknya juga tidak aktif.”

Nah, ‘kan, benar dugaanku.

Aku berusaha untuk terus bersikap positif dengan menanyakan, “Jadi apa yang akan kita lakukan sehabis ini? Pulang?” sambil berpikir kalau pulang seawal itu akan membuat make-up yang kupakai sia-sia. Mungkin aku akan berfoto ria dulu sebelum menghapusnya.

“Ya sudah, mumpung kita sudah di sini, main ke Timezone, yuk!”

+

Besoknya, aku pura-pura marah pada Jieqiong, mendiamkan cewek itu sepagian. Bahkan, aku menutup mulutku meskipun ingin sekali tertawa waktu dia mencetuskan guyonan—itu hal baru bagi kami berdua, karena biasanya, semarah apa pun aku, tidak pernah bisa aku menahan tawa waktu Jieqiong melakukannya.

Tapi saat pelajaran Mandarin dan Jieqiong sibuk menyalin, aku tak tahan untuk tidak bertanya. “Apa sih yang sedang ditulis Bu Qian di papan tulis?”

“Oh, itu hanya huruf-huruf—” dia berhenti mencatat untuk menolehku dengan wajah terkejut. “Kau mau bicara padaku lagi, Yein?” Jieqiong kelihatan begitu terharu sampai-sampai aku nyaris bisa melihat genangan air di matanya.

Aku ingin berkata, siapa sih yang bisa mendiamkanku lama-lama, tapi takut kalau silent treatment-ku tidak akan manjur lagi setelahnya. Jadi kukatakan, “Jangan diulang, lho, yang kemarin itu. Untung aku langsung tahu kebohonganmu karena kalau tidak, aku bakal bertahan di sana sampai kafenya tutup.”

Dia cengengesan. “Sori, deh. Habis kalau tidak dibegitukan, mana mungkin kau mau keluar dengan Jungkook?”

Loh, aku sering kok keluar dengan dia.” Sanggahku.

“Ya, memang, tapi ‘kan bukan jenis keluar yang romantis.”

Aku mencibir.

“Lagipula, Yein, Jungkook itu baik, lho. Menyenangkan lagi. Maksudku, kalian berdua cocok sekali! Kata pacarku dia tidak bisa romantis, nah, pas sekali untukmu, ‘kan? Kau sendiri yang bilang kalau kau suka geli kalau ada orang yang bersikap romantis padamu. Plus, prom ‘kan sudah dekat, masa kau mau pergi ke sana sendirian?”

Terpaksa kuakui kalau penjelasan Jieqiong memiliki poin. Bukan bagian prom-nya, melainkan bagian awal di mana dia menyebutkan kalau aku dan Jungkook cocok. Aku mungkin tidak pernah menyadarinya sebelum ini, tapi memang dari dulu belum pernah Jungkook punya paham yang berbeda dariku.

“Aku akan menyuruh Jungkook untuk mengajakmu ke prom setelah ini.” Tiba-tiba Jieqiong bersuara lagi, kali ini dengan sangat serius. “Dia belum mengajakmu, ‘kan? Dan kau akan bilang ‘ya’ seumpama dia melakukannya, ‘kan?”

Aku melanjutkan catatanku, bertingkah seakan-akan tidak peduli sewaktu mengatakan. “Dia sudah mengajakku, dan aku juga sudah bilang ya.”

fin.

Finished: 18:05 | May 29, 2016.

Lucu ya, kadang-kadang aku nggak bisa nulis fiksi panjang yang mencapai 500words, sedangkan sekarang aku malah nggak bisa nulis fiksi pendek yang jumlah hurufnya kurang dari 1000. Huhu.

 

12 thoughts on “Bumping Closer

  1. hore! ujung2nya dating, sesuai ekspetasi🙌🙌

    hwa maaf baru dateng sudah nyampah’-‘ aku nemu ffmu karena aku ngefollow wp yg ber-tag lovelyz, jadi sampailah daku disini… halo’-‘ panggil saja night, 98liner^^

    aku senyam-senyum bayangin yein mainan koin di tempat belanja😂 lalu pas pinky nyuruh yein dateng prom bareng jungkook… duh seneng banget ternyata mereka bakal ngeprom banget ahhh💕 btw cowoknya pinky siapa sih?’-‘ diriku penasaran…

    sekian sampai sini deh, maaf yaa kepanjangan’-‘ tbh namamu pernah kuliat di suatu lapak tp aku lupa dimana, but still it’s nice to meet you!😆 keep writing~

    Like

    1. halo night! hooo makasih banyak ya udah mampir ke sini hehehe. kenalin juga aku meyda 99liner.
      pengakuan dosa: aku belum tahu siapa yang mau kupair sama pinky jadi ga kusebutin namanya wkwk biar pemaca yang memutuskan xD
      weyy aku juga pernah liat nama kamu tapi ini baru pertama kali kita kenalan ya, hehe salam kenal!! makash lagi ya udah main ke sini!! :>

