Fighting Fire


fighting fire

Fighting Fire

by Authumnder

NCT’s Yuta & DIA’s Heehyun | Fantasy, Comedy

Mati muda karena mendua.

+++

Kalau kau punya musuh besar yang sangat kau benci, maka ada satu aturan esensial yang harus selalu kau patuhi: jangan pernah berpikir kalau kau bisa dan boleh mengencani orang itu. Aku tidak main-main, hal ini sangat dan wajib sekali kau hindari karena terakhir kali aku melanggarnya, kepalaku berada di ujung pisau potong dengan algojo berwajah sangar yang siap menunaikan tugasnya. Syukurlah, pria tua yang gemar dengan darah bermuncratan itu belum bisa melakukan pekerjaannya lantaran aku, si pemilik kepala, masih harus menjalani beberapa peradilan untuk benar-benar membuktikan kesalahanku.

Itu, merupakan alasan utama mengapa aku berlarian ke sana kemari mengikuti gadis ini.

“Heehyun, tentu kau belum sebenci itu padaku sampai rela melihatku mati dengan kepala terpotong, ‘kan?” ujarku, berusaha membuat suaraku kedengaran manis dan memelas. “Kau masih punya waktu, aku masih punya waktu.”

Berbalik, Heehyun memberiku seulas senyuman licik yang sudah sering kulihat di wajahnya. “Tidak, terima kasih, Yuta. Kau bersenang-senanglah dengan selingkuhanmu, perempuan bodoh itu sudah tahu, ‘kan, kalau kau akan kehilangan kepalamu dalam, dua hari lagi?” katanya.

Aku geram sekali sampai rasanya ingin menyambar satu guci di pojok ruangan dan menggempurkannya ke muka gadis ini. Tapi tentu saja, aku dilarang melakukannya karena itu artinya aku akan kehilangan kesempatanku merayunya yang berarti satu hal: mati mengenaskan dengan tubuh tidak utuh. Bulu kudukku naik sendiri hanya dengan memikirkannya.

“Ayolah, Heehyun, bagaimanapun, aku ini kawan kecilmu.” Tidak ada kata menyerah dalam kamusku saat ini. “Kumohon?”

Heehyun menyahuti lagi, kali ini ekspresinya sekeras baja. “Kau kawan kecilku yang sangat kuinginkan kematiannya.” Kemudian ia mendorongku keluar dari kedai keluarganya dan membanting pintunya tepat di depan mukaku.

+

Mengatakan kalau aku menyelingkuhi Ki Heehyun adalah hal yang sangat tidak tepat. Meskipun, harus kuakui, agak sedikit benar. Oke, baiklah, kurasa kau berhak mengetahui awal mula mengapa aku tiba-tiba ada di ambang kematian. Ceritanya sangat panjang, sebenarnya, tapi mari kita lihat seberapa hebat aku dalam menyingkat.

Jadi, sejak menginjak usia delapan tahun, aku punya musuh besar yang jenis kelaminnya adalah perempuan. Tidak tahu apa penyebabnya, kapan tepatnya kebencian itu tumbuh di hati kami, tahu-tahu saja kami saling lempar pelototan kalau tak sengaja berpapasan satu sama lain. Dulu, orang tua kami berpikir tingkah kami sangat lucu dan akan luntur sendirinya setelah kami dewasa, tapi nyatanya, sampai aku mencapai umur 21, kami masih saja saling benci. Dan aku tidak bercanda.

Kurasa kegeraman Heehyun untukku sudah mencapai puncaknya sampai ia mulai merencanakan plan bodoh yang akan mengambil nyawaku ini. Eh, tapi kalau aku boleh jujur, rencananya itu lumayan oke juga. Kalau saja bukan aku yang jadi korbannya.

Yah, sebelum kulanjutkan ceritanya, ada baiknya kalau kau mengetahui fakta bahwa terdapat banyak peraturan-peraturan bodoh di Kerajaan Davenport. Tapi aku tidak akan membahas mereka satu per satu—terlalu banyak, duh. Jadi langsung saja ke regulasi utama yang membuatku semerana ini: siapapun di Davenport yang ketahuan mengkhianati kekasih/istri/suaminya, maka akan berakhir di pedang algojo. Tuh, aku bahkan mengutipnya langsung dari buku undang-undang.

