[Ficlet-Mix] Set 804


Call me out on my mistakes.

“Halo?”

“Halo. Dengar, aku tahu ini sudah nyaris pagi dan aku tahu kau pasti sedang tidur—”

Aku menyela, “Tadinya.”

“Ya, oke, tadinya kau pasti sedang tidur tapi aku tidak bisa memejamkan mataku jadi kuputuskan untuk mengoreksi latihan ulangan terakhirmu dan aku ingat benar soal janjiku padamu—”

“Janji yang mana, sih?” tanyaku, kesulitan mengingat-ingat karena, well, ini baru pukul dua dini hari dan otakku belum bekerja sepenuhnya.

Terdengar helaan napas dari seberang, kemudian bisikan lirih, “Harusnya kutelepon dia nanti pagi saja. Kau belum bangun, ya?”

“Aku sudah bangun sekarang, thanks to you. Apa, sih, yang kepingin kau katakan?”

“Latihan ulangan terakhirmu. Dari 50 soal, kau berhasil menjawab dengan benar… tujuh soal. Hebat sekali, bukan? Ujian masuk universitasmu dua minggu lagi, Jongbin!” Taeha meneriakkan kalimat terakhirnya. “Kau gila, ya?”

Aku masih berusaha bersikap positif. “Hebat, kukira aku akan mendapat nol jawaban benar.”

“Dua-duanya sama-sama payah, Jongbin.”

“Tidak masalah. Kau masih mau memberiku kursus, ‘kan? Oh, tentu saja, kau ‘kan sayang padaku.” Kataku.

Taeha mendengus, “Tidak juga.”

“Tapi aku sayang padamu! Aku akan menyanyikan lagu I Really Like You lagi kalau kau tidak bilang sayang padaku juga.”

Aku mulai bersenandung, “I really really really—”

“Diam, Park Jongbin.”

—like you and I—”

“Aku sayang padamu! Oke? Sudah? Kau pergi tidurlah, sudah kuduga kalau meneleponmu malam-malam begini bakal berakhir buruk. Bye!”

fin.


I’m very hospitable.

“Kenapa kau tidak masuk?” seru sebuah suara dari dalam kamarku, kedengaran bingung. “Ini ‘kan rumahmu!”

Dengan ragu sekali, aku bertanya, “Memangnya boleh? Kau sudah selesai dengan—”

“Oh! Jangan khawatir soal itu, aku sudah ganti dari tadi.”

Bagus, bisikku pada diri sendiri sambil melangkah pelan-pelan menuju pintu yang tertutup rapat. “Apa kau yakin kau sudah selesai? Maksudku, kau tidak akan menyiramku dengan seember air, ‘kan?” aku memastikan.

“Tidak, tentu saja! Kau bukan penyusup cabul yang bersembunyi di dapurku, jangan khawatir.” Kali ini nadanya kedengaran tidak sabar, jadi aku bergegas masuk. Perempuan itu sedang duduk di pinggir kasurku dengan kaki terjuntai ke bawah, rok merahnya yang basah sudah digantikan oleh kaus lengan panjang dan celana training. Bukannya aku memerhatikan penampilannya, lho.

Aku ragu-ragu mendekat, sengaja menjaga jarak dengan duduk di sofa.

Dia tiba-tiba mendongak dari remote TV-ku. “Hei, kau tidak takut padaku, ‘kan?”

“Jujur? Ya.” Jawabku dengan tidak enak. Kalau kau melihat aksinya setengah jam yang lalu, kau pasti juga akan takut padanya. Bayangkan, dia tinggal sendirian di apartemen di sampingku dan mendapati ada laki-laki asing di dapurnya. Dia memang menelepon polisi, tapi tidak sebelum mempersiapkan langkah selanjutnya—ember plastik penuh air dingin. Pendek cerita, dia berhasil memukul kepala laki-laki itu dengan panci dan menyiramnya dengan air. Satu polisi menggedor-gedor pintuku, memintaku untuk menenangkan perempuan itu barang sebentar sementara mereka meringkus si pelaku.

“Namaku Junghwa.” Katanya sambil tertawa. “Dan jangan takut padaku, aku kedengaran seperti monster jadinya.”

Aku gelagapan. “Oh, aku Yeongjun.”

“Senang bertemu denganmu, tetangga baru!”

Sebenarnya, aku tidak begitu senang karena Junghwa menguarkan aura membahayakan, tapi kubalas senyum manisnya. Yah, halo juga.

fin.


gif, minhyuk, and map6 imageyoo ara image

It could get ugly.

Uh, aku benar-benar minta maaf. Kau jadi harus babak belur begini.” Gadis di depanku berjongkok sambil membasahi kapas dengan rivanol. “Di mana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu habis ini.”

Aku meringis. “Sepertinya bukan ide yang bagus,” kataku, tapi tidak menjelaskan lebih jauh karena alasannya sangat memalukan—yaitu, keluargaku bakal mengira kalau gadis ini punya hubungan romantis denganku, lalu  ibuku akan menahannya untuk makan malam dan mulai bertanya kapan kami akan menikah. Jadi, aku mengunci mulutku, membiarkannya mengira-ngira sendiri. “Aku akan pulang sendiri saja, terima kasih.”

Dia menggeleng cepat sekali, “Tidak bisa begitu, dong. Aku menabrakmu barusan dan baru semenit yang lalu mimisannya berhenti, plus luka-luka di kakimu kelihatan begitu… begitu…”

“Mengerikan?” kulengkapi kalimatnya. “Tidak masalah. Laki-laki tangguh sudah biasa dengan hal-hal seperti ini.” Tapi aku meringis ketika dia menekan betisku. “…well, tidak sepenuhnya. Tapi aku bisa pulang sendiri dengan selamat.”

