Beautifully Insane


beautifully insane

Beautifully Insane

by Authumnder

UP10TION’s Wooshin & Gfriend’s Eunha | Dark, Slice of Life

AU!American Horror Story: Murder House

+++

Bahkan sebelum benar-benar menapakkan kaki di lantai masuk rumah baruku, aku sudah tahu ada sesuatu yang tidak terletak pada tempatnya. Rasanya seperti tengah berjalan menembus memori paling gelap seseorang, membuatku agak tersentak sewaktu Ayah menepuk bahuku.

“Indah, bukan?”

Aku tahu Ayah tengah membicarakan balok-balok kayu di atas perapian yang disusun dengan sebegitu rupa sampai meninggalkan kesan eksesif yang eksentrik, tapi aku sedang tidak ingin bersikap manis. Kusahuti, “Di mana kamarku?”

Itulah kesalahan pertama yang kulakukan di rumah ini: aku masuk ke kamar baruku tanpa mengetuk terlebih dahulu atau membuat suara-suara keras agar siapa pun yang tengah nongkrong di dalamnya punya waktu untuk melarikan diri.

Yang kemudian mengharuskanku untuk bersitatap dengan seorang makhluk yang… kelihatannya tidak ada bedanya dengan diriku sendiri, minus jenis kelamin cowok itu.

Um, halo?” cowok itu memutuskan untuk memulai konversasi sementara aku sendiri masih sibuk mempertanyakan eksistensinya. “Sori mengagetkanmu. Aku Wooseok, dan aku sudah mati. Kau cantik, mau berteman denganku?”

Kalau tidak salah aku tidak segera menyambut jabatan Wooseok, alih-alih aku mundur setahap untuk memandangi kaki cowok itu lantas berkata, “Kakimu masih menyentuh lantai, tuh. Kau tidak mati.”

Dengan kikuk, Wooseok mengantongi kembali juluran tangannya. “Aku dulu juga mengira begitu. Tapi nyatanya, sifat hantu tidak ada bedanya dengan manusia. Lihat,” ia berjalan menuju cermin seukuran tubuh yang disandarkan dengan sembarang di sudut ruangan. “Kau lihat bayanganku, ‘kan? Omong kosong soal hantu tidak punya bayangan.”

Meskipun mengangguk, aku ingat benar menghabiskan dua puluh detik lamanya memandangi Wooseok dan ketidakhidupannya.

Tidak ada bayangannya di cermin.

+

“Hah! Aku tahu ini tidak akan berhasil.” Wooseok menggerutu sambil berjingkat mengelilingi meja makan yang rapi dan bersih, sesuatu yang sangat jarang, karena Ibu belum mulai menata dapur dan memasak makanan. “Mengaku kalau aku hantu, maksudku. Kau jadi menghindariku sekarang.”

Aku pura-pura menyibukkan diri dengan susu karamel kemasanku. Berusaha keras mengabai.

“Teman hantuku Mingyu bilang kalau berkata jujur adalah kuncinya, dia sendiri tidak melakukannya sewaktu bertemu pertama kali dengan mantan pacarnya—atau harus kusebut cinta sejati?—dulu. Pokoknya, dia bilang Eunbi sempat marah-marah karena tidak diberitahu keberadaan aslinya. Omong-omong tentang dia, aku yakin sekali Eunbi sedang duduk-duduk di kamarmu sementara meneliti koleksi CD-mu. Dia bakal kecewa, aku tahu, karena koleksimu ‘kan hanya terdiri dari lagu ballad.” Dia mengoceh panjang lebar dengan kaki terayun-ayun dari atas konter. “Eunbi suka genre keras macam rock.”

Aku tak tahan untuk tidak bertanya, “Jadi Eunbi ini sekarang pacarmu? Kau menjalin hubungan dengan seseorang yang baru putus dari temanmu sendiri, siapa tadi namanya, Minyul?”

Wooseok tertawa. “Senang bisa mendapat perhatianmu,” katanya sambil melambaikan sebelah tangan. “Namanya Mingyu dan putusnya mereka tidak terjadi baru-baru ini, kok. Bagaimanapun, usia hantuku sudah sepuluh tahun dan mereka sudah putus jauh sebelum itu.”

