Klutzirella


2

Klutzirella

by Authumnder

OMG’s Jiho & NCT’s Jaehyun | Fantasy, Comedy

Sepatunya tak muat; Cinderella tak punya pilihan kecuali minggat.

+++

Jiho marah besar.

Ini semua sangat menjengkelkan dan memihak, ia merasa diadili dengan cara yang paling tidak adil dan ditipu dengan cara yang paling tidak manis—tapi bukannya Tuhan selalu begitu? Maka Jiho tak punya pilihan selain menatap nanar sebelah sepatu yang barusan diangsurkan pengawal kerajaan.

“Tidak muat,” komentar si bapak tua. “Kembalikan padaku.”

Tidak bisa begini. Alih-alih menuruti permintaan tak terlalu halus dari pengawal tadi, Jiho justru mundur selangkah, sebelah tangan masih menggenggam sepatunya. Rautnya super waspada, sementara sebelah tangan diam-diam menyisip ke samping kanan rok kelabunya, siap mengangkat pakaian sampah itu kalau-kalau aktivitas lari dibutuhkan.

Dua pengawal kerajaan itu tentu tahu apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis di hadapan mereka, karena salah satu dari mereka yang bertampang lebih ramah maju setahap.

“Nona,” katanya sambil menyunggingkan senyum. “Jangan lakukan apa pun itu yang tengah kau—”

Sekarang juga! Tanpa sempat mendengarkan kata terakhir si ajudan kerajaan, Jiho sudah menerjang keluar dari ruangan. Roknya yang terbuat dari beledu membuat gerakan kakinya melambat, maka ia menjinjingnya tinggi-tinggi nyaris sampai lutut, tak memedulikan kenyataan kalau visibilitas betis perempuan haram hukumnya pada saat itu; juga teriakan kedua pengawal yang kalang kabut mengejarnya.

Celakanya, Yeonjo—saudara tirinya—muncul di detik yang sama ketika ia membuka pintu depan kastel milik keluarganya, membuat keduanya tersungkur dengan bahana menggelegar.

“Kim Jiho!” Yeonjoo bersungut-sungut menyumpahinya. “Kau menghancurkan rambutku!”

Jiho tak punya waktu untuk ini, tergesa tangannya menyambar sepatu kaca tadi sebelum bangkit dan melanjutkan perjalanan. Namun ia tidak bisa menghentikan dirinya dari menggemborkan, “Rambutmu sudah hancur sebelum ini, omong-omong!”

Teriakan Yeonjoo dan dua ajudan tadilah yang mengiringi kepergiannya dari rumah. Sayang seribu sayang, fokus matanya masih tertuju pada saudara tiri dan rambut palsunya sampai-sampai ia tak menyadari bahaya yang berdiri tegap tepat di depan.

“Syukurlah, Pangeran! Dia berusaha mencuri sepatunya!” Sayup-sayup terdengar seruan dari si pengawal berwajah masam—membuat Jiho langsung awas terhadap keadaannya saat ini.

Ada sosok manusia lain yang tengah terkapar setengah meter dari tempatnya terjerembap, dan sementara akal Jiho masih sibuk menghubung-hubungkan pekik si pengawal dengan laki-laki di sebelahnya, kakinya lebih cepat menyimpulkan; benda itu menopang kembali tubuhnya untuk meneruskan pelarian.

Namun, lagi-lagi, ia ceroboh. Seorang pangeran tentu saja tidak datang berjalan kaki, bukan? Jiho menyadarinya setelah ia meloncat, hanya untuk dihadapkan dengan seekor kuda jantan raksasa yang menatap tidak suka lantas menendang bokongnya keras-keras.

Sekarang setelah bagian belakang tubuhnya terbakar dan fluida memenuhi kedua matanya, Jiho kehilangan harapan terakhirnya.

“Aku tidak mencuri.” Suaranya meretak di silabel akhir kalimatnya. “Sepatu itu milikku, kupakai semalam saat mendatangi Pesta Tahunan Kerajaan dengan—”

“Tapi kau dilarang Ibu pergi ke pesta!” Yeonjoo menyela, mengikuti insting, membuatnya dihadiahi pelototan dari ibunya dan Jaehyun. Jiho tidak tahu sejak kapan ibu tirinya ikut keluar, menontonnya mempermalukan diri.

