Voice Out


Voice Out

by Authumnder

Gu9udan’s Nayoung & KNK’s Inseong | Slice of Life, Comedy

+++

“Kau pasti bercanda.”

Bibir Nayoung langsung mencebik mendengar celaaan sahabatnya. “Tidak, aku tidak.” katanya sesaat kemudian, terdengar datar meskipun dipenuhi kemarahan. “Aku mempercayakan rasa maluku padamu dan kau justru dengan teganya menuduhku bercanda, seakan-akan otakku yang dungu bisa mengarang hal aneh sedetail itu!”

“Ya Tuhan, Kim Nayoung, susah payah aku memohon pada Ketua untuk memberikanmu tempat di kelas Jeong Inseong—dan inilah yang kaulakukan? Minggat di tengah-tengah pelajaran karena terlampau sakit hati?!” Ups. Sejeong buru-buru mengangkat sebelah tangan untuk menutupi mulutnya. Ia jelas-jelas sudah mengambil langkah yang salah. “Sori, tidak bermaksud begitu. Tapi maksudku, kenapa kau melakukannya? Kau tahu sendiri kalau… um… kalau nada tingginya sulit dicapai—”

“Itu karena dia bilang suaraku cocok untuk trot! Jadi kupikir, kenapa tidak? Toh dia tersenyum padaku sepanjang lagu—”

“…Sampai kau menyanyikan nada tingginya.”

Nayoung menghela napas, mengibaskan rambut cokelat tebalnya ke belakang dengan sentakan jengkel dan mengangguk. “Yap, sampai aku mulai berteriak untuk mencapai klimaks lagunya.”

Sejeong hanya bisa menggelengkan kepala menghadapi sahabatnya yang agak terlalu tolol ini. Tapi, yah, pembelaan diri Nayoung kedengaran lumayan masuk akal—meski Sejeong sendiri tidak terlalu kontra terhadap aksi guru vokal gadis itu.

“Aku menyerah! Aku mau cari cowok lain saja,” Nayoung berkata lagi dengan dengusan dan mengempaskan dirinya ke kasur. “Aku benci diriku sendiri.”

“Jangan,” Sejeong menyengir. “Yang benci padamu sudah terlalu banyak.”

Bantal di atas kasur melayang sedetik kemudian, sementara si pelempar lantas menenggelamkan wajahnya ke comforter Sejeong.

“Nayoung?” ujar Sejeong, mencoba lagi. “Jangan menangis—kau tetap cantik bahkan meski kau tidak bisa mencapai nada tinggi lagu trot, oke? Jadi jangan menyerah dan, kau benar, cari cowok lain!”

Alih-alih bangkit dan menyetujui dukungan Sejeong, Nayoung justru melesakkan kepalanya makin dalam ke selimutnya. Mencari cowok lain? Bullshit. Hal itu sepertinya baru bisa dilakukan lima tahun lagi, atau delapan; ketika Jeong Inseong sudah menikah. Wow, ekstrem sekali ‘kan kedengarannya? Tapi memang begitulah kenyataannya, bakal memakan banyak sekali waktu untuk menjalani kehidupan lagi tanpa berusaha membuat Inseong menoleh ke aranya. Oke, Nayoung memang kedengaran seperti seorang tolol yang dilanda cinta buta, tapi siapa yang bisa menyalahkannya? Sejeong saja tidak mampu.

Sembari meresapi kefrustasiannya, Nayoung memutuskan untuk membuat beberapa daftar tentang kelebihan-kelebihan Inseong yang menjadi alasannya untuk jatuh hati: a) Inseong ganteng—like, ganteng seganteng-gantengnya ganteng. Tak hanya itu, cowok itu juga diberkahi tinggi badan yang wow oleh Tuhan (komentar: Sangat Tidak Adil), b) ia punya suara bagus yang enak didengar—yang terpenting adalah, suaranya sanggup mencapai klimaks lagu trot Nayoung (komentar: Sangat-Sangat Tidak Adil), dan c) Inseong baik hati kalau tidak sedang galak. Oke, mungkin poin yang ini tidak kedengaran seperti kelebihan (mengingat Nayoung sendiri pernah diomeli cowok itu nyaris dua jam penuh), tapi tetap saja, Nayoung merasa berkewajiban untuk memasukkan ini dalam list­-nya; terlebih setelah Inseong membelikannya susu karamel kotak setelah insiden dimarahi-dua-jam itu.

