The Problem With Flirting


The Problem With Flirting

by Authumnder

+++

“Siapa namamu tadi? Romeo? Aw, romantisnya! Gadis di sana itu, yap, yang memakai apron biru itu, namanya adalah Juliet!”

Aku memutar bola mata mendengar celotehan Lynn di konter kasir. Ia memang begitu, selalu sok kenal dan sok dekat kepada setiap pelanggan—menanyai mereka nama, alamat, umur, pekerjaan. Aku pernah berusaha mengingatkannya tentang sifat manusia yang kadang-kadang tidak suka diganggu, tapi Lynn hanya tergelak dan mengacuhkannya. Menerima respons begitu, aku berhenti memprotes dan hanya mendengus saja setiap ia melakukannya lagi.

“Oh, ya? Hai, Juliet!”

Kepalaku sontak menoleh setelah suara asing barusan memanggilku. Oh. Di sana, di depan meja kasir, berdiri seorang cowok seusiaku—tujuh belas? Delapan belas?—yang tengah sibuk melambaikan tangannya dengan idiot. Aku balas melambai supaya tidak kelihatan kurang ajar. Plus, pelanggan tetaplah pelanggan.

Terdengar obrolan kecil lagi antara Lynn dan cowok tadi, yang mana tidak terlalu kupedulikan karena konsentrasiku sedang tertuju sepenuhnya pada piring-piring ceper di depan mataku dan gelas-gelas tinggi di sampingnya. Koki kami sedang dalam kondisi yang buruk, ia akan marah kalau aku tanpa sengaja menumpahkan/menjatuhkan/merusak hasil masakannya (meskipun pemarah memang sudah sifatnya sejak dulu). Selesai menata piring berisi donat dan muffin di atas baki, aku buru-buru melangkah keluar dari pintu kecil di samping konter kasir—tempat Lynn dan si asing masih sibuk bercakap-cakap—dan mengantarkan baki tadi ke meja nomor delapan.

Ini sudah pukul satu, yang berarti jam makanku sudah terlewat satu jam. Hhh. Aku sudah menghadapi dilema ini bertahun-tahun lamanya—sejak kali pertama Dad berkata akan merekrutku sebagai karyawan paling manisnya di kafe keluarga. Di sisi lain, aku senang kalau toko kami kebanjiran pengunjung (halo uang jajan tambahan!), tapi di sisi satunya, aku harus mengorbankan waktu makan siang untuk melayani pelanggan yang belum juga berhenti berdatangan.

“Juliet! Kemari, dong!” suara Lynn lagi-lagi datang menggemparkan ruangan saat aku sibuk mengurai tali pengikat apron. “Bicaralah pada Romeo!”

Ia mengatakannya seakan-akan sudah mengenal Romeo lama sekali, tapi cowok  itu sendiri tidak kelihatan kesal sama sekali, malahan, ia melambai lagi ke arahku seakan-akan ia memang mengharapkan kedatanganku untuk mengobrol dengannya.

“Aku sudah menyuruhmu untuk memanggilku Jules, ‘kan, Lynn? Berapa kali aku harus mengulangnya untukmu?” omelku sambil mengikis jarak menuju belakang konter kasir, lalu membuka suara lagi setelah tiba di hadapan Romeo. “Halo.”

Romeo menggumamkan sesuatu balik, tapi suara Lynn sudah keburu memotongnya dengan, “Imut sekali! Super cute! Romeo juga barusan menyuruhku memanggilnya Rome, karena Romeo kedengaran kuno katanya. Persis sepertimu, ‘kan, Juliet?”

Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak meringis.

“Maafkan kelakuan bibiku.” Kataku, setelah Lynn mengatakan ucapan perpisahannya karena ia harus mengonsumsi “gula” hariannya (ia memang tergila-gila pada makanan yang manis-manis, tapi hebatnya, ia tetap sehat-sehat saja, tuh). “OK, jadi namamu adalah… Romeo?”

Cowok itu mengangguk riang. “Yap, dan kau adalah Juliet—dan jangan memaksaku untuk memanggilmu Jules, karena aku tidak mau melakukannya.” Katanya.

Aku mengedikkan bahu. “Boleh, tapi jangan harap aku mau memendekkan namamu.” Lalu aku sadar kalau Lynn belum juga menanyakan apa yang ingin ia pesan—atau mungkin sudah, tapi yang jelas, koki di belakang tidak menerima pesanannya. “Siap memesan?”

“Sebenarnya sudah, tapi aku masih ingin mengobrol denganmu.”

Kalau Lynn masih berdiri di tempatnya tadi, ia pasti akan langsung memegangi dadanya dan mendesah, ‘aw, romantisnya’, dan aku sungguh-sungguh bersyukur akan ketidakhadirannya. Aku tahu pipiku terasa panas dan mungkin bewarna merah muda, tapi ke Neraka saja kalau aku tidak jual mahal.

