Wrong Kind of Right


art, death, and tears image

Wrong Kind of Right

by Authumnder

Monsta X’s I.M & DIA’s Jenny | Fantasy, Slice of Life

 +++

“Biar kuulang permintaanmu barusan supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Kau melakukan ritual memanggil iblis yang tingkatnya sudah tinggi hanya untuk memohonku, dengar ini baik-baik, menjadi temanmu?”

Sosok yang duduk bersimpuh di depanku mengangguk, tidak ada sedikit pun jejak keraguan di wajahnya. Ia sudah gila, aku yakin.

“Oke, terserah. Kau sudah tahu konsekuensi dari perjanjian ini, ‘kan?” aku memutuskan untuk tidak mengacuhkan keinginannya yang janggal. Ia menggeleng—bagus, aku yakin gadis tolol ini akan mundur teratur begitu tahu hal yang akan terjadi kalau ia bersepakat dengan seorang iblis sepertiku. “Nyawamu. Itu taruhannya. Kau meminta sesuatu padaku, aku memberimu, tapi dengan satu syarat: kehidupanmu akan terpotong dan setelah kau mati, kau tidak punya pilihan selain pergi ke Neraka.”

“Oh…” gadis itu mengangguk dengan ekspresi bebal. Lalu, yang membuatku terkaget-kaget,  ia menjerit kesenangan setelahnya. “Itu artinya aku akan mati lebih cepat, ‘kan? Bagus, bagus, aku setuju!”

Aku sampai harus melongo beberapa saat setelahnya. Belum pernah dalam masa kerjaku—yang sudah lebih dari dua ratus tahun—aku dipertemukan oleh makhluk seaneh dia. Biasanya manusia-manusia bodoh itu akan memanggilku, lalu memucat setelah mengetahui akibat yang akan timbul setelah aku mengabulkan permintaannya. Tapi yang ini? Wah, wah.

“Baiklah, karena kau sudah menyebutkan doamu dan aku sudah memberitahumu konsekuensinya, mari kita selesaikan ini.” Kataku, mengibaskan mantelku sedikit sewaktu berjalan menghampiri lingkaran pemanggil iblis yang dibuatnya. “Kau, masuklah ke lingkaran lagi.”

Ia melakukan tepat seperti yang kuperintahkan, masih tanpa kesangsian.

Lingkaran dari kapur itu segera menyala ketika aku bersiap-siap mengucapkan mantra.

Mengais dalam tangis, menghamba pada yang fana,

Dia yang terpanggil berhak mengambil, pula yang memanggil berhak diambil—tunggu sebentar, siapa namamu?”

Gadis itu mendongak, “Oh? Nama asli atau nama panggilan?”

Aku nyaris mengurut kening. “Terserah yang mana, dua-duanya sama saja. Kau toh tidak bisa lari meski memberitahuku nama palsumu.”

“Lalu kenapa kau tak menyebut sembarang nama saja?” ia menelengkan kepalanya. “Tidak berefek apa-apa, ‘kan?”

“Diam dan sebut saja.”

“Oh, oke. Nama lahirku Lee Soyul, tapi temanku di panti asuhan dulu lebih sering memanggilku Jenny. Sebenarnya aku lebih suka Jenny, sih, tapi terserah kau kalau mau memakai—”

Kembali kurapal mantranya, tanpa memedulikan ocehan manusia ini, juga dengan sengaja menyebutnya sebagai ‘Lee Soyul’ karena aku lumayan kesal padanya. Begitu selesai, lingkarannya mengeluarkan asap abu-abu yang sangat pekat, mengelilingi kami selama beberapa saat sebelum akhirnya lenyap, bersamaan dengan bekas-bekas kapurnya.

Dengan itu, kehidupan sampinganku sebagai teman seorang manusia tolol dimulai.

