In Conclusion


In Conclusion

by Authumnder

DIA’s Eunjin & UP10TION’s Wei | Slice of Life, Fluff

+++

Kenaikan kelas dua SMA, aku dapat pacar. Bukan, aku bukannya mau pamer dan mengatakan hal-hal seperti, “Masa SMA-ku indah sekali, kuiisi dengan setiap hari pacaran sembunyi-sembunyi di belakang kantin.” Karena, hell, kalau kau mengenal diriku versi enam belas tahun, kau pasti tahu kalau aku anti sekali dengan hal-hal begituan. Bahkan, tidak pernah terbersit di kepalaku kalau aku bakal berhasil ‘menyempilkan’ diriku sendiri dalam suatu hubungan tidak jelas yang tidak penting juga di tengah-tengah menumpuknya tugas.

Masalahnya—dengarkan ini, teman-teman—pacarku adalah preman sekolah. Tukang bolos, tukang sontek, plus pemalak amatir yang lebih sering mendapat hukuman alih-alih uang jajan. Aku yang keterlaluan, atau dia yang kurang ajar? Pilihan kedua jelas lebih masuk akal, mengingat dia yang memaksaku jadi pacarnya. Catat itu, ya, jangan sampai terpikir kalau aku senang bisa menjalin hubungan dengannya—karena aku tidak. Jelas tidak. Bagaimana pula bisa bahagia kalau alasanku menerimanya adalah karena aku takut padanya?

Bagusnya, lima hari setelah aku menghabiskan banyak waktu dengan Sungjun (ya, itu namanya), dan banyak waktu di sini memang berarti banyak sekali, ketakutanku luntur tergantikan oleh rasa jengkel. Oh, jangan salah, yang namanya Lee Sungjun itu ternyata tidak ada seram-seramnya—tidak seperti yang ada di kepalaku selama ini—dia cuma menang tinggi saja. Semua orang yang mengenalnya pasti setuju dengan pernyataanku ini.

Seminggu pacaran, dan aku sudah dapat dua konklusi mengenai Sungjun.

Yang pertama adalah bahwa dia itu tukang eyel. Sebagai bukti pendukung, aku akan menyelipkan sedikit detail mengapa aku menyebutnya begitu. Dia pernah datang ke kelasku (syukurlah kelas kami berbeda) dan dengan begitu sombongnya mengajakku membolos.

“Tidak mau,” jawabku waktu itu, kedua tangan mencengkeram meja erat-erat—jaga-jaga, siapa tahu Sungjun nekat mau menarikku. Untung dia tidak melakukannya, alih-alih dia mengusir teman yang menghuni bangku di depanku dan menduduki kursinya.

“Kenapa nggak?” tanyanya, memangku dagu.

Aku menyahut, “Nggak karena nggak.” Kali ini kupertegas nada suaraku, tujuannya sih untuk membuatnya merasa sedikit terintimidasi.

Tidak ada tanda-tanda akan mundur di wajahnya waktu Sungjun membuka mulutnya lagi. “Kenapa nggak karena nggak?”

Aku benci padanya. Jadi kukatakan, “Dengar, kalau kau perhatikan baik-baik, jawabannya ada di pertanyaanmu sendiri. Sekarang kembalilah ke kelasmu dan belajar, oke? Bye.”

Tapi tentu saja Sungjun tidak melakukannya tepat seperti yang kuminta, karena menit berikutnya ia menyambar buku teks salah seorang temanku dan membantingnya ke mejaku. “Make me,” ujarnya, jelas-jelas tengah menguji kesabaran.

Amarahku begitu meluap-luap dan aku sendiri kebingungan bagaimana harus mengendalikannya, jadi kuputuskan untuk menurut saja; sekalian mengecek kemampuan berpikir Lee Sungjun. Dan, itulah yang membawaku ke konklusi ke-2: Sungjun ternyata tolol sekali.

“Apa sih yang kau pelajari setelah satu tahun di SMA?” aku menggertak setelah Sungjun menggelengkan kepala saat kutanya tentang proses hujan di pelajaran Geografi.

Bukannya merasa malu, dia malah mendekatkan wajahnya dan berkata, “Yang kupelajari? Banyak sekali. Bagaimana cara mencuri lihat lembar jawaban teman di belakangmu tanpa harus menoleh, bagaimana cara menonjok wajah musuhmu tanpa membuat tanganmu sakit, bagaimana mengetahui letak dompet seseorang—”

Aku iseng menyela, “Di mana letak dompetku?”

