Duff Version 0.2


duff vr 2

Duff Version 0.2

by Authumnder

Gfriend’s SinB & 17’s Mingyu | Comedy, Fluff

From The Duff Movie.

+++

Kau punya kakak perempuan yang usianya tiga tahun lebih tua darimu; cantik, menarik, dan segala hal berjalan sesuai keinginannya. Waktu kau masuk SMP, dia masuk SMA, waktu kau akhirnya lulus dengan nilai gemilang dan berharap akan masa depan menyenangkan di gerbang SMA, kakakmu yang nyaris perfek itu lulus dari sana, siap untuk pergi berkuliah. Kau pikir hal semacam itu sempurna? Menggembirakan? Menguntungkan (karena begitu masuk kau akan langsung dikenal seantero sekolah sebagai ‘adik sang primadona’)? Well, kuberitahu ya, hal itu sama sekali jauh dari perkiraanmu.

Mengenaskan adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.

Dan aku tidak bercanda, atau mengira-ngira, apalagi mengarang. Akulah cewek yang begitu menapakkan kakinya di gerbang sekolah langsung diserbu oleh kakak-kakak tingkat yang penasaran akan tampang adik dari mantan ketua cheerleader andalan mereka. Aku juga yang dipandangi dengan tatapan tidak percaya (beberapa malah mengasihani) setelah mereka menyadari kenyataan pahit kalau “adik Jessica tidak secantik dirinya!” atau, gamblangnya, “Kok bisa Jessica Jung yang supercantik itu punya adik seburuk rupa ini?”

There, I said it.

Seakan-akan dikenal dengan produk gagal belum cukup, beberapa dari senior itu dengan ringan hati mulai mencipta siksaan pribadi untukku. Ada yang mengirimkan rasa bencinya melalui lisan, ada pula yang lewat tindakan, contohnya ya sekarang ini, saat aku berdiri di tengah-tengah homeroom dan seorang kakak kelas perempuan dengan seenaknya menabrak bahuku.

Ouw.

“Sakit ya?” tanya cewek itu dengan tampang sombong. “Bilang pada kakakmu ya bagaimana rasanya diperlakukan begitu setiap hari.”

Oke. Terserah. Aku mengedikkan bahu sambil tetap berlalu, menghiraukan ocehan panjang senior perempuan lain, yang jelas-jelas tengah berusaha mencari perhatian. Well, perhatianku bukan salah satu yang berhasil dia pancing, sayangnya.

Dan, yah, halo, kalau kau masih membaca sampai sini maka aku mungkin harus memberi sambutan dan sedikit pengenalan diri untukmu; Hwang Eunbi, anak kelas satu di SMA Cheon, dan ya, margaku memang Hwang, bukannya Jung seperti kakakku, karena ibuku menikah dua kali dalam jangka waktu yang tidak begitu jauh—selamat datang di Neraka Harian Gadis yang Kakaknya Terlampau Cantik dan Berbakat Sekaligus Tukang Tindas.

+

Kalau kau mengira aku tidak akan punya teman dan akan berjalan sendirian ke mana-mana, maka aku akan dengan senang hati menjelaskan padamu kalau aku belum semenyedihkan itu. Gadis-gadis seangkatanku (kecuali mereka yang gila pamor dan berpotensi menjadi tukang bully saat kenaikan kelas nanti) sangat bersimpati terhadap keadaanku, mereka tidak jahat sama sekali. Terima kasih, Tuhan, karena kalau mereka juga bertingkah seperti para senior berengsek itu, aku akan langsung mengosongkan loker dan minggat secepatnya dari SMA ini.

Itu adalah alasan mengapa aku berhasil menjalin pertemanan dengan dua anak perempuan populer yang supercantik dan ramah. Yang satu adalah Tzuyu, gadis Cina yang saat ini tengah berkarier di dunia model—well, meski setahun lebih muda dari kami semua, dia sangat tinggi dan berkelas. Kecantikannya adalah magnet kuat yang akan membuatmu menoleh ke arahnya begitu dia lewat. Yang satunya lagi adalah Dahyun, kau akan langsung tahu mengapa dia termasuk dalam jajaran “kelas satu yang paling ingin dipacari” setelah kau melihatnya langsung.