+

Terikat dengan perjanjianku dengan Lee Soyul, aku diwajibkan untuk menjalani kehidupan sebagai separuh manusia. Terasa lucu sekali, kalau kau tanya pendapatku. Meskipun sudah pekerjaanku untuk berkontak langsung dengan mereka, hidup dengan salah satunya tetap saja aneh. Plus, aku bukan tipe iblis yang suka merasuki tubuh makhluk fana itu sewaktu ingin membuat perjanjian, aku jauh lebih menyukai diriku apa adanya. Lagipula, penampakan alamiku masih empat kali lebih baik kalau dibandingkan dengan manusia-manusia berjenis kelamin lelaki itu. Bukannya mau menyombong, sih, aku hanya memberitahu fakta.

“Kau mau buat apa, sih?” aku akhirnya angkat suara setelah sekian lama berdiam diri dengan kedua mata memicing ke arah Soyul, yang entah sedang sibuk apa di dapur. Omong-omong, rumahnya sempit sekali, kumuh dan sumpek. Dapur, kamar tidur, dan ruang TV ada dalam satu ruangan—kau bayangkan sendirilah, bahkan aku yang seorang iblis saja tahu kalau Soyul tidak menjalani kehidupan yang menyenangkan.

Ia mendongak lalu menyuguhkan seulas senyum. “Ramen. Karena kau temanku, aku berkeharusan untuk memberimu makan.” Jawabnya jujur.

Alisku naik sebelah, “Tidak usah repot-repot. Iblis tidak makan makanan manusia. Kalau kau bersikeras ingin memberiku makan, belikan saja aku Bvlgari.”

Tangannya berhenti memotong sayuran begitu mendengarku. “Setan suka pakai parfum?” tanyanya skeptis. “Apa kalian bangsa iblis juga punya pacar?”

“Memangnya kau pikir bagaimana kami meneruskan keturunan?”

Ia bergumam, “Hm… kalian abadi? Maksudku, kau tidak perlu khawatir akan kepunahan, ya, ‘kan?”

Poinnya masuk akal, sih, tapi mana sudi kuakui itu di depannya langsung? Jadi aku menyipitkan sebelah mataku dan dengan sombong menyahut. “Wow, Non, asal kau tahu saja ya, kami para iblis tidak berhubungan dengan lawan jenisnya hanya untuk melanjutkan keturunan. Kami mencari…” aku sebenarnya ingin menjelaskan segamblang-gamblangnya, tapi Soyul kelihatan seperti bocah yang baru saja memasuki masa pubertas, jadi kututup mulutku.

“Mencari apa?”

“Sudah sana, lanjutkan saja masakmu.” Aku memerintah, memutar pandangan mataku menuju layar TV. Bah, bahkan TV-nya pun jenis yang sudah berhenti diproduksi pabrik.

+

Dua minggu tinggal di kontrakan Soyul, dan aku mulai bosan.

“Changkyun! Ganti channel TV-nya ke yang tadi! Aku mau nonton berita!”

Aku malas-malasan memencet tombol di remote, lalu menenggelamkan tubuh sekali lagi ke tumpukan selimut yang disebar di lantai.

“Changkyun! Bisakah kau mengeluarkan sihirmu lagi? Pemanasnya macet lagi, nih!”

Aku memejamkan mata, mengerahkan kekuatan pikiran untuk memperbaiki kembali pemanasnya. Udara yang tadinya dingin agak menghangat setelahnya. Iya, memang cuma agak, lantaran seluruh barang di rumah Soyul kalau tidak kuno, pasti murahan. Pemanasnya sepertinya masuk ke golongan kedua.

Sejak jadi ‘setengah manusia’, aku jadi ikut-ikutan bersikap seperti mereka. Iblis mana pula yang tahu kalau tidur siang terasa semenyenangkan ini? Mungkin nanti setelah masa kontrak Soyul habis dan ia harus digiring pergi, aku tetap akan melanjutkan kebiasaan tidurku ini. Oh, dan jangan lupakan makanan manusia! Aku enggan mengakuinya, tapi Soyul lumayan bagus soal beginian. Masakannya terasa enak sekali di lidah, atau mungkin itu karena ia satu-satunya orang yang masakannya pernah kucicipi? Bisa jadi, sih.

