Knitted Together


up10tion and kogyeol imageDIA, diamond, and do it amazing image

Knitted Together

by Authumnder

DIA’s Yebin & UP10TION’s Kogyeol | Comedy, Fluff?

+++

Aku benci Kebenaran. Selain karena aku selalu benar, aku juga membencinya karena sejauh ini, tidak ada hal positif yang dihasilkan dari mengetahuinya. Apa yang tengah kukatakan? Kau pasti berpikir begitu, ‘kan? Jangan khawatir akan menyinggungku, aku sudah kebal sekali sampai butuh hinaan-hinaan yang sudah tinggi levelnya untuk membuatku sakit hati—kau juga tidak bisa membohongiku dengan berkata tidak, aku tidak berpikir begitu, kok; karena percayalah, aku tahu. Aku selalu tahu. Dan terkadang, aku tidak begitu menyukainya.

Oh, dan aku juga benci kenyataan kalau aku sudah mengikuti pasangan ini selama lebih dari tiga menit.

“Lihat ikan-ikan itu! Segar sekali, ‘kan?” gadis di depanku berbisik dengan riang ke telinga pacarnya, sementara aku berjuang untuk tidak memutar bola mata karena, apa dia bodoh? Kami berada di pasar sekarang dan, tentu saja, ikan-ikan di sini masih dalam keadaan segar! Orang mereka masih berenang-renang!

Laki-lakinya mengangguk, menyuguhkan senyum manis yang membuat hatiku mencelus. Selain membenci Kebenaran, aku juga benci pada manusia. Dan jangan berusaha memprotes dengan mengatakan, “Tapi kau manusia! Tidak mungkin kau membenci dirimu sendiri!” karena percayalah, aku benci diriku sendiri. Kembali ke topik. Laki-laki ini terlihat begitu jatuh cinta, membuatku tidak tahan untuk tidak memindah atensi. Inilah alasan utama mengapa aku benci akan kemampuan membaca kebenaranku—aku jijik akan ide memecahkan fakta-fakta pahit dalam kehidupan mereka. Aku benci melihat mereka patah hati, setelah mulutku yang tidak bisa diatur menyemburkan Kebenaran. Aku benci menyaksikan mereka berusaha menyangkal, berkilah kalau pasangan mereka tidak mungkin mendua di belakang bahu mereka. Dan aku lebih sengit lagi pada diriku karena aku tahu aku benar—bahwa penyangkalan mereka sia-sia dan berbalik jauh dari kenyataannya.

Aku tahu kau akan memberiku saran bodoh semacam, “Kalau kau sebenci itu, lantas kenapa kau tidak menyimpan Kebenaran itu untuk dirimu sendiri dan tidak usah repot-repot memberitahukan mereka?”

Kuakui, aku pernah mencobanya—menyimpan kenyataan pedih itu untuk diriku sendiri, membiarkan orang-orang berlalu dengan Kebenaran yang tidak tersampaikan—dan hanya satu komentarku: aku tidak bisa melakukannya. Karena, asal kau tahu saja, kemampuan membaca kebenaranku entah mengapa berhubungan dengan kerja organ tubuhku (tidak terlalu paham detailnya, aku siswa terbodoh di kelas Biologi)—dan tiap kali aku tidak mengatakan Kebenaran itu, kepalaku bakal berputar keras sekali dan membuatku kesakitan berhari-hari, lalu hidungku mulai memerah dan berair dan aku akan mengalami masalah pernapasan yang kalau tidak segera diatasi akan memengaruhi kerja paru-paruku. Intinya, aku akan mati kalau Kebenaran itu tetap terbenam dalam kepalaku.

“Kogyeol! Lihat, gurita! Mama kamu suka, ‘kan? Ayo kita beli itu!” si gadis berteriak dengan heboh lagi, dan ke Neraka saja kalau aku akan membiarkannya bertindak lebih jauh.

Aku maju cepat-cepat, menghadang mereka sebelum keduanya sempat berbelok ke kios makanan laut yang tengah mereka bicarakan. Baik si laki-laki maupun si perempuan melempariku sorot bertanya-tanya dengan kening yang berkerut. Jangan khawatir, pandangan seperti itu tidak lagi membuatku risih—sudah bertahun-tahun sejak kali pertamaku menghalangi jalan orang asing.

“Dia menyelingkuhimu, pacar yang sok kenal dengan ibumu ini.” Kataku pada laki-laki itu dengan ekspresi datar, lalu menoleh ke perempuannya. “Dan kau, apa kau bodoh? Ibunya tidak suka pada gurita, beliau alergi!” aku tidak berniat mengucapkan yang terakhir, tapi aku telanjur kesal dengan tingkah laku gadis sok tahu itu.