Kepalaku mengangguk, meskipun mulutku gatal ingin menunjuk pertanyaanku mengenai hubungan cowok ini dengan Eunbi yang tidak dijawabnya.

+

Proses pembongkaran kardus-kardus pindahan belum juga selesai dan aku sudah mengenal empat hantu di rumah ini. Wooseok bilang aslinya lebih banyak lagi.

“Mereka kapok menampilkan diri pada penghuni baru rumah setelah keluarga Eunbi meninggal.”

“Memang apa yang dilakukan keluarga Eunbi?”

Kami berdua sedang duduk di lantai kamarku, kedua tangan sama-sama disibukkan dengan kegiatan mewarnai kartu ucapan terima kasih untuk teman-temanku di Seoul. Wooseok sendiri yang menawarkan untuk membantu, meskipun aku sudah menolaknya dengan alasan dia pasti kesulitan memegang krayon—enggak, tuh, dia bahkan bisa menggambar bunga, rerumputan, dan awan berarak dengan sangat baik di atas kartunya.

Dia menyengir. “Rahasia. Mereka itu jahat karena telah menghabisi nyawa keluarganya. Kecuali Eunbi sendiri. Aku dengar dari Mingyu sendiri kalau Eunbi mati overdosis.”

Mataku membelalak tak percaya. “Eunbi ngobat?”

Pintu menjeblak membuka, beruntung Ayah dan Ibu sedang pergi mengunjungi pameran buku karena kalau tidak, mereka akan bertanya-tanya mengapa pintu kamarku terbuka sendiri. Muncul Eunbi di baliknya. Dia kelihatan seperti gadis cantik kebanyakan, gadis-gadis yang masih hidup.

“Berhenti bicara tentang masa laluku, Wooseok.” Katanya dengan angkuh. “Dan halo, Eunha? Apa itu yang sedang kau gambar?”

Kuangkat kartu-kartuku, dan Eunbi meringis melihatnya. “Enaknya punya teman sungguhan yang bakal merindukanmu setelah kau tinggalkan.” Dia berkomentar lalu mengambil tempat di sampingku. “Dan aku tidak ngobat, hanya merokok.”

“Tapi Mingyu bilang kau mati karena obat-obatan!” Wooseok menyergah.

Ekspresi Eunbi berubah sedikit setelah mendengar nama itu, tapi dia segera menampilkan kembali senyumnya dan berkata. “Leah yang memberiku, dan saat itu kondisi emosionalku begitu buruk. Nah, Eunha, kau akan mengalami itu juga kalau tidak segera pindah. Pergilah dari sini, karena kalau tidak—wush! Nyawa keluargamu akan melayang begitu saja.”

+

Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu sementara mengaduk sup jagungku. Ibu dan Ayah sedang mengobrolkan sesuatu. Aku tidak begitu memerhatikan perbincangan mereka sampai Ibu berkata.

“Kemarin aku melihat anak laki-laki, sedikit lebih tua darimu, Eunha, dan dia kelihatan tampan sekali. Aku pasti mengira dia anak tetangga kalau dia tidak melesat begitu cepat ke dapur lalu menghilang.”

Kuletakkan sendokku. “Apa dia tinggi?”

“Oh, ya, dia tinggi sekali.” Ibu memangku dagunya dengan telapak tangan, seolah tengah membayangkan surga dan isinya yang begitu indah. “Dia mengatakan sesuatu yang aneh, sih, yang membuatku ketakutan.”

Ganti Ayah yang menatapnya menyelidik. “Apa yang dia katakan?”

“Aku sudah lupa tepatnya. Kejadiannya cepat sekali sampai-sampai aku pusing.” Sahut Ibu, menyibukkan dirinya lagi dengan mangkuknya. Tapi aku tahu kilat di matanya, tahu benar arti pandangan itu. Ibu menyembunyikan sesuatu.

Maka kupepet ia setelah Ayah pergi ke kamar kerjanya.

“Apa yang anak laki-laki itu katakan? Aku tahu Mama masih mengingatnya. Ayo, dong, katakan.”