      Liked by 1 person

  2. Kak Mey this is my first time reading your fiction dengan character cowo yang gemas blah-bloh anteng HUHUHU TAPI UCUL SANGAT MAS JUNGKOOK BISA DIKIRIM LEWAT POS KILAT GITU GAK SIH //nggak Kusuka pas bagian beli sereal sama pas bagian kencan buta itu KENAPA SIH YANG JALAN MEREKA TAPI YANG BAPER SAYA //lebaynya kumat Ah sudahlah daripada aku merusuh, keep writing ya Kak Meeeeyyy >.<

    Liked by 1 person

    1. percaya deh ran kalo jungkook bisa dikirim pasti sekARANG AKU LG BERDUAAN SAMA DIA ;_; sesungguhnya baper itu sangat manusiawi aku mengerti kok ran :’
      hehehe makasih banyak ya udah mampir dan baca ini ^____^

      Like

  3. MANIS MANIS MANDJA. uhhh mb mey gapernah gagal bikin aku xenyoom2 sendiri baca ff yang super fluff kiyuti2 aned gini ;AAA; mana mb mey sukses menggambarkan kookie yang emang kalau sedenger aku dari para army di kelas, kalo ketemu cewek grogi2 gimana gitu😄

    dan bagian belanja YASTAGA KUSUKAAA. jungkook ketahuan banget kalo jarang ato mungkin gapernah? belanja. “kayaknya yang ini.” terus “atau mungkin yang ini?” and then “lho kok banyak varian” UWUWUWU EMESH SEKALIII.

    pokoknya aku suka fiksi mb meyda titik pake tanda seru! keep writing yha o//

    Liked by 1 person

    1. AIH aku kan jadi malu mb Gab :> (alay) (jijik) EH TAPI EMANG bener jungkook bilangnya playboy tapi goblok banget kalo deket sama cewek🙂 playboy macam apa🙂 wkwkwk,
      eh tapi ga cuma jungkook lho aku kao belanja harus spesifik ibuku nyuruhnya kayak beli teh ya yang merk ini dll begitu wkwkwk xD
      MAKASIH BANYAK YA GAB DAH MAMPIR DAN BACA INI :>

      Like

  4. SUKAK. MANIS. Dan naturally beautiful :”)

    Huhu pas Kuki minta koin itu loh manis bgt. Mana Yein di sini duh, kusuka banget pokoknya :”D

    Maafin gak bisa komen banyak2. Tp ini enak bgt pokoknya❤

    Like

  5. Ceritanya simple tapi gemes banget!!!!!!!!!!! IYA SEGEMES ITU PLZ!!!!!
    Padahal aku gak tau banyak soal Jungkook, dan jarang sih baca fiksinya, jadi aku nggak paham2 banget soal dia(?) tapi serius deh, walaupun gitu, aku ngebayangin wajah jungkook terus bayangin dia kayak yang di fiksi kamu ini, aku bisa relate gitu kebawa suasana😄 (??) nggak kerasa pas udah end hehehehe
    Aku paling suka nggak tau kenapa pas bagian perkenalan…………….Mau kenalan eh keadaannya lagi nggak tepat, terus langsung canggung tapi justru di situ bagian ngegemesinnya!!!!!!!
    Terus aku suka banget sama yang kamu kasih di ending……… soalnya si tokoh aku ini kan dari awal cerita aja kayak ogah-ogahan banget buat ketemu Jungkook, eh tapi diajak ke prom malah YES HAHAHAHA LUCUUUUUU. BANGET.
    Enak banget dibaca pagi-pagi asli hehehehehehe keep writing meeeeyyyyyyyyyy

    Liked by 1 person

    1. HUHU MAKASIH KAK ECA UDAH MAU BACA MESKIPUN BELUM TAHU TOKOHNYA :’)
      yess pokoknya perkenalan pertama itu belum lengkap kalo ga ada awkward-awkwardnya wkwk. iih la gimana mau bilang no pas diajak ke prom kalo yang ngajak rupanya begitu🙂 aku juga mau :> lohloh xD
      makasih banyak ya kak eca udah mampir dan baca ini! ^_^

      Liked by 1 person

  6. ya allah ini anak akhirnya nggak keringet dingin pas ngobrol sama perempuan hahahahaha xD aslik mey aku masih kebayang-bayang kuki pas di american hustle life yang dia jadi grogi terus nervous abis sama perempuan wkwkkk dasyaaaaar katanya playboy tapi deket perempuan aja keringet dingin wkwkk😆😆

    PAS BAGIAN BELI SEREAL DONG ASTAGAH! anak cowo tuh yaaaa ya ampun ._. di rumah juga kalo misal nitip beli adekku beli apaaaa gitu pasti adaaa aja yang salah. kalo ditanya ntar jawabnya: hah perasaan gambar depannya ini deh. wkwk atuhlah. teruuuuuus kalimat terakhirnya aku suka bangettttt sampe sejuta kali. uwuuu udah diajak. uwuuuu udah bilang iya xD cubanget sih ya ampun.

    yokshi mey aku sukaaaa bgt hehehe. keep writing yaaah😊😊

    Liked by 1 person

    1. bener banget kakfik gila JUNGKOOK SEANTI ITU SAMA CEWEK wkwkwkw. yess ibuku aja kalo nyuruh adek pasti ditulis di note kecil soalnya udah kapok, salah mulu :’)
      huhu makasih baget ya kak sudah mampir dan baca ini :> PLUS KOMENNYA PANJANG AKU SUKA :>

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s