False Intimacy


galaxy image

False Intimacy

by Authumnder

Gfriend’s Yuju & 17’s Dokyeom | Slice of Life, Working-Life

+++

“Kau pasti bisa melakukannya, aku yakin kau bisa. Kau ramah, menarik, dan penurut—lagipula, Lee Dokyeom itu terkenal akan kebaikan hatinya, mestinya dia tidak akan menyulitkanmu. Aku jamin! Sekarang, hush, pergilah!”

Itu adalah kalimat penuh dukungan yang wartawan di kantor, sekaligus teman baikku, katakan. Aku yang dungu tadi mungkin telah—ingin—memercayainya. Tapi, sekarang, setengah jam kemudian saat aku berdiri di depan bangunan hotel mahal tempat di mana Lee Dokyeom itu tinggal, aku tidak yakin aku akan kelihatan ‘menarik’ di mata selebritis sepertinya. Maksudku, kehidupan gemilang orang-orang terkenal pasti dikelilingi oleh para wanita cantik, jadi bagaimana mungkin tampangku jadi tandingan?

Baiklah, fokus, mari susun kembali pertanyaan-pertanyaan yang sudah kukumpulkan seputar film baru Lee Dokyeom. Ada banyak sekali hal yang harus kukhawatirkan, sampai-sampai memikirkan tentang penampilanku yang biasa-biasa saja terasa sangat tidak penting.

Operator yang ada di belakang meja resepsionis mengirimi pandangan menyelidik saat aku menyatakan ingin disambungkan ke Lee Dokyeom—yang nomor kamarnya sangat dirahasiakan, sampai-sampai ia menggunakan nama penjaganya sebagai identitas, tapi tidak berkata apa-apa dan langsung melakukan tugasnya. Kurasa pelayanan tangkas ini termasuk poin plus dari hotel-hotel mahal.

Lima menit kemudian, aku sudah berdiri di depan pintu flat yang tertutup rapat, tidak menyisakan sela untuk mengintip (bukannya aku bakal melakukannya, sih, hal itu sifatnya haram). Kutarik napas dalam-dalam dan memandangi pakaianku, yang terdiri dari blus safir dengan kancing-kancing gemerlap di bagian depannya dan celana kain hitam. Tadi sewaktu masih berada di kantor, kupikir dandananku profesional sekali—cantik dan efisien—tapi sekarang tidak lagi, aku justru merasa mual dan ingin muntah.

Seseorang menyerukan sesuatu dari dalam interkom tepat setelah aku melepaskan jariku dari tombol belnya, lalu pintu menjeblak terbuka dan tampaklah Lee Dokyeom, dalam kemegahan kemeja biru muda dan denim senada.

“Oh, hanya kau,” sambutnya, senyumannya perlahan-lahan runtuh seakan-akan ia sedang mengharapkan kedatangan orang lain. “Masuklah.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sembari berjalan menuju sofa beludru di tengah-tengah ruangan yang mewah, tapi aku tidak berhasil menangkap ucapannya.

Selesai memosisikan pantat di kursi tamunya, aku mulai sibuk merogoh tas untuk mencari bolpoin, notes, dan recorder yang diletakkan temanku di mejaku tadi, sebelum ia melarikan diri dari tugasnya mewawancarai aktor terkenal yang kini duduk di depanku.

“Um, halo,” aku menyapa dengan suara mencicit, kelihatan jelas kalau sedang gugup. “Namaku Yuju dan aku orang yang dikirim NICE! untuk mengobrol denganmu.” Temanku tadi sempat memberitahu kalau bagian memperkenalkan diri sangat penting, dan wartawan juga dilarang untuk mengatakan hal-hal gamblang seperti “aku ke sini untuk mewawancaraimu”, jadi sebagai gantinya, kukatakan mengobrol.

Lee Dokyeom tidak kelihatan terkesan dengan pemilihan kata-kataku, ia hanya duduk, manggut-manggut dan bergumam “ya”.

Kuputuskan untuk tetap melanjutkan, meski bertanya-tanya apakah sikap acuh tak acuh begini memang wajar ditemui para wartawan yang hendak mencari informasi. “Jadi, aku sudah mendengar berita mengenai penayangan film barumu yang rencananya akan mulai muncul di layar lebar pada tanggal—”

“Tunggu sebentar,” ia menyela, bangkit dari posisi duduknya dengan cepat. “Tidak nyaman sekali berbicara begini tanpa ditemani minuman. Kau mau apa? Bir? Anggur?”

Aku buru-buru menggeleng, akan menjawab sewaktu Dokyeom memotong lagi dengan,

“Oh, maafkan aku, kalian para penggali kehidupan orang memang begitu. Selalu menolak minuman gratis, kalau pun menerima, pasti meminta sesuatu yang tanpa-gula.”

