At The Start Of The Day


https://i1.wp.com/orig03.deviantart.net/3898/f/2016/104/0/b/yoongihanahakieditcredit_by_yoonjiminnie-d9yvhj6.png

At The Start of The Day

by Authumnder

BTS’ Yoongi & Lovelyz’s Jiae | Historical, Fantasy

©picture

+++

Gerobak keluarganya memang sudah saatnya diganti, selain karena kayu tuanya yang berat sekali, roda-roda benda pengangkut itu juga mulai mengempis, membuat pekerjaan makin sulit. Min Yoongi memikirkan ini dengan peluh berkeringat dan kedua lengan sibuk mengendalikan laju gerobak yang penuh dengan kubis.

Matahari belum muncul, kegelapan pekat masih mengelilingi tanah pertanian yang senyap, sementara di sinilah Yoongi, sudah sibuk bekerja mencari pundi-pundi uang untuk kebutuhan hidup keluarganya. Bukannya ia mengeluh, sih—anak seorang petani miskin pantang memprotes takdir. Maka ia melanjutkan perjalanannya menuju pasar harian di pinggir kota, dua kilometer dari tempatnya sekarang ini, meski akhirnya harus berhenti lantaran sesosok siluet muncul dari belokan gang.

Perampok? Yoongi memindah perhatiannya dari tumpukan kubis ke gang gelap menuju mansion pemilik pertanian. Secara refleks suara gerak kakinya memelan, sementara telinganya melakukan penyensoran suara; tetap tidak ada hasil. Maka Yoongi perlahan-lahan merajut langkah menuju lorong temaram itu, hanya untuk dihadapkan dengan kursi kayu memanjang dengan seorang gadis yang tengah menunduk di atasnya.

Ada banyak rumor hantu saat itu: si Mata Satu, si Kaki Bengkok, si Tanpa Kepala, tapi rasa-rasanya tidak ada hantu yang berciri-ciri seperti gadis itu. Pikir saja sendiri, setan macam apa yang bisa membeli pakaian setrendi dan semahal itu?

Jadi, berdasarkan keyakinan kalau figur itu bukanlah makhluk halus penunggu rumah besar di sampingnya, Yoongi melangkah maju. Ia sudah berusaha sekeras mungkin agar sepatu jeleknya tidak menimbulkan kegaduhan, tapi tetap saja sosok itu mendongak ketika ia berhasil mendekat.

Dalam dua detik, dua seruan ‘siapa kau?!’ terdengar.

Syukurlah, gadis itu benar-benar seorang manusia.

“Oh, maaf,” dengan kagok Yoongi berujar. “Aku sedang berusaha melewati jalan ini dan melihat bayanganmu. Kukira kau pencuri, atau hantu. Apa yang kaulakukan di sini pagi-pagi begini?”

Lawan bicaranya tersenyum tipis. “Sekarang kau sudah tahu ‘kan kalau aku bukan dua-duanya? Jadi, bisa tinggalkan aku sendiri?” katanya.

Yoongi terpaksa menggeleng, “Tidak bisa, kau tidak boleh meninggalkan seseorang yang sedang bersedih hati sendirian. Mereka bisa melakukan hal-hal yang nantinya akan kau sesalkan. Ibuku yang mengatakannya.”

Gadis itu tertegun, memandanginya dengan sepasang bola mata miliknya yang jernih. “Siapa kau?” cetusnya.

“Oh, hanya anak petani dalam perjalanan menuju pasar. Bagaimana dengan kau?”

Kerutan di kening lawan bicara Yoongi perlahan-lahan runtuh, sementara bibir mungilnya membentuk seulas senyum samar. “Yoo Jiae,” katanya.