Agaknya aku tertidur sebentar karena beberapa (puluh) menit kemudian, terdengar suara grasak-grusuk di atasku kemudian disusul oleh suara Soyul. “Changkyun, geser sedikit, dong. Aku mau tidur juga.”

Tanpa membuka mata, aku melakukan tepat seperti yang ia suruh. Masih ngantuk, duh. Sayang gangguan belum berhenti, keributan itu kembali dan tahu-tahu saja Soyul ada tepat di sisiku, lengannya menguarkan aura hangat dari samping tubuhku.

“Changkyun, boleh kupeluk?”

Erangan sudah siap meluncur dari mulutku, tapi aku teringat perjanjianku dengannya yang artinya, aku harus mematuhi apa pun yang gadis ini inginkan. Jadi alih-alih menunggunya melakukan itu duluan, aku langsung saja memiringkan tubuh dan melingkarkan satu lengan ke pinggangnya. Terasa nyaman beberapa saat, sebelum akhirnya Soyul terkikik dan berbisik,

“Kau dingin sekali.”

Soyul merusak momennya dan ia bahkan tidak menyadari itu. Aku melepaskan kontak tubuh kami dengan agak sebal, menyahuti, “Kau lupa ya aku itu iblis, yang artinya adalah masa kehidupanku sudah lama sekali berlalu alias telah mati?”

Tiba-tiba saja ia menyambung, “—tapi aku tidak keberatan.”

Keningku berkerut sendiri. “Apa maksudmu?”

“Makanya dengarkan dulu.” Katanya ringan, kali ini ganti lengannya yang melingkungi perutku. “Kau dingin sekali, tapi aku tidak keberatan.”

Wajahnya begitu dekat dan teraih, sampai aku harus mengingatkan diri bahwa iblis tidak jatuh pada manusia yang terikat dengannya. Jadi kupejamkan mata kembali, tak mengindahkan senyuman lebar di bibirnya.

+

Kalau aku mempelajari sesuatu dari Lee Soyul, itu pasti fakta kalau ia adalah anak miskin sebatang kara yang bekerja terlalu keras. Oh, dan ia tidak pernah berhasil membuat teman.

Soyul dipaksa pergi dari panti asuhannya di usia empat belas, terlalu muda untuk hidup mandiri dan terlalu tua untuk hidup di sebuah panti. Ia sebenarnya tak pernah menceritakan ini padaku, tapi lewat kemampuan membaca pikiran, sedikit-sedikit aku bisa menggabungkan ini dan itu.

Ia mengejar beasiswa sampai SMA, tapi gagal melanjutkan ke perguruan tinggi lantaran dihimpit keuangan. Ia tidak bodoh-bodoh amat, ternyata, ia suka membelanjakan uangnya untuk banyak sekali buku—dan ia tidak hanya membelinya, ia benar-benar mempelajari mereka sampai kadang-kadang aku terbangun dini hari untuk menemukannya sedang meringkuk di depan meja kecil, buku teks ada di depannya dengan penerangan seadanya.

Sekarang, kalau kau tanya pendapatku, Soyul bukan lagi gadis bodoh yang tak punya motivasi untuk hidup di dunia ini. Ia punya, sungguh, tapi aku tahu jauh dalam benaknya, ia berpikiran kalau percuma hidup lama-lama tanpa seseorang untuk menemaninya.

Lee Soyul juga bukan orang yang serakah. Ia tidak suka barang mewah dan kekayaan, sempat kukira ia bercanda sewaktu mengatakannya, tapi setelah kutelaah dalam-dalam, kutemukan kenyataan kalau memang begitulah sifatnya. Aku menebak, itulah alasan mengapa Soyul memintaku menjadi temannya, alih-alih memohon hal-hal seputar uang dan kepopuleran.

Pendeknya, Lee Soyul adalah gabungan dari kepribadian terlalu bersih dan ketololan yang disimpan dalam sebuah tubuh yang kesepian. Dan anehnya, aku tak rela membiarkannya tetap seperti itu.

