Kinda Angelic


ioi

Kinda Angelic

by Authumnder

I.O.I’s Yoojung & ASTRO’s Eunwoo | Fantasy, Comedy

+++

Di angkasa yang luas ini, ada dua jenis malaikat. Oh, tenang, kedua-duanya baik, saling bekerja sama, dan hidup berdampingan dengan aman serta bahagia, kok. Ah, aku tahu, kau pasti ingin bertanya, “Lantas apa yang berbeda dari mereka?”

Begini, ya, teman-teman manusiaku (lihat, nih, aku sudah merendahkan diri sebegitu rupanya sampai menyamakan kedudukan suciku dengan para manusia), dua jenis malaikat itu sama, hanya saja, salah satu dari mereka merupakan malaikat yang amat berbakat dan cerah, sedang satunya lagi biasa-biasa saja. Bagaimana membedakan mereka? Oh, Malaikat Agung (itu sebutan bagi malaikat senior yang cahayanya begitu putih dan menyilaukan) tidak bisa didefinisikan, begitu melihatnya, kau akan langsung tahu kalau malaikat itu termasuk dalam jenis yang ‘lebih tinggi’.

Lalu aku apa?

Well, halo, aku Choi Yoojung dan (sayangnya) aku adalah bagian dari malaikat biasa-biasa saja yang sering kena damprat para atasan. Mereka bukannya jahat atau apa, jangan salah sangka, hanya saja guruku bilang aku terlalu ceroboh untuk ukuran malaikat dan oleh karenanya, aku sering melakukan kesalahan-kesalahan bodoh tiap melaksanakan tugas. Contoh mudahnya, sih, sekarang ini.

Aku sedang ditahan di Balai Pembimbing, menunggu Malaikat Agung Penghukum yang bertugas hari ini, setelah sebelumnya melakukan (menurutku bukan) kesalahan yaitu memberi kemampuan bicara pada seekor kelinci yang, tentu saja, lantas mengajak pemiliknya berkonversasi, membuat gempar seluruh dunia dengan video bertajuk “Talking Bunny” di YouTube (tenang saja, guruku sudah mencabut kemampuan bicara si kelinci tadi). Tapi bukan berarti guruku itu akan melepasku begitu saja tanpa menghukum terlebih dahulu, dan kali ini ganjaran yang kuterima bakal lebih berat dari sebelum-sebelumnya karena dia bahkan menggiringku ke tempat berkumpulnya Malaikat Agung.

“Bisakah aku dihukum melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa magis seperti biasanya saja?” aku berusaha bernegosiasi. “Lagipula Malaikat Agung tidak juga sampai. Dia pasti sibuk dengan tugasnya yang lain, jadi daripada repot-repot memikirkanku, lebih baik melakukan hal penting, bukan?”

Saat itulah muncul sebuah figur lain di hadapan kami. Sosok itu menoleh ke arahku, wajahnya kelihatan begitu indah dan sempurna seakan-akan dipahat sendiri dengan tangan Tuhan, lantas bergumam, “Tukang pemberontak,”

“Maaf?” aku menyergah dengan tidak sopannya. Tapi memangnya siapa yang tidak jengkel dilabeli begitu saja oleh seseorang yang bahkan tidak kau kenal? Bukan aku, tentu saja.

Alih-alih menanggapi protesku, Malaikat Agung itu justru berbalik menatap guruku. “Tinggalkan dia, aku yang akan memilih hukuman.” Ujarnya dengan halus, membubuhkan senyum ramah di akhir kalimatnya. Perlakuannya terhadap guruku amat berbeda dengan perlakuannya padaku. Jelek.

Guruku mengangguk setuju dan berbisik ke telingaku, “Bersyukurlah kau, Choi Yoojung. Cha Eunwoo dikenal sangat baik hati dalam memberi hukuman.” Yang, tentu saja, tidak kupercaya.

Setelah guruku keluar, makhluk itu menolehku kembali. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan berkata, “Aku bisa mendengar apa yang tengah kau pikirkan, lho.”

Ah, ya. Tentu saja. Para Malaikat Agung itu diberkahi suatu kemampuan yang begitu banyak, salah satunya adalah mendengar pikiran siapapun, sampai-sampai aku lupa. Ups, aku tahu sekarang dia sedang mendengarku menceritakan ini padamu.