Yoo?” perlu sekitar empat detik untuk meregistrasi info barusan, dan saat otaknya berhasil melakukannya, Yoongi mau tidak mau merasa bersalah telah meninggalkan sopan santun. “Oh, jadi kau adalah—”

Yoo Jiae mengangguk bahkan sebelum Yoongi sanggup menyelesaikan dialognya. “Bisakah kau duduk?” ia mengubah topik. “Kau menghalangi cahaya matahari pagi.”

Ucapan Jiae layaknya sengatan lebah yang sarangnya habis diganggu bagi Yoongi, laki-laki itu segera mundur selangkah dan menatap kubis-kubis dalam gerobaknya yang segar, menyesalkan kenyataan kalau ia harus segera melanjutkan perjalanan kalau tidak mau dirugikan.

Jadi itulah akhir dari perjumpaan perdana Min Yoongi dengan Yoo Jiae.

Besoknya, masih ditemani gerobak tua bermuatan penuhnya, Yoongi lagi-lagi melewati gang sempit itu. Bukan apa-apa, ia sama sekali tidak berharap akan dipertemukan dengan gadis manis putri si tuan tanah, kok; jalan itu toh memang satu-satunya rute menuju pasar. Tapi yang membuatnya terkejut setengah mati adalah kenyataan kalau Jiae malah berdiri di ujung gang, lengkap dengan pakaian mahal dan tatanan rambut femininnya yang memanggil perhatian.

“Halo,” sapa gadis itu dengan keriangan yang dibuat-buat. “Aku tidak bermaksud menghentikan perjalananmu. Tapi aku sudah melakukannya, bukan?”

Yoongi mengangguk.

Jiae menyuguhkan sebuah senyuman lain—yang ini lebih mendingan dari tadi, membuatnya kelihatan seakan-akan ia memang gembira dapat bersemuka lagi dengan Yoongi. “Tenang saja, aku tidak datang dengan tangan kosong. Bisakah kau mendorong gerobaknya sampai situ?” ia menunjuk sebuah pintu bewarna biru di samping kiri gang. “Kepala pelayan kami membutuhkan banyak kubis untuk persediaan makan. Dia akan membelinya, jangan khawatir. Kau jadi tidak perlu repot-repot pergi ke pasar yang jauh, ‘kan? Sebagai gantinya, maukah kau duduk-duduk denganku barang sebentar?”

Saat itulah Yoongi mengetahui kenyataan kalau sosok di depannya ini tak lebih dari seseorang kesepian yang kebetulan saja sedang beruntung, apalah itu dengan harta orangtuanya yang tak bisa dihitung. Namun bukan itu alasan mengapa Yoongi mengangguk tanpa memikirkannya terlebih dahulu—tidak, sama sekali bukan itu.

“Senang mendapat persetujuanmu.” Kata Jiae, lantas berbalik menatap bangku panjang tempatnya duduk kemarin. “Bagaimana pendapatmu tentang kursi itu?”

Yoongi menyahut, “Kursi yang pasti sangat enak untuk dijadikan tempat duduk.”

“Bagus, karena aku juga berpikiran begitu. Ayo.” Jiae memosisikan dirinya untuk duduk di bawah rindang tanaman merayap, membuat bayangan tumbuhan itu menutupi figurnya. “Tidak ada yang tahu kalau aku suka keluar dini hari kecuali pelayan pribadiku dan kepala pelayannya, lebih baik membiarkannya tetap begitu, ‘kan?”

“Sepertinya.”

Jiae berdeham, “Sebenarnya, kalau aku diperbolehkan memilih, aku lebih suka kau yang kemarin, tidak terlalu pendiam dan jelas adalah teman bicara yang lebih menyenangkan daripada kau yang sekarang. Tapi, yah, siapa sih aku? Tahu namamu saja tidak.”

Ini bukan kali pertama Yoongi berbicara pada anak perempuan, tapi belum pernah ia merasakan kerongkongannya terbelit seperti ini, sampai-sampai ia kesulitan mengutarakan jawaban. Ia batuk sekali, lalu menampilkan senyuman miring, “Oh, maaf. Hanya saja, ini pertama kalinya seorang petani sepertiku dihadang oleh anak gadis tuan tanahnya. Maaf, tidak bermaksud menyinggungmu. Min Yoongi.”