“Menyita waktuku ada tarifnya, kecuali kalau memesan sesuatu dan pesananmu belum juga siap,” ujarku, berusaha membuatnya datar. “Jadi?”

Romeo tergelak, lalu menunjuk spanduk besar di belakang bahuku yang menampilkan menu-menu di kafe. “Aku mau lasagna dan kue bakar itu. Oh, dan segelas jus jeruk.”

Aku mencatatnya dengan rapi di notes, lalu mendongak kembali untuk menyuguhkan senyuman meminta maaf yang agak palsu. “Ups, sori, tapi kami kehabisan kue bakarnya—mau menunggu barang lima menit sementara koki membuatnya?” kataku, sedikit banyak memberi kode. Kalau ia tidak menangkapnya, maka berakhirlah obrolan kami.

Syukurlah, ia memahaminya, sehingga ia tertawa lagi dan mengangguk. “Yup, waktuku gratis untuk menunggunya.”

Aku tertawa dan membalikkan tubuh untuk memberikan notesnya pada koki. Pak Dunford hanya mengangguk sewaktu aku memintanya mengeluarkan kue bakarnya tujuh menit lagi, dan bersiul saat aku minta dibuatkan makan siang sekalian.

Romeo sedang melihat-lihat koleksi ikan yang akurium Dad miliki ketika aku keluar lagi. Ia menjengitkan alis setelah melihatku lenganku yang dipenuhi dua baki.

“Apa?” tanyaku galak. “Aku juga belum makan siang, tahu.”

Ia meringis dan meminta bakinya sendiri, sementara aku melangkah mendahului untuk memilih tempat duduk di pinggir jendela—dengan begitu, Lynn tidak akan mendengar obrolanku kalau ia sudah kembali ke belakang kasir.

“Tidak keberatan, ‘kan, kalau aku duduk di mejamu?” aku memastikan, selesai memosisikan piring-piringku di meja.

Romeo membuka suara setelah beberapa menit terdiam, “Jadi,” katanya memulai. “Kafe ini milik keluargamu?”

Aku mengiakan tanpa mendongak, terlalu sibuk memotong-motong ayam panggangku. “Yep. Teknisnya sih begitu. Meskipun kokinya sama sekali tidak berhubungan darah denganku.”

“Kok bisa?”

Aku terkikik, “Ayahku punya cita-cita jadi manajer, tapi ia tidak bisa masak. Ibuku terlalu sibuk dengan pekerjannya di SD, jadilah kami menyewa orang lain.” Jelasku. “Omong-omong, kok bisa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?”

Ia menelan suapannya sebelum menjawab dengan ringan, “Oh, itu, aku baru datang hari ini.”

“Jadi keluargamu baru pindah?”

“Eh, tidak, tidak,” ia melambaikan tangannya dan tertawa. “Tahu Foxglove Cottage? Keluargaku tinggal di sana, aku sebelumnya hidup bersama bibiku, dan begitu lulus SMA, aku kembali ke sini.”

Butuh beberapa detik sampai aku tersadar kalo Foxglove Cottage adalah alamatku juga. Jadi aku memekik dan berseru, “Aku juga tinggal di sana!”

“Serius?” ia balas memekik dengan heboh.

Tapi—“Tunggu sebentar,” ujarku. “Apa kau putra Keluarga Crawford?” gelengan. “Keluarga Johnston?” gelengan. “Keluarga Adams?” gelengan. “Keluarga Barnes? Collins? Foster?” aku mulai merasa khawatir, menyebut seluruh nama keluarga yang tinggal di kompleks Foxglove. Tapi Romeo hanya menggeleng, menggeleng, dan terus menggeleng dengan senyuman lebar di bibir sementara pilihannya sudah makin menipis.

Dan ketakutanku terwujud.

“Tolong… jangan bilang… kalau kau adalah…” aku menarik napas dan memelankan suara. “..seorang Montague?”

Ia mengangguk dan tertawa. “Akhirnya!”

Tidak bisa dipercaya. Aku menutup mulut dengan sebelah tangan dan buru-buru membereskan baki.

“Juliet? Ada masalah?” Romeo akhirnya bertanya setelah aku menatapnya dengan pelototan. Ia kemudian menyambar lenganku ketika aku bangkit. “Hei—”

Kuserukan, “Aku seorang Capulet, kau tolol. Tidak ada sejarahnya Capulet akur dengan Montague!” lalu aku melesat masuk kembali ke belakang kasir dan nyaris menangis karena, ya Tuhan, betapa mengagetkannya. Maksudku, aku tidak pernah tahu kalau Keluarga Montague memiliki putra seumuranku—setahuku, mereka hanya memiliki si Nenek Sihir Amelia, yang wajahnya lonjong dan kotak, bukannya seorang Romeo, yang bentuk mukanya normal-normal saja.