“Aku tidak suka memberi hukuman pada seseorang, sebenarnya.” Katanya. Aku hanya melengos dalam hati sambil mengamati gerak magisnya mengangkat kursi mendekat. Kursi itu mendarat di depan kami dengan sangat mulus, membuatku tergoda untuk mengerahkan seluruh kemampuanku memindahkan benda dengan mengirimkan kursi tersebut ke Neraka. Oh, sialan, dia pasti mendengarnya lagi.

Akhirnya kukatakan, “Maafkan pikiran jahatku.” Semata-mata karena aku tidak ingin menyinggung dirinya dan membuatnya memikirkan hukuman yang lebih sulit untukku.

“Jangan khawatir, aku masih bisa mendengar makian-makian di kepalamu untukku.” Malaikat Agung itu memberitahu dengan angkuh. “Kau mengumpat terlalu banyak,”

Peduli amat. Aku berpikir, tapi buru-buru menyingkirkannya dengan memberi seulas senyum dimanis-maniskan. “Tidak akan terulang lagi.” Ujarku yakin.

Dia duduk di kursi ajaibnya dan berdiam diri, mungkin tengah sibuk menentukan hukuman yang cocok untukku. Semoga saja omongan guruku soal sifatnya yang murah hati benar. Suasana begitu sepi dan tidak mengenakkan, biasanya di saat begini aku akan tenggelam dalam kepalaku sendiri, berpikir tentang ini-itu, tapi tentu saja hal itu tidak bisa kulakukan sekarang. Aku tidak mau Malaikat Agung sombong ini tahu anggapanku soal rupanya yang menawan. Bleurgh. Kenapa pula aku menggunakan kata itu?

“Sudah terlambat untuk mencabut kembali komentarmu itu.” Dia memecahkan keheningan dengan tiba-tiba. “Terima kasih, ya.”

Tuh, ‘kan! Dia mendengarnya!

Dia tertawa. “Aku juga dengar yang itu.” Ejeknya, lalu mengganti seringaiannya dengan tampang serius ketika mengganti topik. “Ayo putuskan hukuman apa yang cocok untukmu.”

Aku memberi anggukan kecil. Tolong jangan memberi perintah yang berhubungan dengan apa pun itu di Neraka, bisikku, tapi segera menepisnya setelah menyadari kalau mungkin saja doaku itu malah memberinya ide.

“Turunkan hujan di daerah itu,” Cha Eunwoo bersuara kembali sambil menunjuk sebuah tempat yang kering kerontang di cermin ajaib.

Hanya itu? Hebat! Tugas menurunkan hujan itu sangat mudah, tidak membutuhkan sihir elusif yang akan menyerap habis tenaga. Lima menit, dan hukumanku selesai! Hooray! Senyuman lebar membuat jalannya sendiri ke wajahku, sementara aku membungkukkan punggung berkali-kali untuk menunjukkan rasa syukurku.

“…tanpa menggunakan mantra.”

Kepalaku sontak mendongak, “Apa?”

Seulas senyum licik dan penuh kepuasan terbentuk di wajahnya, membuatku gatal ingin melompat dan mencakar apa pun yang bisa kucapai. “Pendengaranmu masih berfungsi dengan baik, jangan khawatir. Tapi kalau-kalau kau masih ragu, aku akan berbaik hati mengulangnya untukmu. Tugasmu adalah menurunkan hujan di daerah itu tanpa menggunakan mantra.” Jelasnya.

Aku ingin menangkupkan telapak tangan menutupi muka, lantas menangis keras-keras di sana. “Terus bagaimana caranya?” teriakku frustasi. “Tidak ada bab Menurunkan Hujan dengan Manual di sekolah!”

“Tentu saja ada caranya, kau pemalas. Aku tidak mau dengar ocehanmu lagi, sekarang pergilah dan kerjakan hukumanmu. Itu, atau bermalam selama tiga hari di Ruang Demerit.”