“Aku punya hati yang keras, jangan khawatir. Hal-hal ringan seperti itu tidak lagi menyinggungku,” balas Jiae dengan tenang. “Aku senang bisa mengobrol denganmu, sudah berminggu-minggu aku tidak bertemu dengan orang lain kecuali ayah, ibu, dan para pelayan. Sangat membosankan. Semoga saja kau tidak—” ia terbatuk, sebelah tangan segera menutup mulutnya dengan sapu tangan.

Saat itu Yoongi pikir Jiae hanya mengikuti etika seorang gadis muda bermartabat yang selalu membawa sapu tangan ke mana-mana dan menutup mulutnya ketika bersin atau batuk. Yoongi hanya tidak tahu apa yang sapu tangan itu berusaha tutupi.

Ada tiga peristiwa penting yang selamanya akan jadi favorit Min Yoongi. Yang pertama adalah musim panen, ketika seluruh keluarganya—bahkan ibu dan adiknya—akan pergi ke pertanian dan membantu ayah serta dirinya mencabuti sayuran siap dikonsumsi. Yang kedua adalah bulan bebas pajak, yang hanya terjadi setahun sekali, di mana keluarganya tidak diharuskan membayar lantaran tagihannya telah dilunasi oleh pemilik tanah; sehingga tabungan ayahnya bisa dipakai untuk berbelanja daging dan pakaian baru. Yang ketiga adalah subuh-subuh seminggu belakangan ini, saat ia dengan peluh menetes mendorong gerobaknya menuju pintu biru di lorong mansion, lantas berbalik dan menghabiskan dua jam setelahnya dengan menjalin konversasi dengan Yoo Jiae.

Baiklah, mungkin memang terlalu dini untuk menganggap hal itu spesial. Bagaimanapun, ia baru mengetahui identitas Jiae dua minggu yang lalu, ada banyak hal tentang gadis itu yang masih rahasia. Tapi peduli amat dengan itu: Min Yoongi hidup di momen ini, dan ia akan menikmatinya, alih-alih mengkhawatirkan hal-hal yang datangnya belakangan.

Maka pagi ini, ketika batuk hebat melanda Jiae sampai gadis itu tersengal-sengal, Yoongi tidak punya pilihan kecuali mulai menanyakan keadaan. Pertanyaan “kau baik-baik saja?” sudah berada di ujung lidahnya, namun terhenti oleh gerakan membungkuk mendadak Jiae.

Yoo Jiae begitu kecil dan pucat di bawah matahari terbit, dan penglihatan Yoongi telanjur menangkap puluhan kelopak merah di sapu tangannya.

“Namanya Cha Sunwoo, putra pemilik kastel di Davenport. Kau mungkin pernah melihat rumahnya saat lewat. Aku berteman dengannya empat tahun yang lalu, tapi ini,” Jiae menunjuk kelopak yang terserak di kakinya. “Baru muncul empat bulan yang lalu.”

Yoongi dengan kaku mengangguk, diam-diam belum bisa menerima kenyataan. Sedari tadi ia menutup mulutnya rapat-rapat, memberi anggukan atau gelengan sewaktu Jiae menjelaskan. Juga menepuk punggung gadis itu tiap kali serangan batuknya datang lagi. Namun hanya sampai di situ, Min Yoongi masih mengumpulkan kesadaran, masih berusaha menelan bulat-bulat faktanya.

Jiae menyenggol sepatu bot Yoongi dengan pantofelnya, “Hei, jangan serius begitu. Bicaralah, apa saja. Aku mungkin akan merasa lebih baik kalau kau melakukannya.” Guraunya. “Lagipula, aku sudah mulai terbiasa dengan ini, kok. Bukan cuma aku penderitanya.”