Buru-buru ibunya meralat, “Tidak, tidak! Itu tidak benar! Kami memperbolehkan Jiho pergi tapi dia tidak—”

“Bisakah Anda diam?” Jaehyun menukas. Ia mengembalikan fokusnya ke tersangka utama setelah teras  kembali senyap. “Apa buktinya kalau sepatu itu milikmu? Benda itu kekecilan di kakimu.”

“Yang itu aku juga tidak tahu!” Jiho jatuh terisak—bukan isakan manis yang bakal membuat sang pangeran jatuh cinta, melainkan jenis isakan yang meruntuhkan pertahanan dan membuat ingus memenuhi hidung—menyebabkan suaranya menjadi sengau.

“Sepatunya pas sekali di kakiku semalam, warnanya sangat cantik dan serasi dengan gaun biruku. Dan—dan meskipun haknya sangat tinggi dan membahayakan, aku sama sekali tidak khawatir akan jatuh terguling atau apa. Anda lihat sendiri ‘kan bagaimana aku bisa bertahan berdansa sampai jam berdentang dua belas kali dan Ibu Pe—” Ups, terlalu banyak informasi. Jiho menutup mulutnya.

“Berdansa? Kau pintar sekali mengarang, Jiho.” Ibu tirinya kembali membuka suara. “Pangeran tidak pernah bilang dia berdansa dengan perempuan yang dia cari—dia hanya bilang kalau mereka bertemu—”

Jiho mendongak menatap sang pangeran, menunggunya memberi penjelasan. Setengah berharap laki-laki itu akan membenarkan ucapannya dan menyumpal mulut ibunya.

“Tapi kami memang berdansa.” Jaehyun memotong untuk kedua kalinya.

Hooray! Jiho masih sibuk mengusap kedua matanya yang terasa pedih dan panas—posisinya sangat tidak nyaman, duduk bersimpuh di tanah dengan tubuh kesakitan sementara semua orang berdiri, memandanginya seakan-akan dirinya adalah manusia terkecil di dunia yang sering dipamerkan sirkus keliling—sewaktu Jaehyun kembali bertanya.

“Bisa ingatkan aku jenis dansa apa yang kita tarikan semalam?”

Teka-teki mudah. Jiho mengenang petaka semalam. “Waltz. Uh, aku ingat benar aku menginjak kakimu dua kali dan nyaris tersandung rokku sendiri empat kali.”

Jaehyun refleks menyunggingkan senyum.

“Kau salah,” katanya.

Saat indra penglihatannya menangkap perempuan di depannya yang siap membantah, ia melanjutkan, “Kau menginjak kakiku empat kali. Tapi mari kita lupakan itu, aku bisa mengajarimuwaltz kapan-kapan.”

Kemudian Jaehyun membalikkan tubuh, menghadap dua pelayannya. “Sekarang singkirkan sepatu itu dari depan mataku dan beri kabar pada seluruh kerajaan kalau aku sudah menemukan calon istri.”

Saat dua pengawal di sudut ruangan masih melongo memandanginya (dengan mulut bergerak-gerak berusaha menyuarakan, “Tapi sepatunya tidak muat! Anda bilang itu adalah syarat utama!”) ia menambahkan, “Kau dengar aku? Cepat lakukan!”

“A-anda serius?” Saudara tiri Jiho, Yeonjoo, yang rambutnya telah tertata kembali membelalakkan mata.

“Serius.” Jaehyun menyahut ringan, sementara fokusnya turun kembali ke tanah. “Bagaimana pantatmu? Sudah baikan?”

fin.

diikutkan di event Writers’ Secrets.

One thought on “Klutzirella

  1. KYAAAAAAAAA KYAAAAAA LET ME SCREAM KYAAAAAAA
    JAEHYUN JADI PANGERAN YA LORD TAPI JADI FAILED PAS RAMBUT MOHAWK DIA DI FIRE TRUCK TIBA2 KEBAYANG WKWKWK

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s