Itulah rencana Ki Heehyun. Ia akan menjebakku dalam pikiran kalau ia mencintaiku, dan Heehyun tahu kalau egoku yang supertinggi pasti tidak akan menolaknya, alih-alih, aku akan menerima cintanya, tapi di akhir, Nakamoto Yuta yang tolol ini akan mematahkan hatinya dengan bermain-mata dengan perempuan lain—yang memang kulakukan, dan oleh sebab itulah Heehyun berhak melaporkanku ke Kerajaan Pusat dan membuatku dikenai sangsi berupa hukuman mati.

Tapi aku belum ingin mati, Ya Tuhan, tidak ingin sama sekali.

+

Ibuku bahkan tidak memandangku sama sekali pagi ini, ketika ia sibuk menghidangkan roti gandum di atas meja makan. Ekspresinya sedatar papan dan ia menolak mengambilkan segelas susu untukku. Hebat, hebat sekali.

Selesai sarapan, adik perempuanku berbisik dengan tidak terlalu pelan kepadaku sembari sebelah tangan sibuk membereskan meja. “Ibu bilang tidak akan pernah bicara pada Kakak kalau Kakak belum meminta maaf pada Kak Heehyun.” Ia meringis sedih. “Ibu pikir kau keterlaluan sekali telah menyelingkuhi pacarmu sendiri.”

“Dari mana Ibu tahu kalau aku belum minta maaf?” aku mengangkat alis, akhirnya menyadari poin yang hilang itu. Tentu saja! Aku harus meminta maaf pada Heehyun!

Jadi empat menit berikutnya kuhabiskan dengan berlarian dari rumahku ke rumah Heehyun, menghambur masuk ke dalam tanpa mengetuk terlebih dahulu meski dipandangi dengan jengkel oleh adiknya. Ayah dan ibunya sendiri tidak ada, yang merupakan keuntungan untukku karena aku tahu sekali kalau orang tuanya pasti marah besar padaku. Kutemukan Heehyun di meja riasnya, sedang menyisir rambut dengan sikat perak yang cantik—oi, aku ingat! Itu sisir perak yang dulu kuberikan padanya setelah berhasil mencurinya dari lemari ibuku!

“Mau apa kau?” ia bangkit dari kursinya sambil berseru dengan defensif.

Tapi permintaan maaf panjang-lebar yang kukarang dalam perjalananku ke sini gugur seketika, sementara kepalaku hanya diisi oleh satu pertanyaan. “Kenapa sisirnya masih kau simpan?”

Heehyun mengerutkan keningnya, “Maksudmu?”

Aku, masih tidak begitu sadar akan kenyataan, berkata, “Sisirnya, yang kucuri secara khusus buatmu. Kok masih ada?”

Ganti Heehyun yang mematung. Ia gelagapan selama beberapa detik sebelum akhirnya dengan terbata menjawab, “O-oh, itu karena sisirnya cantik. Aku suka barang-barang yang cantik.”

Itu tidak kedengaran jujur. Aku melangkah mendekat, tahu benar kalau akulah yang menguasai situasi kami saat ini. “Heehyun, dengar,” kataku manis. “Aku sungguh minta maaf, aku menyesali perbuatan kurang ajarku. Aku menyesal telah mempermainkan perasaanmu. Tapi kau tahu ‘kan ini tidak harus begini? Kau bisa pergi ke Kerajaan lagi dan aku bahkan akan mengantarmu, kau bisa menarik lagi tuntutanmu dan membebaskanku lalu aku bisa belajar mencintaimu lantas menikah denganmu. Aku bisa tetap hidup dan bernapas, sehingga kau tidak perlu bersedih hati tiap kali memakai sisir itu karena benda itu akan mengingatkanmu seumur hidup kalau pernah ada seorang anak laki-laki yang memberikannya untukmu dan laki-laki itu mati mengenaskan dengan kepala menggelinding pergi. Dengan begitu aku tidak perlu membuat ibu dan ayahku sedih—”

“Ini selalu tentangmu, ‘kan, Yuta?” tiba-tiba Heehyun bersuara kembali, dan saat ia mendongak, ada genangan air di matanya yang bening. Kemudian begitu saja, ia berlari pergi.