Mulutku otomatis menganga mendengar pernyataan terang-terangannya yang agak sedikit menusuk—agak sakit hati juga setelah ia menyebut “penggali kehidupan orang” alih-alih wartawan. Tapi memangnya apa yang bisa kulakukan? Membanting perekam seukuran kepalanku dan berderap pergi? Jadi, aku menyahut dengan nada disabar-sabarkan: “Oh, tidak, kau salah sangka. Aku bukannya ingin menolak, hanya tidak suka dengan ide alkohol di siang hari. Cola saja, please.”

Dokyeom tanpa rasa bersalah mengedikkan bahu, berjalan menjauh dari sofa ke konter dapur yang bisa dilihat dari sini. Barulah saat itu aku menyadari kehadiran sebotol bening vodka di kaki kursinya, isinya sudah ditandaskan separuh. Well, mungkin itu agak sedikit menjelaskan mengapa Lee Dokyeom yang katanya “ramah” dan “baik hati” bersikap kasar seperti tadi.

Aku mengamati gerakannya membuka pintu kulkas, menenggelamkan wajahnya ke dalam kotak penuh makanan dingin itu dan tetap begitu selama beberapa saat, sebelum akhirnya muncul kembali dengan desisan. “Tidak ada satu pun cola di sini. Jus jeruk untukmu,” katanya malas sambil meletakkan kemasan jus jeruk lengkap dengan sedotannya di hadapanku.

Sembari menunggu Dokyeom siap kembali, aku melubangi kemasannya dan menyesap isinya dengan sangat perlahan—dan takut-takut ketika Dokyeom mulai mengangkat botol minuman kerasnya dan menenggaknya langsung.

Aku tidak percaya ini. Seharusnya kejadiannya tidak begini—temanku sendiri yang bilang kalau yang harus kuhadapi adalah seorang aktor yang tengah naik-daun dengan film terbarunya (yang seharusnya menyambutku dengan senyuman lebar dan jawaban-jawaban intelek), bukannya seorang laki-laki mabuk yang bicaranya blak-blakan. Demi Tuhan. Aku mendapati diriku mulai menyesali keputusanku membantu temanku mewawancarai Lee Dokyeom ini.

Antrean panjang pikiranku teralihkan ketika Dokyeom meletakkan botolnya, mengangguk-angguk, dan tersenyum lebar. Kuanggap itu sebagai tanda bahwa ia siap bicara lagi.

“Jadi, bagaimana kesanmu setelah membintangi Serial Dater? Aku sudah membaca sinopsisnya dan kedengarannya sangat mengesankan.” Pancingku, siap mencatat.

“Oh, film yang bagus sekali. Garis ceritanya indah—alasan utamaku mengapa memutuskan untuk menolak tawaran bermain drama—dan pemain perempuannya juga sangat cantik,” katanya, membuatku bingung dengan komentar terakhirnya. Majalah tempatku bekerja bukanlah majalah gosip, jadi apakah berita bahwa Dokyeom menganggap lawan mainnya atraktif dapat digunakan? “Terlalu cantik. Bikin aku sempoyongan.”

Otakku refleks menggali, mengingat-ingat siapa sih tokoh perempuan di Serial Dater yang saking cantiknya membuat aktor terkenal di depanku ini “sempoyongan”.

“Uh.. ya, baiklah. Kalau boleh tahu, apakah proses perekamannya berjalan menyenangkan? Maksudku, kau diharuskan terbang bolak-balik dari Korea ke Cina, apakah itu sedikit mengganggu atau justru—”

“Aku terbang ke Cina untuknya, Demi Tuhan! Perempuan itu benar-benar keparat!” ia menyela lagi, kali ini ditambahi dengan gebrakan sofa. “Aku mengusahakan segala cara untuknya, agar dia menyadari perasaanku yang sesungguhnya. Tapi si jalang itu! Tega-teganya dia menganggapku bercanda dan memilih untuk pergi bersama kekasih Cina-nya!”

Sudut mataku melirik recorder yang lampunya menyala-nyala merah—tanda kalau benda itu masih merekam. Aku ingin sekali mematikannya, karena jelas percakapan ini bukan sesuatu yang pantas ditulis untuk kemudian diterbitkan. Terlebih lagi, kepala laki-laki ini pasti sudah tercemar alkohol, rasanya tidak adil menggunakan sesuatu ketika pemiliknya bahkan tidak menyadari apa yang sudah ia katakan. Tapi apa daya, aku merasa panik sekali dan jantungku tengah memukul-mukul rusukku, bergerak rasanya sangat tidak mungkin.

Dokyeom masih belum berhenti melantur, “Kau dengar aku? Kau dengar aku, ‘kan? Catat semua yang kukatakan dan tulis ini semua untuk diterbitkan di majalah sialanmu besok! Katakan pada dunia kalau aku baru saja dibuang oleh pemain wanita di film sampah itu! Katakan pada semua orang kalau aku ingin reputasi gadis berengsek itu hancur lebur! Remuk dan tidak terselamatkan!”