Ibu kelihatan tak fokus dan tersihir saat menjawab, akhirnya, “Dia bilang menginginkan bayi. Jangan bilang-bilang ini pada ayahmu, Eunha, atau dia akan menertawaiku.”

Duniaku berputar begitu keras setelahnya, sampai-sampai aku harus berpegangan pada tembok. Kepalaku pusing sekali sementara kedua mataku menatap sosok tinggi tepat di belakang ibuku, menyeringai.

+

Ibu bilang aku pingsan lama sekali, sekitar empat jam. Ia khawatir aku kenapa-napa, tapi Ayah berkata kalau aku hanya kelelahan setelah merapikan seisi rumah baru kami. Konklusi Ayah maupun Ibu tidak benar, karena aku tahu lebih baik dari itu. Maka setelah orang tuaku keluar dari kamar, aku bergegas bangkit ke atas kakiku dan memanggil Wooseok.

“Ada apa? Ada apa? Apa sesuatu terjadi?!” Wooseok muncul dua menit setelah aku mulai berteriak dengan suara melengking. “Kau baik-baik saja?”

Tanpa sempat menjawab pertanyaannya, aku merangsek maju dan berbisik, “Temanmu Mingyu datang pada ibuku. Dia mengatakan sesuatu mengenai bayi dan muncul lagi dengan seringaian mengerikan di wajahnya. Aku tidak mengerti, apa yang dia inginkan?”

Kalimatku tampaknya menghentikan proses kerja otaknya, karena Wooseok hanya diam mematung sambil memandangku dengan kedua bola mata cokelatnya yang jernih. Ia bergumam lirih, “Eunbi.”

Lalu seperti magis beterbangan, Eunbi muncul. Tepat di tengah-tengah kamarku. Tanpa berkata apa-apa, dia berjalan menuju lemari dan mengeluarkan koper besarku. “Kalian pergilah.” Perintahnya tegas. “Kau, ayah, dan ibumu. Aku serius, Eunha. Pergilah secepatnya.”

Air mata menggenangi penglihatanku sewaktu aku menyahut. “Aku juga ingin. Tapi orangtuaku bukan seseorang yang percaya takhayul macam hantu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk memaksa mereka pergi. Kami baru saja membeli rumah ini, Demi Tuhan.”

Eunbi menghentikan kegiatannya. “Orang tuaku juga menolak pindah dan lihat mereka sekarang, mati mengenaskan dan hidup untuk menghantui rumah sialan ini.” Katanya jahat. Lalu dia membalas tatapanku dan melunak sedikit. “Aku tidak ingin menceritakan ini padamu tapi tidak ada jalan lain lagi kalau Mingyu sudah mendekati ibumu. Anak iblis itu.”

Wooseok meremas bahuku dengan lembut. Katanya, “Aku punya sedikit saran untukmu, Eunha. Mungkin kau bisa memberitahukannya pada ibumu.” Dia meringis lalu melanjutkan. “Jangan berhubungan badan di rumah ini. Atau kalau tidak, terima resikonya.”

Eunbi meninju pelan bahu Wooseok, tapi diam-diam mengiakan.

“Memang kenapa?” aku tak tahan untuk bertanya. “Kenapa tidak boleh?”

“Karena, kalau bayinya berhasil dibuat, jangan kaget kalau mendapati bocah itu jelmaan setan.” Eunbi menjelaskan dengan kasar, tapi aku menangkap gerakan tangannya mengusap mata. “Itu yang terjadi pada ibuku, omong-omong. Aku tahu kau sudah diberitahu kalau dulunya aku jatuh cinta pada Mingyu, karena dia tampan dan sempurna dan segalanya, tapi kusarankan padamu, Jung Eunha, jangan dekat-dekat dengannya.” Suaranya agak tersendat sewaktu dia melanjutkan. “Ibuku melahirkan bayi kembar di sini, satunya milik ayahku, satunya milik Mingyu. Kau dengar aku? Dia menipuku habis-habisan, bilang kalau mencintaiku juga tapi dia menyelinap masuk ke kamar ibuku, berpura-pura menjadi ayahku.”