Ruang Demerit? Selain memberi tugas tak masuk akal, Malaikat Agung yang GOSIPNYA baik hati ini juga akan mengirimku ke ruang terkutuk itu kalau aku gagal menuntaskan hukuman?! Tidak bisa dipercaya. Aku membuat janji di kepalaku untuk menuliskan tiga lembar penuh protes beserta alasan mengapa Cha Eunwoo harus dilengserkan dari posisinya sebagai Malaikat Penghukum sembari mengentakkan kaki keluar dari Balai Pembimbing sialan ini. Oh ya, dan sebagai balasan, aku akan mengumpat sebanyak mungkin dan memastikan Eunwoo mendengarnya. Atau, aku tidak akan mengatakan apa pun yang tidak mengandung makian. Ide bagus.

+

Lima jam kemudian, aku kembali ke rumah dengan selamat dan tugas yang terselesaikan. Oke, jadi mungkin Malaikat Agung sinting itu benar soal perintahnya yang masih masuk di akal, tapi tetap saja hukuman itu rasa-rasanya terlalu kurang ajar untuk kesalahan sepele semacam memberi elokuensi pada seekor kelinci. Bayangkan, aku mengunjungi langit di atas desa tadi, hanya untuk menemukan hamparan luas biru cerah yang panas tanpa satu pun bongkah awan. Kalau-kalau kau tidak tahu, komponen utama yang diwajibkan ada tiap kali kau ingin menurunkan hujan adalah awan, sedangkan ini tidak ada sama sekali! Jadilah aku beterbangan ke sana kemari dengan panik mengunjungi satu per satu awan yang lembap dan siap untuk menjatuhkan bulir-bulir airnya, membujuk mereka untuk mengikutiku menuju Luidriville, desa yang dimaksud Eunwoo tadi. Mereka semua menolak, tentu saja, karena Luidriville sangat jauh dari tempat awan-awan gendut itu, dan tanpa sihir, aku tidak bisa langsung memindahkan mereka. Aku berusaha menghubungi Malaikat Sinting yang menyuruhku melakukan ini semua dengan tujuan bernegosiasi, tapi teganya dia! Cha Eunwoo sialan itu tak hanya membekukan sihirku, dia juga mematikan instingnya seratus persen dari jangkauanku!

Cukup sudah putar-baliknya, aku masih keki meski hanya mengingatnya sekilas. Habis ini, tak lagi-lagi deh aku membuat masalah! Bahkan, aku tidak akan pernah mengulurkan tanganku lagi untuk menolong siapapun kalau inilah yang kudapatkan setelah aku membantu seekor kelinci yang disiksa habis-habisan tuannya. Tidak akan pernah! Aku akan menjadi malaikat paling lurus yang pernah kau temui, tapi sekaligus malaikat paling tak punya hati. Cha Eunwoo itu, jangan pernah berharap aku bakal memaafkannya, apalagi setelah teman malaikatku bercerita kalau dia pernah tanpa sengaja mengirimkan gempa besar di suatu daerah dan Cha Eunwoo hanya menyuruhnya membersihkan sekolah pelatihan. Dia bahkan diperbolehkan memakai sihir! Kurang ajar!

Aku begitu dipenuhi dendam dan kebencian sehingga tidak bisa tidur. Asrama tempat malaikat-malaikat yang tengah belajar sepertiku sudah sunyi senyap, penerangan di koridor juga sudah dimatikan sehingga seluruh tempat gelap gulita. Peduli amat, aku akan tetap telentang di kasurku dan membiarkan amarah menelanku dalam-dalam.

Tapi keinginanku terpaksa batal ketika tiba-tiba saja kasurku melayang di ketinggian dua meter dengan magis yang sangat halus, lantas dilontarkan ke kegelapan dengan kecepatan yang tiada duanya dan, bam, tiba-tiba saja aku berdiri di tengah-tengah ruangan di Balai Pembimbing. Apa lagi, sih? Aku meneliti sekitar, tapi pandanganku keburu jatuh ke rok piamaku yang kusut. Huh, kalau mau memindahkanku, bilang-bilang dulu, kek! Jadi aku tidak perlu buang-buang sihir dengan mengganti pakaian.

“Kau benar-benar menepati janjimu, heh? Kau tidak berhenti mengumpat dan memaki dan menjadikan satu keduanya, tak hanya itu, kau juga terus-terusan mengganggu konsentrasiku dengan telepati.”