Pasangan itu masih mematung menatapku, dan sayang sekali aku tidak punya waktu untuk itu. Jadi aku menghela napas—lega karena berhasil menunaikan tugas tidak-begitu-penting ini—lantas berderap maju meninggalkan mereka.

Beberapa langkah berlalu dan kukira urusanku dengan mereka berdua sudah selesai, tapi aku jelas salah karena beberapa detik kemudian seseorang menyambar lenganku dan menarikku dari jalan utama pasar yang penuh sesak.

Saat kutoleh, sosok itu adalah laki-laki yang tadi.

Hah, mau apa dia? Mau memprotes penilaianku akan kesetiaan gadisnya? Inilah alasan poin ketiga mengapa aku benci memberitahu Kebenaran pada orang-orang. Kalau mereka tidak mengiraku gila, mereka pasti berpikir bahwa aku bercanda. Denial.

“Aku tahu dia punya pacar lain di belakangku,” laki-laki itu berujar usai mendorongku ke tembok yang belum dihaluskan. Aw. “Dan siapa kau seenaknya mencampuri urusanku?!”

Aku menarik napas, tidak bisa menghapus pikiran kalau laki-laki ini sangat patetis karena masih mengharap cinta seseorang—tapi tunggu sebentar, aku melihat Kebenaran baru di wajahnya. Dia bukannya bodoh, dia hanya…

“Tidak akan kubiarkan dia menyelingkuhiku dan melangkah pergi seenaknya. Seperti perbuatan punya konsekuensi, bukan? Jalang itu akan mendapatkannya, tunggu saja. Hanya saja, tidak sekarang. Aku tidak ingin dia mengakhiri hubungan ini sekarang—setelah kau dengan tololnya memberitahuku kalau dia selingkuh. Perempuan berengsek itu akan berpikir kalau inilah saatnya, inilah waktu yang tepat untuknya memecahkan kebohongannya.” Dia menarik napas tajam sementara aku berusaha keras menulikan telinga tiap kali sebutan-sebutan kotor keluar dari mulutnya. “Aku tidak bisa membiarkan itu, kau dengar? Tidak bisa.”

Kepalaku mengangguk-angguk seperti robot, aku jadi merasa bersalah—karena laki-laki ini mengatakan yang sejujurnya. Dia sudah tahu kalau perempuan itu punya tambatan hati yang lain dan, sebab harga dirinya yang setinggi langit, dia tidak bisa membiarkan gadis itu berlalu dengan begitu mudahnya. Setelah kutilik-tilik, laki-laki ini bahkan tidak menyukai pacarnya. Dia muak pada perempuan sok tahu itu. Manusia memang membingungkan.

Kuputuskan untuk berujar, “Oke… hm, baiklah. Lakukan apa saja sesukamu. Tapi jangan… jangan membunuhnya, oke? Itu tindakan kriminal; tidak oke sama sekali.” Aku tidak berpikir ucapanku ada lucunya sama sekali, tapi dia tertawa keras sekali.

Di sela-sela gelakannya, dia menyempatkan diri untuk memperkenalkan diri. “Namaku Kogyeol. Dan aku punya satu permintaan untukmu. Kembalilah ke tempatku tadi dan bilang pada perempuan berengsek itu kalau kau adalah mantan pacarku yang ingin balikan denganku lagi, oke? Aku memohon padamu. Cukup katakan itu saja dan kau boleh pergi.”

Aku tidak melihat poin plus atau minus dari permintaannya. Jadi kuanggukkan kepala, sekali lagi seperti orang idiot, dan membalas senyum lebarnya dengan jengitan alis.

“Di sini kau rupanya!”

Hari ini sangat panas, tipe panas yang membuat keringat bermunculan di mana-mana, membuat segalanya lengket dan tidak nyaman. Dan aku, tentu saja seperti hari-hari liburan sebelumnya, aku mengeluyur ke pasar dekat rumah, melihat lalu-lalang manusia dengan keranjang belanjaan dan sesekali mampir melihat binatang laut segar yang baru tiba. Seperti saat ini, matahari berada tepat di atas kepala dan aku sudah memberitahu dua pasangan bahwa hubungan mereka harus diakhiri. Pasar tidak seramai biasanya dan aku suka, karena itu artinya Bibi Ujung Gang akan membiarkanku menyentuh ikan-ikannya di kolam, dan itulah yang memang tengah kulakukan sekarang; berjongkok di depan kolam besar plastik milik tokonya sementara membiarkan ikan-ikan di dalamnya berenang-renang mendekati tanganku yang kucelupkan ke dalam.

Tapi, demi mendengar sapaan barusan, aku mendongak dari kegiatanku hanya untuk menangkap sosok laki-laki tempo hari—atau minggu? Aku tidak begitu memedulikan tanggal sekarang setelah kegiatan kampus diliburkan—berdiri di sampingku.