Aku mundur selangkah, tidak bisa memercayai apa yang barusan kudengar.

“Reaksiku juga begitu waktu mendengarnya.” Wooseok mencetus.

Eunbi menggeleng. “Tidak masalah. Aku juga frustasi waktu pertama kali mengetahuinya. Tapi sekarang tidak apa-apa. Bayi setannya sudah dilempar ke wanita bawah tanah yang kehilangan anaknya ratusan tahun yang lalu, sementara bayi ayahku aman berada di pelukan ibuku.”

“Sori, Eunbi, tapi Mingyu pernah bilang padaku kalau dia sudah bertobat. Yang itu bohong juga?”

Wooseok dan aku harap-harap cemas menunggu respons Eunbi. Tapi gadis itu hanya menyibakkan rambutnya ke belakang dan berbisik. “Dia menemuiku lagi kemarin. Tidak ada ayahku sehingga dia tidak langsung kena tonjok begitu menampakkan diri.” Jeda sebentar sementara Eunbi menarik napas. “Dia sudah lelah menungguku memaafkannya. Buat apa? Kau tak mencintaiku lagi, katanya. Kurasa itulah sebabnya dia mencari korban lagi.”

Di benakku muncul pertanyaan-pertanyaan yang ingin sekali kuketahui. Seputar bagaimana hal itu bisa terjadi dan bagaimana perasaan Eunbi sekarang, tapi aku tahu lewat pandangan matanya kalau sekali-dua kali, Hwang Eunbi juga masih merindui Mingyu. Seberapa pun jahatnya laki-laki itu.

+

Ibu sedang datang bulan, pengetahuan itu entah mengapa membuatku merasa nyaman. Aku mengorek beberapa informasi darinya, ingin tahu apakah Setan Mingyu muncul dan mengatakan sampah lagi, tapi dia bilang tidak lalu mengusirku karena telah membuatnya sakit kepala. Sekarang aku ada di kamarku lagi, Wooseok di sisiku, kami sedang menonton drama dan dia sesekali melemparkan komentar soal betapa canggungnya pemain laki-laki di sana. Saking kesalnya, kuputuskan untuk mengganti channel dan berhenti memencet remote-ku waktu layar TV menampilkan konser mingguan.

“Kalau sekarang aku masih hidup, mungkin aku bakal berdiri di sana dan ikut menyanyi serta menari.” Celetuk Wooseok tanpa berpikir. “Sayang aku sudah tak bernyawa.”

“Tapi…” tiba-tiba aku teringat sesuatu dan ingin menanyakannya. “Kau bilang versi hantumu tidak ada bedanya dengan versi manusiamu. Jadi kenapa kau tidak pergi keluar dan ikut audisi?”

Katanya, “Itulah masalahnya.” Dia menghela napas sambil merepet lebih dekat. “Hantu tidak bisa pergi dari tempatnya mati. Aku bisa berkeliling rumah ini dari balkon sampai bawah tanah, tapi tidak lebih dari itu. Kalau aku meloncat dari jendela, aku akan secara ajaib berada di dapur. Kalau aku berlari lewat pintu depan, aku tiba-tiba ada di kamar utama. Eunbi, Mingyu, dan ratusan hantu lainnya di rumah ini juga mengalami itu.”

“Bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka juga meninggal di sini?”

Raut mengenang berkilat di wajahnya. “Ah, orang tuaku yang malang. Mereka berhasil minggat dari sini dengan masih bernyawa. Kudengar dari Eunbi kalau ibuku menangis keras sekali saat mengetahui aku mati.” Jelasnya.

Aku bertanya-tanya, akankah diriku juga berakhir seperti itu?

+

“Moira telah tiba,”

Pada hari Minggu, tepat dua minggu setelah kepindahanku, Eunbi muncul tiba-tiba mengatakan itu.

“Siapa Moira?” aku meletakkan kuasku untuk memfokuskan perhatianku padanya seorang, karena setelah mengenalnya, aku tahu Eunbi tidak suka menampilkan diri di depanku, kecuali kalau ada sesuatu hal yang penting untuk diberitahukan.