Sungjun menyeringai. “Di laci meja.”

Well, yah, itu pengetahuan yang mungkin bakal berguna nantinya, tapi tidak di sini. Jadi kusarankan kau untuk mulai berfokus pada hal-hal seputar pelajaran, bukannya tetek-bengek curi-mencuri. Oke?”

“Berguna, kok!” dia menyergah dengan raut serius. “Kesal pada seseorang? Curi saja dompetnya. Tidak belajar semalam? Menyontek saja!”

Ya Tuhan. Aku sampai harus menyandarkan punggungku ke kursi dan menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata dengan nada lelah. “Bisakah kau putus denganku?”

Yang, sialnya, dia respons dengan gelengan kepala.

Konklusi ke-3 muncul setelah hubungan kami menginjak usia tiga minggu. Diam-diam, Sungjun itu clingy. Manja. Akujuga awalnya tidak memercayai diriku sendiri, tapi coba bayangkan saja, cowok itu pernah melarangku pergi ke perpustakaan di waktu istirahat karena dia ingin aku menemaninya makan siang di atap.

“Apa gunanya punya pacar kalau tidak memberi keuntungan sama sekali?” begitu pendapatnya, yang langsung kubalas dengan sengit.

“Kalau begitu, keuntungan apa yang kauberikan padaku?”

Sungjun diam dengan gaya sok berpikir, sementara aku memutuskan untuk melanjutkan makan saja—tahu benar kalau jawabannya tidak akan pernah menyenangkan hatiku.

“Kau benar—aku tidak membawa keberuntungan apa pun.” Sahutnya tiba-tiba, kedengaran getir dan anehnya sedih. Saat itu aku berpikir, ah, bagus juga kalau dia sedang insecure begini, aku bisa minta putus. Tapi dia kemudian menambahkan, “Tapi tetap, kau tidak boleh memutuskanku hanya dengan alasan itu, oke? Lihat besok saja.”

Aku yakin benar aku mengerang saat ini, juga menangkupkan kedua belah telapak tanganku menutupi muka.

Sehari setelahnya, konklusi ke-4 datang. Pada jam makan siang, Sungjun kembali mengunjungi kelasku—yang memang sudah dia lakukan secara rutin selama hubungan kami berlangsung. Bedanya, kali ini ada kotak-kotak bekal di lengannya.

“Apaan tuh?” tanyaku penasaran, menelengkan kepala berusaha melihat lebih jauh.

Tapi dia justru menyembunyikan kotak tadi ke belakang punggung, menyempatkan diri untuk memberi cengiran yang bikin mual. “Aku akan memberitahumu kalau kau tiba duluan di atap!” serunya riang sambil melesat keluar dari kelasku. Yeah, cowok itu pasti mengira aku bakal berlarian mengejarnya, tapi nggak tuh, aku tetap duduk dengan santai di bangkuku.

Sungjun kembali tiga menit setelahnya, napas tersengal dan rambut berantakan. “Kau bahkan tidak bergerak sama sekali!” teriaknya jengkel. “Ayo ke atap!”

Singkat berkata, aku gembira bisa membuat preman sekolah sekaligus pacarku itu kesal. Jadi alih-alih meminta maaf, aku hanya mengedikkan bahu lalu melenggang melewatinya.

Sungjun itu pekerja keras. Itu konklusi ke-4nya.

Setelah sampai di atap dan mencari tempat yang nyaman dan teduh—Sungjun yang mencarinya, karena dia menyuruhku untuk tetap berdiri di pintu masuk—barulah aku tahu isi kotak-kotak tadi. Yap, benar, bekal.

“Karena kau benar soal ucapanmu kemarin—”

“Ucapanku yang mana?” selaku, masih membelalak melihat melimpahnya isi bekal.

“Soal aku yang tidak membawa keuntungan apa pun itu, lho. Nah, jadi karena aku ingin menjadi pacar yang bermanfaat untukmu, aku membuat ini semua.” Jelasnya bangga. “Aku bangun pukul empat tepat, lari sebentar ke supermarket sebelah untuk membeli bahan-bahannya lalu kembali dan memasak ini semua. Baru selesai pukul enam.”

Aku terdiam, menatap telur gulungnya yang kelihatan montok dan segar—dan tiba-tiba perasaan itu muncul. Susah mendeskripsikannya, pokoknya campuran antara rasa bersalah, bangga, dan sesuatu lain yang tidak bisa dijelaskan.