“Bumi pada Kim Nayoung!”

Uh-oh, Nayoung bahkan tidak sadar sudah melamun. Ia buru-buru bangkit dari posisi tengkurapnya dan melemparkan tatapan bertanya-tanya pada Sejeong.

“Jangan bilang kalau kau baru saja tertidur?” Sejeong menyelidik.

“Oh-eh, enggak, kok. Aku mendengarmu.” Sahutnya.

Temannya itu mengangguk, “Jadi?”

Sialan. Pasti Sejeong baru saja memberi teori panjang-lebarnya dan bertanya sesuatu kepadanya, sayang sekali telinganya melewatkan semua itu. “Um… jadi?”

“Ya, jadi?”

Oke, percakapan jadi? ini tidak akan berakhir kalau Nayoung tidak memutusnya sekarang, sehingga ia berkata, “Um… ya?”

Sejeong bertepuk tangan. “Bagus! Nih, ponselmu—telepon Inseong sekarang! Se-ka-rang!” gadis itu melompat-lompat dengan riang dengan sebelah tangan menyodorkan HP Nayoung.

Nayoung memang menerima ponselnya, tapi alisnya masih bertaut dan ia bahkan tidak tahu alasan mengapa dirinya harus menghubungi Inseong. “Ngapain?” tanyanya setelah menghabiskan lima detik memandangi layar HP-nya yang mati. “Kau ingin aku melabraknya?”

Segera saja otak Sejeong bekerja. Gadis itu cemberut dan duduk kembali ke posisinya semula. “Tuh, ‘kan! Kau memang tidak mendengarkanku!”

“Eh… ya, bisa jadi.”

Mengesampingkan rasa jengkelnya, Sejeong memasang ekspresi serius dan memulai kembali solusinya untuk Nayoung. “Jadi, karena kau mungkin sudah melakukan kesalahan terbesar dalam kehidupanmu dengan minggat dari kelas di tengah-tengah jam pelajaran, yang harus kaulakukan sekarang adalah meminta maaf padanya. Yang kedua adalah, karena kita bahkan tidak mengetahui di mana Jeong Inseong tinggal—minus kelasnya di universitas dan perpustakaan dan kelas vokal—pilihan terakhirmu hanyalah meneleponnya! So, apalagi yang kau tunggu?”

Nayoung harus mengatupkan bibirnya kuat-kuat agar tidak tertawa karena, minta maaf? Hell no! Jeong Inseong sudah melukai harga dirinya sebagai perempuan dan meminta maaf padanya tidak akan ada di daftarnya mulai sekarang.

“Aku benci mengatakan ini padamu, Sejeong, tapi sadarkah kau kalau hal itu tidak akan pernah terjadi? Kenapa harus aku yang minta maaf, kalau dialah yang sudah kurang ajar menghina suaraku? Oke, aku tahu suaraku tidak bagus dan nada tingginya terlampau jauh untuk kuraih, tapi sejujurnya? Apa pantas seorang guru vokal meneriaki muridnya begitu? Dan kalau kau mengeluarkan kartu kedua, di mana meminta maaf kedengarannya seperti hal yang wajar yang dilakukan karena aku naksir padanya, aku akan menolak juga. Percaya atau tidak, sampai di sinilah usahaku. Kalau Inseong sialan itu suka padaku—atau katakanlah, pernah memikirkanku barang sekali—maka saat inilah dia harusnya berusaha lebih keras, oke? Sejeong? Kenapa, sih, dengan mukamu? Kau pikir aku bercanda, ya?!”

Sejeong sudah menggeleng-geleng dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, lalu saat menyadari kalau Nayoung belum juga menangkap maksudnya, sebelah tangannya langsung terangkat untuk menunjuk ponsel Nayoung yang diletakkan di atas kasur. Uh-oh, benda itu sedang menyala-nyala sekarang!