Cukup sudah. Aku mematikan perekamku dan menggeleng. “Maaf, Tuan, tapi kurasa Anda tidak sedang berpikir jernih. Mungkin informasi yang kudapatkan sudah cukup.” Aku tergesa mengumpulkan alat-alat dan melesakannya ke dalam tas, menyangklongnya dan buru-buru bangkit. “Selamat siang, Tuan.” Setelah itu aku menerjang ke pintu keluar dengan sangat kalap.

Detak menggila jantungku belum mereda juga ketika aku sampai di lantai utama, bertemu kembali dengan operator tadi yang sedang sibuk mengobrol dengan resepsionisnya. Aku tak punya waktu beramah-tamah, langsung melesat keluar dari pintu masuk hotel yang besar.

Di dalam mobil, barulah aku bisa bernapas lega. Kejadian tadi sungguh… mengagetkan. Baiklah, aku tahu kalau tugasku sudah gagal. Aku tidak mendapatkan informasi yang seharusnya kukorek, sebaliknya, aku justru mendapatkan pengetahuan mengenai perasaan Lee Dokyeom terhadap pemain perempuan di filmnya—yang, kalau dipikir-pikir, pasti berharga ratusan juta seandainya kujual ke majalah gosip. Yang, sialnya lagi, tidak bisa kulakukan karena harga diriku terlampau tinggi untuk melakukannya. Yap, biarpun miskin begini, aku tidak akan menjual aib seseorang. Bahkan meski uangnya bisa kugunakan untuk membeli mobil baru…

Jantungku nyaris melompat keluar dari soketnya ketika pintu di sampingku terbuka dan masuklah Lee Dokyeom, aktor mabuk tadi.

“Apa yang kau lakukan?” aku refleks membentak. “Keluar, keluar!”

Ia masih bau alkohol, tapi kelihatannya sudah agak sadar. “Tidak sebelum kita membuat kesepakatan.” Katanya, menatapku tajam. “Maafkan kelakukanku di dalam. Kau benar, aku tidak berpikiran jernih. Aku pusing, dan nyaris gila.” Kali ini ia kelihatan bersalah. “Aku sungguh minta maaf. Semua yang kukatakan tadi… aku tidak bermaksud mengatakannya.”

“Bahkan bagian mengataiku dengan ‘penggali kehidupan orang’-nya?” potongku.

Dokyeom meringis. “Aku mengatakan itu?”

Aku mengangguk.

“Oke… yang itu juga. Terutama yang itu.” Ujarnya. “Aku sungguh-sungguh, kau tahu. Aku tidak mau seluruh dunia tahu… perasaanku yang itu. Bukan yang itu. Jadi, kumohon? Bisakah kau menghapus bagian itu? Aku bersedia diwawancarai ulang, kapan saja!” saat menyaksikan ekspresiku, ia berkata lagi. “Baiklah, katakan apa yang kau mau. Koneksi? Uang? Berapa? Kau ingin mendapat pas—”

Kepercayaan diriku kembali seketika. Di sinilah aku, di dalam mobil jadulku yang ketinggalan jaman, dengan seorang aktor terkenal di sampingku, kelihatan tampan dengan potongan rambut segarnya. Meskipun kami bahkan tidak punya hubungan sama sekali. Yap, well, sudah saatnya aku kembali ke dunia nyata. Jadi kugelengkan kepalaku, menjawab, “Tidak, tidak ada yang harus kau berikan untukku. Kalau-kalau kau tidak memerhatikan, aku tidak mencatat sama sekali percakapan tadi. Dan rekamannya—” kukeluarkan benda itu dari dalam tas, “—kau bisa menghapusnya sendiri. Aku belum sempat menyalinnya ke mana pun, jangan khawatir. Nih.”

Dokyeom menerimanya dengan mata membelalak, “Kau sungguh-sungguh tidak menginginkan apa pun? Tidak sedikit pun?”

Aku tergoda untuk meminta beberapa ribu dolar dari sekian banyak uangnya, tapi tidak bisa karena, yap benar, moral. “Tidak, tidak sama sekali. Trims buat tawarannya.” Kataku. “Bisakah kau pulang sekarang? Jam makan siangku sudah habis dan aku harus kembali secepatnya.”

Ia masih menganga sewaktu keluar dari mobilku, tapi kesadarannya kembali beberapa saat setelahnya karena ia mulai mengetuki jendela. Kuturunkan kacanya, dan ia langsung menyodorkan tangan.

“Aku ingin kartumu. Berikan padaku kartu namamu. Kau orang terfavoritku sekarang.”