Kepalaku refleks menoleh ke arah suara. Bah, Cha Eunwoo lagi. Aku hanya memandangnya datar, tanpa ekspresi, bahkan kemarahan.

Dia menatapku dengan kedua alis dinaikkan. “Baiklah, jadi perasaanku benar. Kau murka.” Katanya, seakan-akan fakta itu tidak terlukis dengan begitu gamblang di wajahku yang geram.  “Bagaimana tugasmu? Menyenangkan, ‘kan? Kudengar kau berhasil melakukannya meski membutuhkan waktu yang lama sekali.”

Aku menutup mulutku rapat-rapat, mengubur pikiranku dalam imajinasi-imajinasi tidak bermutu supaya aku tidak usah repot-repot memikirkan ucapan lawan bicaraku ini. Emosiku tidak akan terpancing lagi. Tidak kalau aku sibuk mengabsen hewan-hewan berkaki empat di bumi. Babi, gajah, kucing, kelinci, anjing, tikus, kanguru termasuk hewan berkaki dua atau empat? Kaki depannya ‘kan kecil sekali?

“Kanguru berkaki empat, Jenius.” Eunwoo tiba-tiba menyela, tapi kuacuhkan. “Fine, fine. Aku minta maaf, oke? Kurasa aku kebablasan soal hukumanmu.”

Seorang Malaikat Agung baru saja meminta maafku! Aku bersorak dalam hati, tapi tidak menampilkan ekspresi sama sekali. Dia berhak mendapatkannya. Aku tetap akan menulis tiga lembar protes itu, atau mungkin lima, genapkan enam sekalianlah.

Cha Eunwoo membuka suara kembali. “Kau yakin bisa menulis protes sebanyak itu?” tanyanya dengan raut wajah penuh kesangsian. “Sepertinya kau bukan tipe yang gemar mengerjakan tugas.”

“Begini-begini, aku tuh sangat berdedikasi.” Ujarku, keceplosan sebenarnya, tapi peduli amat. “Tunggu saja sampai kau dipanggil ke Pusat atas ketidakadilan yang kuterima ini. Aku akan mengumpulkan seluruh siswa di kelasku dan menanyai mereka satu-satu soal hukuman yang kau berikan. Kau akan langsung kena sanksi karena diskriminasi begitu aku mengirimkannya. Aku mungkin akan bergosip sedikit, bilang kalau alasanmu memberiku hukuman SEBERAT itu adalah karena kau membenciku, yang tentu saja akan membuat poinmu makin menurun.” Aku menambahkan tawa kejam di akhir dialog, untuk memberi kesan jahat.

Dia malah ikut tertawa. “Wow, idemu sangat menarik. Silakan, silakan. Aku tidak akan menghalangi. Tapi sekedar informasi, yang dijadikan dasar keputusan penurunan poin bukan hanya surat protes dari malaikat yang masih belajar. Butuh, paling tidak, persetujuan empat malaikat agung.”

Aku kalah. “Masa sih begitu cara kerjanya? Kau tidak sedang membohongiku, ‘kan?” aku mengaktifkan radar anti-kebohongan dan menemukan kalau dia memang berkata jujur. Sialan, sialan, sialan.

“Berhenti mengumpat, demi Tuhan. Tidak sepertimu, aku bisa memberitahukan ini pada gurumu dan membuatmu kena detensi.” Omelnya, tapi kali ini dia tidak serius dengan ucapannya, terbukti oleh senyuman miring di bibirnya. “Jadi bagaimana? Kau tetap akan menulis surat itu?”

Kutimang-timang sebentar dilemaku, tapi kuputuskan untuk membatalkannya. Kerja kerasku menulis enam lembar curhatan tentu akan sia-sia kalau itu tidak akan memberi efek apa-apa padanya. Jadi aku menggeleng. “Tidak jadi,” sahutku. “Tapi bukan berarti aku akan melupakan ini. Well, urusanmu denganku selesai, ‘kan? Aku pergi.” Aku melanjutkan sambil berbalik.

“Ya, pergilah! Sampai jumpa di hukumanmu selanjutnya!”

Aku menggerutu jengkel sambil mengepalkan jemariku. Tidak adil sekali. Awas saja, suatu saat nanti aku mungkin akan dinobatkan menjadi malaikat agung juga. Dan saat itu, wah, Cha Eunwoo, matilah kau! Aku mengentakkan kakiku sekali, lalu dua kali karena belum puas, lalu sekali lagi karena rasanya menyenangkan bisa menumpahkan emosi, tapi kemudian mimpi buruk terjadi.

