Chances of Falling


chances-of-falling

Chances of Falling

by Authumnder

Berry Good’s Taeha & MAP6’s Jongbin | Slice of Life, Fluff

Based on prompt number three.

+++

Kalau aku ditanya mengenai kegiatan yang ingin kulakukan untuk mengisi waktu liburan seminggu yang lalu, aku pasti akan menjawabnya dengan jalan-jalan, belanja, atau tidur seharian. Hari libur di kepalaku adalah tinggal di rumah dan melakukan hal-hal yang kugemari, tapi begitu telepon dari Hawaii itu datang, segala ide dan rencana tentang bersenang-senang lenyap bersamaan.

“Tolonglah,” kawanku berbisik dengan nada memohon. “Kau tahu, ‘kan, aku tidak bisa pergi meninggalkan Hawaii begitu saja? Aku sedang berbulan madu, demi Tuhan!”

Aku mungkin kedengaran jahat mengatakan ini, karena temanku benar, dia baru menikah minggu kemarin dan pergi liburan dengan suaminya dua hari yang lalu—tapi adiknya yang seorang pecandu bukan juga tanggung jawabku, ‘kan? Memangnya mereka tidak punya sanak saudara yang bisa menjaganya?

Terdengar grasak-grusuk sebentar di seberang, sampai suara lawan bicaraku kembali. “Taeha, aku tahu kau pasti kelelahan sekali dan menginginkan liburan kerja ini untuk dirimu sendiri, tapi aku punya penawaran bagus untukmu. Kau ingat, ‘kan, kalau aku tidak menikahi laki-laki sembarang yang tidak punya uang? Aku menikahi seorang jutawan, Kawan!” katanya, sedikit banyak menggosip. “Dan, tentu saja, kekayaannya itu bakal mengalir ke kantongku juga. Makanya, jangan khawatir soal bayaran, Sayang, karena aku pasti akan membayarmu. Jumlah yang besar, besar.”

Uang tidak menggodaku sama sekali, pekerjaanku sebagai guru TK memang tidak kedengaran mewah untuk kalian, tapi percaya deh, aku tetap mendapatkan penghasilan yang lebih dari layak dari sana.

Mengetahui taktiknya tidak begitu mempan padaku, temanku itu mengubah strategi. “Hei… aku dengar dari Seolhyun kalau kau masih saja single. Aku mungkin tidak cantik, aku ‘kan menuruni ayahku yang gempal, tapi ibuku… Kau pernah melihatnya langsung, ‘kan? Bagaimana pendapatmu? Sangat menawan, ‘kan? Nah, Taeha, adikku punya gen ibuku mengalir dalam darahnya.” Dia menarik napas sejenak, mungkin untuk memberi kesan dramatis. “Biarpun berandalan begitu, tetap saja tidak bisa dipungkiri kalau Jongbin punya wajah yang tampan!”

“Aku tidak berkeinginan punya pacar seorang pecandu.”

“Tapi Jongbin akan segera sembuh! Aku tahu itu, dia menangis saat aku menikah, bilang kalau aku memesona sekali dengan tudung kawinku, dia juga berbisik ingin lepas dari semua ini.”

“Kau memberitahuku itu karena kau senang dipanggil cantik, ya, ‘kan?”

Dia tergelak. “Yang itu juga tidak salah. Ya, ya? Kau akan menjaga adikku selama aku berbulan madu, ‘kan? Please? Aku akan membawakanmu oleh-oleh, yang banyak! Ya, ya?”

Ide liburan bermalas-malasanku resmi hancur berantakan setelah itu.

+

Kalau bukan karena janjiku, aku pasti tidak akan berada di depan pintu sebuah apartemen yang tertutup rapat, menunggu seseorang membukakan—kelihatannya mustahil, karena aku sudah menghabiskan sekitar lima menit hanya memencet bel dengan dungu. Kakak Jongbin mengirimiku alamat rumah si pecandu kemarin, mewanti-wanti kalau aku harus benar-benar perhatian pada cowok itu. Bodohnya aku, tak meminta pin masuk apartemennya sekalian dan sekarang aku hanya bisa berdiri sambil gigit jari sementara temanku berlarian di pantai dalam bikini batok kelapa dan rumput berumbai dengan ponsel yang dimatikan.

