Impossibly Possible


https://i1.wp.com/www.mobileswall.com/wp-content/uploads/2013/09/1000-Light-Night-Grass-l.jpg

Impossibly Possible

by Authumnder

+++

“Jadi kau adalah notches?! Notches?!” Nathan pasti menangkap ekspresi superbingungku, karena detik berikutnya dia menambahkan. “Notches; bukan penyihir!”

Oh. Ekspresi hai-aku-senang-bertemu-denganmu-lagi milikku langsung jatuh lepas mendengarnya. Bagaimana pula bisa mengetahui maksud istilah barusan kalau aku saja baru mengetahui adanya penyihir di dunia ini seminggu yang lalu? Well, lebih tepatnya sebulan yang lalu—tapi sama saja. Kenyataannya, aku masih belum bisa sepenuhnya lepas dari kekagetan pascapengakuan nenekku soal identitasnya yang dia sembunyikan bertahun-tahun (aku masih sering terbangun di tengah malam, dengan keringat gendut di dahi dan nyeri di perutku karena, bagaimana mungkin dia melakukannya? Bagaimana mungkin Nenekku menyembunyikan kenyataan kalau dia adalah seorang penyihir dariku, cucu satu-satunya?).

Dan sekarang, cowok imut yang kutemui di Pesta Bulanan Magis (Granny mengajakku ke sana sebagai permintaan maaf, karena aku berhenti bicara padanya dan dia tidak punya pilihan selain mengiming-imingiku tiket masuk ke perkumpulan penyihir itu) akhirnya menyadari kenyataan kalau aku, cewek yang dia ajak berdansa semalaman penuh seminggu yang lalu, adalah seorang notches. Non-witches. Bukan-penyihir. Betapa mengecewakannya itu, huh?

“Kau memang seorang notches!” Nathan berseru lagi, kali ini makin histeris. “Aku tidak akan mengencani bukan-penyihir!”

Tidak adil. Aku bahkan belum menjawab dan Nathan sudah menyimpulkan seenaknya sendiri—well, meskipun perkiraannya tidak salah, sih. Aku memang bukan witches. Aku manusia biasa tanpa kekuatan magis apa pun. Tapi siapa yang tahu kalau fakta itu bisa berubah? Granny sendiri yang memberitahu kalau ada lima puluh persen kemungkinan kekuatanku akan muncul—aku cucunya, bagaimanapun. Yah, meskipun kami kurang tahu apakah Mom seorang penyihir atau bukan.

Masalahnya, kau hanya bisa mendapat kekuatan sihirmu dari ibumu. Dan masalah keduaku di sini adalah, ibuku minggat dari rumah Granny sewaktu mengandungku di usia tujuh belas (aku tidak begitu mengerti detailnya, karena menanyai Nenek soal hal ini akan membuat matanya yang rabun berkaca-kaca, dan aku benci sekali melihat satu-satunya anggota keluargaku bersedih). Dan, ya, Eloise Thompson—ibuku—meninggal di usia tujuh belas; di kasur rumah sakit, dengan aku yang baru saja menyapa dunia. Beruntungnya (atau, tidak begitu beruntung, mengingat aku kehilangan Mom di usia sehari—atau semenit?), Granny telah melacak keberadaan Mom sehingga aku bisa sampai dalam naungan kasih sayangnya, alih-alih dilemparkan ke panti asuhan.

Oh, tapi kurasa kenangan menyedihkan di atas bukan poin utamaku. Yang ingin kusampaikan adalah, Granny tidak pernah tahu apakah ibuku memiliki kemampuan menghidupkan lobster di lemari es di deretan khusus supermarket atau tidak, apakah Mom bisa menyalakan lilin dengan kerutan kening atau tidak, apakah Mom bisa berteleportasi dari Manhattan ke London atau tidak, blah-blah-blah. Granny tidak mengatakannya, tapi aku tahu kalau dia juga meragukan status witches/notches-ku.

“Demi Tuhan, Carmen! Jawab aku!”

Seruan heboh Nathan mengembalikanku ke dunia, sementara dia masih setia memelototiku dengan kedua mata hijau—kadang-kadang kelihatan biru—miliknya dengan amarah berkobar.

Aku menunduk, memandangi slip-on metalikku yang disulap secara ajaib oleh Granny dua hari yang lalu—bukan karena dia enggan membelikan, lebih karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai suster di rumah sakit setempat untuk menemaniku membelinya di mal. Kuputuskan untuk menjawab seadanya, “Sori, Nate.”