Namun alih-alih menanggapi candaan Jiae, Yoongi justru menyemburkan sesalan. “Bagaimana mungkin?” tanyanya keras-keras. “Bagaimana mungkin dia tak mencintaimu juga? Bagaimana mungkin kau sakit-sakitan begini karena mencintainya dan dia tidak merasakan apa-apa sama sekali?”

Tangan kanan Jiae terangkat untuk mengusap sudut matanya, meskipun bibirnya masih menampilkan senyuman manis. “Benar sekali, bagaimana mungkin, ‘kan? Itu juga yang kupikirkan dulu, Yoongi, percayalah. Tapi inilah resiko mencintai seseorang, bukan? Dan mati karena menyimpan sendiri perasaan kedengaran jauh lebih romantis ketimbang mati karena penyakit campak.” Tuturnya, mendongak menatap cakrawala.

Namun Yoongi tak mampu memahaminya—lebih ke arah tidak mau—sehingga ia bangkit dari posisi duduknya, mengusap bagian belakang celananya dan mencetus, “Aku pulang dulu, Yoo Jiae.”

Hari itu ia pulang satu jam lebih awal dari kesehariannya yang lalu, kali ini dengan dada dipenuhi letupan kekecewaan.

Yoongi tidak berhak untuk marah. Tidak, sama sekali tidak. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri akan posisinya dalam kehidupan Yoo Jiae, namun alih-alih menyadarkannya, kemurkaan justru makin menggelegak dalam dadanya. Yoongi merasa bodoh, mati rasa, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak ingin bangkit dari kasurnya ketika jarum jam menunjuk angka dua, tidak ingin melewati jalan menuju gang mansion itu lagi bahkan meski itu artinya ia harus kelaparan hari ini, tidak ingin melihat Jiae untuk menyaksikan kejatuhan dan muntahan bunga gadis itu.

“Apa kau sakit?”

Barulah setelah mendengar pertanyaan adiknya, Yoongi mengalihkan fokusnya dari langit-langit kamarnya yang gulita.

Jawabnya, “Tidak. Hanya emosional.”

Adiknya berjalan mendekat, lalu mendudukkan tubuhnya di pinggir alas tidur Yoongi. “Aku tidak tahu apa tepatnya yang mengganggu pikiran Kakak, tapi Ayah bilang tidak apa-apa kalau Kakak tidak ingin pergi ke pasar hari ini. Pelayan Tuan Yoo membayar banyak untuk sayur-mayur seminggu kemarin. Bonusnya belum dihitung.” Ujarnya menenangkan. “Ada masalah apa?”

Hanahaki.”

Adiknya langsung tersentak dari duduknya. “Kakak kena penyakit itu?!” serunya, membahana.

Yoongi buru-buru menggeleng sebelum keributan makin menjadi. “Tidak, tidak. Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentang penyakit itu.” Ia meralat.

“Oh, syukurlah,” gumam adiknya, memosisikan dirinya kembali. “Aku banyak mendengar ini dari teman-temanku di kota. Katanya hanahaki adalah penyakit yang timbul dari cinta tak terbalas. Bunga-bunga cantik namun mematikan akan tumbuh di dada penderitanya, lantas dimuntahkan dalam bentuk kelopak-kelopak. Seromantis apa pun kedengarannya, hanahaki hanya akan berakhir membunuh korbannya. Kakak benar-benar tidak mengidapnya, ‘kan?”

“Tidak, jangan khawatir. Jadi… penyakit itu, tidak ada obatnya.”

Adiknya menggeleng sedih, “Hanya operasi. Sangat mahal dan hanya ada di ibukota negara yang jauh dari sini. Butuh delapan bulan untuk mencapainya dengan kereta kuda yang sangat cepat, itu pun sudah terlambat—kudengar hanahaki tidak memberikan banyak waktu, enam bulan paling lama, kalau beruntung.”