“Huh? Telepon?” Nayoung menggumam kepada dirinya sendiri, malas-malasan mengangkat benda itu hanya untuk melemparkannya kembali sedetik kemudian. “Aku tidak salah lihat, ‘kan?! Mataku tidak salah, ‘kan?!”

“Tidak, tidak! Buruan angkat!” Sejeong tergesa menyela, mengambil ponsel yang masih menyala tadi dan mengulurkannya pada Nayoung. “Cepat, cepat!”

Oke, kenyataan kalau monitor ponsel Nayoung tengah menunjukkan nama ‘Inseong’ mungkin sudah mengobrak-abrik pendirian Kim Nayoung yang ia nyatakan dua menit lalu, karena gadis itu sekarang sudah sibuk merapikan rambut dan kemejanya (seakan-akan Inseong bakal melihat wajahnya saja!) lantas berdeham berkali-kali sebelum akhirnya memencet tombol terima.

Dua kali ‘halo’, empat kali ringisan bercampur senyuman, dan beberapa puluh dialog kemudian, sudah dipastikan kalau proses cari-cowok-lain milik Nayoung resmi dibatalkan.

(“Menyebalkan.” Umpat Sejeong setelah dua puluh menit berlalu dan temannya itu masih mengobrol di ponselnya.)

fin.

Finished: 17:42 |July 20, 2016.

Idenya berasal dari, a) video-cut Nayoung di Weekly Idol, di mana dia nyanyi lagu trot. Di awal-awal sih bagus.. tapi pas nada tingginya… b)Vlive KNK yang kulihat beberapa waktu lalu, di mana membernya disuruh ngajarin dance ke manajer-manajernya (??) terus Inseong galak dan nggak sabaran banget gitu, c) Inseong suaranya bagus. Jadi… apa lagi yang mau ditanyakan???

 

9 thoughts on “Voice Out

  1. Iyaaa jadi angkatan 2015:D
    NAH KAN JADI SEDIH. Apalagi tulisanku masih abal sekali😭
    Anak sekarang ketje-ketje, ya. Huft 😍

    Like

    1. YEUUU padahal aku mau pamer bilang kalo aku 99liners tapi mau masuk kuliah eh kamu ternyata juga gitu ;________;
      aslik kemarin aku bertemu arrtworker kelahiran 2004, aku aja setua ini ga paham pshop sama sekali ;_:::::::;

      Like

  2. Halo, Mey! Tob dari garis 98 disini. Ehehe. Ini kok lucu banget, ya? Aku juga lihat nayoung pas nyanyi trot di weekly idol dan dia gak bisa nada tinggi. Atula ini lucu dan kau ngupasnya dengan apik.

    Suka, nih. Ehehe:3

    Like

    1. Halo halo Tob!! (ketahuan balesin komennya dari atas wkwkw). aku Meyda 99liners, gapapa kan kalo aku manggilnya gak pake embel2 kak? cuman setahun ini xD
      bener kan nayoung tuh lucu banget pas gabisa nada tinggi ya Allah pengen nyubit😥 makasih banyak btw sudah mampir dan baca ini yaya! ^__________^

      Like

      1. Iya gak apa-apa. Gak usah pake embel-embel biar akunya kelihatan muda (?) Bisa jadi kita malah satu angkatan (nahloh/?)

        Iya ih udah mah cantik, lucu lagi(?) Dan itu cukup menghibur. Wkwkwk.

        Like

      2. Aku insyaa Allah mau tingkat dua sih(?)
        Yaaaa, habis ngelihat banyak anak 2000 ke atas merasa tuaaaa /.\

        Like

      3. LOH GIMANA berarti kamu masuk kuliah tahun lalu???
        iya kemarin aku juga liat anak 2003 tulisannya udah bagus begete syedih ;_; tapi bangga ;_; tapi iri juga ;_;

        Like

      4. Iyaaa nih, aku jadinya angkatan 2015:D
        NAH KAN SYEDIH. apalagi tulisanku masih abal sekali ;_;

        Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s