+

Malam hari di kontrakan Soyul selalu dilingkungi oleh kebosanan. Kepalaku sudah terlalu pusing karena kebanyakan tidur, sedangkan kepala Soyul juga pusing lantaran kekurangan tidur. Baik, baik, sebut saja aku pemalas, tapi memangnya apa yang kau harapkan dari seorang iblis yang gemar berfoya-foya? Bekerja? Sori ya, tapi jawabannya adalah Tidak—dengan T kapital.

Saat bosan, kebiasaan burukku selalu muncul. Jiwa isengku akan naik ke permukaan dan meminta ditunaikan, sedang objek keusilannya akan terkapar dengan menyedihkan saking kelelahannya. Bukan berarti aku akan membiarkan Soyul tidur-tiduran sementara aku mati kebosanan, sih.

“Ya Tuhan, oke, oke! Kau pergilah mengambil mantel—” ucapan Soyul terpotong oleh mantelku yang terbang sendiri. Ia mengirimkan lirikan sengit ke arahku sambil berusaha mengeluarkan diri dari belitan selimut tebal. “—kita pergi berbelanja.”

Seringaian kemenangan luntur dari wajahku. “Belanja? Itu idemu soal bersenang-senang?” celaku.

Soyul masih sibuk melepaskan mantelnya sendiri dari cantelan saat menjawab dengan nada tidak kalah mengoloknya. “Ya, dan terserah padamu mau ikut atau tidak. Demi Tuhan, Lim Changkyun, bisakah kau membantuku beres-beres sedikit saja? Rumahnya sudah seperti kapal pecah!” omelnya, kesulitan menemukan dompet dan karet gelang untuk mengikat rambutnya di nakas kecil yang dipenuhi benda-benda.

Sementara aku—well, karena Soyul sedang menyebalkan, aku tak mau repot-repot memberitahu kalau dompet itu ada di saku mantelnya dan karet rambutnya ada di pergelangan tangannya sendiri. Ha.

Sepuluh menit kemudian kami sudah menuruni tangga sempit kontrakan menuju lantai dasar, masih berseteru soal siapa yang berperan besar dalam kondisi berantakan kamarnya. Menurutku sih bukan aku, kerjaanku di sana ‘kan hanya tidur, makan, dan nonton TV. Tapi Soyul menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah tangga dan menolehku dengan delikan tajam.

“Siapa yang terlalu malas bangun untuk mengambil remote TV dan memutuskan untuk menggunakan sihir gagal untuk mengangkat meja dan seluruh isinya? Salah satu di antara kita, tapi bukan aku.”

Well… itu ada benarnya, sih. Tapi mana sudi aku mengakuinya langsung tanpa berdebat terlebih dahulu?

“Dan siapa yang bangun kesiangan dan memutuskan untuk menumpahkan seisi lemarinya ke lantai hanya untuk menemukan pakaian yang cocok dan tidak membereskannya lagi setelah itu? Kayaknya bukan aku, deh.” Balasku.

Soyul menaiki anak tangganya sekali lagi, untuk kemudian memukul kepalaku. “Itu karena kau menyebalkan.” Katanya lalu melanjutkan perjalanan lagi. Jangan pikir aku terima dibegitukan tanpa membalas, jadi kukerahkan sisa-sisa kekuatanku untuk membuat tangga sempit yang jelek ini berguncang keras sekali. Aku tetap berdiri di atas kakiku setelahnya, tapi Soyul jatuh terduduk dengan dentuman membahana.

“Changkyun!” jeritnya.

Aku telanjur berlari menuruni sisa anak tangga sambil terbahak.

+

Tidak terasa sama sekali, tahu-tahu saja tenggat waktu yang telah dijanjikan datang. Aku tidak berniat menyampaikan pengetahuan ini pada Soyul, tapi kurasa alam bawah sadarnya sudah mengetahui. Terbukti dengan gelagat anehnya begitu terbangun pagi ini.