Eunbi berdecak, “Penggoda.”

“Maksudnya adalah pembantu rumah tangga turun-temurun milik rumah ini.” Wooseok meralat, secara mendadak membuat dirinya kasatmata. “Kelihatan tua dan tidak menarik untuk para perempuan, tapi supercantik dan menggoda untuk laki-laki.”

Aku tidak mengerti. “Maksudnya apa? Apa dia juga hantu?”

“Yep, hantu. Meninggal ditembak tepat di mata oleh tetangga sebelah.” Jelas Eunbi sambil lalu seolah-olah dia sudah tidak begitu peduli akan kelangsungan hidupku. “Perayu tingkat hebat sekali. Dia juga berhasil menggoda ayahku, nyaris menghancurkan hubungan mereka. Tapi bukan itu intinya. Dia kembali ke sini, siap melayani keluargamu, dan aku yakin dia akan melangsungkan aksinya lagi pada ayahmu. Watch out.”

+

Memang ada wanita tua bernama Moira yang datang sore ini, mengaku kalau dia adalah pembantu rumah tangga konvensional yang dibeli secara bersamaan dengan rumah ini.

“Aku pandai bersih-bersih,” imbuhnya dengan nada keibuan. Wanita itu begitu tua dan rapuh, membuatku curiga jangan-jangan Eunbi dan Wooseok hanya membual. Namun saat kutoleh ayahku, yang kedua matanya seakan-akan dipaku erat-erat ke tubuh Moira, aku tahu hantu-hantu itu tidak berbohong.

Aku menghambur keluar dari dapur, berlarian naik tangga kembali ke kamarku, lantas memulai ritual memanggil dua hantu yang belakangan menemaniku itu. Keduanya muncul nyaris bersamaan.

Napasku tersengal waktu aku berusaha menjelaskan, “Moira memang datang.”

Eunbi melipat tangan di depan. “Aku ‘kan sudah bilang, Eunha.”

Sementara Wooseok menimpali dengan ekspresi lucu dan agak kesal. “Kadang-kadang aku rindu saat-saat di mana aku masih mengira Moira memang wanita dua puluhan superseksi, bukannya seorang nenek tua yang lehernya berurat.”

“Itu karena kau sudah tidak punya nafsu untuknya, Wooseok. Kau harusnya bersyukur, atau kalau tidak dia juga akan menjadikanmu mangsa selanjutnya. Mungkin kau bakal melihatnya sebagai wanita cantik yang manis, tapi kenyataannya, kau hanya sedang mencumbu nenek bangkot.”

Aku ingin tergelak, tapi menahannya karena kupikir jahat sekali menertawakan keadaan menyedihkan ini. Aku ingin pergi. Kukatakan, “Aku akan memaksa kedua orang tuaku pergi keluar sebentar. Mungkin ke mal, dan aku akan berusaha menjelaskan pada mereka mengenai kondisi rumah ini. Tugas kalian adalah membuktikan kalau cerita hantuku memang benar. Bagaimana? Ide bagus, bukan?”

“Tidak bisa, Eunha.” Wooseok mengeluh. “Kami muncul pada orang yang memang mencurigai keberadaan kami. Sebaliknya, orang tuamu sama sekali tidak mencium adanya setan. Tidak akan berhasil.”

“Tapi ibuku melihat Mingyu,” aku membela diri.

“Mingyu sudah jadi hantu lamaaaa sekali, Eunha.” Eunbi mengirimkan senyum meminta maaf. “Dia bebas melakukan apa saja, tidak ada lagi batasan.”

+

Ibu bertemu Mingyu lagi dan hanya mendengar ceritanya saja membuat perutku bergolak.

“Aku tidak seharusnya menceritakan ini padamu, Eunha, mengingat kau adalah putriku dan kau juga masih sangat muda untuk memahami ini. Tapi biar kubisikkan ini padamu, sekali saja, dia tiba-tiba muncul di kamarku sewaktu Ayah sedang bekerja, membungkuk terlalu dekat untuk menciumku.”