Kurasa ini agak mirip dengan karma. Aku diberitahu ibuku kalau dulu Jessica kakakku juga punya dua teman dekat, di mana salah satu dari mereka termasuk dalam kalangan terlalu normal dan tidak terlalu diperhatikan, sementara Jessica adalah pentolan dari kelompok itu. Sekarang, keadaan benar-benar sudah terbalik, akulah si teman tidak-manis yang terlalu normal itu, gadis yang terjebak dengan kedua gadis cantik yang sangat populer itu.

Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan sekarang. Kau tahu apa resiko menjadi teman tidak atraktif itu? Tahukah kau? Bisakah kau menebak sekenanya? Karena akan terlihat begitu memedihkan kalau aku harus menjelaskannya untukmu dengan mulutku sendiri. Fine, baiklah, kalian para gadis cantik pasti tidak mengerti. Poinku adalah, menjadi gadis ter-“jelek” dibanding yang lain, maka secara otomatis kau akan menjadi sang duff.  Tidak tahu artinya? Please, carilah sendiri. Aku masih agak sakit hati setelah dikatai begitu oleh senior cowok yang berniat menjadikanku makcomblang untuk mendekati Tzuyu tapi kutolak.

Duff adalah singkatan dari ‘Designated Ugly Fat Friend’. Oke, tapi aku tidak gendut, sama sekali tidak. Badanku dengan Jessica tidak jauh berbeda, kecuali kenyataan kalau dia punya lebih banyak lekuk di tempat-tempat yang tepat. Senior cowok itu tertawa waktu aku bilang begitu, katanya,

“Ya Tuhan, lucu sekali. Kau memang tidak gemuk atau apa, Eunbi. Tapi lihat teman-temanmu. Tzuyu kelihatan seperti bidadari yang baru saja mendarat di bumi, dan Dahyun masih tampak seperti bayi menggemaskan meski usianya sama denganmu. Plus, definisi duff tidak berhenti sampai di situ, kau anak tolol.”

Dan, ya, aku barusan berselancar lagi di Internet dan menemukan keterangan lainnya. Gadis tidak menarik yang beruntung bisa berteman dengan gadis yang lebih cantik. Manusia ter-“tidak cantik” dalam suatu grup yang bisa dimintai tolong ketika kau ingin mendekati teman-teman cantiknya. Perempuan jelek yang terpaksa menjadi makcomblang untuk teman-temannya yang lebih menarik.

Aku menutup tab dengan mata membelalak tidak percaya, sampai akhirnya kuputuskan untuk menghubungi Jessica, dia pasti tahu apa itu duff—siapa tahu, ‘kan, kalau definisi-definisi di Google itu salah besar?

Jessica mengangkatnya, tapi saat aku mulai membicarakan masalahku dengan panik, dia langsung menyuruhku mengirim fotoku dengan Tzuyu dan Dahyun. Aku melakukan apa yang dia perintahkan, dan begitu lambang read muncul di bawah pesan LINE-ku, dia langsung meneleponku balik.

Well, jelas sudah.” Katanya, kedengaran jelas kalau dia tengah menahan tawa. “Kau memang duff-nya, Eunbi.”

“Apa sih duff itu?” seruku, berusaha membuat suaraku tetap tenang dan terkontrol meski dalam hati aku sudah ingin meledak. “Apa itu artinya Tzuyu dan Dahyun hanya memanfaatkanku?!”

Kakakku tertawa, kali ini tidak ditahan sama sekali. “Belum tentu, Bodoh. Duff itu hanya sebutan, tidak penting juga kalau kau jadi duff-nya. Plus, kau dapat keuntungan di sini, cowok-cowok bakal mendekatimu duluan kalau mereka berniat memacari teman-temanmu.”

Aku refleks menyergah, “Untung di mananya, coba?!”

Cowok-cowok, Hwang Eunbi.” Jessica menghela napas tidak sabar. “Goda saja mereka sebisamu sampai salah satu dari mereka berbalik naksir padamu.”

Dasar keterlaluan, gumamku sambil melirik ke cermin di sudut kamar. Seorang gadis dengan rambut hitam panjang balas menatapku, dia kelihatan begitu kelelahan dan stres dalam kaus panjang gombrongnya yang jelek. Halo, diriku sendiri, kulambaikan sebelah tangan padanya, tapi langsung menurunkannya lagi. Dasar gila.