“Aku akan mati,” katanya tiba-tiba sewaktu aku masih memilih-milih channel yang akan kutonton—sekadar informasi, TV-nya sudah diganti dengan model plasma yang langsing dan tidak makan tempat, berkat siapa? Bukan Soyul, tentunya. Nada suaranya tenang sekali dan tanpa ketakutan. Ia menggeser bantalnya mendekat ke kepalaku, menelengkan wajahnya. “Ya, ‘kan, Changkyun?”

Aku tidak bisa membaca pikirannya. Apakah ia senang dengan fakta ini, atau justru menyesali kesepakatannya denganku, aku tak tahu. Jadi kuputuskan untuk memberi anggukan kecil.

Soyul mengubah posisi kepalanya, menatap langit-langit kelabu di atas kami.

Keingintahuanku tidak bisa ditahan-tahan lagi, jadi ganti aku yang memiringkan kepala, memandanginya. “Sedih? Menyesal soal perjanjianmu denganku?”

Ia menggeleng cepat, membalas sorotan mataku denganku senyuman simpul. “Sedih? Mungkin sedikit. Menyesal? Tidak sama sekali. Kau hal terhebat yang pernah terjadi dalam kehidupanku.”

“Kau juga hal terhebat yang pernah terjadi dalam kehidupanku.” Aku mengulang, kali ini tanpa paksaan sama sekali—aku sungguh-sungguh memaknainya.

+

“Jadi, di Neraka nanti, apa yang akan kulakukan?” Soyul tiba-tiba bersoal di sore hari yang berhujan, sementara kami duduk-duduk di kursi halte tanpa tujuan. “Disiksa?”

Aku tersenyum tipis, menadah air hujan di telapak tangan. “Disiksa itu hanya untuk manusia-manusia yang nanti akan dikirimkan ke Surga.” Sahutku. “Kau akan berakhir jadi sepertiku, iblis yang pekerjaannya adalah menyesatkan manusia. Selamanya.”

Ia menolehku dengan raut serius. “Itu artinya aku akan sering bertemu denganmu, ‘kan?” tanyanya. “Kau tidak akan meninggalkanku begitu saja setelah perjanjiannya berakhir, ‘kan?”

Ada kekhawatiran dalam suaranya yang membuatku gatal ingin tersenyum. “Yap, kau akan sangat sering bertemu denganku, dan ya, aku akan tetap jadi temanmu bahkan setelah kita berdua dikirim ke Neraka. Kalau itu yang kau mau, sih.” Aku menyahut.

“Tentu saja aku mau. Itu keinginan terbesarku.” Balasnya. “Aku lega sekali mendengarnya.”

Sisanya hanya diisi oleh suara dentuman tetes hujan di atap halte.

+

Dini hari, Soyul mengguncang tubuhku dengan keras sekali sampai mataku tidak punya pilihan lain kecuali membuka lebar-lebar. “Apa, sih?” ujarku.

“Malaikat pencabut nyawaku akan datang besok,” bisiknya dengan vokal serak tanda kalau ia juga baru terbangun. “Mana mungkin akan kusia-siakan hari ini? Ayo bangun, bangun! Ini hari terakhirmu menjadi setengah manusia juga, lho.”

Jadi itulah yang kulakukan. Aku mencuci muka dengan masih terkantuk-kantuk, menyambar mantel, dan menunggu Soyul selesai dengan urusannya. Kami lantas menuruni tangga sempit itu lagi, berjalan entah menuju ke mana.

“Aku  bahkan tidak punya rencana,” kata Soyul, anehnya kedengaran riang. Langkahnya jauh berbeda dari biasanya, kali ini lebih ringan dan bersemangat—ia bahkan melompat, kadang-kadang. “Ayo kita menaiki bus secara acak tanpa memedulikan destinasinya.”

Aku mengiakan, dan memang itulah yang selanjutnya kami lakukan. Kami memanjat naik pada bus yang pertama lewat, duduk di bangkunya, tertawa-tawa ketika angin mengembus lewat ventilasi kecil di atas jendela. Sesuatu dalam diri Soyul terasa berbeda, seakan-akan sedari dulu ia menahan dirinya untuk berbahagia, sedang sekarang ia melepaskan segala kesenangan di dalam dada. Entah pemikiran itu benar atau salah, aku tak peduli.