Menjijikkan adalah satu-satunya kata yang melintas di kepalaku saat mendengarnya, dan mengerikan adalah kata selanjutnya yang muncul sewaktu aku memanggil Eunbi lagi. Aku tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

“Jangan khawatir, Eunha. Aku akan membuat penawaran yang bagus sekali, Mingyu tidak akan kuasa menolak.”

Itu adalah kata penenang yang diucapkan dengan khidmat oleh Eunbi, sebelum dia akhirnya lenyap kembali.

+

Sore hari, sehari setelah cerita menakutkan Ibu, Wooseok tiba di kamarku dengan raut sepucat mayat. Ironi yang lucu, mengingat dirinya sekarang memang seorang mayat. “Beres-beres, cepat!” serunya begitu berhasil mengendalikan napas. “Ibu dan Ayahmu sudah tahu segalanya dan aku tahu mereka sedang sangat panik. Lebih baik kau sudah siap meluncur pergi nanti kalau mereka berdua datang ke sini.”

Aku menurut, dengan tergesa mengambili pakaian dan melesakkannya paksa dalam koper. Hanya butuh beberapa menit dan aku sudah siap. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Wooseok masih terlalu sibuk melihat keluar kamar, sampai dia tidak menyadari pertanyaanku.

“Wooseok!”

Dia menghela napas, mundur selangkah untuk menutup pintu dan berbalik menatapku. “Eunbi melakukannya, Eunha. Untukmu.” Katanya. “Mingyu begitu senang, tapi wanita bawah tanah begitu murka. Mereka sedang bertengkar sekarang sementara Eunbi dan keluarganya sedang sibuk mengurus orang tuamu yang tidak sadarkan diri.”

Tidak sadar?”

Wooseok memejam sebentar, lalu melanjutkan, “Ceritanya panjang tapi orang tuamu secara tidak sengaja melihat Thaddeus—dulunya dia anak dari Nora, si wanita bawah tanah, tapi setelah dikorbankan untuk diuji coba oleh ayahnya sendiri, dia berubah jadi monster. Penampakannya mengerikan sekali. Kudengar dulu Mingyu juga amat takut padanya, beruntung ibu Thaddeus, Nora, muncul dan menenangkannya. Mereka menjalin persahabatan setelah itu—sial, ceritanya terlalu panjang. Intinya, Mingyu pernah berjanji akan memberikan anak baru untuk Nora dan dia menepatinya, ingat ‘kan kalau ibu Eunbi sempat melahirkan anaknya? Yah, sayang sekali anak setan dari ibu Eunbi itu tidak sesuai dengan selera si wanita bawah tanah dan dia menuntut yang baru lagi. Mingyu gagal melakukan aksinya terhadap ibuku yang malang dan sekarang dia berbalik mengincar ibumu. Kalau dipikir-pikir Mingyu ini tidak jahat, tapi dia jadi begitu karena janjinya pada wanita bawah tanah.”

Aku pusing sekali. “Perjanjiannya, Wooseok. Apa sebenarnya yang telah dilakukan Eunbi?”

“Oh, Eunbi tidak membahayakan dirinya, kok. Dia menemui Mingyu kemarin dan mereka ber-ci-u-man lama sekali, ew. Eunbi bilang mau mencoba mencintai Mingyu lagi kalau iblis itu mau memutus perjanjiannya dengan Nora. Dengan begitu, cowok itu tidak akan memamacari ibumu tapi untuk mencari aman, lebih baik kalau kalian semua pergi. Dan jangan menjual rumah ini lagi, please, aku memang akan mati kebosanan karena tidak bisa bertemu orang baru, tapi setidaknya aku tidak perlu menjelaskan cerita panjang ini pada orang lain. Sekarang bergegas dan pergilah.”

Aku ingat aku menangis banyak sekali saat harus menyeret koperku turun, dengan Wooseok yang membantu menggotong ranselku. Dia terus-menerus menggenggam tanganku dan berbisik tidak apa-apa, tapi justru itu yang membuatku menangis lebih keras.

“Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu?” tanyaku, terisak. “Dan Eunbi juga.”