Karena tidak ada hal lain yang bisa kukatakan selain itu. Apa yang dia harapkan, memangnya? Tidak, tentu saja tidak! Aku penyihir juga, Nate! Magisku baru muncul sehari yang lalu! Yang tentu saja tidak bisa kukatakan, mengingat otakku belum juga berhasil  menerbangkan dedaunan kering di dekat kaki-kaki kami (Demi Tuhan, apa sih rahasia menjadi penyihir itu? Aku sudah menyusun puluhan strategi dan membolak-balik Buku Magis Granny berminggu-minggu untuk menemukannya, tapi—seperti yang telah kalian tebak—nihil).

Angin musim semi yang tidak-dingin-tidak-panas berembus ke arah kami, membuat kuncir kuda bergoyang sedikit. Aku mendongak sedikit, berusaha menangkap raut Nathan. Faktanya adalah, aku mungkin saja menyukainya. Maksudku, siapa yang tidak? Nathan Crawford adalah jelmaan dari tipe idealku yang telah disempurnakan—dia ganteng sekali, tinggi, dan uh, bahunya kelihatan begitu bidang; bayangkan bagaimana rasanya bisa bersandar di sana! Plus, dia baik sekali! Dia menyapaku duluan di pesta kemarin, mengabaikan fakta kalau aku mungkin terlihat seperti bocah tersesat di tengah-tengah gedung ajaib yang dipenuhi oleh witches dan warlocks dalam segala usia. Dia juga tidak memberiku tatapan mencela sewaktu aku tanpa sengaja menabrak meja dengan ratusan gelas-gelas kecil di atasnya yang kemudian ambruk (malahan, Nathan membantuku mengembalikan mejanya seperti semula. Dengan sihirnya, tentu saja). Aku mungkin akan jadi gadis paling bahagia di dunia ini kalau saja dia menyukaiku—yang mungkin memang dia lakukan (menyukaiku, maksudnya). Sayang sekali, mimpiku itu tidak akan pernah jadi kenyataan karena, well, well, well, rupanya Nathan Crawford tidak mengencani gadis yang bukan penyihir. Yang lebih menyebalkan adalah, aku bisa mengerti maksudnya. Dia tahu gen warlock—itu sebutan untuk penyihir juga omong-omong, penyihir cewek disebut witch sedangkan penyihir cowok dipanggil begitu—miliknya akan berhenti di generasinya kalau dia menikah dengan seorang bukan-penyihir. Yang sebenarnya tidak begitu adil, mengingat aku tidak mengharapkan tali pernikahan dengannya saat ini juga—paling tidak nanti, sampai aku menyelesaikan SMA. Tapi semuanya bakal percuma, ‘kan, kalau sampai saat itu kekuatanku belum juga muncul?

Kepalaku berputar keras sekali.

“Nathan,” aku membuka mulut, lalu menelan ludah, lalu membukanya kembali. “Bisakah kita tetap menjadi teman? Bahkan meski, kau tahu, aku bukan-penyihir? Nenekku adalah seorang penyihir, omong-omong, jadi kau tidak perlu khawatir soal—”

“Aku berniat mengencanimu, Carmabelle, bukannya nenekmu.”

Ow. Separuh dari diriku begitu gembira dan besar kepala mendengarnya. Dugaanku benar! Nathan Crawford menyukaiku! Dia bahkan berkeinginan mengencaniku! Tapi sisanya jatuh dengan begitu lunglai setelah terempas kalimat terakhirnya.

“T-tapi…” aku melirik ke arah sekeliling, berharap menemukan sesuatu untuk memberiku ide tentang dialog yang akan kuucapkan selanjutnya. Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Tidak ada satu pun yang bisa menyatukan kami. Maka aku mendengus keras-keras dan mencetus. “Fine, terserah. Pergi saja dari sini. Tidak usah temui aku lagi.”

Aku tahu kata-kataku sangat kasar dan kurang ajar—paling tidak untuk ukuran seorang manusia biasa yang tengah berkonversasi dengan penyihir. Kau tahu, dia bisa saja mengubah pandangannya soal mengencaniku, alih-alih memutuskan untuk menyihirku menjadi katak. Atau daun kering di bawah sepatuku yang bakal berbunyi kress sewaktu tergilas. Atau dia bisa saja menyihirku menjadi penyihir, yang tentu saja melebihi kapabilitas seorang penyihir. Aku benci mengatakan ini, tapi kurasa inilah jalan terbaik untuk kami, tak peduli seberapa besar ketidaksukaanku terhadap perpisahan.

Nathan menatapku dengan sebelah alis dinaikkan—sial, mata biru-hijaunya kelihatan begitu jernih dan tenang… seperti sebuah danau di hari hangat. Bukan perumpaan yang bagus. Dia tidak mengatakan apa-apa selama semenit penuh, lalu setelahnya, dia mulai melangkahkan converse-nya mundur. Dia benar-benar akan meninggalkanku.