Aku tak punya pilihan lain kecuali menuruni tangga sekali lagi (lift-nya rusak), untuk menemui satpam penjaga di pintu utama. Beruntung pria paruh baya itu masih di sana, tetap setia dengan ekspresi muramnya.

“Halo. Uh, bisakah saya mendapat kunci masuk apartemen seorang teman? Dia barusan menelepon, katanya menderita sakit kepala parah sehabis mabuk-mabukan. Aku sangat khawatir dengan kondisinya, karena dia bahkan tidak bisa mencapai pintu untuk membukakannya untukku. Jadi, bisakah Anda membantu saya?”

Dia kelihatan tidak begitu senang dengan permintaanku, tapi satpam itu hanya mengangguk cuek lantas mulai menaiki tangga. “Temanmu itu tinggal di lantai berapa?”

Aku meringis, tahu kalau jawabanku akan membuat mood-nya memburuk. “Lantai lima.”

Dugaanku benar, penjaga itu spontan melengos.

+

Rumahnya seperti kapal pecah saat aku berhasil masuk. Tak hanya berantakan, tempat ini juga menguarkan aroma alkohol yang begitu kuat dan bau muntahan yang samar, aku tidak akan terlalu terkejut kalau mendapati mayat membusuk di sini juga. Sementara mencari keberadaan tokoh utama penghancur kebahagiaan liburanku, aku melangkahkan kaki dengan sangat hati-hati mengelilingi ruangan, yakin sekali kalau semua benda yang tergeletak pasrah di lantai dipenuhi dengan kuman yang sudah tak terhitung jumlahnya. Itu, sampai mataku menangkap sebuah kamar dengan single bed dan seorang anak laki-laki yang terkapar di atasnya.

Kulayangkan pandangan pada seisi ruangan, lantas mengeluh karena aku sendiri akan kehilangan kesadaran kalau bertahan di ruangan kotor ini satu jam lebih lama saja. Bersih-bersih, itulah aktivitas pertama yang kulakukan di hari liburan supercerah yang menyenangkan ini.

Butuh waktu yang lama sekali untuk menemukan mesin penyedot debu, kain pel, dan penyemprot pengharum ruangan otomatis, tapi butuh waktu lebih lama lagi untuk menyingkirkan botol-botol soju kosong, pakaian yang sudah tidak jelas bentuknya, dan kotoran-kotoran bau yang menjijikkan dari lantai. Aku mandi peluh sambil menyeka lantai sementara temanku mungkin tengah menyantap makanan dan anggur lezat sekarang.

Saat seisi rumah sudah bersih dan wangi, adik temanku itu akhirnya terbangun.

Sialan, kalau dia bangun sedari tadi, aku pasti sudah memperkerjakannya sekalian! Timing-nya tidak adil sekali!

“Hei, kau siapa?” sentaknya dengan loyo, orang berdiri tegak saja dia tidak bisa!

Tak kuhentikan kegiatanku mengipasi diri, alih-alih menatapnya tajam. “Aku teman kakakmu, dia menyuruhku, ralat, memaksaku datang ke sini untuk menjagamu. Plus, aku punya pertanyaan untukmu. Apa hidungmu berfungsi dengan baik? Kau tidak sedang pilek, ‘kan? Apartemenmu ini baunya sudah seperti gudang bawah tanah yang habis kena banjir! Apak!”

Dia hanya menatapku.

“Berapa sih, umurmu? Kau belum terlalu tua, ‘kan? Biar kutebak, delapan belas?”

Anak itu tertawa meski tatapan matanya turun, seakan-akan dia sedang tidak ingin tertawa namun dipaksa untuk melakukannya. Tiba-tiba saja aku merasa tidak enak.

Kukatakan, “Oke, maafkan aku. Bagaimanapun, bukan salahmu kalau kau terlalu manja untuk membersihkan apartemenmu sendiri.” Ups, yang itu juga bukan kalimat perkenalan yang bagus. Aku berdeham untuk mengatasi kecanggungan. “Jadi berapa umurmu? Karena kau tertawa, maka kutebak kalau dugaanku salah?”

“Salah besar,” suaranya serak, jadi dia ikut-ikutan berdeham. “Aku dua puluh.”