Wooseok tertawa, tapi aku melihat penyesalan dalam matanya. “Jangan khawatirkan Eunbi. Dia punya Mingyu sekarang. Khawatirkan saja aku—tanpa keluarga, tanpa pacar, malang sekali.”

“Aku mau jadi pacarmu.” Kataku, air mata menuruni pipi. “Aku mau sekali. Kau baik dan menyenangkan. Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu terbenam di sini, begitu saja?”

Lagi-lagi dia tertawa, “Kurasa aku salah jalan. Eunbi benar, langkah pertama yang harus dilakukan begitu keluargamu sampai adalah menakut-nakuti kalian sampai pergi, bukannya menjalin pertemanan begini.”

Aku tahu dia bercanda, tapi tetap saja pikiran “seharusnya memang begitu” mampir di kepalaku.

Orang tuaku keluar dari kamarnya begitu aku selesai dengan tangganya, wajah keduanya begitu pucat dan sakit. Ibu langsung menghambur memelukku sambil berbisik, “Kita pergi sekarang, Sayang.”

Maka itulah yang kami lakukan: pergi.

Sebelum mobil kami keluar dari pelataran parkir, kusempatkan diri untuk menatap ke jendela kamarku. Wooseok melambaikan tangan dengan sangat tabah, sementara di sisi satunya berdiri Eunbi, berdampingan dengan cinta sejatinya, Sang Iblis.

Fin.

Finished: 15:55 | May 26, 2016.

Info sedikit, Eunbi memerankan Violet Harmon dan Mingyu memerankan Tate Langdon (maafkan aku sudah merusak Kim Mingyu dengan peran Tate di sini), sementara karakter Nora, Moira, dan Thaddeus itu memang ada di filmnya dan aku terlalu malas untuk mencari nama baru hehe. Aku nonton seri ini di tahun 2013, jadi jangan marah ya kalo ada beberapa detail yang terlewat. Terus maaf juga karena alurnya cepat sekali, aku terbatatasi oleh 3000words, guys. Mohon dimengerti, aslinya mah masih pengen nulis pengalaman Eunha berdua dengan Wooshin dulu tapi hmm, kepanjangan. ;_;

8 thoughts on “Beautifully Insane

  1. Wah ini sukaaa apalagi sama karakter eunha yang agak sarkas dan kurang bersahabat tp sekalinya bersahabat baiiiiik banget. Suka deh suka:3

    Like

  2. OKAY MINGYU AS TATE LANGDON TERUS AKU BISA APA :””””””(

    Sumpah sumpah sumpah mey aku bacanya literally yang melotot terus bikos aku penasaran ini akhirnya bakal gimana. Tbh awal baca kukira ini bakal jadi sedikit ada comedy-nya dan fluff sahabatan si eunha sama wooseok. EH PAS BAGIAN MINGYU NAMPAKIN DIRI DI DEPAN IBUNYA DONG itu aslik aku langsung ga bisa keep calm. Wah ini pasti ada apa-apanya nih dan bener kaaan huhuhu :((

    (Ngakak di bagian mencumbu nenek bangkot hahahahaha) seriusan dah meyda ga ketinggalan feel humornya deh hehehe. Btw iyaaaa retweet shia kujuga bakal semangat nunggu kalo meyda mau ngeluarin kisahnya eunha sama wooseok bikos the two are reaaaaally adorable :3

    Keep writing yaaaa mey!!❤❤

    Like

    1. TATE LANGDON MEMANG WILD SEKALI DAN KAYAKNYA MINGYU AGAK KURANG EHEM GT TAPI MAYAN COCOK YA KAN KAK ;_;
      huhuhuhu yes kehadiran mingyu emang horor sekali gila aku tuh dilema antara mempertahankan fluffnya atau kutinggal buat bikin kejelasan mingyu eunbinya huhuhu. aku juga ingin memberi kejelasan buat wooshin dan eunhanya tapi… males wkwk ;_; maafkan yeu.
      makasih banyak kak fik udah mampir! ^_____^

      Like

  3. KAKMEY. AKU. AKU. AKU MEGAP-MEGAP.

    Nggak deng, apaan sih. Aku sukaaaa banget ceritanya!❤❤ Pengin ku luvluvin sampe berjuta-juta kali. Jadi, ini dari film ya? Aku jadi tertarik nonton…. Aku selalu suka sih kalau ada cerita yang hantunya baik kayak gini, huhuhu jadi sedikit menenangkanku entah kenapa. Terus tbh aku nggak bisa bayangin Mingyu jadi makhluk begituan. Wajahnya terlalu….pft :" Dan karena aku nggak tau Wooshin gimana jadi aku bayangin seseorang yang…ah, sudahlah.