Jiae bilang ini bulan keempatnya. Tapi bahkan dengan sekilas pandang ke arahnya, Yoongi tahu penyakit itu telah memakan banyak dan kini, mungkin hanya tersisa secuil kehidupan dalam diri Yoo Jiae.

Berdasarkan itu Min Yoongi bangkit dari tidurnya, menyambar mantel usang dan topinya dengan cekatan, lantas menghambur keluar dari rumahnya.

Yoo Jiae tidak ada di gang tempat mereka biasa berjumpa saat Yoongi tiba dengan napas tercekat, sehingga laki-laki itu tidak punya pilihan kecuali mengetuk pintu biru dan menunggu pelayan membukanya dengan jantung berdegup tak terkendali.

Syukurlah, wajah kepala pelayan yang menyambutnya. Pria tua itu mengetahui pertemanan yang Yoongi dan putri majikannya jalin dari beberapa minggu yang lalu, oleh karena itu ia tidak bertanya banyak dan hanya memberi isyarat agar Yoongi menunggu di bangku depan.

Jiae muncul sepuluh menit kemudian, terlihat lebih langsing dan putih dalam setelan merah jambunya. Rambutnya kali ini tidak ditata ke atas seperti hari-hari yang lalu, justru dibiarkan tergerai di atas bahunya seperti lautan ombak yang kelam. Ia belum sempat menyapa saat Yoongi terlebih dahulu bangkit dan menghampirinya.

“Aku akan menemui Cha Sunwoo-mu dan memintanya untuk membalas perasaanmu.”

Itu keputusan yang tolol, Yoongi tahu. Ia hanya anak seorang petani miskin yang hanya pergi ke kota untuk menjual hasil panen dan Cha Sunwoo adalah anak tuan tanah kaya raya yang punya seribu gadis memendam rasa untuknya. Tapi Yoongi telanjur dibutakan, ia bahkan tak tahu atas dorongan apa ia mengatakannya.

Namun alih-alih meneriaki Yoongi atas kebodohannya, Jiae hanya menggeleng dan menggoreskan senyuman tipis. Ia melesakkan dirinya di atas kursi kayu, kali ini tak repot-repot mencari persembunyian lewat dedaunan, justru membiarkan matahari menyorotinya langsung.

“Tidak perlu, Yoongi. Sama sekali tidak perlu.” Jelasnya lirih. “Sunwoo menikah sebulan yang lalu. Dengan sahabat perempuanku.”

Hancurlah harapan Yoongi tentang kehidupan gadis di depannya. Ia menunduk lesu, sementara sesuatu yang sepertinya adalah air matanya menendang-nendang dengan heboh, meminta untuk dikeluarkan saja. Ia berakhir menggumam, “Jadi, tidak ada jalan lagi.”

Jiae menjawab, “Memang tidak ada. Dengar, Yoongi, aku minta maaf.” Gadis itu terbatuk lagi, kelopak-kelopak dalam ukuran bervariasi tumpah ruah ke sapu tangannya. “Aku minta maaf telah melibatkanmu dalam semua ini, aku telah bertindak egois dengan membuatmu mengenalku. Tapi aku bahagia bisa mengenalmu, dan itulah bagian di mana aku lebih egois lagi. Tolong jangan bersedih.”

Pagi ini Min Yoongi terbangun dengan sebuah solusi. Ia terburu-buru bangkit dari ranjang dan melesat masuk ke dalam kamar tidur adiknya.

“Apa hanahaki bisa hilang kalau penderitanya jatuh cinta pada orang lain yang juga mencintainya?”

Adiknya menjawab dengan mata masih terkatup, “Bisa, tapi kalau dia benar-benar mencintai orang lain itu. Sudah sana, pergi!”

Dan itulah yang Yoongi lakukan. Ia dengan begitu bersemangat mengeluarkan gerobak dari ruangan sempit di bagian depan rumahnya. Begitu ceria mendorong benda tua nan berat itu ke jalanan pertanian yang becek berkat hujan semalam. Begitu gembira menyusun penjelasan untuk Jiae nanti.