Aku tersentak, “Kau masih dua puluh dan sudah kecanduan alkohol?” seruku tanpa berpikir, lalu meringis lagi setelahnya. “Sori, tidak bermaksud mengungkitnya. Omong-omong, aku sudah menyingkirkan semua minuman beracun itu dari rumahmu dan kau DILARANG KERAS untuk membelinya lagi. Paham?”

Dia diam saja seolah-olah tengah memikirkan jawaban yang sukar, tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Kau belum menyebutkan namamu.”

“Yoo Taeha. Nuna untukmu, karena aku lebih tua darimu dua tahun. Nah, sekarang pergi mandilah dan urus cucianmu sendiri, ya. Rumahmu sudah kubersihkan, berikut kamar-kamarnya, tapi masalah cucian, kaulakukan sendiri, oke?”

Park Jongbin, nama anak itu, aku ingat, tidak menyahut. Tapi aku juga tidak mengharapkannya.

+

“Bisakah kita keluar? Aku bosan sekali.”

Aku mengangkat kepalaku dari novel hanya untuk memelototinya. “Tidak sekarang, bukunya bagus sekali, tahu. Nonton TV saja, sana!”

“Tapi aku lapar, Taeha,”

“Tapi kau baru saja menandaskan sekantong keripik kentang, Jongbin. Dan bukannya aku sudah memberitahu bagaimana kau harus memanggilku? Kakak, kakak, kakak!”

“Yoo Taeha, Yoo Taeha, Yoo Taeha. Lapar, lapar, lapar!”

Kusambar penutup telinga. “Berisik!”

Ini hari keduaku menjadi nanny seorang remaja, kau sudah lihat sendiri betapa rukunnya kami berdua. Kakak Jongbin meneleponku sekali-dua kali dalam sehari, menanyakan hal krusial seperti “apa dia masih hidup?” juga hal supertidak-penting seperti “bagaimana penampilan adikku? Sudah naksirkah kau padanya?”. Dan, setelah menganalisis kelakuan Jongbin ini, aku mulai curiga kalau gen gilalah yang mengalir di darah Park bersaudara ini.

Sekarang Jongbin dengan sengaja menaikkan volume TV-nya sampai teratas, membuat dinding di kiri-kanan berdentum dan, tentu saja, membuat aktivitasku membaca makin terganggu.

“Pelankan TV-nya!”

Dia balas berteriak, “Hanya kalau kau mau mengajakku keluar!”

Aku menyerah.

+

Angin musim semi yang menderu ke arah kami terasa begitu menyenangkan, menenangkan, bahkan, sampai aku sedikit-banyak lupa akan plan-plan liburanku yang tidak berjalan semestinya. Sementara memegangi cone eskrim vanilaku dengan sebelah tangan, aku menunjuk sepeda-sepeda yang diparkir memanjang di sisi lain tempat kami berdiri.

“Lihat, sepeda!”

Jongbin mengibaskan tangannya dari remah-remah contong, menyahut dengan menjengkelkannya, “Jangan berusaha memberi kode. Aku tidak akan mau naik sepeda berpasangan itu denganmu.”

Kulempar dia dengan tisu bekasku mengelap mulut. “Enak saja! Aku ‘kan cuma bilang. Lagipula apa yang kepingin kau lakukan habis ini? Pulang?”

“Aku rencananya ingin ketemuan dengan pacarku. Kau tidak tahu, ‘kan, kalau aku punya pacar?” dia mengedipkan sebelah matanya dengan sok imut.

Aku memang tidak tahu, tapi berusaha keras menutupinya dengan tetap memasang wajah datar. “Oh, ya? Wah, kalau begitu, pacarmu bisa dong menggantikan tugasku menjauhkanmu dari alkohol!”

Tapi Jongbin tergelak. “Tidak, tidak. Pacarku kabur setelah mengetahui kondisi tidak bisa lepasku dari alkohol. Dia cewek yang religius, kau tahu. Aku mabuk lagi malam setelah dia memutuskanku.”

Aneh rasanya membincangkan hal sesedih ini dengan raut begitu gembira dan kondisi alam yang riang. Aku tersenyum padanya, bukan karena harus, lebih karena aku ingin.

“Yah, cewek itu tidak berhak mendapatkanmu lagi nanti, kalau kau sudah kembali seperti sedia kala.”

Jongbin balas tersenyum, tapi aku melihat sesuatu yang lain di dalamnya.