Empat pilar penyangga Balai Pembimbing runtuh!

Tak sampai di situ, teriakan keras milik Cha Eunwoo terdengar dari dalam gedung, “AKU MELIHAT APA YANG KAU LAKUKAN, CHOI YOOJUNG!”

Sialan, sialan, sialan!

fin.

Finished: 12:08 | June 10, 2016.

Maafkan ini sangat tidak bermutu DAN MALAIKAT MACAM APA INI?! Mohon diingat ini hanya fiksi semata dan karakter malaikat di sini tidak mencerminkan karakter malaikat asli sama sekali, oke? Hehe. Btw ide malaikat agung & malaikat biasa itu kudapat dari novel ‘The Story Girl’. Terima kasih sudah membaca!

6 thoughts on “Kinda Angelic

  1. YOOJUNG YAKIN KAMU MALAIKAT KOK KAMU JAHAD SEKALI SIH WAHAHAHAHAH //ngakak sampe malem takbiran
    Sebenernya sama-sama jahat sih Yoojung terlalu baper, Eunwoo juga iseng bener yaelah kelyan tuh malaikat macam apa😄
    Kusuka fiksi fantasinya Kak Meyda soalnya kesannya ngga kaku sama ada lucunya juga, your sarcasm will never die, Kak😀
    Keep writing, Kak Mey!

    Like

    1. huhu itulah dilemaku juga ran wkwk MASA IYA MALAIKAT SEGOBLOK MEREKA BERDUA WKWK.
      aih aih aku ga tau harus menanggapi apa wkwkw (kepala gede) ;_; pokoknya makasih banyak ya ran udah mampir dan baca ini! ^__^

      Like

  2. KYAAAA MWOYA IGE???!!! Gila gila gila ceritanya ucul banget, yoojung tuh kadang emang agak rese ya, ngga agak sih kalo ini mah banget😄
    fix emang cha eun woo itu cocok banget jadi malaikat, senyumnya itu looooo
    Mau komen apa lagi yaaa aku bingung, serius soalnya ini keren bangeeeeeet

    Like

    1. tru banget lel dia tuh kecil-kecil imut begitu ternyata agak bangke kelakuannya wkwkwk. #funfact aku aslinya tida tahu harus memakai pairing apa buat fiksi ini tapi kemudian aku teringat suho terus tbtb malah keinget eunwoo TRERUS YAUDAH wkwkwk.
      hehehehe dikomen saja aku sudah senang kok, makasih banyak dah mampir ya lel! :>

      Liked by 1 person

  3. YA ALLAH MEYDA INI KENAPA ADORABLE BANGET LAH HAHAHAHA. first thing first, aku tuh ya favorit banget lah sama fiksi kamu soalnya bisa bawa genre beda-beda gituu. waktu itu kan kamu bawain yang kerajaan-kerajaan, terus ini malaikat-malaikat gitu (mana adorable banget pula malaikatnya) (ya allah, kelincinya dikasih kemampuan bicara cobaaa haha). terus aku ngakak yang si yoojung bolak-balik mintain awan biar mau ikut dia ke luidriville (ini aku ngetiknya bener gak sih huhu maafkeun kalo typo.) sumpah aku literally bayangin si awannya pada: ah ogah ah, jauh tau. TERUS BAGIAN AKHIRNYA DONG HAHAHAHA. aslik yha kalo udah marah mah serem. sampe pilar pun roboh wkwk. suka suka sukaaa. keep writing yah meey😀

    Liked by 1 person

    1. genre beda-beda tapi intinya tuh sama kak fik! wkwkwk (kelemahan nih kelemahan). eee ee bayangin deh awannya punya mata terus gendut-gendut kayak buntelan kapas gitu wkwkw dasar awan pemalas! emang nama desanya itu susah ya kak aku juga mboh ga tau kenapa milih nama luidriville mungkin agar memberi kesan sedikit kebarat-baratan (???)
      HEHEHEH makasih banyak kak fik reviewnya berarti sekali hihhi :> kusenang :>

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s