“Halo?” suara Jessica memenuhi telingaku lagi. Aku menggumamkan ya. “Oi Eunbi, aku punya saran untukmu. Carilah kotak menjahit Ibu dan seragam sekolahmu, ambil gunting dari sana, dan mulailah memotong rok membosankan selututmu menjadi sepaha, lalu kau minta saja Ibu untuk mengecilkan kemejanya—”

Buru-buru kuteriakkan, “Dadah!” sebelum mematikan sambungannya. Kakakku itu memang gila, tapi kurasa kegilaanku sendiri nyaris melampaui miliknya. Bagus, tidak hanya menjadi korban penindasan senior yang membenci Jessica, sekarang aku dapat status baru: The Duff.

+

Hal pertama yang dikatakan Dahyun padaku pagi ini adalah, “Eunbi, kalau cowok dari kelas sebelah itu meminta nomor ponselku lagi, langsung tolak saja, ya? Please…”

Sedang dari Tzuyu: “Eunbi, apa kemarin senior bernama Kim Mingyu itu mengajakmu bicara? Apa yang dia katakan tentangku?”

Aku tidak percaya ini benar-benar terjadi. Aku memang duff di kelompok ini. Si gadis jelek tempat cowok-cowok menggantungkan harapan. Sialan.

Mood-ku begitu buruk saat jam makan siang tiba, sedangkan Tzuyu dan Dahyun sibuk dengan urusan ekstrakurikuler masing-masing sehingga mereka tidak bisa ikut makan denganku. Itu, ditambah dengan penyiksaan senior cewek yang dendam pada kakakku yang masih saja berlangsung. Satu cewek dengan sengaja menjegalku, beruntung isi bakiku masih bertahan tanpa menumpahkan isinya.

Aku berakhir duduk sendirian di kursi paling pojok, merasa bodoh dan tolol saat menyuapkan sesendok besar nasi dan lauk. Itu, sampai cowok yang pertama kali melabeliku sebagai “duff” datang dan duduk di depanku. Kim Mingyu.

Bakinya masih penuh sementara milikku sudah habis separuh. Aku berusaha mengunyah lebih cepat dan menuntaskan makananku sesegera mungkin, tahu benar kalau cowok ini hanya akan memulai interogasinya mengenai Tzuyu. Mulutku kuisi penuh-penuh saat dia mulai mendongak dan bersiap untuk mengatakan sesuatu.

“Wow, wow, makannya pelan-pelan, dong. Tidak akan ada yang mencurinya darimu, kok.” Katanya, kedengarannya seperti bercanda, tapi aku sudah keburu tersedak dan dia tergelak keras sekali sementara aku menelan banyak-banyak air. “Tuh, kan, lihat sendiri akibatnya.”

Rasanya jengkel sekali, jadi aku mendelik menatapnya sambil berkata judes, “Bisakah kau minggir saja?”

“Tentu tidak,” jawabnya dengan sangat mengesalkan. “Omong-omong, di mana teman-temanmu?”

Mendengar pertanyaannya, aku langsung melengos sebal. Kubilang, “Jadi duff memang benar-benar melelahkan, ya? Bisakah aku pergi sehari saja ke sekolah tanpa ditanyai hal-hal tentang Dahyun atau Tzuyu tanpa senior cewek yang terus-menerus berusaha menabrak bahuku atau menjegalku?”

Mingyu tercengang agak lama setelah mendengar penuturan panjang-lebarku. Dia kemudian tertawa sambil bertepuk tangan seperti anjing laut kerasukan. “Kau percaya omong kosongku soal duff itu?!” serunya histeris. “Aku cuma bercanda!”

Kemarahanku naik selevel lebih tinggi. “Tapi memang begitu ‘kan kau melihatku? Cewek jelek yang kebetulan punya teman-teman cantik dan menarik, seseorang yang bisa dimanfaatkan untuk mendekati mereka, ‘kan?!” sergahku.

“Hei, siapa bilang kau jelek?” dia tiba-tiba menghentikan tawanya. Kepalanya mengangguk-angguk sementara matanya meneliti wajahku dengan sangat intens sampai aku sendiri merasa tidak nyaman. “Kau tidak jelek, kok. Memang, sih, kecantikanmu berbeda dengan Jessica, aku pernah bertemu dengan kakakmu itu dua kali, omong-omong. Memang nyaris sempurna.”

Aku mengangguk setuju. “Bagus, karena kadang-kadang kalau sedang bercermin, aku juga berpikiran kalau aku sebenarnya tidak jelek-jelek amat. Mungkin aku jadi jelek karena dikelilingi oleh cewek-cewek yang lebih menarik.” Kataku, berusaha keras untuk menumbuhkan kepercayaan diri lagi. “Ya, ‘kan?”