Aku tidak percaya ini. Aku akan kehilangan penyihir cowok pertama yang kukenal, merangkap seseorang yang langsung kusukai begitu netraku mendarat di senyumannya, sekaligus seseorang yang mengaku menyukaiku tapi tidak bisa melanjutkan perasaannya karena, sial seribu sial, aku bukanlah penyihir sepertinya.

TIDAK ADIL.

Air mata mulai menusuk-nusuk bagian belakang mataku. Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya? Maksudku, kalau kau menyukai seseorang dan terpaksa meninggalkannya, apa kau akan membalikkan bahumu dengan begitu mudahnya? Bahkan tanpa memberi pandangan kedua? Berbekal pemikiran itu, kemarahan mulai muncul dalam kepalaku, berebutan tempat dengan kesedihan yang lebih dulu datang.

Tidak bisa dibiarkan. Nathan Crawford tidak bisa meninggalkanku tanpa mengalami sedikit saja kesialan. Jadi aku mulai memejamkan mata dan berdoa dan memohon dan meminta, lalu mulai merapal mantra ciptaanku sendiri dengan alakadarnya.

“Biarkan hujan deras datang mengguyur,

Dia si mata hijau yang berlalu,

Dari hadapanku.”

Kau tahu saat-saat di mana kelegaan datang membanjirimu dengan begitu kuatnya seperti tornado? Atau saat-saat di mana kau begitu terkejut sampai rahangmu jatuh ke tanah? Atau saat-saat di mana impianmu akhirnya terwujud dan kau tidak punya pilihan kecuali memandanginya dengan mata seukuran bola tenis? Atau saat-saat di mana rapalan mantra/doamu tentang guyuran hujan di atas sosok yang meninggalkanmu dikabulkan?

KARENA SAAT INI AWAN HITAM YANG SANGAT TEBAL ADA DI ATAS KEPALA NATHAN CRAWFORD—DAN HANYA DI ATAS KEPALANYA—YANG SELANJUTNYA MENURUNKAN RATUSAN BUTIR HUJAN?!

Nathan menutupi kepalanya dengan telapak tangan ketika bulir pertama, disusul bulir kedua, kelima, keempat puluh, menghantam tempurung kepalanya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, hanya untuk menyadari kalau hujan hanya sedang mengguyurnya seorang. Lalu dia berbalik ke arahku—ke aku yang tengah menatap awan di atasnya dengan mulut membuka dan mata membelalak.

Dan Nathan tertawa. BENAR-BENAR TERTAWA. Bahkan meski badai tengah berkecamuk di atas kepalanya. Lantas aku ikut-ikutan tertawa karena dia kelihatan begitu imut dengan rambut gelap yang basah menempel di dahinya.

Eloise Thompson, ibuku, jelas adalah seorang penyihir!

fin.

Finished: 23:11 | July 06, 2016.

Whew, akhirnya berhasil nulis lagi setelah sekian lama absen karena—TENTU SAJA—webe. Ide notches/warlocks/witches/norlocks didapat dari seri Magic In Manhattan karya Sarah Mlynowski. Maaf bahasa sangat berantakan dan alur cerita nggak beraturan. I’m happy enough about the fact that I can produce some crappy stories again after two weeks of not WRITING ANYTHING.

2 thoughts on “Impossibly Possible

  1. Mey setelah berminggu-minggu aku nggak main kemari, dan sekarang balik lagi, really, aku srek banget sama gaya nulis kamu (sebelum-sebelumnya emang udah suka yaah) Enjoy banget bacanya. Entah kamu pake sudut pandang orang pertama ato ketiga, semuanya nggak pernah bikin boseen. Malah ngangenin *asek*😄
    Dan fantasy witch AU itu salah satu genre yang pengen kutulis tapi gapernah bisa ketulis. Perlu banyak riset kali ya nulis beginian. Anyway, aku suka banget sama inii😄❤. Bayanganku soal Nathan itu like, mas joohyuk, yang imut tapi bahunya bidang sekalee, pacarable❤
    Oh ya, kamu nggak ikut movfest kah mey? Lama tak melihatmu maen ke iefka.
    Keep writing yahhh!

    Like

    1. PAT!! LAMA TIDAK BERJUMPA!!
      huhuhu makasih banyak Pat, kata-katamu comforting banget soalnya webe nyebelin banget huhu aku benci:(
      yess, asyik banget pat nulis witches2 gini hehehe yang gak mungkin bisa jadi mungkin aku senang!! woah Pat kamu niat sekali aku bahkan ga research sama sekali maafkan ;_; WAH NATHAN = JOOHYUN WOW benar juga????
      eh aku ga ikutan movfest itu pat, ga pede takutnya malah ga selesai ;_; kamu ikutan kah??
      makasih banyak ya Pat udah mampir dan baca ini x)

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s