Kami berakhir di N Seoul Tower, nama bekennya sih Namsan Tower. Itu ide Soyul, ia bilang seumur hidupnya di Seoul, belum pernah ia berhasil mengunjungi tempat itu. Jadi ia pikir pergi denganku adalah ide yang bagus.

Bagus atau tidaknya ide itu, aku tetap kesal lantaran pergi ke sana artinya harus berjalan kaki di jalan menanjak. Plus, udara dingin menyembur dengan bersemangat ke arah kami, membuatku harus mengeratkan mantel berkali-kali. Soyul juga kedinginan, tapi ia tidak mau mengaku.

“Ini hari terakhirku di dunia, tornado pun takkan bisa menghentikanku.” Katanya angkuh, tapi sepuluh menit selanjutnya badannya menggigil heboh sekali.

Aku menggunakan sedikit sihir untuk memindahkan syal wol milik Soyul di rumah ke tempatku sekarang ini. “Makanya jangan sombong,” ejekku sambil melilitkan kain itu ke lehernya. “Mendingan?”

Ia mengangguk.

Sayang seribu sayang, sewaktu kami tiba di sana, cuaca memburuk dengan sangat drastis sehingga kereta gantungnya tidak diperbolehkan bekerja. Ekspresi berseri-seri Soyul berangsur-angsur luntur.

“Hei, jangan cemberut begitu.” Kataku, menyenggol bahunya dengan bahuku sendiri. “Mau kubelikan kopi?”

Ia menyengir, “Kau? Mau membelikanku? Pakai apa? Daun?”

Aku mengedikkan bahu. “Pakai sihir, dong.” Dan begitulah, dua cup kopi tiba di tangan kami masing-masing.

“Wow, ceroboh sekali.” Ia masih menyempatkan diri untuk mengomel, meski bibirnya dua sudut bibirnya naik ke atas. “Bagaimana kalau ada yang melihat?”

Aku menyeringai, merangkulnya mendekat dengan sebelah tangan. “Pakai sihir lagi, dong. Mantrai saja mereka supaya tidak ingat kejadian barusan.”

+

Para iblis yang membuat perjanjian tidak pernah tahu bagaimana kronologi kematian si manusia. Mereka tahu kapan tepatnya, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Begitu pula aku.

Dan itulah sebab mengapa aku tak bisa menghindarkan Soyul dari terjangan sebuah mobil dengan pengemudinya yang mabuk.

Kami dalam perjalanan pulang setelah seharian bersenang-senang saat itu terjadi. Lampu pejalan kaki menyala hijau, sehingga kami berdua melangkah maju, terlalu sibuk bercengkerama dengan satu sama lain untuk menyadari kenyataan bahwa sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju menuju kami—sampai detik di mana tubuh Soyul terpelanting ke tanah dengan begitu kerasnya sedang tubuhku menguap.

Tahu-tahu saja aku telentang di sisi badan Soyul yang berlumuran darah. Ada luka menganga di batok kelapanya, tapi kedua matanya masih terbuka lebar.

Bisiknya, “Aku tidak tahu akan begini akhirnya.”

Aku membalas, “Aku juga. Maafkan aku.”

Orang-orang mulai mendekati jalan raya tempat kami berdua terkapar. Sementara waktu Soyul tak bersisa banyak. Ia mengedipkan matanya berkali-kali ketika bulir-bulir hujan mulai berjatuhan dari langit.

“Asal kau tahu, Changkyun,” Soyul terbata berusaha membuat kalimat runtut. “Aku sangat menyayangimu.” Dan begitulah, kedua matanya terkatup selagi umurnya resmi ditutup.

Sebenarnya aku ingin mengatakan ini saat Lee Soyul masih bernyawa, tapi sekarang rasanya sudah terlambat. Jadi biar kukatakan sekali lagi nanti, kalau kami bertemu lagi di akhirat.