“Ya, ya. Terserah kau saja mau berpikiran bagaimana.” Saat Mingyu melihatku akan memprotes, dia menambahkan lagi, “Ya, benar sekali! Teori yang sangat masuk akal!”

+

Entah bagaimana ceritanya, mendadak saja Mingyu jadi agak “dekat” denganku. Saat berpapasan denganku di homeroom, dia suka dengan sok kenal memanggilku atau menjawil bahuku. Saat aku makan sendirian, dia dengan wajah berseri-seri bakal mengangkat bakinya dan meletakkannya lagi di mejaku. Bahkan, kami sudah menciptakan fist-bump personal kami sendiri. Lucu juga, mengingat dua minggu yang lalu aku nyaris selalu kabur tiap kali melihatnya berdiri di radius minimal tiga meter.

Oh, dan jangan khawatir, aku sudah menanyai motifnya berteman denganku.

“Bukan karena teman-teman cantikmu, kok. Tenang saja.” Jawabnya dengan sangat santai waktu itu. Lalu saat aku berseru “lalu karena apa?!” dengan jengkel, dia menyahut lagi sambil bersiul. “Mungkin karena aku kasihan padamu karena kau duff malang yang hanya dijadikan makcomblang?” yang berakhir dengan kepalan tanganku yang mendarat di punggungnya.

Dan soal Tzuyu… cewek itu dengan begitu ringan hati merespons keingintahuanku mengenai perasaannya terhadap Kim Mingyu dengan, “Aku tidak naksir padanya, Eunbi. Sana kau gaet saja dia.” Lantas dia tertawa, bilang kalau pacaran tidak ada dalam daftarnya sama sekali.

Tapi mengapa aku menceritakan ini pada kalian semua?

+

Kunjungan mingguan Jessica tiba dan dia langsung merangsek menuju kamarku begitu mobilnya sampai. Di tangannya ada berkantong-kantong paperbag, banyak sekali, sampai aku tidak sanggup berkata-kata sampai dia menuang semua isinya di kasurku.

 “Jess, jangan coba-coba.” Kataku memperingatkan. Kakakku itu gila, sudah pasti.

Dia melengos. “Aku membeli ini semua dengan tabunganku sendiri untukmu, Adikku Tersayang.” Katanya kurang ajar, lalu mulai membongkar tumpukan bungkusan plastik dan botol-botol kosmetik yang berceceran. “Lihat, aku membelikanmu satu set lengkap mekap.”

Aku memejamkan mata. Ini tidak akan berakhir dengan baik.

Kecuali, ini berakhir dengan sangat baik. Dua jam setelahnya, aku tidak lagi pantas dilabeli duff karena rambutku yang hitam membosankan berubah menjadi potongan pendek sebahu lebih yang trendi dan pipiku yang biasanya putih pucat kelihatan lebih hidup setelah dilapisi pemulas merah jambu.

Done!” seru Jessica gembira, duduk di sampingku sambil menghadap bayangan kami berdua di cermin. “Gen cantik kita berasal dari orang yang sama, sudah jelas.”

Aku tidak bisa tidak setuju. Karena di sana, aku bukan lagi produk gagal dibandingkan Jessica, aku orang yang sama yang tampangnya telah diperbarui. Cantik.

+

Well, kenyataan memang kadang-kadang berengsek.

Aku masih tetap menjadi duff untuk Dahyun dan Tzuyu, sepertinya, karena jumlah cowok-cowok yang mendatangiku untuk meminta bantuan mendekati mereka tidak juga berkurang. Bahkan meski aku sudah jauh lebih cantik dan menarik ketimbang dulu.

Kurang ajar.

Tapi setidaknya, sekarang aku punya “duff” untukku sendiri. Mau tahu siapa?

“Demi Tuhan, aku akan mulai mengeluarkan jurus Karateku kalau masih saja ada cowok yang meminta nomor ponselmu padaku. Nggak, kayaknya mencekik mereka bakal lebih memuaskan.”

Aku tergelak. “Rasakan! Memang enak jadi babu cewek cantik?” sindirku, jelas-jelas bercanda.

“Ya, ya. Teori Cantikmu waktu itu memang benar-benar keren.”