“Memar-memarnya bakal kelihatan jelek sekali besok pagi,” dia mengubah topik pembicaraan. “Wajahmu bakal berubah warna menjadi biru tua dan kau akan kesulitan bicara karena ujung bibirmu robek.”

Aku menjentikkan jari. “Urusan mudah, aku bisa bilang kalau aku barusan bertengkar dengan perampok dan berhasil mengalahkannya meski wajahku penuh luka. Bagaimana?”

Dia menyerah lantas mengomel, “Baiklah, baiklah. Terserah padamu kalau kau tidak mau aku bertanggung jawab. Tunggu sebentar, siapa namamu?”

“Kim Minhyuk.”

“Oke, Kim Minhyuk, tercatat. Sekarang, terima ini,” dia mengangsurkan kartu kecil ke tanganku. “Telepon ke nomor yang tertera di situ kalau ada luka dalam, oke? Aku akan merasa bersalah sekali setelah ini.”

“Jangan, Yoo Ara,” kataku, setelah membaca kartunya. “Tapi aku mungkin akan meneleponmu di waktu senggang. Menanyakan kabar, atau mungkin data diri seperti, apa kau punya pacar? Ya, seperti itu.”

fin.


kpop, mimi, and oh my girl image

You have to appreciate that.

“Aku menghabiskan empat jam duduk diam di bangku dengan kau yang sibuk bereksperimen dengan rambutku, hanya untuk ini?” kuangkat wadah styrofoam berisi mi ramen instan. “Serius?”

Cewek di depanku, yang nama aslinya Mihyun tapi bakal menggamparku kalau aku memanggilnya itu alih-alih Mimi, mencebik. “Hei! Hargai usahaku mentraktirmu, dong! Aku baru saja menghabiskan tabungan dua tahunku untuk kursus hairstyle, tidak ada lagi uang tersisa di hidupku. Aku miskin, Seon. Plus, kehadiranku sendiri adalah berkah! Kau harusnya bersyukur bisa makan ramen malam-malam begini denganku!”

Aku menyengir. “Halo, Teman Miskinku.”

“Kau menyebalkan. Untung rambutmu tidak jadi terbakar tadi.”

Tuh, tuh! Awas kalau kau mengajakku jadi modelmu lagi! Tak sudi lagi aku!”

Mimi buru-buru memasang tampang memelas. “Ya, deh, kau boleh memanggilku teman miskinmu. Tapi tetap jadi modelku, oke? Aku terlalu miskin untuk menyewa orang selain kau.”

Boleh, boleh, tapi bulan besok aku minta kenaikan gaji.”

Wajah Mimi makin cemberut. Tapi sebelum dia berhasil memprotes, aku buru-buru menyela.

“Gajinya murah saja; pergi kencan denganku. Bagaimana?”

fin.


You should make a wish.

“Jadi bagaimana? Kita akan berdiam di sini semalaman sampai mati membeku?”

Aku mengedikkan bahu. “Mungkin belum sampai mati membeku… sekarat membeku?”

“Berhenti bercanda, Demi Tuhan!” seru Daye dengan ekspresi kesal setengah mati. “Ponselmu benar-benar mati? Dan aku serius! Jangan menjawab yang ngawur!”

“Kalau aku bisa menelepon bantuan, aku pasti sudah melakukannya sedari tadi. Jangan panik, oke?” kuputuskan untuk memelankan suaraku karena temanku ini kelihatan benar-benar ngeri akan potensi kematian. “Kafenya akan buka lagi pukul… tujuh besok, dan sekarang sudah pukul dua belas. Tujuh jam tidak akan selama itu, oke?”

Dia diam sebentar, lalu membuka mulut lagi, “Kok kau masih bisa bersikap tenang sih? Kita terkunci di balkon kafe yang sudah tutup, Kim Kiho!”

Aku ingin balas berteriak, aku juga tahu kalau kita terkunci! tapi menelannya lagi karena, well, semua orang di jurusan kami juga tahu kalau Daye supercengeng (dia bahkan pernah keluar dari taksi dengan masih sesenggukan, dia bilang supir taksinya bercerita tentang kehidupannya dan Daye tidak bisa menahan tangis).

“Duduk sini dan diamlah, oke?”

Beruntung dia langsung setuju, mengambrukkan dirinya di sampingku. Aku memandanginya sementara Daye menatap langit kelam di atas kami.

“Lihat! Bintang jatuh!” serunya tiba-tiba, lalu menyenggol bahuku dengan bahunya sendiri. “Ayo! Buruan bikin doa!”

Saat aku menoleh, dia sudah menunduk sambil berkomat-kamit. Aku mengikutinya, lalu mendongak lagi sewaktu Daye berkata.

“Aku berdoa semoga kita bisa cepat keluar dan semoga aku bisa dapat pacar setelah ini, apa doamu?”

Aku tergelak. “Doamu kedengaran putus asa sekali.”

“Peduli amat,” dia mengedikkan bahu. “Apa doamu?”

“Aku tidak berdoa, lagian bintangnya sudah hilang.” Kataku, menatap sekilas ekspresi mencibirnya. Tapi aku berbohong. Doaku ringan saja:

Semoga tujuh jam yang tersisa di sini bisa memberikan kemajuan berarti untuk… kami.

fin.

02/06/2016 13:42

Halo halo! Dibuat dalam rangka menyemarakkan comeback Swagger Time (judulnya memang bleugrh, tapi lagunya asyik kok wkwk). Anyway, maaf soal plotnya yang tidak beraturan (plus length tiap cerita yang beda jauh) dan maaf buat pairing yang kupake sesungguhnya aku juga bingung milihnya. Terima kasih banyak kalo ada yang sanggup baca sampe selesai, since ini puanjang dan pasti membosankan sekali huhu.

credit prompts

 

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s