Dengar, Jiae, jatuh cintalah padaku. Karena aku telah melakukannya untukmu.”

Kalimat itu terasa begitu ringan dan indah dalam pikirannya, dan Yoongi tak sabar untuk segera mengutarakannya keras-keras pada Yoo Jiae. Ia bahkan melupakan status dan ratusan perbedaan dalam keseharian mereka.

Namun kalimat tersebut runtuh berguguran di tanah yang Yoongi injak ketika ia berbelok ke gang, hanya untuk disambut si kepala pelayan yang seluruh wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

“Nak, sungguh maafkan aku,” kata pria tua itu dengan nada sungguh-sungguh, lantas menyodorkan sebuah sapu tangan dengan rajutan kelopak mawar merah dan bordiran sebuah ‘J’ di ujungnya. “Nona Yoo Jiae mengembuskan napas terakhirnya semalam.”

Semesta Min Yoongi menggelap. Otaknya tiba-tiba tumpul dan segalanya terasa tidak masuk akal di dalamnya, sementara ia menemukan dirinya kesulitan bernapas dan berkata-kata. Jadi Yoongi berlari. Ia berbalik dan berlari menjauh dari gang dalam kegelapan pekat yang menggantungi pelupuk matanya, juga dunianya.

Ia tak tahu harus ke mana, kakinya hanya mengikuti alur-alur kabur dalam kepalanya sementara napasnya terdengar amat keras di telinganya sendiri. Min Yoongi hanya ingin hilang dan lenyap, lantaran tak bisa menerima kenyataan kalau tiada lagi sosok Yoo Jiae di sini, tidak akan ada lagi sosok Yoo Jiae yang menyambutnya dalam keremangan belokan mansion.

Dalam kesengsaraan yang menggejolak, Yoongi menemukan sesuatu tersangkut di kerongkongannya selagi tempurung lututnya jatuh menimpa tanah. Sesuatu itu menutupi jalur pernapasannya sehingga Yoongi tak punya pilihan kecuali memuntahkannya.

Dan di sanalah ia, di tanah basah yang kecokelatan, kelopak bunga pertama dari dalam dada Min Yoongi tergeletak. Bukti cinta tak terbalas dari sosok yang sudah lenyak.

fin.

finished: 8:13 | June 20, 2016.

WOW I DID IT! Udah lumayan lama sejak aku nemu gambar di mana ideku berasal tapi baru jadi sekarang hmmm qusenang :’> maksudnya sih mau bikin angst, tapi apalah dayaku haha. btw hanahaki itu gak real guys gila kalo real aku udah muntah kembang dari dulu kali :’> ini gambarnya!

hanahaki
indah banget kan aku harus berterimakasih pada yang bikin ini

terima kasih sudah menamatkan ini! ^_______^

12 thoughts on “At The Start Of The Day

  1. HANAHAKI DISEASE yaampun ini au favoritku banget💕 dan lebih seneng lagi ternyata ini berakhir angst. hehe, aneh ya? soalnya kalo ujung2nya fluff, diriku malah membatin ‘duh kok…?’ karena disease ini sendiri aja udah angst(?) dan kalo dicampur fluff malah jadi aneh.

    abaikan saja, maaf ya.-.

    jiae baik banget, mau temenan sama yoongi :’) dari sini aku udah seneng, mereka ga punya konflik tambahan aneh-aneh. makin kesini, jiae makin keliatan sakit. tapi aku ga nyangka kalo ternyata dia menderita hanahaki😞😞 ah, coba jiae suka juga sama yoongi… eh omong2, dgn matinya jiae, engga bikin yoongi kena hanahaki kan? /lah kan udah kelar ceritanya/

    sepertinya aku bakal terus ikuti wpmu karena aku udah suka dengan dua ceritamu. jujur daku iri tulisanmu rapi tanpa cela hw😞 anyway, semangat selalu!