+

Setelah berhasil melewati empat hari tanpa mengonsumsi alkohol sama sekali, efeknya akhirnya menerjang malam ini. Aku tengah terlelap di atas selimut yang dihamparkan di atas lantai, saat kasur di atasku berderak. Awalnya, kukira Jongbin hanya butuh pergi ke kamar mandi atau mengambil air putih, karena dia sering melakukannya, tapi kemudian derap langkahnya disusul oleh suara botol-botol kaca bertabrakan dan gebrakan meja. Aku refleks bangkit, tergesa membuat jalan menuju dapur.

Dan di sanalah dirinya, tampak begitu pucat dan ketakutan serta gemetar.

“Di mana mereka?! Aku membeli banyak sekali kemarin!” serunya, tanpa henti mengobrak-abrik lemari kayu. “Berengsek! Di mana mereka?!”

Dengan ragu aku melangkah mendekat, sadar benar kalau sosok di depanku tidak begitu awas akan keadaan. “Hei, Jongbin, bukan di sini tempatnya, kau pergilah ke ruang TV dan duduk di sana dengan tenang, oke? Aku akan membawakannya untukmu.” Aku berusaha bernegosiasi.

“Tunjukkan mereka padaku!” alih-alih menuruti, dia justru menggebrak konter dapurnya yang terbuat dari tembaga. “TUNJUKKAN!” dia begitu gemetar sampai membalik tubuhnya saja membuatnya oleng dan nyaris jatuh. Aku memang berhasil menangkapnya, tapi dia mendorongku menjauh dengan sangat tiba-tiba, sampai aku kehilangan keseimbangan. Kepalaku terantuk konter dan aku pusing sekali, tapi kupaksa diriku untuk bangkit lagi dan mencengkeramnya.

“Jongbin! Park Jongbin! Demi Tuhan, sadarlah!”

Saat teriakanku tidak menghentikan amukannya, kubuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air dingin dari sana lantas menyiramnya. Air dingin itu melakukan pekerjaannya dengan baik, karena selanjutnya Jongbin terjatuh di atas lututnya, menangis tersedu-sedu.

Aku bukan penggemar kontak fisik, tapi begitu melihat kondisinya, tubuhku spontan membungkuk dan memerangkapnya dalam lenganku yang terbuka.

+

Keesokan harinya aku terbangun dengan kepala puyeng dan seluruh tubuh pegal-pegal. Jongbin masih terlelap di atas kasur (dia menawariku kasurnya malam ketika aku pertama kali datang, tapi kutolak dengan alasan kalau tidur di atas kasur terlalu hangat untukku di musim semi, dia bersikeras tapi aku lebih keras kepala), sehingga kuhabiskan dua puluh menit berikutnya melipat alas tidurku dan merapikan kekacauan di dapur semalam. Banyak sekali piring, gelas, dan mangkuk yang pecah, aku harus ekstra hati-hati saat memunguti belingnya dan berusaha keras untuk tidak bersuara ketika telunjukku akhirnya tergores. Lukanya tidak begitu dalam, tapi darahnya terus-menerus keluar sampai aku jengkel sendiri.

“Biar kulanjutkan,”

Aku mendongak mendengar suara Jongbin. Cowok itu berdiri di hadapanku, tampak tinggi dan menjulang. Dia sudah mencuci mukanya, karena tetesan air masih menetes dari poninya yang jatuh menyentuh dahi. Temanku benar, Park Jongbin ini tampan sekali.

Buru-buru kujauhkan pikiran itu. “Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya sendiri. Kau olahraga atau apa gitu.” Tolakku.

“Taeha, kau tidak lupa, ‘kan, kalau apartemen ini milikku? Akulah yang harusnya bersih-bersih. Sekarang urusi saja tanganmu, ada beberapa band-aid di kotak P3K di kamar mandi.” Katanya tak peduli, menyambar kantong plastik yang kugunakan sebagai wadah pecah belah tadi. Dia mulai melakukan kerjanya dan aku tak punya pilihan lain kecuali menurutinya.

+

Serangan itu masih sering datang pada malam hari.

Hari ini aku begitu kelelahan setelah seharian menghabiskan waktu berbelanja kebutuhan makan, sehingga butuh keributan yang besar sekali sampai aku akhirnya terbangun. Jongbin sudah tidak ada di kasurnya. Kepanikan menyergap diriku dengan begitu cepat sementara aku berlari menuju dapur. Nihil. Park Jongbin minggat dari rumahnya sendiri.