Lee Dokyeom pasti tidak bercanda soal omongannya, karena malamnya, saat aku sedang telentang di kasurku dengan rambut berantakan dan kaus gombor, ia meneleponku.

Hal pertama yang ia katakan bukanlah sapaan untukku, melainkan, “Kau single, ‘kan? Maksudku, kau tidak punya kekasih Cina yang kau sembunyikan dari publik, ‘kan?”

“Um… apa maksudmu?” jawabku penuh keraguan, curiga kalau ia mabuk lagi, tapi tak urung menambahkan, “Yap, aku single.”

Ia tergelak—bagian mana dari kesendirianku yang lucu?—menyahut, “Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya tidak ingin pengalaman buruk masa lalu terulang. Baguslah, kau di rumah sekarang, ‘kan? Aku menelepon ke kantormu dan orangmu bilang kau sudah pulang, jadi, hei, bagaimana makan malam bersama kedengarannya untukmu? Bersamaku?”

“Ap-apa?” aku tergagap.

“Bagus! Bersiap-siaplah, oke? Aku meluncur ke rumahmu sepuluh menit lagi.” Setelah itu ia tergelak dan menutup telepon.

Aku tidak percaya ini!

fin.

Finished: 20:35 | July 21, 2016.

Ide wawancara aktor mabuk didapat dari salah satu scene di The Village Bride of Beverly Hills milik Kavita Daswani. Maaf kalau karakternya tidak sesuai kenyataan sama sekali. ;_;

11 thoughts on “False Intimacy

  1. Gilaaa ff ini sukses bikin aku senyum-senyum dan ngakak-ngakak sendiri sampai dikira orang gila! /oke ini alay/
    Tapi emang bagian si Dokyeom minta kartu nama itu aaah best moment deh!!
    Trus juga ini walaupun working-life tapi feel nya masih school-life gitu entah kenapa😀
    Anw, keep writing ya, Mey! Jangan bosen-bosen bikin cerita yang bisa buat orang ngakak sendiri hehe😀

    Like

    1. oooo ya harus minta kartu dong, rugi kalo ga wkwkwk. he? aaah apakah mungkin ini karena tokohnya memang masih muda-muda gitu eh tapi ga deng ya mohon dimaafkan aja ya sal kalo working-lifeku masih nyeleneh wkwk.
      makasih banyak loh kamu udah mampir dan baca ini!!!!!!! ^_____^

      Like

  2. sial ini kenapa adorable sekali yha hahaha. dan aku literally yang nahan ketawa pas tiba-tiba ngga ada guntur ngga ada ujan dokyeomnya langsung meledak-ledak gitu pffft. oke sip pengaruh alkohol. alkohol dan heart-break eaaaa xD terus yang yuju kepikiran: kalo ada celah ngintip. kampret aku ngakak lagi hahaha mey kamu mah ih yha bisa aja masukin selipan humor di tengah-tengah ahaha. DAN YANG PAS DISAMPERIN KE MOBIL DONG! (langsung nggak bisa calm). (disamperin woy, disamperin) (mana terakhirnya diajak makan malem pula) pake ditanya ada nyembunyiin pacar atau nggak ya allah harus terdengar desperate but seriously aku ketawa xD cie cie akhirnya dinner bareng cieee hahaha xD yosh keep writing yaaa mey😀

    Like

    1. yakan kak horor banget dibentak orang asing ya Allah kalo ini kenyataan aku tetep gamau, horor abezz (alay deh). wkwk habis ini yuju-nya sengaja dibikin agak kampung dan oon jadi dia walaupun gemetaran masih aja sempet pengen ngintip xD
      hihihi makasih banyak kak fik komentarnya!! ^_________^

      Like

  3. meyda kalo aku boleh ngomong kasar, ini SIAL bgt:’)))))
    karena….. sumpah ih kenapa manis lucu gatau apalagi pokoknya fix bikin senyum2 sendiri
    dannnnn sepertinya kita samaan tim baper yuju-dk moment di showchamp kmrn2 wkwkwk
    pikiran aku jg mulai liar gegara moment mrk kmrn sampe rasanya pen bikin fict ttg mereka lagi tp apalah dayaku baru kmrn2 bikin yg castnya mereka oakoakkk
    as always pokoknya fict kamu selalu menarik untuk dibacaaaaa💓💓💓 senenkkkkkk!!!! keep writing yaaa

    Like

    1. edan ya ra padahal momen di showchamp itu cuma kayak gituan tapi itu tu udah bikin otakku??? meledak??? wow kayak aku langsung alay heboh ya Allah maloe sendiri.
      HOOOO harus bikin ayok bikin!!!!! gapapa ra kemaren abis bikin skrg bikin lagi oke oke??
      hihi makasih banyak ya ra udah mampir dan baca ini :> kamu juga keep writing ok!

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s