Lucunya, mataku ikut-ikutan panas melihatnya di ambang tangis begitu. Mungkin sekarang aku tahu penyebab permusuhan kami setelah sebelumnya berkawan baik—aku anak yang terlalu mementingkan diri sendiri, sedang Ki Heehyun lelah mengorbankan diri.

+

Aneh rasanya terbangun pada suatu pagi dengan pengetahuan kalau hari ini kau bakal kehilangan kepalamu. Yang rasanya lebih aneh lagi mengingat kau baru berusia dua puluh satu tahun dan kehidupan di dalam pikiranmu masih begitu panjang. Itulah yang memenuhi kepalaku saat pengawal-pengawal kerajaan lengkap dengan kereta kudanya datang, ingin menggiringku ke tempat dilaksanakannya hukuman mati.

Lagi-lagi Ibu tidak menatapku, ia hanya mengangguk pada ajudan-ajudan tadi sementara ayahku menyiapkan kereta kuda milik keluarga kami. Adikku memelukku sambil menangis, tapi ia menyempatkan diri untuk bertanya apakah ia boleh memiliki seluruh koleksi tombak berburu dan pakaianku. Dasar anak itu.

Di akhir, saat aku bersiap naik ke kereta, seorang perwira kerajaan yang lain datang lagi, tergopoh-gopoh. Serunya, “Tuntutan dibatalkan! Katanya terjadi salah paham apa begitu, tidak terlalu penting untuk kita.” Kemudian ia menolehku. “Selamat, Nak, kepalamu batal dipotong.”

Aku sudah siap menjerit gembira bersama dengan adikku saat seseorang datang lagi, dengan wajah cemberut mengesalkan. Orang itu menyodorkan amplop kecil, berkata, “Aku pelanggan kedai di ujung sana—” ia menunjuk kedai milik Keluarga Ki, “—dan anak perempuan Pak Ki memaksaku untuk mengirimkan ini padamu. Nih!”

Buru-buru kubuka penutupnya, mengeluarkan kertas kecil dari sana hanya untuk dihadapkan dengan sebaris kalimat: aku mau memberimu kesempatan kedua.

Seulas senyum refleks membuat jalannya sendiri ke wajahku. Yess!

fin.

Finished: 7:24 | June 14, 2016.

Alurnya cepet banget tapi kuharap ini masih layak baca ya ;_; diikutkan ke pendaftaran writer baru di NCTFFI, sayang belum rejeki jadi, kalah wkwkwk.

4 thoughts on “Fighting Fire

  1. HAI MEY, AKU BALIK LAGI!
    Wah, kali ini kamu angkat fantasy ya? Bagus sih, asli, cuma emang alurnya kecepetan plus lebih banyak dialog hati ya jadi… agak mbosenin dikit hehe, maaf lo aku blak-blakan gini. TAPI SERIUS, INI KEREN BANGET! Trus ending-nya waktu Yuta bilang “Yes” itu aku bayangin dia imut banget ahh gak kuat deh wkwk
    Keep writing ya, Mey, walaupun kalah, it’s okay lah, itu artinya kamu disuruh nulis lebih banyak cerita haha *modus nih ceritanya😀

    Like

    1. yess bener banget huhu soalnya ini dilombakan gt ya kan jadi ada batesan wordsnya gitu nah ngepasinnya tuh susye banget ya Allah aku mau menyerah saja ;_;
      LOH gapapa sal serius dikritik itu membangun ok jadi jangan khawatir kalau mau mengkritik kan nanti aku tahu kurangnya di mana ok makasih banyak reviewnya!! ^_____^

      Like

    1. Haloo! wah, awal-awal baca ff? harusnya kamu cari ff yang lebih bagus lagi biar berkesan ;_; hahaha tapi makasih banyak buat temenmu yang udah nyaranin dan kamu yang udah baca! :>

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s