“Uh, yah, apa yang kau mau?” tanyaku, mengentaskan tangan dari air dan mengelapnya dengan sapu tanganku.

Kogyeol ikut berjongkok di sampingku, menyengir. “Sudah selesai. Aku putus dengannya.”

Untuk menghargai curhatannya, aku memberi gumaman singkat.

“Misi balas dendamnya berhasil. Dia kabur dari kafeteria tempatku mempermalukannya dengan wajah sangat merah dan air mata di pipinya—”

Aku menyela, “Sadistic.”

Dia menggeleng. “Tidak, aku bukan. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.” Katanya. “Jadi kembali ke topik. Sekarang, setelah aku memikirkan ini dalam-dalam, aku jadi bertanya-tanya—dari mana kau tahu kalau dia punya selingkuhan? Maksudku, tidak ada teman-temanku atau teman-temannya yang tahu. Dan setahuku, kau adalah orang yang sama sekali asing. Jadi, bagaimana? Bagaimana kau mengetahuinya?”

Aku sudah menghadapi pertanyaan itu ratusan kali. Awalnya, aku berbohong dan mengelak kalau aku sebenarnya mengarang-ngarang, atau berdalih kalau aku pernah melihat pasangan mereka berselingkuh, tapi aku bosan dengan penjelasan-penjelasan bohong itu.

Kujawab, “Cenayang.” Aku berharap akan menyaksikan warna di wajahnya luntur, atau kekagetan yang berlanjut dengan kaburnya dia, tapi tidak, Kogyeol tetap di posisi berjongkoknya, kali ini menyorotiku dengan sebelah alis berjengit.

Cool.” Katanya singkat, lalu bangkit dan menepuk-nepuk bagian lutut celana jinnya.

Aku ikut bangun, bertanya, “Kau tidak kaget? Tidak berniat menanyaiku macam-macam?”

“Menanyaimu macam-macam seperti apa?”

 Keningku tiba-tiba gatal, tapi aku menahan lenganku yang hendak terangkat menggaruknya. “Kau tahu… bertanya soal takdir, jodoh, atau apakah kau akan memang lotre hari ini.” Hal yang terakhir kusebutkan tidak relevan, tapi aku ‘kan hanya sedang berusaha membuat poin di sini.

Kogyeol mengangkat alis dan mengedikkan bahu. “Memangnya kau akan menjawabnya dengan jujur kalau aku bertanya?” katanya, lalu memberi senyum miring ketika aku menggeleng (dengan ragu). “Tepat seperti dugaanku. Jangan khawatir, aku tidak akan menyerbumu dengan pertanyaan-pertanyaan itu, sebaliknya, aku akan memberimu satu pertanyaan mudah, yang harus kau jawab.”

“…Oke.”

Dia tersenyum lagi—apa bibir dan pipinya tidak pegal? “Bagus. Jadi siapa namamu?”

Huh? “Yebin. Baek Yebin.”

Dan bertepatan dengan itu pula suatu Kebenaran muncul di matanya. Aku seperti melihat, tidak tidak, aku menyaksikan, peristiwa-peristiwa masa depan yang membuatku terpana dan harus mundur selangkah karenanya. Di sana, di kedua bola mata cokelat gelap itu, kutemukan diriku. Aku. Baek Yebin yang sedang berlarian dengan gembira dengan Kogyeol di dalamnya. Juga Baek Yebin yang tertawa keras sekali sampai kedua matanya lenyap di lengan Kogyeol. Juga Baek Yebin-Baek Yebin yang lainnya.

Kogyeol itu…? Mungkinkah dia…?

fin.

Finished: 21:59 | July 09, 2016.

Yoo! Akhirnya bisa kembali bersama Yebin-Kogyeol (kreasi lama yang udah bulukan WKWKW). Idenya muncul kemarin-kemarin waktu aku masih webe dan baru bisa terealisasikan sekarang ;_; terima kasih banyak sudah membaca!🙂

2 thoughts on “Knitted Together

  1. KOK UDAH ENDINGGG. Serius Mey, tulisanmu selalu sajha ngalir deres. Aku bahkan ampe balik ke atas lagi buat ngecek lengthnya bikos kok aku bisa nyelesaiinnya cepet banget

    “Dan apa kau bodoh, ibunya tidak suka gurita, beliau alergi” WOY WKWKWK AKU NGAKAK BANGET BAGIAN INI. Suka karakternya Yebin yg sarkas2 gimana gitu

    Keep writing Meyyy!

    Liked by 1 person

    1. Huhu Mb Gab makasih banyak udah mampir ke cerita tidak bermutu ini yha ;_; WKWKWK yaampun ini udah panjang loh Gab udah masuk vignette wow kamu membuat kepalaku besar???
      sekali lagy makasih ya Gab kamu juga keep writing ok!!! :3

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s