    Nggak kerasa banget lho kak mey kalau ternyata ini panjaaang, aku bacanya sangat enjoy dan santai bangettt lumayan hiburan abis sahur. Eeeits udah selesai aja😦 Feel-nya waktu Eunha mau pergi dan mereka kayak dikejar-kejar setan ((lho)) kerasa banget gaboong, aku bacanya juga yang kayak ngebut tapi berusaha untuk slow down ahihi.

    ANYWAY NOTE-NYAAA!!! Boleh dong buat kisah Eunha sama Wooshin terpisah HAHAHAHAHAH. Pengin lagi baca yang kayak gini :(( Ohya, btw kakmey, kan cast-nya Wooshin ya, tapi seisi cerita namanya 'Wooseok'. Lalu ada beberapa typo dan eyd yang missed, tapi nggak terlalu ganggu sih.

    Keep writing kakmey!!!❤❤

    Liked by 1 person

    1. YES kalo tertarik nonton lebih baik nontonnya pas udah buka aja shia soalnya agak… eksplisit gitu adegannya wkwkw.
      benar sekali wow ternyata bukan aku doang yang suka kalo setannya pada baik-baik instead of berusaha membunuh haha.
      WOW THANK U SO MUCH kalo ini ga terasa kepanjangan buat kamu soalnya aku bikinnya juga udah mikir “ini pasti kepanjangan” terus takut ntar ditinggal pas di tengah-tengah thanks shia kalo kamu berhasil namatin ini huhu :’>
      huhuhu aku juga pengen bikin wooseok-eunhanya tapi.. gatau mau dibikin gimana ;_; ooooh hehe itu soalnya wooseok tuh nama aslinya dia sedangkan wooshin itu nama panggungnya.. maaf kalo bikin bingung hahaha. makasih banyak review panjangnya shia! kamu super sekali :3

      Like

  4. UTUTUUUUT WOOSEOK YANG TABAH YA NGEJONES LAGI :”
    Sebenernya aku tuh anti sama horror2an, tp kalo kamu yg bikin aku jd pengen baca. Fyuh, untungnya meskipun hantu2an alurnya lawak macem casper… ya meskipun tau ini adaptasi horor2an amerika yg bahkan judulnya aku pernah denger /lely memang kamseupay/
    KENAPA SIH ENGGAK DI REAL MAUPUN FAKE LIFE YANG NAMANYA KIM MIN GYU SELALU BRENGSEK???!!!! KENAPA? KENAPA??!!!!
    Setelah baca ini aku jd pengen yakin kalo kamarku ada penunggunya. Ya siapa tau kan tiba2 ada yg muncul dan ternyata seganteng wonwoo atau taeyong gitu wkwkwk
    Nice story as always mey, ga perlu review puanjaaaaangg😄

    Liked by 1 person

    1. ya coba bayangin lol wooseok udah jones terus tiap hari harus disuguhin eunbi & mingyu lagi mesra-mesraan WOW BAYANGKAN wkwk.
      tapi ini ga horror kan ya lel haha cuma ngambil latar rumah berhantunya dan hantu2nya doang (whew, hantunya pun ga nyeremin sama sekali). YES BENAR SEKALI AKU ASLINYA GA PENGEN PAKE MINGYU BUAT JADI TATE-NYA TAPI KENAPA SIH KARAKTER DIA COCOK BANGET???? (ga woles)
      lel sadar lel kalo emang bener kamar kamu ada penunggunya pasti…. (sensor) (sensor) hahaha.
      makasih banyak ya lel udah mampir dan baca ini! ^_^

      Liked by 1 person

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s