“Aku mencintaimu.”

fin.

Finished: 18:35 | June 15, 2016.

Pengen gitu bikin fiksi yang udah diketahui dari awal kalo endingnya nggak bakal bahagia, tapi seiring perjalannya tuh tetep diisi komedi. Ini kayaknya gagal, sih, wkwk. Anyway, ide didapat dari Tumblr (apalah aku tanpa postingan kreatif Tumblr) dan episode di Supernatural (pokoknya bagian tawar-menawar dengan setannya, cough cough Dean cough cough). Ingin mencantumkan kredit tapi HP-ku jauh dari jangkauan, sungguh maafkan. ;_;

4 thoughts on “Wrong Kind of Right

  1. KAK MEY INI KEREN SEKALE YA AMPUN KENAPA SIH AKU NGGAK BISA DATENG KE SINI DENGAN TENANG YA TAPI ITU SOALNYA KAK MEY KALO BIKIN FANFIC BAGUS-BAGUS AJDHFK;LKLGJKL //kemudian diusir
    Aku suka karakternya Soyul sama Changkyun! Changkyun dan sarkasmenya dan prinsip “pakai sihir dong” itu antara lucu sama nyebelin. Entah kenapa aku ngakak sekaligus kesel pas Changkyun goyang-goyangin tangganya itu😄 Terus Soyul, God… This kid is too pure for this cruel world, emang mending kamu di neraka jha sama mas changkyun😀 Personality Soyul tuh unpredictable sekali lucu deh!
    Endingnya pas Soyul sekarat itu agak menyedihkan sih terus pas mereka saling ngucapin kata terakhir sebelum cabut ke neraka itu huw :” Untung abis ini ketemu lagi di neraka. Tapi ga bayangin Soyul jadi iblis bikos she’s too pureeeeeee
    Keep writing Kak Mey kusuka tulisan Kak Mey yeaayyy❤

    Like

    1. TAPI JUJUR SIH RAN AKU MALAH SENENG KALO AWAL KOMENTAR TUH PAKE CAPS SEMUA WKWKWK.
      changkyun memang di mana-mana nyebelin huhu hidupnya enak banget mah dia aku juga mau dong diajarin sihirnya (loh loh). YES bener aku tuh dilema banget loh ran soalnya karakter soyul di sini tuh very very polos dan agak sedikit tolol jadi aku mikirnya apa bisa nih anak jadi setan di neraka wkwkwkwkw.
      MAKASIH BANYAK KOMENTAR HEBOHNYA RAN!! :3

      Like

  2. no, no, no, no it should be comedic, right? right? right? ((maksa)) kenapa pas akhir jadi bittersweet merepet ke angst meeeey huhuhuhu. aku dari awal kan mikirnya udah yang: wah here we go again meyda and her humor dan bener kaaan. sumpah nguquq bagian yang si changkyun kerjaannya makan, tidur, nonton TV, makan lagi, terus tidur hahaha. entar kalo udah balik ke habitat terus malah keterusan. buuuuuut, pas tiba-tiba si soyul ngajakin keluar and then mereka berakhir di namsan aku udah yang: waduh ini jangan-jangan ada apa-apanya. DAN BENER KAN!! pas bagian ketabraknya sih belom sedih, tapi pas saling ngucapin kata-kata terakhir gitu. TERUS KATA-KATA TERAKHIRNYA CHANGKYUN DONG DUH. :(( udah ah masih sedih :” anw keep writing meydaaa!😀

    Like

    1. halo kak fika!!!
      hehehehe aku bahagia kalo ini masih mengandung sedikit sadness ;_; sekali2 pengen nyoba sesuatu yang beda kak wkwkw fluff mulu soalnya kayaknya aku bikinnya???
      yesh aslinya ga pengen bikin adegan ketabrak gt-gtan bikos ga bisa njelasin tapi kalo ga ketabrak gimana lagi dong ok jadilah ditabrak wkwk.
      makasih banyak komen panjangnya ya kak fik!keep writing jugaa :>

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s