    Liked by 1 person

    1. WHOA SAMAAN sejak baca hanahaki dll aku jadi agak terobsesi pengen bikin tapi baru kewujud sekarang hahaha. dan yess samaan lagi aku juga lebih srek kalo endingnya dibikin angst aja hehehe.
      huhuhu maaf aku belum menggali hanahaki sampe sejauh itu huhu maafkan ya kalo aku sotoy!!
      wow wow wow makasih banyak ya!!! apaan tanpa cela ga ya Allah tulisanku kekurangannya menggunung :>

      Liked by 1 person

  2. ya allah mey ……… aku 2 kali baca cerita yang hubungannya sama hanahaki disease (dan ini yang ketiga kali aku baca) pasti tuh ceritanya angsty yang another level huhuhu. ya allah kenapa sih kenapaa :”( dan menurutku di sini akhirnya malah yoongi yang lebih menderita bikos bikos jiae-nya udah ngga ada huhu :”( tapi jiae juga sedih ditikung sama sahabatnya sendiri tapi yoongi juga sedih HUHUHUHU KOK SEDIH SEMUA😦 bagus ceritanya mey kusuka bangetttt, huhu. keep writing yaaaa mey❤

    Like

    1. yess aku juga suka baca hanahaki disease ginian terus abis itu sedih sendiri ;_; betul sekali kak huhu percuma sayang sama orang yang udah ga ada sabar ya yoongi ;_;
      makasih banyak udah mampir dan baca ini ya kakfik! maaf balesannya telat sangat huhu ;_;

      Like

  3. KAK MEY INI BAGUS BANGET YA AMPUN IMAJINASIMU TUH UNPREDICTABLE >.< //mulai rusuh lagi
    Pertamanya tuh ngira Yoongi-Jiae bakal punya semacam love affair si kaya dan si miskin, typical drama klasik ala-ala Eropa gitu kan //sok tau Terus pas Jiae batuk pertama kali di depan Yoongi itu aku ngirain dia vampir (soalnya aku mikir ini bocah nongolnya pas subuh mulu) terus nutupin taringnya pake sapu tangan //sok tau (2) Abis itu pas Jiae ngomong dia sakit aku mulai rada bingung, emang Cha Sunwoo tuh dukun apa gimana masa cewe demen sama dia jadi sakit parah //sok tau (182738684) Eh ternyata… HUHUHU NAMA PENYAKITNYA INDAH TAPI KOK BIKIN MATEK.
    Sedih tau pas Jiae mati terus malah Yoongi yang sakit :" Quote yang di gambar itu bikin tambah nyesek juga.
    Kak kalo baca tulisan-tulisan Kak Meyda tuh aku jadi inget Hans Christian Andersten tau wkwkwk… Kak Mey nulis buku fantasy kaya beliau aja, ntar aku beli😄 //ngomong enak ya ran
    Keep writing ya Kak Meyda a.k.a reinkarnasi Hans Christian Andersen😀

    Liked by 1 person

    1. EHEHEHEHE pertama aku juga agak pengin nambahin bumbu si kaya dan si miskin gitu tapi uh enggak ah ntar ceritanya jadi makin panjang. wkwkwk VAMPIR, dan iya cha sunwoo kayaknya dukun deh aku kena pelet cintanya!! (enggak gak gitu mey edan) hahaha.
      HAH tulisanmu mah apaan huhu fantasinya juga ga dapet2 amat tapi makasih dukungan moralnya rani!!! kamu juga keep writing ya!!! :>

      Like

    1. yaudah gimana kalo yoongi naksir aku aja :> apakah kamu masih nyesek wkwkwk (ga gitu). yeuu kapan-kapan pasti bikin lagi huhu makasih banyak ya sudah mampir dan baca ini ^___^

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s