Aku terlalu gugup untuk menyambar jaketku sebelum menghambur keluar dari apartemen. Kuteriakkan namanya dengan begitu keras dan kalut.

Saat inilah aku begitu menyesalkan kesombonganku tidak bertanya nomor ponsel Jongbin. Kupikir karena kita berdua tinggal di tempat yang sama, apa fungsi dari memiliki nomornya, begitu. Sekarang saat aku begitu kebingungan mencarinya, aku baru merasakan akibatnya. Kemudian layar ponselku menyala begitu cerah dan harapanku tumbuh kembali ketika nama temanku yang sekaligus kakak Jongbin muncul.

“Jangan bicara apa pun!” aku menyentaknya bahkan sebelum dia sempat menyapa. “Kirimkan saja nomor ponsel Jongbin padaku, cepat, cepat!”

Dia kedengaran panik juga. “Oke, oke. Tunggu sebentar.”

Panggilan terputus dan muncul pesan baru berisi nomor telepon. Kutekan berulang-ulang nomor itu, menunggunya terhubung dengan seseorang yang ingin sekali kutemukan. Aku hanya tak tahu kalau sosok itu pergi sebentar ke supermarket untuk membeli permen.

+

Aku mendiamkannya sesorean penuh setelahnya. Jongbin masih saja terus terbahak tiap kali melihat wajah cemberutku. Dia bahkan mencelaku habis-habisan dengan tuduhan kalau aku sebenarnya naksir padanya, karena katanya aku begitu pucat dan ketakutan saat melihatnya di apartemen.

“Aku hanya khawatir kau hilang, oke!” bentakku akhirnya. “Berhenti menjadikanku guyonan!”

Dia hanya tergelak. “Aku mau pergi ke supermarket, kau mau apa?”

Kugulingkan tubuhku di atas sofa menjauh dari hadapannya, telingaku menangkap cekikikannya sebelum akhirnya lenyap dari rumah. Aku bangun dari posisi tidurku, menarik napas dalam-dalam karena perasaan kesal yang menggunung dengan begitu tingginya. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku bertingkah superpanik malam itu, mengapa aku berlarian dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya Jongbin menerima panggilanku dan berkata bahwa dia sudah ada di apartemen. Oh, tak hanya sampai di situ, aku juga berlarian masuk ke apartemen dan puncaknya, menangis terisak sambil tersengal ketika aku melihatnya.

Oke, bisa dibilang kelakuanku memang agak berlebihan. Tapi, demi Tuhan, aku sudah BERJANJI pada kakaknya kalau aku bakal menjaganya dengan segenap jiwaku! Apa yang akan temanku lakukan kalau tahu aku menghilangkannya begitu saja? Aku ingin mengatakan ini semua pada Jongbin, tapi takut kalau dia bakal menyerangku balik dengan pertanyaan,

“Memangnya aku ini apa? Bocah tujuh tahun?”

Atau, lebih parah lagi,

“Kau kedengaran seperti ibuku sekali.”

Jadi aku lebih memilih tutup mulut dan mencela diriku sendiri, meski dadaku sakit sekali.

+

“Yoo Taeha! Kau konyol, ya? Kau mau aku datang dan menyeretmu sampai sini?! Bagaimana bisa kau menginap di rumah seorang laki-laki selama dua minggu?!”

Buru-buru kujauhkan ponselku dari telinga. “Dia itu adik temanku, oke! Anak laki-laki kelihatannya lebih tepat! Dan lagi, aku tidak sembarang menginap, aku datang ke sini sebagai seorang babysitter, murni itu niatku!”

“Sejak kapan kau belajar membentak ibumu seperti itu?”

Aku nyaris menangis; kau tidak akan pernah menang berdebat dengan orang tuamu. Mereka selalu punya jalan untuk memutarbalik fakta dan membuatmu terjebak dalam sopan-santun seorang anak.

Suara ibuku kembali. “Pokoknya aku ingin kau kembali ke rumahmu sendiri malam ini juga! Sudah capek-capek aku mengunjungimu dari Busan.”

Dan dengan perintah mati itu, kontrakku resmi berakhir.