Sialan sialan sialan!

Kurasa selamanya Romeo dan Juliet tidak akan bersatu!

fin.

Finished: 19:14 | July 14, 2016.

Maaf ini sangat random dan… tidak masuk akal wkwkw. Aku sengaja pakai nama sesuai versi aslinya, Juliet Capulet dan Romeo Montague hehe. Kalau belum paham, anggap saja keluarga mereka berdua tuh udah jadi musuh abadi selama bertahun-tahun! xD

 

10 thoughts on “The Problem With Flirting

  1. Hi hi meyda!🙂

    Jadi, somehow aku ngerasa ini bakal berakir sedih, tapi kalau kamu yang bawa tuh pasti ada sentuhan-sentuhan asik dan lucunya, jadi ini sedihnya… lucu, in a nice way ofc 😸😸 terus aku suka bahasanya, sama settingannya, sama depannya, ini kayak Romeo manis kece banget astaga 😻😻😻

    Ini udah bagus, tapi, IMO, aku agak kurang dapet transisi Juliet yang kesel sama Lynn terus jadi seneng sama Romeo hehe. Terus kayak kata kak liana, ini semacam prequel gitu ya, jadi kalau kamu mau buat sequelnya aku nunggu kok HAHAHA.

    And last, keep making something nice Mey!🙂

    Like

    1. Haloha Sher!
      wah aku malah belum kepikiran masa depan romeo sama julietnya hahaha,ga tega masa mau dibikin nenggak racun berdua : kamu juga tetep nulis ya!

      Like

  2. jaw
    drop
    iyak ini jadi seperti prequel sih ya tapi gapapa. hahahaha romjul jaman moderen masih musuhan aja sih padahal udah pernah ada tragedi kyk gituan kan dulu
    tapi kalo meyda rasanya ini ga bakal dibikin tragis, pembukanya aja udah lucuk!
    keep writing aja yaaa

    Like

    1. kak gapapa tuh rahangnya jatuh? udah dibawa ke dokter? (loh loh) xD
      yep karena kalo ga bertengkar namanya bukan romeo & juliet dong??
      hihi makasih banyak kaklia udah mampir dan baca ini yeay!🙂

      Like

  3. LUCU SEKALI DUHDUHDUH MEY AKU SUKA BANGET. Mana karakternya Jules yang why attractive banget, plus Lynn yang meski cuma cameo, aku malah suka x))) Ini ringan dan ngalir as always, dan aku selalu demen sama re-tell-mu bikos diceritain dengan bahasa yang Meyda banget (???) WKWKWKWK

    KEEP WRITIING MB MEYYY 😘

    Like

  4. Halo … Meyda. Kita udah pernah kenalan ya kan?? ((dihajar)) LOL aku Tata btw kalo kamu lupa, kita seumuran he he.

    Mm … aku selalu suka kalo baca fiksi/tulisan settingnya di kafe apa toko roti gitu, kesannya … apa ya, lucu (!?!? Apa sih, Ta) terus ini kamu dialognya … asik banget! Ah, apa ya, aku pribadi emang kaku banget kalo bikin dialog jadi suka kalo ada penulis yang bikin dialog luwes kaya kamu gini. Sukaaaa👍

    Dan … boleh koreksi dikit? He, tadi ada typo kayanya “bewarna” -> berwarna sama “mengiakan” -> mengiyakan he he lainnya udah bagus banget. Rapi, asik juga haha.

    Aku suka banget Meyda, keep writing ya and have a nice day!🙂

    Like

    1. Halo Tata! Yep, kita emang udah kenalan dan HOOO gimana aku bisa melupakan kamu yang inggrisnya bagus banget?? (masih keinget dulu baca profilmu dan isinya engles semua wkwk).
      Huhu kok samaan sih Ta? Aku juga seneng bikin/baca fiksi yang latarnya kafe-kafe imut gitu soalnya… lucu ;_;
      Makasih banyak koreksinya, Ta! Makasih banyak udah mampir dan baca ini! Have a nice day too!🙂

      Like

  5. ASTAGA ASTAGA ASTAGA MEYDAAA AKU GATAU MAU NGOMOMG APALAGI TAPI INI ENAK BANGET DIBACANYA HUHU TULISAN KAMU EMANG SELALU ENAK DIBACA SIH
    BTW AKU JUGA SUKA SETTINGNYA
    KEEP WRITING MEY ♥♥♥

    Like

    1. HALO KAK TYA WOW LAMA TIDAK BERJUMPA YA KITA???
      AIH KAK TYA MAU SELALU BEGITU KEPALAKU KAN JADI GEDE (KEMPESIN DONG) (GA) HEHEHE TERIMA KASIH BANYAK YA KAK UDAH MAMPIR DAN BACA INI!!! ^^___^^

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s