Kemudian aku teringat sesuatu, “Oi, bagaimana kalau kau keluarkan saja jurusmu itu untuk senior cewek yang suka sekali menabrakku di koridor?”

“Boleh,” katanya. “Kau buat saja daftar mereka, biar besok kutabrak satu-satu bahunya.”

Kami bertukar fist-bump dan tertawa setelahnya.

Sekarang bagaimana? Sudah tahu siapa dia? Yep, benar, Kim Mingyu, duff sekaligus pacar baruku.

fin.

Finished: 23:29 | June 07, 2016.

Diikutkan di event Gfriendnesia dan, alhamdulillah, berhasil menjadi salah satu dari sekian banyak pemenangnya.

12 thoughts on “Duff Version 0.2

  1. Gakuat aku, gakuat, Mey! Kamu bisa aja sih bikin sinB sama Mingyu, mana chemistry mereka itu keren lagi aah gakuat pokoknya! :>
    Udah lah, Mey, sampai nggak bisa komen apa-apa lagi nih saking kerennya. KAMU SUKSES BIKIN AKU MELELEH, MEY!
    Fin.

    Like

    1. HUHU TAHU GA SAL AKU TUH UDAH BAPER MINGYU SINB dari lama padahal mah momennya apa ;_;
      jangan meleleh dulu nanti siapa yg jadi temenku (???????????)
      makasih banyak salimah udah mampir dan baca ini ^_____^

      Like

  2. sesungguhnya aku suka mingyu-tzuyu tapi disini sinb-mingyu gemas sekali aku gak bisa gak suka :”) dan voicenya eunbi di sini khas banget seru diikutin ah aku suka pokoknya :”)! ditunggu terus tulisan-tulisannya, ya!~

    Like

  3. Meski aku belum tau nama-nama tokohnya, tapi aku suka dengan alur cerita yang kakak buat. Cerita ini mungkin pengalamanpribadi ya? Hehe.

    Like

    1. Cari tau gih gih! udah pada terkenal kok mereka (di dunia kpop sih haha). eeh bukan! ogah banget jadi duff wkwk eh tpi kalo ntar dideketin cowok kayak mingyu aku mau deng (gak gitu juga) hehe.
      btw salam kenal ya! aku Meyda, 99liners :>

      Like

  4. Sebenernya aku udah baca ff diblogmu sejak kemarin dan sore tadi tapi blm sempat komen. Oke fix maafkan aku :”
    GA ENAK JADI DUFF MESKIPUN AKU SENDIRI GA PERNAH NGERASAIN SIH WKWKWK
    Engga mau ngetik banyak2 pokoknya keren titik!

    Liked by 1 person

    1. sebenernya aku udah baca komentarmu ini di hp kemarin tapi kare di hp jadi balasannya ya… diundur ;_; mianmian ya lel bcs hpku layarnya kecil banget kzl.
      YA POKOKNYA KALAU BISA NYARI TEMEN JANGAN YANG TERLALU CANTIK OK BIAR GA JADI DUFF (ya ga gitu jg) wkwk makasih banyak lely sudah komen! :3

      Liked by 1 person

  5. duh gusti:’) gak sanggup berkata2 soalnya ini bikin aku ketawa2 sendiri pas baca hihi
    keren ih, selalu suka karakter eunbi di fict kamuuu, dan yg satu ini sukses bikin ngakak dengan penuturan sarkastik eunbi disepanjang cerita

    Like

    1. yeayy makasih zahra aku juga suka sekali fiksi-fiksi kamu :’)
      yess karena sinbi di kepalaku adalah cewek usil?? yang agak-agak kepedean tapi nyeleneh?? wow ngarang sekali haha api makasih banyak sudah mampir! :3

      Like

  6. sekali lagi–jelas aja ini menang! duh meyda…. mengapa slice of lifemu seru sekali dibaca dan rasanya ini penyelewengan dari otp semua umat mingyu-tzuyu hahahaha
    bagus kok ceritanya! keep writing!
    PS minta maaf ke soojung sana, if you know what i mean.

    Like

    1. wuah kak li… bikin kepalaku besar aja wkwk. tapi fksi-fiksi yang lainnya juga oke punya ;_;
      yess wkwk aku juga sering bingung sendiri mau ngeship sinb-mingyu apa mingyu-tzuyu wow mingyu ular sekali ceweknya banyak :’)
      iya ya maafkeun aku mb sooj sudah mencuri kakak tercintamu xD

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s