+

“Tak bisakah kau kembali nanti, setelah keluargamu pulang kembali ke Busan?”

Kuhentikan sejenak kegiatanku melipat. “Tidak bisa, ibuku selalu tahu kalau aku melakukan sesuatu yang bakal dilarangnya. Singkatnya, aku transparan di depannya. Plus, beliau pasti berlama-lama di rumahku, ini ‘kan liburan.”

Jongbin mengangguk-angguk, menunjukkan raut agak kecewa, “Ah, benar. Sayang sekali.”

Selesai dengan pakaianku yang tidak banyak, aku menoleh kepadanya lagi. “Kau tidak akan membeli alkohol lagi, ‘kan? Bahkan ketika kau ingiiiin sekali?” tanyaku, memastikan.

Kali ini dia menggeleng. “Tidak lagi, aku juga kapok, tahu.” Katanya. “Tuh, ada jaketmu yang menyelip di sana.”

+

Begitu menyentuh kasur di rumahku sendiri, aku langsung lenyak tertidur, begitu lelap dan tenang sampai nyaris tidak mendengar gedoran di pintu. Dengan kedua mata masih agak menutup, aku membukanya hanya untuk mendapati Park Jongbin berdiri di sana, gemetaran dengan dua alkohol kalengan dalam genggaman.

Refleksku langsung meraih tangannya dan menariknya masuk, teringat akan note kecil tempatku menuliskan alamat—kau tahu, kalau-kalau dia butuh bantuan.

Jongbin seenaknya mengeluyur masuk. “Aku melanggar janjiku,” katanya dengan sedih, tangannya tremor parah. “Aku berjalan di luar kesadaran, tiba-tiba saja aku sudah berada di depan supermarket dengan sampah ini. Maafkan aku.”

Aku menangkup kedua telapak tangannya yang dingin, tersenyum. “Tapi kau belum meminumnya, ‘kan? Jadi tidak masa—”

Dia menunduk lebih dekat, lantas dengan sangat tiba-tiba, menempelkan bibirnya ke bibirku.

“Aku meminumnya satu, Taeha, sudah kubuang di perjalanan ke sini.” Katanya setelah mengakhiri ciumannya. “Bukan karena aku ingin, sih, tapi aku harus. Kalau tidak, aku tidak akan bisa datang kemari dan melakukan yang barusan.”

Aku masih terlalu terkejut sampai tidak bisa menemukan suaraku dan kata-kata yang tepat untuk menjawabnya.

Jongbin buru-buru melanjutkan, “Aku suka padamu. Tapi kau tidak harus menjawabnya sekarang, kau tahu. Mungkin aku memang lebih muda darimu dan seorang pecandu, tapi aku masih lebih tinggi darimu dan kau sendiri yang bilang kalau aku akan sembuh.”

Mulutku terkunci rapat, tapi kutemukan jawaban atas pernyataan Jongbin barusan. Oh, ya, tentu saja.

Aku juga suka padamu.

fin.

Finished: 14:54 | May 28, 2016.

Diikutkan di event Kak Nisa (sudah ku-tag di awal tadi) dan alhamdulillah berhasil menyabet ‘pemenang utama’. Terima kasih banyak!🙂

4 thoughts on “Chances of Falling

  1. SEKETIKA AKU JUGA INGIN CARI BERONDONG YG BUTUH PERAWATAN UGH GA KUKU GA NANA ~~
    Sejatinya aku ga ngerti visualisasi dari cast di ff ini bikos kedua grup tsb tdk aku ikuti wkwk, Taeha adeknya Yuna bukan sih?
    Pokoknya ini ucul aku gemes sama Jongbin wkwkwk aku tdk menemukan keluputan di tiap kalimatnya😄

    Like

    1. JANGAN LEL KMU AJA BARU 17 NYARI BERONDONG UMUR BRP COBA? 12? wkwkwkw
      yess emang map6 dan berry good belum terlalu terkenal wkwk, eh yuna siapa? ga tau aku malahan pokoknya taeha itu ya member grup hehehe.
      makasih banyak ya lel udah mampir dan baca! :>

      Liked by 1 person

  2. awww sasuga meyda :3
    this is love! karakternya kena, manis-pahitnya dapet, lengkap dah! can’t compliment more, aku bingung soalnya krn aku sangat menikmati ini sooo keep writing aja!

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s