“Eunjin! Makan, dong, rasanya enak, kok. Aku sudah mencobanya sedikit-sedikit tadi di rumah.” Sungjun memerintah, menyodorkan sumpit lain yang masih dalam kemasan ke arahku. Dia sendiri sudah siap dengan sumpit di tangan, namun alih-alih langsung menikmati masakannya, dia menungguku.

Di akhir jam makan siang, setelah kami berdua menandaskan seluruh isi bekalnya (aku berulang kali berkomentar, “Kau serius memasaknya sendiri? Kau berbohong, ‘kan?” karena masakannya lezat sekali), kukatakan, “Besok giliranku, oke? Jangan masak apa pun besok dan jangan pergi ke kantin.”

Lucunya, setelah insiden bekal itu, aku berhenti membenci yang namanya Lee Sungjun,  juga berhenti berusaha mengajaknya putus. Aku mendapati diriku senang dengan kehadirannya—tidak selalu begitu, sih, terutama saat-saat di mana aku harus membantunya belajar ini-itu—dan bahkan mulai menikmatinya. Aku juga berhenti berusaha menyimpulkan Sungjun, berhenti membuat konklusi-konklusi tentangnya karena, well, biar waktu saja yang melakukannya. Lagipula, aku terlalu malas untuk membawa-bawa topik “putuskan aku, dong” itu lagi. Jadi, ya sudah.

Kurasa itulah yang membuat kami berada di sini, Sungjun mengetik sesuatu di laptopnya di ruang tengah, sementara aku membuat dua cangkir kopi di dapur. Di rumah kami sendiri. Delapan tahun kemudian.

Konklusi akhirnya adalah, mungkin aku mencintainya, mungkin dia mencintaiku. Atau, mungkin saja, kami berdua saling mencintai.

fin.

Finished: 10:56 | July 23, 2016.

Woy edan ini draf udah lama banget sih terus iseng-iseng kubuka lagi lalu tergoda untuk melanjutkan dan jeng jeng jeng, jadilah ini. Pairing-nya sangat ngawur abis kayaknya cocok aja, mereka kan sama-sama tinggi hehehehhe.

credit pic eunjin: @kjynl

4 thoughts on “In Conclusion

  1. Hi, welcome back! Karena sudah diizinkan, maka here I am membawa kerusuhan yang tak diundang/?
    OH TIDAAAKKK SUNGJUN MEMBUATKU KEPLEK-KEPLEK TAK BERDAYA/? suka banget sama sifatnya. Garang di luar tapi lembut di dalam, wah, ini karakter idaman banget xD
    And as always, you make a great ending. Gila, aku aja sampai melted gini baca ending nya😀
    Eniwei, tetep semangat nulis!! Aku selalu nunggu karyamu selanjutnya if u know hehe..

    Like

    1. Halo lagi, Sal! hamdalah yah sudah kubilang kan aku senang dirusuhin :’)
      bukannya lembut sal sungjun tuh bloon aja wkwk preman bloon wkwkw (lucunya di mane).
      hamdalah ya sal soalnya endingnya tuh… aku udah kepepet… jadi ngawur aja… ;_;

      Like

  2. first thing first, meyda jangan lelah liat aku di kotak komen yha bikos aku udah lama nggak maen ke sini terus kamu update banyak banget. huyey seperti menemukan treasure aku mau baca satu-satu hahahaha xD

    oke. OKE. INI SUNGJUNNYA KENAPA ADORABLE SEKALI. suka bagian eunjin yang akhirnya lelah sendiri mau bawa-bawa topik “putusin aku, dong” hahaha. dasar. jadi kerjaannya eunjin pas awal-awal jadian sama sungjun adalah menelaah pacar dan membuat konklusi xD yang pas diajak bolos yha, itu astaga…… kalian berdua ngomongin apa sih xD karena nggak adalah nggak. (gemash). anw mey, sila dicek lagi mungkin ada draf yang belum sempet dipublish (lah) hahaha. keep writing mey!😀

    Like

    1. kayaknya ga bakal lelah liat komentar kak fika di notifikasi sih kak :’) hahaha lumayan kak nulis buat mengisi waktu gabut yang sebentar lagi musnah pas liburan selesai huhu (curhat)
      yess soalnya itu mereka pacaran yang sangat tidak niat dan tidak modal jadi ya makan ati doang ( loh loh). huhu draf yang masih bisa dipake dikit kali kak fik ;_; sayang dibuang, tapi kampung banget wkwkw.
      makasih kak fika sudah mampir dan baca ini! :>

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s